
Elina menggunting rambut Reggie dengan tangan yang terlihat sangat terampil dan lincah. Sisa rambut Reggie yang tidak beraturan dipotong rapi membentuk layer dengan potongan pendek mengikuti bentuk wajahnya.
Reggie memandang kagum pada cermin di depannya. Wajahnya agak berubah ketika Elina selesai. Ia tersenyum puas.
"Kau terlihat sangat cantik dan segar. Kurasa model seperti ini sangat cocok untukmu." Elina memandang wajah Reggie di cermin.
Reggie mengangguk dengan senyum lebar.
"Kau benar, Elina. Aku senang dengan potongan rambut baruku.Terimakasih."
"Senang membantumu, Reggie."
Mereka membereskan semua peralatan dan mulai membersihkan kamar.
"Diakah Mike mu, Reggie?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Reggie berhenti.
"Mike-ku?" Reggie menatap Elina terkejut. Melihat temannya itu tersenyum menggoda.
"Kau tahu ... kau sering menyebut namanya dalam tidurmu," ucap Elina sambil mengedipkan mata.
Seketika rona merah menjalar di seluruh wajah Reggie. Terkadang memang Mike masuk ke dalam mimpinya. Tapi tidak menyangka kalau ia akan mengigau dan menyebut namanya dalam tidur.
"Sepertinya ia juga menyukaimu. Lihat saja caranya menciummu. Kau beruntung Reggie, dia gagah dan juga tampan walaupun matanya itu terkesan sangat dingin." Elina mengoceh tanpa mempedulikan Reggie yang salah tingkah mendengar ucapannya.
"Kau pernah balas menciumnya?"
Reggie tidak menjawab. Wajahnya makin merah ketika ia mengingat bagaimana Mike mencium dan menyentuhnya di meja dapur Mansion Langton dan ia membalasnya saat itu dengan penuh gairah .
Elina terkekeh melihat wajah Reggie yang merah padam.
"Kau tidak perlu menjawabnya, Reggie. Wajahmu sudah mengatakan segalanya." Elina tertawa senang.
"Bagaimana? Apa ciumannya terasa menggairahkan? Seperti tubuhnya yang gagah dan terlihat menggiurkan itu?" Elina tidak berhenti menggoda Reggie ketika melihat rona merah bahkan sudah menjalar memenuhi leher gadis itu.
"Oh, kau gadis nakal! Berhentilah menggodaku!" Reggie bergerak ingin menangkap Elina yang tertawa terbahak-bahak. Keduanya lalu berkejaran di dalam kamar mereka yang sempit sambil terus tertawa.
**********
Tidak ada yang bisa berbuat apa-apa terhadap keputusan Reggie yang keras kepala.
Keempat gadis yang memotong rambut Reggie sudah dipecat oleh Lance. Lance akan menggunduli mereka sesuai perintah Mike dulu, Reggie memohon agar Lance tidak melakukannya. Ia tahu rambut sangat berharga bagi para gadis itu.
Permohonan Reggie hanya membebaskan para gadis itu dari memiliki kepala yang botak. Rambut mereka tetap di cukur pendek seperti rambut laki-laki. Lalu mereka terusir keluar dari mansion itu .
Liz yang akhirnya ketahuan dan tak dapat lagi mengelak juga dipecat oleh Lance. Mereka semua di keluarkan tanpa adanya rekomendasi . Rambut bergelombang Liz juga mendapat hukuman, dipotong cepak seperti keempat gadis suruhannya. Madam bahkan menamparnya. Mengatakan ia gadis jahat yang pandai bersandiwara.
Dendam membara di hati Liz ketika ia dan ke empat gadis lainnya diusir dan didepak tidak hormat dari Mansion Sanchez.
Walau masih memakai pakaian pelayan dan bekerja seperti biasa, tidak ada para pelayan yang berani mengajak Reggie bicara atau menegurnya seperti dulu. Hanya Elina yang masih bersikap biasa setelah tahu ia adalah adik tuan besar mereka Lucius. Lance, madam serta Kepala Pelayan memperlakukannya sebagai nona besar mereka di mansion itu.
"Reggie ... Tuan Lucius memanggilmu." Ucapan Lance membuat Reggie yang tengah berjongkok membersihkan debu di bawah rak segera berdiri. Ia membelalak dan membersihkan kedua tangannya di celemek pinggangnya. Sudah berhari-hari kakaknya tidak terlihat dan berdiam diri. Reggie sudah menunggu Lucius memanggil dan mengajaknya bicara.
"Umm ... aku sudah siap, Lance," ucap Reggie gugup. Lance tersenyum melihat kegugupan yang memancar dari tubuh gadis itu.
"Jangan khawatir. Anda akan baik-baik saja."
Reggie mengangguk dan segera mengikuti langkah Lance yang kembali membawanya ke sayap barat. Ke ruang kerja tempat Lucius sudah menunggunya.
Lance mengetuk dan membuka pintu ketika mendengar suara tuannya yang menyuruhnya masuk.
"Saya membawa Regina, Tuan." Lance memberitahu tuannya yang terlihat memunggungi mereka dan memandang keluar jendela.
"Ya. Kau boleh keluar, Lance." Lucius memberi perintah. Lance menganggukkan kepalanya kepada Reggie yang menunggu dengan tangan saling mengait di depan tubuh. Tersenyum memberi semangat sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu.
"Dimana kau tinggal selama ini?" tanya Lucius tanpa membalikkan badannya.
"Umm ... aku berpindah-pindah. Kami tinggal di Mansion Sky, Lalu ketika aku mulai bersekolah, aku masuk ke sekolah asrama di luar kota selama beberapa tahun. Kemudian saat Amy juga mulai bersekolah, Tuan Arthur memindahkan aku ke sekolah yang sama dengan Amy, agar kami bisa satu asrama. Kemudian aku juga pernah tinggal di kamp pelatihan di gunung setahun lebih ... sebelum kembali ke mansion dan mulai tinggal lagi bersama Amy."
Reggie menelan ludah, bersyukur kata-katanya lancar. Jantungnya tetap saja berdebar kencang walaupun ia sudah menyiapkan dirinya untuk pertemuan ini.
"Dan ibumu?"
Kali ini hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Lucius.
**********