Love Seduction

Love Seduction
Chapter 82. Hurt each other



Reggie berbalik ketika mendengar suara bariton yang menegurnya.


"Hanya perlu sedikit udara segar," ucapnya ramah.


Kenapa pria ini mengikutiku.


"Ah, sayang sekali kau tidak mengajakku. Aku mencarimu kemana-mana." Pria berjas biru gelap yang terlihat tampan dengan kulit kecoklatan dan mata yang juga berwarna cokelat itu berucap manis.


Daniel Chavez, putra seorang teman baik Eloy Sanchez yang tadi diperkenalkan oleh ayahnya pada Reggie, terlihat sangat tertarik dan terpesona pada Reggie sehingga tidak lepas mengikuti gadis itu.


"Entahlah. Mungkin aku butuh waktu untuk sendiri." Reggie memberikan senyum manis walaupun kata-katanya sedikit menyindir.


"Maafkan aku mengganggumu kalau begitu ...."


Reggie menaikkan kedua bahunya, berharap pria itu segera pergi.


"Tapi aku pria yang gigih. Aku ditolak berdansa satu kali, maka aku akan mencobanya dua kali ... begitu seterusnya sampai Nona cantik yang aku ajak berdansa menyetujui ajakanku," ucap Daniel.


Reggie tertawa dengan terpaksa.


Pria menyebalkan!


"Bagaimana? Maukah kau berdansa denganku?" Daniel mengulurkan tangannya pada Reggie. Bibirnya tersenyum dengan sangat manis, menunggu Reggie menyambut uluran tangannya.


"Aku ...." Reggie bingung bagaimana lagi ia akan menolak pria ini.


"Apa kau tidak mengerti arti kata tidak?" Sebuah suara terdengar dari balik bayang-bayang, sebelum sosok bertubuh besar dengan tuxedo hitam itu muncul di dekat Reggie dan Daniel.


Reggie menoleh dan Mike sudah berdiri di sampingnya. Kapan laki-laki itu mendekat Reggie sungguh tidak mengetahuinya.


Lagi-lagi ... bagaimana cara ia melakukannya? Reggie membatin melihat Mike yang bersedekap.


"Anda siapa? Kenapa Anda menginterupsi pembicaraan kami?"


"Bukan siapa -siapa. Hanya seseorang yang melihat bahwa Nona ini sudah menolakmu berkali-kali tapi kau seolah tidak peduli," ucap Mike tajam.


Daniel tertawa masam. "Aku bukan tidak peduli, tapi hanya ingin berusaha lebih gigih. Apa itu salah? Mengejar orang yang kau inginkan, sampai ia luluh dan menerimamu."


Mike tiba- tiba merasa sangat tersindir. Ia tiba-tiba kehilangan kata-kata. Suasana itu sungguh membuat canggung. Reggie mencoba mencairkannya dengan membuat obrolan.


"Kenapa kalian tidak berkenalan? Mike, ini Daniel Chavez, seorang putra dari teman ayahku. Daniel, ini Mike. Seorang ... teman." Reggie setengah berbisik ketika menyebutkan kata teman.


Daniel mengulurkan tangannya, yang membuat Mike akhirnya menyambut uluran itu mengingat adab kesopanan.


"Daniel Chavez." Kembali Daniel menyebut namanya.


"Mike," ucap Mike pendek.


"Hanya Mike?" tanya Daniel dengan alis terangkat.


"Ya. Hanya Mike."


Reggie mengutuk. Suasana bukannya malah makin mencair, tapi kenapa mulai terasa bibit permusuhan.


"Tidak ada nama keluarga?"


"Kenapa kau ingin tahu?"


Daniel mengangkat bahunya. "Kau terlihat mapan. Apakah kau relasi Lucius?"


Mike hanya diam. Tidak punya niat sedikit pun menjawab pertanyaan laki-laki itu.


"Dia anggota keluarga Langton." Reggie kembali berusaha mencairkan suasana.


"Langton? Itu Klan dengan jaringan yang besar! Adik ayahku, Bibi Marlene menikah dengan salah satu keluarga yang berada di bawah naungan Klan Langton."


"Benarkah? Siapa nama suami Bibimu?" tanya Mike.


"Frank Damario."


Mike tersenyum miring teringat pada pria tua yang namanya disebut oleh Daniel.


"Kau dari keluarga mana? Aku mengenal beberapa keluarga di Klan Langton," tanya Daniel lagi.


Mike masih diam, terlihat tidak sedikit pun berminat pada pembicaraan dengan pria berjas biru gelap itu.


"Mereka klan yang kuat. Hanya satu keluarga yang berasal dari generasi yang sama dengan Langton. Selebihnya bergabung di generasi kedua dan ketiga. Paman Frank berasal dari generasi kedua." Nada bangga yang terselip di suara itu terdengar jelas.


"Benar. Ayah Paman Damario yang membawa keluarga Damario bergabung dengan Klan Langton." Mike terlihat mulai bisa tersenyum kecil ketika mengucapkannya.


"Apakah kau mengenal nama keluarga yang berasal dari generasi pertama?" Daniel bertanya pada Mike.


Gelengan kepala Mike membuat Daniel mengernyit.


"Paman Damario juga tidak menyebutkannya. Ia hanya mengatakan bahwa generasi pertama yang merupakan kakek buyut dari pemimpin Langton yang sekarang bersama seorang teman dekatnya yang dulu membangun klan sampai akhirnya menjadi sebesar ini. Mereka berdua ibarat saudara. Sampai temannya itu mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan kakek buyut Langton yang saat itu akan dibunuh oleh musuh-musuhnya.Temannya itu mati dan meninggalkan seorang putra yang melanjutkan berdiri dan memperkuat klan ini hingga menjadi sangat besar. Ayah pamanku bergabung karena putra penerusnya ini. Aku sangat penasaran siapa keluarga generasi pertama yang memulai bisnis di klan ini bersama Langton ... Paman menolak menyebutkan namanya."


Mike tersenyum miring mendengar ocehan Daniel.


"Mengapa kau sangat penasaran?"


"Oh, itu sebuah sejarah! Kita tidak melupakan sejarah, Mike. Apapun yang terjadi di masa ini adalah hasil dari sejarah yang diawali dari masa lalu. Bukankah begitu? Klan ini besar dengan berbagai sejarah yang terjadi dari generasi ke generasi. Ada pengorbanan besar di dalamnya, kasih persaudaraan, saling membantu, dukungan, semuanya ... Paman mengatakan tidak ada yang bisa melupakan itu." Daniel menceritakannya dengan menggebu-gebu, tidak menyadari perubahan wajah lawan bicaranya.


Mike mengernyit, ia merasa seolah baru saja dipukul dengan keras, ia teringat kakek dan juga kakek buyutnya. Reggie mengulurkan tangan memegangi lengannya.


"Reggie benar. Apa kau sakit?" tanya Daniel.


"Tidak. Aku tidak sakit." Mike menjawab Daniel.


"Ayo ... ikut aku, kau sepertinya perlu duduk."


Tanpa menunggu jawaban, Reggie menarik lengan Mike. Ia hanya melambai pada Daniel yang melihatnya dengan sedikit cemberut.


Reggie terus menyeret Mike menuju sayap barat. Kediaman kakaknya, masuk ke ruang kerja Lucius dan mendorong Mike ke sofa panjang. Mike menurut, ingin tahu apalagi yang akan di lakukan kucing liar itu .


"Kau mau minum?"


"Tidak." Mike menggosok keningnya. Ia hanya sedikit terpukul mendengar ucapan Daniel tentang sejarah Keluarga Langton.


"Tapi wajahmu sedikit berubah setelah mendengar ucapan Daniel." Reggie menuang minuman dari botol di atas meja Lucius.


"Tidak ada hubungannya denganmu ...."


Bisikan itu membuat Reggie meringis, takut telinganya salah mendengar, ia bertanya ulang sambil berbalik mendekati Mike.


"Apa ... kau bilang apa barusan?"


"Aku bilang tidak ada hubungannya denganmu."


Slurrrrr!


Suara minuman yang tumpah membasahi puncak kepala Mike, mengalir membasahi pipi dan terus menuruni kemejanya.


Mike menunduk melihat cairan kekuningan itu membasahi pakaiannya, lalu ia mendongak menatap Reggie yang tersenyum sambil memegang gelas minumannya yang sudah terbalik di atas kepala Mike.


"Kau!" geram Mike.


"Apa!? Marah!? Marah saja! Dasar laki-laki arogan! Harusnya jangan kau ganggu aku mengobrol bersama Daniel kalau kau merasa segala sesuatu yang ada di hidupmu itu tidak ada hubungannya denganku!"


"Kau nampak menghindar dan menolak didekati pria itu!" bentak Mike.


"Kalau boleh aku membalikkan kata-katamu, Mike. Itu semua bukanlah urusanmu! Aku menolak bicara dengan Daniel mungkin karena aku lebih suka bicara dan berdansa dengan pria lain!"


"Siapa?"


"Hufhhh ... kau sangat ingin tahu rupanya. Para pria itu sengaja Lucius undang, agar aku bisa memilih dan melihat yang mana yang cocok untukku." Reggie sengaja mengada-ada, walaupun sepertinya Lucius dan ayahnya memang punya maksud seperti itu.


"Aku tanya siapa, Regina ...," desis Mike.


"Dan aku bilang itu bukan urusanmu, Mike! Berhenti mencampuri urusanku!"


Ucapan lantang itu membuat Mike segera berdiri. Matanya tajam menatap mata hitam yang juga menatapnya menantang. Mike mengambil gelas minuman di tangan Reggie, ia melemparnya begitu saja di sofa yang empuk, lalu mulai maju dengan kepala menunduk menatap Regina.


"Jawab aku!"


Reggie tersenyum sinis, entah kenapa ia merasa sangat senang memancing pria di hadapannya itu.


"Seorang pria, yang pasti bukan dirimu!"


Ucapan itu membuat kedua tangan Reggie ditarik dan Mike mengangkatnya. Pegangan itu begitu keras sehingga terasa sedikit nyeri, tapi Reggie menolak mengernyit. Ia makin berani menatap tajam dengan bibir masih tersenyum sinis.


"Katakan siapa!?"


Kebungkaman Reggie membuat Mike menggeram lalu menundukkan kepalanya. Ia menyerang bibir Reggie yang berusaha sekuat tenaga menutup mulutnya, kedua tangannya mendorong dada kokoh yang menghimpit dadanya. Mike memagutt dan mencium Reggie dengan kasar, menyusuri satu sudut ke sudut lain sambil memaksa bibir itu membuka. Setelah kehabisan napas, Mike mengangkat kepalanya, ia menatap mata hitam yang mulai sayu menatapnya.


"katakan siapa!?"


"Tidak!" Reggie bersikukuh.


Mike kembali menunduk, mengeksplore bibir ranum itu tanpa henti, hingga Reggie akhirnya menyerah dan membuka bibirnya, memberi Mike celah untuk menggali lebih dalam, menari dan meliukkan lidahnya. Kembali setelahnya Mike mengangkat kepalanya perlahan.


"Katakan Regina ... siapa pria itu?" Suara Mike sudah berubah serak. Regina kali ini hanya bisa menggeleng, suaranya hilang, pandangan matanya sudah berkabut.


Mike kembali menunduk, kali ini ia meraup tubuh Reggie dan mendekatkannya ke tubuhnya sendiri yang sudah terasa panas dan mengeras. Ciuman yang ini terasa sangat sensual dan lembut, membuai Reggie hingga gadis itu mengangkat kedua lengannya dan tanpa sadar mengalungkannya ke leher Mike. Kakinya sudah berjinjit dan ia mendesakkan tubuhnya makin dekat, menempel ke dada keras Mike. Mereka berpelukan erat dengan bibir saling bertaut. Sampai suara desahan keluar dari dasar tenggorokan Regina.


Ciuman itu berakhir dengan Mike yang lebih dulu mengangkat kepalanya. Tubuh Reggie lunglai dan Mike menyangganya sampai gadis itu bisa berdiri, ketika Mike melepaskan tangannya, Reggie limbung, sehingga kembali Mike merangkul pinggang gadis itu.


Dengan wajah yang sudah diatur sedatar mungkin, Mike memaku mata hitam Regina, memastikan gadis itu mendengarkan apa yang akan ia katakan.


"Lihat dirimu ... gadis yang baru saja mengatakan kalau ia sudah punya seorang pria yang ia incar, namun kini berada di pelukanku dan menikmati ciumanku sampai mengeluarkan desahan."


Mike melepas tangannya, lalu berbalik menuju ke arah pintu meninggalkan Reggie yang tersadar ketika kata-kata Mike meresap di pikirannya.


"Ap--apa ...." Reggie membelalak melihat pria itu melenggang seolah tidak mengatakan sesuatu yang memalukan tentang Reggie. Ia segera mengambil gelas minuman yang tadi Mike lempar di sofa, ia melempar benda itu ke arah kepala Mike. Namun Mike sudah keluar dan menarik pintu hingga tertutup. Gelas itu berderak membentur pintu kemudian jatuh ke lantai berserakan menjadi kepingan.


**********


From Author,


Hadeuh.....Terus aja begituh kelian ,...


Jgn lupa like,komentar, makian or cacian, kekecewaan, sakit hati dan lain sebagainya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Tuangin di kolom komentar ya..


Terimakasih...


Salam, DIANAZ