Love Seduction

Love Seduction
Chapter 63. Pain



Reggie dan Elina kembali ke sayap barat bersama Lance. Reggie sampai ke aula dan menatap kakaknya yang masih terbaring lelap di sofa panjang. Ia duduk di sisi kepala Lucius dan mulai memikirkan rencana.


"Nona ... aku akan menyiapkan kamar Anda, atau Anda akan memilih sendiri kamar mana yang akan Anda tempati?"


Reggie menoleh mendengar pertanyaan Lance. Nada Lance yang berubah formal dan memanggilnya nona membuat Reggie jadi tidak nyaman.


"Aku tidak mau mendengar ada yang memanggilku nona. Panggil aku Reggie atau Regina dan tidak usah repot menyiapkan kamar Lance. Aku akan tetap tidur di kamarku bersama Elina."


Lance dan Elina saling berpandangan.


"Tapi Rose ... Eh, maksudku Reggie. Kau adik Tuan Lucius, jadi ...." Elina kebingungan melanjutkan kata-katanya.


"Aku memang adiknya, Elina. Tapi aku tidak ingin kamar manapun. Aku ingin tetap sekamar denganmu." Lalu Reggie memandang Lance.


"Ceritakan padaku ... apa yang sebenarnya telah terjadi padanya.


"Saya tidak tahu apa yang menimpa Tuan Lucius sebelum saya bertemu dengannya, Nona. Saya ...."


"Lance ... panggil aku Reggie, Lance." Reggie memotong ucapan Lance yang masih memanggilnya nona. Lance terlihat tidak nyaman dengan perintah itu.


"Saya bertemu dengannya ketika kami datang ke Mansion Montague. Beliau hampir mati dengan sekujur tubuh penuh lebam dan luka. Tuan Eloy akhirnya membawanya pergi."


"Apakah wanita itu pelakunya?"


"Ya. Tuan Lucius akhirnya sembuh dengan perlahan. Tapi trauma yang dia alami tidak ikut sembuh. Penderitaannya masih berlanjut hingga sekarang."


Reggie menunduk menatap wajah Lucius yang terpejam. Ia memejamkan mata, membiarkan air matanya kembali mengalir.


Kita salah Mom ... Mom bilang wanita gila itu tidak akan mungkin menyiksa anaknya sendiri. Tapi nyatanya ....


Reggie membuka mata dan mengelus pipi kakaknya.


"Maafkan aku ... juga Mom yang sudah meninggalkanmu di sana."


Tangis pelan terdengar di ruangan itu. Penyesalan Reggie yang tertumpah lewat isak pilu dari beban di hatinya selama bertahun-tahun.


"Rose ... umm, maksudku Reggie, ayo kita kembali dulu ke kamar. Biarkan Tuan Lucius beristirahat. Aku akan mencoba merapikan rambutmu kembali."


Elina mengajak Reggie yang terlihat lelah dan berantakan di matanya. Rambut indah itu perlu di gunting dan ditata kembali.


"Kau bisa melakukannya?" Reggie memandang temannya dengan tersenyum kecil sambil menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya.


Elina mengangguk cepat.


"Atau saya akan mendatangkan seseorang yang bisa memperbaiki rambut anda No ... umm, Reggie." Lance memberikan saran dan sedikit salah tingkah karena kembali akan menyebut nona.


"Tidak Lance, Elina akan membantuku. Itu sudah cukup. Sekarang kami kembali dulu ke kamar." Reggie mengelus sekali lagi pipi kakaknya, lalu berdiri dan mulai melangkah meninggalkan aula sayap barat dengan tangan menggandeng Elina. Lance memandang dua gadis itu menjauh, kemudian kembali pada tuannya yang terbaring lelap.


"Dia gadis dengan tekad yang sangat kuat, Kurasa dia hidup dengan sangat baik setelah terbebas dari penjara itu, Tuan. Itu semua berkat Anda. Pengorbanan Anda tidak sia-sia."


**********


Lucius tampak lemas dan tidak bertenaga. Tuannya itu juga tidak mengucapkan satu kata pun semenjak dia terbangun.


"Aku akan membawa makan malam Anda kemari." Lance menyusun bantal di belakang punggung tuannya yang sudah tampak lebih baik setelah mandi air hangat dan berganti pakaian.


"Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang lain? Sebelum aku turun mengambil makan malam Anda?"


Lucius hanya menggeleng dan bersandar sambil memejamkan mata.


"Baiklah. Aku keluar dulu kalau begitu." Lance berbalik dan mulai melangkah pergi.


"Apakah dia pergi?"


Pertanyaan itu menghentikan langkah Lance yang sudah sampai di pintu kamar. Ia segera berbalik dan memandang tuannya yang terlihat masih memejamkan mata.


"Tidak. Dia tidak pergi, Tuan." Lance menunggu beberapa saat. Setelah tidak ada lagi kata-kata yang tuannya ucapkan, Lance kembali berbalik dan meninggalkan kamar sambil menutup pintu di belakangnya.


Sendiri di kamarnya membuat pikiran Lucius kembali pada Regina. Ia mencarinya di luar sana, namun gadis itu malah datang ke mansionnya tanpa ia ketahui.


Sudah berapa lama ia ada di sini ? Apakah Marinna tahu putrinya berada di Mansion Sanchez?


Lucius terkenang kembali pada Marinna Hastings. Wanita lembut penyayang yang mampu membuat Regina yang menangis diam dan tertidur hanya dengan pelukan hangatnya. Lucius kerap memandang ibu anak itu dengan senyum takjub dari luar jeruji penjara kala pemandangan itu ia lihat di malam-malam yang ia habiskan di penjara bawah tanah.


Marinna akan tersenyum dan membelai rambut hitam Lucius dengan tangannya yang terulur melalui sela jeruji. Memuji betapa tampan dan cerdas dirinya. Mengatakan betapa beruntungnya Regina mempunyai seorang kakak yang berani dan juga mencintainya. Lucius bahkan percaya Marinna juga menyayanginya setelah beberapa bulan mereka selalu menghabiskan waktu bersama dan saling berbagi di penjara itu.


Lucius tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu dari ibu kandungnya yang dingin. Ayahnya yang sangat sibuk saat itu juga tidak memerhatikan dirinya. Hanya Marinna dan Regina yang saat itu mengisi hati Lucius dan menghilangkan dahaganya atas kasih sayang. Lucius tahu kadang Marinna memberikan selimut yang ia pakai untuk di selimutkan pada tubuh Lucius yang kadang tertidur di luar jeruji penjara ketika bermain bersama Regina, merasakan tangan wanita itu membelai wajah dan rambutnya. Lucius tahu wanita itu pasti menahan dingin ketika selimutnya ia berikan pada Lucius.


Regina kecil juga sangat manja dan sering merengek. Ia akan tertidur di sisi dalam penjara dengan tangan kecilnya yang terulur keluar menggenggam tangan Lucius yang berada di luar. Lucius ingat Marinna tersenyum dan mengatakan akan memeluk mereka berdua sampai tertidur jika saja ia dan Regina bisa keluar dari jeruji yang mengurung mereka.


Tapi itu hanyalah sandiwara. Marinna melakukannya untuk memperalat Lucius agar bisa keluar dari penjara itu. Berpura-pura menyayangi Lucius agar mau menuruti semua keinginannya. Hatinya yang saat itu bersukaria karena merasakan cinta seorang ibu dan kasih persaudaraan seketika patah dan hancur.


Tidak hanya hatinya yang hancur. Setelah itu tubuhnya pun ikut hancur. Ibunya mengetahui jika tawanannya hilang ketika siang hari sudah menjelang. Saat itu Marinna dan putrinya sudah lama pergi. Ibunya yang mencari Lucius di seluruh mansion malah menemukan putranya berada di dalam sel penjara bawah tanah. Menggantikan tawanan yang ia sekap di sana.


Saat melihat kemurkaan ibunya di sisi luar jeruji itu, Lucius menyadari ketakutannya sudah hilang. Yang ia rasakan adalah kehampaan. Sehingga dengan datar ia mengatakan pada ibunya jika dialah yang membebaskan dua tawanan itu, Ibunya tidak akan bisa menyiksa mereka lagi, Keduanya sudah bebas dan menghilang. Kemurkaan wanita itu makin menguar. Kegilaannya terlihat dan dimulailah penderitaan Lucius. Hari-hari kelam yang dialaminya dan masih menyisakan penderitaan untuknya hingga saat ini.


Ibunya mengurung Lucius di sel itu menggantikan Marinna dan putrinya, lalu Lucius dibiarkan kelaparan, Eleanor juga menyiksanya dengan benda-benda tajam, mengiris kulitnya dengan pisau tajam, pisau bergerigi bahkan menusuknya dengan gunting, rambut hitamnya di potong acak hingga suatu hari gunting yang tajam itu bukan hanya memotong rambutnya. Tapi juga kulit kepalanya ikut terpotong.


Dia awal-awal penyiksaan itu Lucius selalu berteriak, ia memohon dan bahkan menangis meminta ibunya berhenti, lalu ia belajar bahwa teriakan yang ia keluarkan semakin membuat wanita itu bersemangat, ia makin kejam dan ganas. Hingga hari-hari yang berlalu membuat Lucius putus asa, tidak akan ada yang datang untuknya, Jadi ia mulai diam dan pasrah , Air matanya pun sudah kering. Siksaan demi siksaan tidak lagi bisa membuatnya menangis.


**********


From Author,


Maaf semua.Jangan bosan baca nyinyiran author di sini yaπŸ˜πŸ˜‚.....VOTE, like, koment, fav and bintang lima jangan lupa di klikπŸ™πŸ™


Udah, itu aja he he.Terimakasih.


Salam, DIANAZ.