Love Seduction

Love Seduction
Chapter 20. Misunderstand



Alison menyiapkan makan malam bersama Ester. Dengan gesit gadis itu memasak dan menyiapkannya di atas meja. Pabio tersenyum lebar ketika tiba di meja makan dan melihat karya gadis itu.


"Ini semua terlihat sangat lezat," ucap Pabio sambil menarik sebuah kursi.


"Aku akan memanggil Alan, Tunggu Pabio! ... jangan sentuh apapun! kita akan berdoa bersama sebelum makan," Ucap Ester pada suaminya sebelum pergi naik ke lantai dua dan mencari Alan di kamarnya.


Aku akan memanggil Lucius," Ally pamit dan mendapatkan anggukan dari Pabio.


Ally tahu Lucius berada di sebuah kamar yang dijadikan ruang kerja oleh Pabio. Ruangan itu cukup besar dengan meja kayu mahoni dan sebuah kursi yang di letakkan di sudut sebelah kanan menghadap ke arah pintu masuk, ditengah ruangan, sebuah meja dikelilingi sofa di susun berbentuk melingkar.


Di kursi di belakang meja mahoni itu, Lucius duduk dengan ponsel di telinga kirinya. Ia menghubungi Brad untuk persiapan pertemuannya dengan Tuan Enrico Costra besok malam. Sudah di sepakati oleh asisten laki-laki itu, mereka akan bertemu di restoran sebuah hotel di kota yang berada tak jauh dari perkebunan.


Selesai bicara dengan Brad, Lucius menghubungi Regina dan melakukan panggilan video call. Adiknya itu memasang wajah marah dengan bibir cemberut.


"Dimana Marie ku?" tanya Lucius.


"Dia sedang tidur!" ucap Regina ketus.


"Oh, Ayolah Gina ... biarkan aku melihatnya," pinta Lucius.


"Kau tidak tahu ya kalau hari sudah malam, tentu saja Marie sudah tidur!"


di dekat sana, Marie bersuara, celoteh bayi itu terdengar lewat ponsel.


"Kau berbohong, Regina Eliazar!" Lucius menyerigai.


"Kami tidak mau bicara padamu! kemana kau beberapa hari kemarin? kenapa kau tidak menelpon? kau sibuk sekali ya!" ucap Regina bersungut-sungut.


"Halo Uncle Lucius ... apa kabarmu?"suara ayahnya terdengar dan kemudian muncul di belakang Regina.


"Biarkan kami bicara padanya, Gina." Eloy Sanchez menepuk bahu putrinya, membuat Regina bergeser dan memberikan tempat duduknya pada ayahnya yang tengah menggendong Marie.


Marie langsung mengenali pamannya dan menjerit, berceloteh dengan suara suara yang tidak dimengerti. Eloy dan juga Lucius tertawa mendengarnya.


"Kurasa ia mau mengatakan kalau ia sangat rindu padamu, Lucius," ucap Eloy di sela tawanya.


"Halo, Sayang. Paman juga sangat merindukanmu. Kau semakin cantik, " Lucius memajukan bibirnya ke layar dan bertindak seolah olah tengah mencium Marie.


"Bagaimana perkembangan di sana, Lucius?" tanya Eloy.


"Maaf Ayah. Aku belum melakukan apapun. Ada sesuatu yang harus kukerjakan dulu. Tapi besok aku akan mulai berkeliling bersama Pabio. Lalu malamnya, aku akan bertemu dengan Rico. Aku sangat ingin tahu seperti apa pria itu."


"Dia pengusaha sejati, Nak. Jika menuruti ayahnya, maka pasti dia orang yang baik. Dia membawa ladang anggur itu menjadi yang terbesar dengan produk terbaik olahannya. Temui saja dan jalin keakraban. Jika dia tetap tidak mau menerima tawaran kita, tidak apa, biarkan saja ...." jelas Eloy pada putranya.


Lucius mengangguk berulang kali. Ia penasaran melihat Rico bukan hanya karena tanah perkebunan itu. Tapi juga karena ingin melihat seperti apa laki-laki yang akan menjadikan Ally simpanannya itu.


Lama Lucius mengobrol dengan sang ayah, Regina hanya sesekali mengintip dan masih tidak mau bicara, membuat Lucius geli dengan tingkah adiknya itu.


Suara ketukan di pintu membuat Lucius mendongak.


"Lucius? kau di dalam?" suara Ally memasuki pendengarannya. Lucius segera berpamitan pada ayahnya yang terlihat mengerutkan dahi.


"Ayah ... Aku tutup, oke. Nanti aku telpon lagi,"


Marie mengoceh, membuat Lucius tersenyum, " Dah, Marie ... I love you ,Sayang ...." bertepatan saat itu pintu terbuka, Hati Ally mencelos , pria itu tengah tersenyum di depan layar ponsel dan ia sungguh tidak salah mendengar. Lucius baru saja mengucapkan kata cinta ... pada seseorang bernama Marie.


"Lucius?" bisiknya bertanya dengan nada yang amat lirih.


Lucius mendongak, "Ya? kemarilah Ally," Lucius memutuskan hubungan dan meletakkan ponselnya. Ia menatap Ally yang masih berdiri di tengah pintu dengan kedua tangan terjalin.


"Aku tidak bermaksud mengganggumu ... hanya saja, makan malam sudah siap. Pabio sudah menunggu," ucapnya dengan nada biasa, padahal hatinya entah kenapa terasa sangat nyeri. Rasa nyeri yang membuat Ally ingin sekali meremas dadanya.


Apa ini Ally? tahan rasa pedihmu ... kau memang bukan siapa siapa baginya.


"Ayo ... jangan membuat orang tua itu menunggu," Lucius bangkit dan berjalan sambil mendekap bahu Ally yang mengangguk dan berusaha tersenyum kecil. Mereka berjalan ke ruang makan, dimana Alan sudah duduk dengan rapi diapit oleh Ester dan Pabio.


Ally dan Lucius duduk di sisi lain meja berdampingan. sebelumnya, Lucius menarik kursi dan mempersilakan Ally duduk, baru kemudian ia menarik kursinya sendiri dan ikut duduk.


Setelah doa yang dipimpin oleh Pabio, mereka semua mulai makan. Lucius mengangkat alis dan tersenyum ke arah Ester.


"Masakanmu benar benar enak, Ester," puji Lucius.


Ester tertawa," harusnya pujian itu untuk Alison, Lucius. Aku hanya membantunya. Dialah yang memasak."


"Benarkah?" Lucius menoleh dan mendapati Ally hanya mengaduk aduk makanannya tanpa menyuap.


"Umm ... Ap ... apa?" gadis itu tergagap, pertanda ia tidak mengikuti obrolan di meja makan itu.


"Benarkah kau yang memasak?" tanya Lucius.


Ally tersenyum, walaupun hanya tersungging senyum kecil yang tidak terlihat lepas bagi Lucius.


"Ya ... Aku sedikit belajar saat masih bekerja di restoran Madam Gavany,"


Lalu gadis itu kembali menunduk. Mereka kembali makan malam sampai selesai. Lucius dan Pabio segera membawa Alan ke ruang keluarga, Alan minta dicarikan film kartun dan mereka segera menonton bersama.


Ester dan Ally membereskan meja dan mencuci piring kotor. Setelah selesai, Ally berpamitan pada Ester akan kembali ke kamarnya.


Ester menatap menyelidik pada wajah Ally yang terlihat lelah.


"Ally? Apa ada yang membuatmu terganggu?" tanya Ester pelan. Mata tuanya melihat ada yang berbeda pada wajah gadis itu.


"Kau baik-baik saja kan?" tanyanya lagi.


Ally berusaha tersenyum," Tentu saja, Ester. Aku baik-baik saja, aku hanya ingin beristirahat lebih cepat. Supaya besok bisa melakukan pekerjaanku."


"Kau terlihat bersemangat ketika datang. Sekarang ... entahlah ... katakan padaku jika kau sakit, Sayang. Apapun yang mengganggumu , katakan saja padaku," ucap Ester lembut.


Kelembutan di suara Ester makin membuat hati Ally ingin menangis, sekuat tenaga ia menahannya. Kenapa ia begitu rakus? pria setampan Lucius dengan hati yang begitu baik pastilah mempunyai seorang gadis yang dicintainya, Pria itu punya hati seorang malaikat, karena itu ia menolong Ally dan Alan. Ia memperlakukan Ally dan Alan seperti saudara ... ya, saudara yang saling menyayangi ... hatinya saja yang bodoh! bernyanyi karena sebuah kecupan dan kelembutan pria itu.


"Baiklah jika kau masih berat membicarakannya, Sayang. Pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah dengan baik," Ester mengelus pipi Ally dengan lembut dan memberikan senyuman seorang ibu untuknya.


Apalagi yang kukeluhkan, begitu banyak orang baik yang Tuhan kirimkan untukku dan Alan, yang tulus memberikan kasih sayang dan menolong kami tanpa pamrih ... Aku harus bersyukur dan melupakan rasa nyeri di hatiku ini, seharusnya aku berdoa untuk kebahagiaan Lucius .....


Ally mengucapkan selamat malam dan berlalu untuk naik ke kamarnya di lantai dua. Ia duduk di pinggir ranjang yang empuk lalu menarik nafas panjang dan mulai bicara pada dirinya sendiri.


Kau tidak boleh menangis Alison Adair. Hadapi semuanya dengan senyuman. Kau punya tempat tinggal, pekerjaan dan juga gaji untuk bisa menghidupi dirimu dan Alan. Semua itu berkat pria itu ... Sekarang teguhkan hatimu, hilangkan semua harapanmu yang tidak pada tempatnya ....


Setelah beberapa lama, Ally melangkah dan berdiri di depan sebuah cermin di kamarnya. Ia memasang senyum, pertama terlihat kaku dan masih terlihat sedih. Ally mencoba lagi, sampai senyumnya kembali seperti biasa.


Ya ...begitu, seperti itulah senyummu seharusnya.


Ketukan di pintu kamarnya membuat Ally melangkah dan membuka kunci. Ia terkejut mendapati Lucius yang berdiri dengan sepiring makanan lengkap dengan minum, sendok dan juga garpu di atas sebuah nampan.


"Kau tidak makan dengan benar saat makan malam, Ally." Lucius mengulurkan nampan yang segera di sambut oleh gadis itu.


"Aku berterimakasih bila kau menghargai perhatianku dengan menghabiskan makanan itu." Lucius menatap. Ally menunduk menatap isi nampan di kedua tangannya.


"Bagaimana? kau akan makan dan menghabiskannya kan? atau aku harus menunggumu di sini dan melihat dengan mataku sendiri saat kau menyuap,"


Ally memaksakan senyum terkembang di bibirnya. Senyum yang tadi ia latih di depan cermin.


"Tidak perlu. Aku akan menghabiskannya. Aku janji," ucapnya .


Lucius mengangguk puas. Lalu menyentil hidung mancung gadis itu sebelum ia pamit dan berlalu dari sana.


Ally mendorong pintu dengan kakinya hingga tertutup. Lalu meletakkan nampan di atas kasur sebelum kembali ke pintu untuk menguncinya.


Hatinya kembali mendadak merasakan pedih, Ally duduk di pinggir ranjang dan mulai mengambil sendok. Berharap perasaan nyeri di hatinya akan hilang bila ia makan.


Suapan pertama masuk ke mulutnya dan fikirannya langsung berucap bahwa ini makanan dari tangan Lucius, perhatian pria itu seharusnya membuatnya senang, tapi ia malah merasa sakit, hatinya pilu ... Ally tidak dapat menahannya lagi, ia menangis terisak-isak dan masih memaksa rahangnya agar terus mengunyah, memerintahkan mulutnya menghabiskan makanan yang telah diantarkan sendiri oleh tangan Lucius. Makanan itu terasa sedikit asin, karena airmatanya yang mengalir ikut masuk ke dalam mulut, sebagian lagi menetes ke atas piring ....


Kumohon Lucius ... Jangan terlalu peduli padaku, atau hatiku ini akan semakin berderak, seperti sebuah dahan yang patah. Sekarang saja sakitnya tidak terkira ...


Ally memegang dadanya dan meremas. Sendoknya jatuh ke atas nampan. Gadis itu terisak pilu, merasa kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia miliki .


**********


From Author,


Ah, misunderstand 😭😭😭


Jangan lupa like , love ,bintang lima, vote dan juga komentarnya ya...


Si abang maksudnya mo pelan pelan biar si eneng gak takut. Si eneng udah keduluan ngambil kesimpulan sendiri... wes lah ...tunggu chapter selanjutnya ya...pertemuan seru dengan Tuan Rico mungkin🤔🤔🤔


Terimakasih semua,


Salam, DIANAZ.