Love Seduction

Love Seduction
Chapter 56. Meet Sanchez family part 3



Tawa dan kehebohan Amy serta Reggie menggema di aula mansion Costra. Enrico dan Mike tampak menggelengkan kepalanya berulang kali sambil memandang Derek yang tertawa lebar.


Dalam kegembiraan dan kehebohan itu, Ally berdiri di tengah undakan tangga. Ia bersama Cecilia mulai turun ketika mendengar suara para tamu. Erland dan juga Alan yang mengikuti mereka menuruni tangga dengan cepat berlari dan menghampiri Mike yang menggendong Marie.


"Paman Mike!" Erland memeluk satu kaki Mike sambil mendongak.


Mike menunduk dan terkejut, tersenyum lebar sebelum membungkuk dan memperlihatkan Marie pada Erland dan Alan.


"My Knight ... kau juga ada di sini!? Lihat kakakmu Marie ...."


Lucius memandang ke atas dan bertemu dengan mata menakjubkan gadisnya yang juga tengah memandangnya. Gadis itu memakai gaun berwarna putih selutut dengan sedikit rambut dari sisi kiri dan kanan wajahnya dijalin, kemudian disatukan ke belakang dan diberi hiasan bunga-bunga kecil yang juga berwarna putih. Lucius menaiki undakan tangga sampai berdiri didepan Ally, satu tangannya terulur dengan senyum terkembang dan mata berkilat menatap Ally.


Rona merah merambat ke wajah Ally, namun ia mengulurkan tangan menyambut tangan Lucius yang terulur. Ally turun hingga berada sejajar dengan Lucius di tangga. Memperlihatkan Cecilia yang masih berdiri di belakangnya dengan menggendong Arthur. Mata gadis itu terpaku ke arah pintu luar mansion.


"Cecil?" Ally kebingungan, ia memandang Cecil kemudian mengikuti arah matanya. Di luar bingkai pintu lebar itu berdiri seorang pria yang juga tengah menatap dengan tubuh kaku ke arah Cecilia.


Lucius yang mengikuti arah pandangan Cecilia menyeringai lebar.


"Hei ... Cecilia Damario. Sebaiknya kau tutup mulutmu, atau lalat akan masuk ...."


Cecilia otomatis mengangkat tangan dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tawa geli langsung keluar dari mulut Ally dan Lucius. Gadis dengan mata besar itu langsung melotot pada Lucius.


"Mulutku tertutup, dasar! Kau mengerjaiku ya!" lalu ketiganya tertawa bersama. Cecilia menata debaran jantungnya dan mengatur wajahnya kembali biasa.


Ingat! Biasa saja! jangan terlalu terlihat kalau kau merindukannya. Lihat saja dia dari jauh, ingat ucapan Ayah ... jaga jarak! ya ...jaga jarak!


Cecilia berulang kali mengucapkan itu di dalam hati, dan menahan matanya agar tidak melirik ke arah pintu lagi.


"Ya ampun ... kau cantik sekali ... matamu berkilau, Ally!" Reggie bertepuk, menyatukan tangannya dan memandang calon iparnya dengan tatapan memuja.


Lucius menarik Ally hingga berdiri di depannya. Kedua tangannya melingkari pinggang Ally dari belakang. Ia tersenyum lebar dan memperkenalkan Ally pada semua anggota keluarganya.


"Perkenalkan semuanya, Ini Alison Adair. Ally yang kuceritakan," semua orang memperkenalkan diri satu persatu. Eloy mengulurkan tangan dan menyambut Ally.


"Kemarilah, Ally. Duduk di dekatku," ucap Tuan Eloy. Dengan masih merona Ally menurut dan pindah ke dekat Tuan Eloy.


"Ya, Ally. Jauh-jauh dari pria itu, dia terlihat tidak bisa menjaga tangannya darimu," Rico sedikit tertawa ketika mengucapkannya. Membuat ia mendapat tatapan tajam dari Lucius.


"Kapan kau datang, Derek?" tanya Mike.


"Kemarin. Dia membatalkan menerima kalian karena alasan akan menjemputku," ucap Derek sambil berkedip.


"Dan kapan kau sadar kalau Enrico yang akan kami temui adalah temanmu?" tanya Mike lagi.


"Ketika kau pergi. Aku meminta Alex memeriksa, dan benar saja ... itu si play boy ini! Kau ingat dia sekarang bukan!?" Derek tertawa lebar menatap ekspresi Mike.


"Dan kau tiba tanpa mengucapkan apa-apa! Kau tahu siapa keluarga Sanchez yang datang untuk Ally


Dan kau diam sampai saat terakhir!" Rico menatap Derek dengan menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja. Aku yang membereskan kekacauan yang kalian buat di bar waktu itu. Sepuluh wanita yang kalian tinggalkan mengamuk, saling mencakar dan akhirnya memilih menyerang pria yang membuat mereka saling bertengkar. Kalian sudah melarikan diri! Akulah yang akhirnya harus mencari cara terbebas dari sana!" Mike menatap dua pria yang terbahak mendengar ucapannya. Mereka teringat keliaran dan kekacauan yang kerap mereka buat ketika masa mereka menempuh pendidikan bersama , masa kuliah Derek bersama Enrico. Mereka kerap keluar dan terkadang Mike yang lebih tua mengikuti dua anak muda itu. Tak jarang membereskan kekacauan yang mereka buat.


Amy berdehem, memandang tertarik pada Enrico. Arthur yang sudah dipindahkan ke pangkuannya dari gendongan Cecilia tampak menggeliat dan mengoceh.


"Jadi kau pasti tahu banyak rahasia Derek. Bukankah begitu, Rico?" tanya Amy dengan senyum penasaran.


"Tentu saja, Cara. Aku tahu semua rahasia pria ini!" tawa Rico sambil mengedip pada Amy.


"Tidak ada yang tidak kuceritakan padamu, Sweety. Dan jangan panggil istriku Sayang, Enrico!" seru Derek yang disambut tawa oleh Enrico.


"Enrico ... kau tentu tahu maksud kedatangan kami bukan? Aku datang bersama seluruh keluargaku untuk menemuimu. Kau wali Ally ... kau ingin melihat seluruh keluarga Lucius sebelum kau memberi izinmu. Sekarang kita sudah bertemu, kau tentu menepati janjimu, bukan?" Mike memotong perdebatan Derek dan Enrico. Mengembalikan keduanya pada maksud pertemuan tersebut.


Lucius menatap tajam pada Enrico, " Aku mengikuti syaratmu, Costra! Jangan membuat berbagai alasan lagi!"


Enrico terkekeh, memandang semua yang hadir dan melambaikan tangan pada Ally.


"Kaliankan lihat sendiri tampilan gadis ini." ucapnya.


"Itu hanya tampilan. Ally sudah lebih tua dari Amy saat aku menikahinya. Amy bahkan baru berumur 19 tahun, lebih mungil dan imut dari Ally." Derek menatap Rico, mematahkan alasan pria itu.


"Wah, Derek. Kau terdengar seperti memberi dukungan pada Sanchez. Jangan-jangan kau memang datang dengan maksud itu. Tentu saja aku memberikan izinku. Tapi menikahnya jangan sekarang. Mungkin tahun depan. Bagaimana?" Enrico menaikkan alisnya menatap Lucius yang terlihat mulai meradang.


"Kenapa tahun depan, Nak? Lucius sudah siap menikahi Ally sekarang. Bukan tahun depan." tanya Tuan Eloy.


"Well ... Masih banyak yang perlu dipelajari Ally, Paman. Dia akan masuk ke keluarga kalian dan menjadi istri. Setidaknya setelah setahun dia tinggal dan belajar di sini, kuharap dia akan makin bersinar ketika menjadi pengantin Lucius."


Ally menunduk, merasa sedikit malu, bahkan Enrico merasa dirinya belum pantas mendampingi Lucius. Lucius melirik wajah sedih yang Ally tunjukkan, merasa Enrico sangat keterlaluan karena secara tidak langsung merendahkan Ally. Ia baru saja akan membentak pria itu ketika Amy memiringkan wajahnya dengan tangan memegang pipinya sendiri. Berucap manis dan terkagum pada Enrico.


"Ya Tuhan ... Kau manis sekali, Enrico. Kau takut Ally dan Alan pergi dari sini bukan? Kenapa? Kau takut kesepian? Kau akan sendirian bila mereka sudah pergi ... hanya ada Frederic yang menemanimu ..." Amy menatap Enrico dengan mata berbinar. Semua orang sedikit terkejut dan berpaling menatap Enrico.


Pria gagah dengan wajah tegas dan angkuh itu sedikit terhenyak, ia merasa seperti baru saja ditodong dengan telak. Perubahan wajahnya membuat semua orang akhirnya mengerti, apa yang dikatakan oleh Amy benar adanya. Keheningan merayap, setelah beberapa saat terdiam, Enrico menyunggingkan senyum miring dengan wajah sedikit malu.


"Well, Cara ... kau membuatku sedikit malu ..." Enrico menelan ludah, menatap Ally yang menatapnya dengan mata penuh kasih, merasa bersalah telah menduga alasan Rico ingin menunda pernikahannya dan juga menatap Alan yang balik menatapnya dengan wajah sedih.


"Kurasa kau benar, Cara ... Aku merasa belum memberikan yang terbaik pada keduanya. Aku seharusnya mengurus mereka sejak Gefry Adair tiada, menggantikan ayahku. Tapi aku sibuk sendiri dengan bisnisku. Memberi tanggung jawabnya pada orang lain yang ternyata adalah seorang ********. Aku orang brengs** yang egois. Jadi aku ingin punya kesempatan lebih banyak mengurus keduanya sekarang. Jika Ally menikah ... mereka berdua akan pergi ... Lucius yang akan menjaga keduanya ... Aku ...."


Enrico terhenti ketika Alan yang mendengar ucapannya datang menghampiri tempat duduknya. Mata biru berbinar bocah itu memegang kedua tangan Enrico.


"Paman ... jangan bilang begitu. Kau menyelamatkan kami," Alan memanjat naik ke pangkuan Rico dan memeluk lehernya. Enrico tersenyum, memeluk Alan sampai tenggelam dalam rengkuhan lengannya. Menunduk menyimpan wajah haru yang membias di wajah dan kedua matanya.


"Kau sangat baik. Kau selalu membelikanku coklat. Kau bahkan memberiku diam-diam jika Ally menyimpan dan membatasi jumlah coklat yang boleh aku makan," ucapan Alan yang teredam di dada Enrico terdengar jelas oleh semua orang. Ally sudah menangis saat Enrico memeluk adiknya. Namun kini ia terisak, ia bangkit dan menghampiri Enrico. Duduk di sebelah laki-laki itu dan memeluk keduanya dengan lengannya yang kecil.


"Kau bukan orang brengs** yang egois. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila saat itu kau tidak datang menyelamatkan kami ... terimakasih. Kau tidak berutang apapun padaku dan Alan. Kau keluargaku sekarang," ucap Ally di sela tangisnya.


Enrico memejamkan mata sesaat, kembali menelan ludah, melepas satu lengannya pada Alan dan merengkuh Ally. Keduanya dipeluk Enrico dan balas memeluk. Lalu Enrico menatap langsung mata Lucius, " kau berjanji menjaga mereka bukan ... membahagiakan mereka, karena jika tidak ....maka aku tidak akan mengizinkan kau membawanya,"


Lucius menatap manik mata Rico, memberi penekanan pada suaranya, janji sesama pria lewat kilau mata mereka.


"Kau tahu Aku akan melakukannya. Aku berjanji ...." ucap Lucius tegas.


Eloy menghapus lelehan air mata yang tanpa sadar mengalir di pipinya. Amy dan Reggie membersit hidung dan menghapus air mata mereka dengan lengan. Cecilia yang ikut menangis, menatap bahagia pada Ally yang menangis sesenggukan dalam pelukan Rico. Kejutan penuh kejutan dalam satu malam. Melihat keluarga Sanchez datang, mengetahui merekalah keluarga yang akan melamar Ally. Lalu melihat Lance lagi ...


Teringat kembali pada pria itu, Cecilia menghapus airmatanya dan menoleh ke arah sofa dimana Lance duduk. Pria itu rupanya juga tengah meliriknya. Cecilia menelan ludah, berusaha memutus kontak mata itu dan membuang pandangan. Tapi seolah otaknya tidak mau bekerja sama. Sampai tepukan di pahanya membuatnya terkejut dan menoleh.


"Stttt ... Jangan pandangi pria itu! Biarkan saja dia yang memandangmu! Kau hanya perlu menjaga jarak, lalu kau akan lihat ... dia sendiri yang akan mendekat, tanpa perlu kau mengejarnya," Cecilia menatap terkejut mendengar bisikan Amy, wanita itu meletakkan jari telunjuk di tengah bibir sambil mengedipkan mata ke arahnya.


Astaga ... Apa Aku kelihatan sekali? Sampai Amypun menegurku, Aku benar-benar harus menjaga mataku, bukan hanya menjaga jarak.


**********


From Author,


Jaga jarak ya Cecil. Corona soalnya...wkwkkwkw


Readers ku sekalian, jangan lupa klik likenya, gretooonggg..hehe. vote ,love bintang lima dan komentar ya..


Author ucapin terima kasih banyakkkk


Salam, DIANAZ.