Love Seduction

Love Seduction
Chapter 59. Shocked



Lucius menarik Ally ke sebuah kursi panjang yang ada di bawah lampu taman. Ally mendekat dan bermaksud duduk bersama Lucius, namun Lucius membungkuk dan menggendong gadis itu, baru kemudian ia duduk sambil memangku Ally.


"Lucius ... aku berat. Turunkan aku, aku duduk di kursinya saja," ucap Ally sambil mendorong dada pria itu.


"Ya, kau seberat merpati. Diamlah dan cium aku. Aku kembali kemari lalu harus berhadapan dengan Rico. Tidak dapat bertemu denganmu beberapa lama. Kau ini tidak merindukanku sama sekali ya. Aku sendiri sudah sangat merindukanmu ...." Lucius berbisik dan mulai mencium pelipis, lalu pindah ke bagian belakang telinga gadis itu.


Ally terkikik, kembali mendorong dada Lucius dan mengelak dengan menjauhkan kepalanya dari ciuman pria itu.


"Kau malah ikut pergi memancing, pergi belanja ,dan pergi menjemput Derek bersama Rico. Kau sama sekali tidak terfikir atau teringat padaku." Lucius mengeluarkan nada kecewa yang membuat Ally mendongak dan menatap matanya.


"Tidak begitu, Lucius. Kau tahu Enrico sangat keras kepala. Aku tidak bisa menolak, lagipula aku tidak mau ia makin menyulitkanmu jika aku tidak menurut."


"Tetap saja ... kau tidak terlihat antusias bertemu denganku ...." Lucius menghidu, menghirup aroma wangi Ally.


"Tentu saja aku sangat menantikan bertemu denganmu, Lucius. Kau membayangi tidurku setiap malam, tidak ada satu haripun lewat begitu saja tanpa aku tidak memikirkanmu."


Lucius hanya diam, memandang mata menakjubkan Ally yang selalu membuatnya tertarik, jari-jarinya sudah bergerak membelai rambut halus Ally, tanpa sadar menarik satu demi satu bunga kecil hiasan rambut gadis itu.


"Dan aku sudah tidak sabar untuk melakukan ini ...." Ally mengelilingkan lengannya ke seputar dada Lucius, menyandarkan pipinya ke dada pria itu dan mendengar detak jantungnya.


"Aku rindu memelukmu ...."


Lucius tersenyum, mengangkat dagu Ally dengan jarinya dan menunduk.


"Dan aku tidak sabar untuk melakukan ini." Lucius menurunkan wajah, mengecup gadis itu penuh perasaan, lalu berbisik pelan di atas bibir Ally,


"Aku rindu menciummu ...." Ciuman penuh kerinduan itu dimulai dengan sangat lembut oleh Lucius, ia mencecap, memagut bibir manis Allynya dengan penuh rasa cinta, lengannya yang memeluk Ally makin lama makin erat, menarik Ally makin merapat. Ciuman itu makin terasa panas, Ally mengalungkan lengannya ke leher Lucius, jemarinya membelai dengan wajah mendongak balas mencium, menumpahkan kerinduan akan sentuhan pria itu di bibir dan kulitnya. Gairah keduanya makin tersulut, lidah mereka saling membelit dengan tangan saling memeluk erat, seolah tubuh mereka yang sudah saling menempel masih terasa kurang dekat.


"Berhenti!" Suara tegas di tengah keheningan taman itu membuat Ally seketika memisahkan diri dari Lucius. Gadis itu menoleh, memandang berkeliling, mencari siapa yang baru saja berteriak.


Luciuspun melakukan hal yang sama, ia mengira seseorang datang dan menghentikan ciuman mereka. Ia memandang berkeliling dan tidak melihat siapapun.


"Siapa ...." Ally baru saja akan bicara ketika jari telunjuk Lucius berada di bibirnya, menghentikan ia bersuara.


"Sttttt ....." ucap Lucius. Ia menatap Ally dan berbisik.


"Tidak ada siapapun, sepertinya suara itu berasal dari balik tanaman itu." bisiknya ke telinga Ally. Lucius menurunkan Ally dan mengajaknya berdiri. Ia menarik Ally ke arah tanaman rimbun yang membatasi tiap lorong taman menjadi dinding memanjang. Tinggi tanaman itu sudah mencapai kepala Lucius.


Lucius dan Ally mengintip dari sela-sela dedaunan. Tumbuhan rimbun itu di pelihara sampai tinggi dan di atur memanjang hingga membentuk dinding yang membatasi tiap lorong taman. Namun daun-daunnya bisa di singkap, tulang dahan tanaman itu tidak terlalu keras, hingga dengan mudah, Lucius dan Ally menghela ranting dan mengintip ke lorong sebelah.


Lance tampak berdiri membelakangi lampu taman, lebih kurang tiga meter di hadapannya berdiri Cecilia. Keduanya hanya saling menatap. Lucius mengernyit, suara Lance lah yang tadi mereka dengar.


Cecilia maju selangkah, Lance menyipit melihat gerakan gadis itu.


"Aku bilang berhenti, Cecilia."


"Kenapa? Kau takut aku mendekat?"


"Aku tidak takut kau mendekat Cecilia. Aku malah akan menangkapmu jika kau mendekat lebih dekat lagi!"


Ally dan Lucius saling berpandangan dari balik tanaman.


Cecilia menatap tidak percaya, ia takut telah salah mendengar.


"Apa!? Kau malah akan menangkapku?" Cecilia maju selangkah lagi.


"Coba saja! Dan jangan salahkan aku jika nanti kau akhirnya menyesal!"


"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" Cecilia maju selangkah lagi, menyipit memandang wajah Lance yang tertutup. Ia tidak dapat melihat ekspresi pria itu.


"Kau sudah memaksa menciumku dua kali. Kau kira untuk ketiga kalinya aku akan membiarkanmu begitu saja!"


Lucius dan Ally sama-sama terkejut, keduanya bergerak kedepan dan makin memajukan kepala mereka, mengintip lebih dekat ke dalam rimbun dedaunan. Penasaran dengan apa yang terjadi antara Cecilia dan Lance.


Cecilia maju lagi selangkah. Lance menyipit, menatap Cecilia yang menjilat bibirnya sebelum berucap.


"Mungkin saja ... Aku memang tidak ingin kau biarkan begitu saja, Lance. Mungkin ... Aku memang ingin kau menangkapku ....." ucapnya dengan suara pelan, hampir seperti tercekik, merasa tidak yakin bagaimana Lance akan menanggapi kata-katanya.


Lance menatap lama ke mata bulat gadis di depannya. Gadis itu melangkah lagi, kemudian berhenti, menatap mata Lance yang ditutup bayang-bayang. Mencoba menilai ekspresi pria itu.


"Aku benar-benar akan mendekat."


"Kau tidak lagi bisa lari jika aku sudah menangkapmu."


"Tidak masalah ... Aku menginginkannya."


"Apa kau tidak akan menyesal?"


Ceilia menggeleng, "tidak." jawabnya yakin.


"Aku hanya Lance . Seorang karyawan biasa, lelaki biasa, dengan hidup yang sangat biasa ... Kau siap hanya hidup dengan hal biasa seperti itu?"


"Tentu saja."


Langkah Cecilia kembali mendekat, Lance merasakan jari-jarinya berkedut, ia akan dapat menjangkau gadis itu bila ia mengulurkan tangan.


"Aku mencintaimu, Lance. Aku menginginkanmu ...."


Lance menatap dengan mata berkilat, "gadis bodoh! Kau seharusnya menjadi orang yang mendengarkan kalimat itu dari pria yang mencintaimu. Bukan malah mengucapkannya."


Selangkah lagi Cecilia maju," Biarkan saja! Aku sudah tidak sanggup lagi menahannya!"


Lalu gadis itu melangkahkan satu lagi langkah terakhirnya, sampai ia benar-benar berhadapan dengan Lance.


Cecilia menengadah, menatap Lance dengan pandangan mata bulat besar dan bibir merekah.


"Aku sangat merindukanmu ...."


Lance menipiskan bibir. Kedua tangannya terangkat, memegang bahu Cecilia dengan wajah menunduk.


"Keberanianmu sangat manis ... Cecilia ...." Lalu Lance menunduk, menyatukan bibir dengan Cecilia yang menyambut dengan hati bersorak. Kedua lengan gadis itu langsung terangkat, bergelayut di leher Lance dengan kaki berjinjit agar bisa mencapai Lance. Keduanya berbagi ciuman, Lance tidak lagi menahan dirinya, ia menerima perasaannya dan melepas semua belenggu yang ia buat sendiri. Kecemburuan melihat Cecilia bersama Enrico membuatnya tahu, ia tidak rela melihat gadis itu jadi milik orang lain.


Lance mengecup, membalas ciuman dari gadis cantik bermata bulatnya yang ceria. Berbahagia karena tahu hidupnya akan sangat penuh warna bersama gadis itu.


Ciuman itu berakhir, keduanya melepaskan tautan bibir sambil masih saling memeluk.


"Aku mencintaimu, Cecilia ... Aku juga menginginkanmu ... dan sangat, sangat merindukanmu."


Lance menunduk, menatap dengan mata berkilat ke arah Cecilia yang terpana memandangnya, mata bulatnya bersinar , refleksi rasa bahagia yang membuncah di hati gadis itu.


"Jangan memandangku dengan tatapan itu ...." ucap Lance.


"Katakan lagi ...."


"Apa ...."


"Bahwa kau mencintaiku ...." pinta Cecil.


Bibir Lance tertarik, membentuk senyuman lebar.


"Aku mencintaimu, Nona Damario," ucap Lance, dan mengakhirinya dengan mengecup sudut bibir gadis itu.


"Ya Tuhan ...." desah Cecil.


"Kenapa?"


"Aku tidak bermimpi bukan ...."


"Tidak ... Ini aku, Lance .... yang memelukmu," ucap Lance masih dengan senyum lebar.


"Astaga ... kau makin tampan ...." Cecilia menatap kekasih hatinya dengan tatapan terpana, tatapan tergila-gila.


Lance terkekeh, "Ya Tuhan ... Apa yang harus kulakukan dengan gadis ini, " ucapnya geli.


"Tentu saja kau harus melamarnya bersama seluruh keluargamu! Seperti kita datang kemari untuk melamar Ally!" Suara lembut nan tegas itu terdengar tak jauh dari belakang Cecilia.


Cacilia menoleh, melihat Reggie yang menggendong Marie yang tertidur telah berdiri bersama Mike.


"Keluarga?" Cecilia kembali menoleh ke arah Lance, mendongak menatap pria itu.


"Kau akan melakukannya...?" tanya Cecil dengan penuh harap.


"Aku ...." Lance berhenti, bingung melanjutkan kalimatnya.


"Katakan ya, Lance. Kenapa kau ragu? Katakan padanya kau akan datang bersama seluruh anggota keluargamu. Keluarga Lance Luiz Sanchez."


Suara gedebuk jatuh mengalihkan perhatian semua orang. Dipinggir tanaman rimbun yang menjadi dinding pembatas antar lorong taman, Lucius yang terkejut tanpa sengaja mendorong dedaunan, dahannya yang bertulang lembut tidak dapat menahan laju pria itu sehingga tubuhnya menembus tanaman dan muncul di lorong sebelah dengan menarik Ally ikut bersamanya. Gadis itu jatuh di samping Lucius, dengan tubuh bagian bawahnya menimpa pangkal paha pria yang menariknya.


"Awwww!!!" Lucius berteriak.


Mike adalah yang pertama dapat mengatasi rasa terkejutnya. Ia terbahak sampai harus menunduk memegangi perutnya yang sakit.


"Ya ampun ... kukira klan Langton sangatlah unik ... ternyata keluarga Sanchez lebih unik lagi .... apa ... memangnya apa ... kau ... Lucius ...." Mike tertawa geli, tidak sanggup berkata dengan benar untuk menyambung kalimatnya. Suara tawanya menggema, bahkan sampai ke dalam ruang dansa.


**********


From Author,


Akh Bang ... sebenarnya mau ngapain....terkejut sangat pasti ya, sampai jatoh 😂😂😂


Like, love, komentar, bintang lima dan vote jangan lupa ya readersku yang tersayang.😘😘


Terima kasih semuanya,


Salam, DIANAZ.