
Lucius menarik napas panjang. Bulan demi bulan berlalu dan Regina masih belum juga mengatakan apa sebenarnya yang membuatnya sangat gundah. Ada kesedihan yang kadang terlintas di mata adiknya itu. Sesuatu yang Regina simpan sendiri di dalam hatinya.
"Kenapa termenung?"
Lucius berbalik ke arah suara yang menegurnya. Derek yang tengah menggendong bayi montok Erland melangkah mendatanginya. Bayi yang mengoceh riang itu menggoyang-goyangkan tangan dan kakinya dalam gendongan Derek.
"Apa kau tahu ... dia memaksaku mengantarkannya kemari agar ia bisa menikmati acara berenang dengan para ladies itu. Ckk ...." Lucius berdecak.
Derek terkekeh. "Mereka suka bergosip, Lucius. Jadi tidak akan seru jika hanya berenang sendiri di mansionmu."
"Ya. Kurasa begitu, pelayan bernama Elina yang selalu menemaninya di mansion selalu menolak jika Reggie mengajaknya berenang." Lucius menyipit dan memegang pagar balkon tempatnya berdiri. Bayi Erland tertawa setelah diangkat dan digelitiki oleh ayahnya.
Mereka berdiri di balkon belakang Mansion Langton. Menghadap sebuah kolam renang besar dimana Reggie, Amy dan Eve tengah tertawa kencang dan bermain air sambil saling menyiram dan berkejaran di dalam kolam.
"Mereka seperti anak kecil," desah Lucius.
"Itulah yang membuat rumahku hangat dan penuh tawa, Lucius," ucap Derek sambil memandang ke bawah. Ke arah istrinya yang tengah berenang mengejar Eve. Eve sangat lincah dan gesit. Amy kewalahan mengejarnya di dalam air, lalu Reggie tiba-tiba menghadang di depan Eve. Terdengar tawa Amy dan Reggie yang merasa Eve akan segera menyerah dan tertangkap. Tapi bukan Eve jika tidak licin seperti belut, ia menyelam dan menghilang di dalam air, berkelit dan muncul di ujung lain kolam. Membuat Amy dan Reggie berteriak heboh dan mengumpatnya.
"Kau dengar itu Erland? Mommy memarahi Dad ketika mendengar Dad mengumpat. Tapi dia baru saja melakukannya."
Lucius tertawa. "Jangan lupa kalau Mommy selalu benar Dad."
"Ah, kau benar." Lalu kedua pria itu tertawa geli dengan lelucon antara mereka.
"Lucius ...." Derek tampak ingin bicara tapi menghentikan mulutnya.
"Ada apa? Katakan saja ...."
"Hm ... maaf, ini sebenarnya bukan urusanku. Tapi Amy selalu bertanya-tanya, hingga aku jadi ikut sedikit penasaran."
"Tanyakan saja. Aku akan menjawab jika aku tahu jawabannya."
Lucius merasa geli melihat keraguan Derek yang biasanya arogan dan tidak pernah ragu tentang apapun.
"Apa kau tahu apa yang telah terjadi antara Reggie dan Mike? Ummm ... maksudku, aku tidak pernah bisa membuat mereka berada di satu ruangan yang sama. Sudah berbulan-bulan begitu ... apakah kau yang jadi penyebabnya?"
Pertanyaan lugas itu membuat Lucius menaikkan alisnya.
"Aku memang tidak menyukai Mike, Derek. Tapi apa kau merasa aku bisa membuat Reggie berhenti menemui orang yang ingin ia temui? Jika ia ingin bertemu Amy di tengah malam buta, apa kau kira dia tidak akan pergi walaupun aku menolak mengantarnya? Adikku keras kepala luar biasa, Derek. Jika ia mau bertemu seseorang, tidak ada yang bisa menghentikannya. Juga sebaliknya, jika ia menolak melihat seseorang, Itulah yang akan ia lakukan. Menghindar dan membuat dirinya berada sejauh mungkin dari orang itu."
Derek menarik napas panjang. "Ya ... Mike tidak akan datang kemari jika Reggie ada di sini. Begitupun sebaliknya. Amy ingin kita berkumpul tanpa ada satupun yang tidak datang. Tapi salah seorang dari mereka pasti tidak mau datang jika yang lain hadir. Kami kira ini ada hubungannya denganmu ... Amy mengira kau melarang Reggie bertemu Mike, sehingga setiap Reggie datang kemari, kau juga akan datang untuk mengawalnya."
Lucius terkekeh mendengar penjelasan Derek. "Jadi si mungil itu keberatan setiap aku datang kemari mengantar Regina?"
"Tentu saja tidak. Ia hanya menduga alasan yang membuat Mike tidak mau sering-sering datang ke mansion ini."
Kedua pria itu menarik napas panjang." Kau saudaranya, Derek. Kau paling tahu bagaimana dirinya. Kurasa ia orang berfikiran rumit ...."
"Ya ... kau benar. Mike sangat rumit, juga sensitif. Kurasa ia hanya perlu dorongan agar membuka hatinya. Bukan begitu?"
Ucapan Derek membuat Lucius melipat tangannya dan memicingkan mata ke arah kolam. Mencari sosok Reggie dengan rambut basahnya yang mulai panjang melebihi bahu.
Derek melotot pada Lucius. Derek tahu Mike menyimpan suatu perasaan dalam hatinya untuk Reggie, Tapi satu ganjalan masih menghalangi Mike untuk membuka hatinya itu. Ucapan Lucius tadi membuat Derek waspada.
"Pria lain? Sudah adakah?" Derek berubah sangat serius. Membuat Lucius ingin mengerjainya.
"Ah, hanya beberapa kandidat yang merupakan relasi bisnisku," ujar Lucius sambil mengangguk-angguk.
"Beberapa?"
"Aku hanya bingung memilih satu, Gina juga. Mereka memiliki kelebihan masing-masing dan semuanya tampan ...."
Suara rengekan Erland mengalihkan perhatian Derek. Ia mengintip sedikit ke balik popok dan mengernyit, namun sebuah pikiran melintas di otaknya.
Ah ... kau membuatku kesal . Erland akan sedikit mengerjaimu.
"Kemarilah Paman Lucius. Bantu Erland sedikit." Derek berbalik dan masuk ke dalam ruangan. Ia meletakkan Erland di sofa dan membuka popoknya yang sudah penuh pub.
"Astaga ... Daddy lupa tisu basahnya, Sayang. Paman Lucius, tolong duduk di sini dan jaga Erland sementara aku mengambil popok bersih ya." Tanpa menunggu jawaban, Derek pergi meninggalkan Erland pada Lucius yang terkejut.
Melihat bayi itu menggoyangkan kakinya, Lucius segera duduk di sofa dan memegang kaki montok Erland.
"Jangan bergerak dulu, Tampan. Atau benda itu akan berserakan kemana-mana dan menempel di kakimu." Lucius mengernyit menahan bau pub yang mendatangi hidungnya.
"Astaga ... kuharap Daddymu cepat datang kemari."
Lucius tidak menyadari Derek berdiri di belakang pintu dan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Diam dulu. Oke ...." Kembali Lucius bicara sambil mengeratkan jemarinya di masing-masing kaki Erland yang selalu ingin bergerak.
"Kenapa Daddy mu lama se ...." Lucius berhenti dan terdiam kaku. Tembakan itu pas sekali mengenai bahunya dan sedikit memercik ke wajahnya, lalu menuruni dada kemudian berhenti di perutnya. Erland Sky Langton baru saja mengencingi Paman Luciusnya yang terbelalak syok.
"Derekk!"
Suara teriakan itu membahana. Derek menutup mulutnya dengan satu tangan dan menahan perutnya dengan tangan yang lain. Ia pergi dari balik pintu sambil terbungkuk menahan tawanya yang terpingkal-pingkal.
Erland yang cerdas. Kau sangat pintar, Sayangku. Kena kau kali ini, Lucius!
**********
From Author,
Pffftt ....Thor jadi geli sangat and sambil ketawa nulisnya nih pemirsah. Soalnya pernah ngalamin yang namanya tembakan ala-ala baby boy πππππ
Jangan lupa like dulu kemudian kasih komentarnya yah.....Bagi yg belum klik favorite dan bintang 5 buruan klik sekarang ya.....Yg punya poin juga jangan lupa VOTE untuk vitamin penyemangat authorππππ
Terimakasih semua....
Salam, DIANAZ.