Love Seduction

Love Seduction
Chapter 38. Miss you



Lucius mendekat ke sofa panjang tempat Ally berbaring dan sedang tertidur nyenyak. Ia berjongkok di pinggir sofa dan memandangi wajah Ally yang terpejam. Tangan Lucius terulur, mengelus pipi Ally dengan lembut. Matanya menelusuri seluruh tubuh gadis itu. Lucius teringat akan luka cambuk yang dilakukan oleh Carloz di punggung Ally.


Tangan Lucius beralih ke ujung kaos Ally. Ia menarik kaos itu perlahan ke atas. Ingin melihat sisa bekas cambukan di punggung Ally. Namun gerakannya terhenti beberapa saat kemudian karena Ally bergerak dan berpindah posisi menjadi telentang. Lucius kembali menatap ke arah wajah Ally dan mendapati gadis itu masih terpejam.


Setelah berfikir beberapa saat, Lucius memutuskan besok saja ia akan melihat bekas cambukan itu. Ketika Ally bangun dan sadar. Ia berdiri dan kemudian menggendong tubuh Ally dengan mudah. Lucius mendorong pintu kamar yang sudah setengah terbuka dengan ujung kakinya, lalu ia masuk kemudian membaringkan Ally ke tengah tempat tidur.


Ally berguman pelan, bergerak meringkuk ketika Lucius menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh gadis itu. Kelelahan karena membersihkan rumah dan kemudian lama menangis sebelum akhirnya ia tertidur membuat Ally tidak bangun sama sekali saat ia dipindahkan.


Lucius duduk di pinggir ranjang, menatap kekasih hatinya sambil menimbang dimana ia akan tidur. Kasur di samping Ally tampak menggiurkan, namun gadis itu tidak akan terima bila nanti ia bangun dan masih menyimpan kemarahan atas kebohongannya. Tapi tidur di sofa di luar tidak menarik sama sekali.


Aku akan tidur di sampingmu saja ... Paling kau akan memukulku ketika kau bangun dan menemukan aku ada di sampingmu.


Lucius merebahkan tubuhnya, berbaring telentang menatap langit-langit. Entah kenapa hatinya begitu tenang, walaupun ia tahu ia akan menerima kemarahan bahkan mungkin penolakan dari Ally besok pagi. Tapi berada di sini dan dapat melihat Ally dengan mata kepalanya sendiri membuat hati Lucius diliputi ketenangan.


Lucius mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Ally dan kemudian memejamkan matanya. Tertidur disamping Ally yang meringkuk di bawah selimut dengan tangan saling terjalin dengan jari-jarinya.


**********


Ally mengernyit ketika wajahnya membentur sesuatu. Ia masih mengantuk, tapi sesuatu yang melingkupi badannya dan benturan di wajahnya membuatnya berfikir tentang pelukan seseorang. Dengan sangat perlahan ia membuka matanya dan menatap dada seorang pria yang tertutupi kaos ada di depan hidungnya. Ally bergerak cepat dan menggeser tubuhnya ke belakang. Ia mendongak dan menatap ke arah mata hitam yang terbuka dan juga membalas menatapnya.


"Belum pagi Alison ... Tidurlah kembali," ucap Lucius , ia tersenyum dan mengulurkan tangannya mengelus kening Ally yang berkerut.


Ally mengucek matanya dan menatap berkeliling. Menyadari ia berada di kamarnya, lalu kembali menatap Lucius. Sosok yang berbaring di sebelahnya itu nyata dan hidup. Ia bernafas, ia bergerak, ia tersenyum ... bahkan ia barusan bicara padanya. Kembali Ally menggosok kedua matanya.


Lucius terkekeh melihat perilaku gadis itu.


"Kau tidak bermimpi, Ally Sayang. Ini Aku. Aku sudah kembali, dan aku datang untuk menjemputmu."


Ally diam beberapa detik, lalu gadis itu bergerak akan bangkit untuk pergi meninggalkan tempat tidur. Lucius mengulurkan tangannya dan dengan sigap menangkap tubuh Ally kemudian menariknya, sehingga gadis itu kembali terbaring di tempat tidur di samping tubuh Lucius.


"Kau tidak boleh pergi. Masih malam, di luar masih gelap. Tidurlah kembali." ucap Lucius.


Ally mengatur nafasnya dan menata detak jantungnya yang berdegup. Ini sungguh bukan mimpi. Lengan yang melingkupinya ini sungguh nyata. Tapi ....


"Bagaimana kau bisa masuk!?" teriak Ally.


"Sttttt ... pelankan suaramu. Atau kau mau membuat Alan terbangun?"


"Kau ... bagaimana kau bisa masuk dan menyelinap ke kamarku!" desisnya marah.


"Tidak ada pintu yang tidak bisa kubuka, Alison." Lucius menatap mata biru yang telah menawan hatinya itu, ia menelusurkan jarinya ke dekat mata dan pelipis Ally.


"Jangan sentuh!" desis Ally. Ia menepis tangan Lucius dan bergerak bangkit, bermaksud akan duduk. Namun kembali tangan Lucius menahannya.


"Jangan kemana-mana ... Tidurlah."


"Aku tidak mau tidur jika kau ada di sini! kau keluar dari kamarku dan pergilah!" ucap Ally sambil kembali mencoba untuk bangun.


Kali ini Lucius menahannya dengan menindih tubuh gadis itu dengan tubuhnya. Lucius menatap kedua mata biru Ally dengan matanya yang berkilat. Ally melotot terkejut dan terdiam kaku di bawah Lucius.


"Berhari-hari aku merindukanmu dan ketika datang kau malah mengusirku pergi. Jika kau tidak merindukanku, tidak jadi masalah ...Tapi aku akan mengikatmu, bahkan menculikmu jika kau berkeras melawanku dan tidak mau menurut. Yang pasti, aku tidak akan kemana-mana, Alison! Jadi ... lebih baik kau kembali tidur sehingga besok kau punya banyak energi untuk mencoba mengusirku kembali."


Lucius melihat Ally menelan ludah, tanpa bisa ditahan ia mengecup bibir gadis itu.


"Halo Alison ... kita belum saling menyapa kan, Aku merindukanmu gadis cantikku yang tangguh." ucapnya merayu.


"Aku mohon maaf padamu sepenuh hati, aku belum sempat memberitahu identitasku yang sebenarnya. Aku tidak punya maksud apa-apa dengan hal itu. Aku hanya belum sempat mengatakannya padamu."


Kembali Ally hanya berkedip, membuat Lucius gemas dan kembali mengecup bibirnya. Bibir Ally langsung mengkerut cemberut.


"Lalu aku mendapat kabar ayahku masuk rumah sakit. Kau pergi bersama Ester, sedang aku diburu waktu untuk berangkat pulang. Aku hanya bisa mengirimkan pesan yang tidak pernah kau balas. Aku menelpon dan ponselmu tidak pernah aktif."


Ally berkedip lagi. Ponselnya, entah dimana benda itu. Tas tempat ponsel itu berada ada di dalam mobil Ester. Lalu ia ditangkap Carloz dan kemudian di rawat di rumah sakit. Kemudian ia tinggal bersama Rico. Ally bahkan sudah lupa dan tidak tahu lagi dimana keberadaan ponsel bututnya itu.


"Sekali lagi kau bereaksi hanya dengan mengedipkan matamu, maka aku akan melakukan lebih dari sekadar mengecup bibirmu, Ally. Aku dengan senang hati melakukannya," ucap Lucius manis.


Ally langsung bergerak mendorong dada Lucius, namun sedikitpun pria itu tidak bergerak.


"Turunlah ... Aku sudah mendengarkan penjelasanmu. Sekarang biarkan aku tidur!" ucap Ally ketus.


Lucius terkekeh, ia malah memegang kedua pipi Ally dan menyangga tubuhnya dengan siku.


"Kau takut ya ..." bisik Lucius.


Ally makin cemberut dan memalingkan wajahnya. Jantungnya berdetak makin kencang. Namun, Lucius menahannya dan kemudian mulai menciumnya. Kali ini tidak hanya sekedar mengecup. Pria itu mencecap, menari dan memainkan lidahnya. Memuaskan kerinduan di hatinya, dan keinginannya menyentuh kembali gadisnya itu.


Beberapa saat setelah terlarut dalam ciuman yang makin panas dan membuat gairahnya bangkit itu, Lucius menyadari ia harus berhenti. Ia menarik bibirnya dan menyandarkan keningnya pada kening Ally yang nafasnya juga terdengar memburu.


"Pergilah, Lucius," bisik Ally serak.


"Hemmmm ..." Lucius mendesah dengan suara serak dan mata terpejam.


Setelah beberapa saat, Lucius bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Ia mengusap wajahnya beberapa kali, kemudian menatap ke wajah Ally yang terlihat merona dan terlihat sangat cantik di matanya di bawah cahaya redup lampu kamar.


Lucius mengulurkan tangannya dan mengelus pipi Ally.


"Aku mencintaimu, Alison Adair. Jangan pernah lupakan itu," ucap Lucius dengan sepenuh hati. Mereka berpandangan beberapa saat sebelum akhirnya Lucius bangkit dan melangkah keluar dari kamar Ally kemudian menutup rapat pintu kamar itu.


Ally menggenggam erat selimut di dadanya. Ia menutup seluruh tubuhnya yang gemetar dan menggelenyar.


Ia tidak dapat menahan letupan letupan rasa bahagia yang membuncah dan bernyanyi di dalam hatinya. Ally memejamkan mata, menggelengkan kepalanya berulang kali. Otak dan hatinya berperang.


Fikirannya berkata jangan terlalu mudah mempercayai kembali laki-laki itu, sedangkan hatinya berkata jangan berbohong pada dirinya sendiri.


Ya ... Jangan berbohong Ally ... Dia hanya perlu menatapmu, dan hatimu sudah kembali bernyanyi. Kau juga mencintainya ... juga sangat merindukannya, bukan begitu?


**********


From Author,


Gimana? Thor gak buat berat berat kok konfliknya... iyakan? hehehehe... Tinggal satu cobaan terakhir dari Rico... mampukah babang tamvan melewatinya dan akhirnya mendapatkan Ally?


Tunggu di chapter selanjutnya ya My Readers. Trimakasih sudah setia baca LS sampai sekarang.😘😘😘😘


Like, love, bintang lima, komentar dan vote jangan lupa ya...


Terimakasih semuanya, Salam cinta dari sini, semoga kita semua secepatnya bebas dari wabah corona...Ammiin...


Salam, DIANAZ