
Eloy merasa tidak sehat, setelah sarapan pagi, ia cepat-cepat kembali ke kamar dan meminum obatnya, Reggie saat itu tengah keluar mengantar Mike yang akan berangkat ke kantor. Kemudian ia mendengar cucunya menangis di lantai atas, segera Eloy melangkah ke arah tangga, bermaksud ingin melihat Marie kenapa tidak juga berhenti menangis. Baru beberapa undakan tangga ia naiki, kepalanya terasa pusing, lalu pandangannya mulai kabur.
Eloy berpegangan erat, memejamkan mata lalu kembali membukanya, menarik nafas dan memaksa kakinya menaiki satu undakan lagi. Namun kali ini tubuhnya tidak lagi berkompromi. Eloy terpejam, lunglai dan berlutut di undakan tangga. Pegangannya terlepas, lalu ia melorot jatuh sebelum terguling dan terbaring di tengah undakan tangga.
Seorang pelayan yang baru saja akan masuk ke aula langsung menjerit, Jeritan yang didengar seluruh penghuni mansion Eliazar.
Mike yang baru saja menutup pintu mobil terkejut dengan pekikan keras itu. Ia turun kembali dan berlari masuk mengejar Regina yang sudah lebih dulu masuk setelah mendengar suara teriakan.
"Ayah!" Regina menjerit histeris melihat ayahnya yang terbaring di undakan tangga terbawah. Belum sempat Reggie menyentuh ayahnya, Mike sudah tiba dan mengangkat tubuh Eloy dengan mudah.
"Buka pintu mobil, Regina. Sekarang!"
Reggie yang telah berurai air mata segera mengangguk. Ia berlari keluar kembali. Mike memberi perintah pada kepala pelayannya, Leigh yang sudah berada di sana.
"Pastikan Nanny menjaga Marie, Leigh. Kami akan membawa ayah ke rumah sakit."
Leigh segera mengangguk dan mengiring langkah Mike ke halaman depan. Reggie sudah menunggu di kursi belakang dan membantu Mike membawa tubuh ayahnya masuk.
Setelahnya Mike duduk di kursi depan dan memerintahkan Nick yang sudah siap di belakang kemudi untuk melaju ke rumah sakit.
**********
Lucius menaikkan alis ketika melihat ponselnya berbunyi dan tertera nama Mike di sana. Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Halo ... Mike?"
"Ya ... Ini aku, Lucius."
"Ada apa?"
"Pesawat pribadi Langton Corp. akan menjemputmu. Brad dan Santoz sudah kuberitahu. Kau harus pulang. Ayah masuk rumah sakit, sekarang belum juga sadar, dokter belum memberi kabar pada kami. Ia baru saja di bawa masuk ke ruang periksa ...."
"Apa! ... Tap ... Tapi, kenapa?"
"Jangan tanya kenapa Lucius. Pulanglah. Tadi malam ayah mengatakan ingin kau pulang. Kau butuh berkendara lagi untuk sampai ke bandara. Berangkatlah sekarang. Jangan menunda lagi."
"Baik ...Aku pergi sekarang ... Mike ... Ayah, Regina ...." Lucius terdengar cemas.
"Tenangkan dirimu. Kami masih menunggu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi soal ingin melihatmu pulang, Ayah memang mengatakannya. Ketika nanti ia sadar, ia pasti menanyakanmu. Pulanglah dulu Lucius ... Sekarang. Tanah itu bisa menunggu. Ayah membutuhkanmu."
"Baiklah, .... Mike?" Lucius menelan ludah, kesulitan melanjutkan kata-katanya.
"Ya?"
"Tolong ... Jaga Ayah untukku ...."
".... Tentu, Lucius. Tenanglah ... Kami akan menunggumu di sini."
Panggilan itu terputus. Lucius menatap Pabio yang mengerutkan dahi.
"Kau harus pulang?" tanya pria tua itu.
"Ya ... Ayahku jatuh, tidak sadarkan diri. Mereka menyuruhku pulang sekarang.
"Pergilah kalau begitu. Jangan mengulur waktu lagi ..." ucap Pabio. Pria itu baru saja akan bergerak menuju kamar Lucius ketika pintu depan terbuka dan Brad serta Santoz melangkah masuk.
"Tuan ... Saya akan membantu anda berkemas." ucap Santoz.
Kemudian dalam hitungan menit, semuanya sudah siap di dalam mobil. Lucius berulang kali mencoba menghubungi Ally, namun ponsel gadis itu tidak aktif.
Ester pagi-pagi sekali sudah berpamitan pada Pabio, ia membawa Ally dan Alan ikut serta. Ester hanya mengatakan jika mereka akan pergi berburu. Menurut Pabio akan sulit mencari mereka jika Ester sudah mengatakan soal berburu. Itu bisa berarti banyak hal, bisa saja pergi berburu ikan di sungai dengan memancing, atau pergi ke Kota Woodsky dan berburu benda-benda unik yang biasa di jual para wanita di sana, atau bahkan berburu bahan makanan yang ia perlukan untuk membuat resep kue terbarunya.
Pabio dengan putus asa tidak bisa memutuskan yang mana kira-kira kegiatan yang dilakukan oleh Ester. Akan menghabiskan waktu jika mereka berniat mencari kemana Ester membawa Ally dan Alan.
"Tuan ... Anda bisa menelpon Nona Ally lagi nanti. Ketika ponselnya sudah aktif, untuk memberitahunya keadaan mendadak ini. Sekarang kita harus pergi. Masih butuh 3 jam perjalanan lagi agar sampai ke bandara, Tuan." Brad mengingatkan Lucius yang tampak kebingungan. Hatinya terasa berat meninggalkan Ally tanpa sempat bicara sedikitpun.
Dengan berat hati dan sambil menarik nafas panjang, Lucius mengangguk. Ia segera keluar bersama Brad dan Santoz. Lalu mobil itu melaju meninggalkan tanah perkebunan keluarga Sanchez.
Lucius mengambil ponselnya dan mengetik pesan. Jika nanti ponsel Ally aktif, ia harap gadis itu membacanya dan dapat mengerti alasan ia pergi tanpa menunggu Ally pulang.
Dear, Ally.
Maaf aku tidak menunggumu dulu, atau mencarimu dan pamit. Aku diburu waktu. Ayahku sakit dan tidak sadarkan diri. Aku harus pulang secepatnya, mereka semua menungguku. Kuharap kau akan menungguku di sini bersama Alan. Hubungi aku secepatnya, aku juga akan menghubungimu secepatnya, jadi aktifkan terus ponselmu.
Aku mencintaimu Ally ... Aku akan datang lagi dan menjemputmu. Aku berjanji.
Lucius mengirimkan pesannya dan menarik nafas panjang. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Allynya yang pasti akan merasa sedih. Lalu Lucius juga terbayang pada wajah ayahnya, wajah pria yang sudah menua dan telah melewati banyak hal bersamanya itu.
"Sebaiknya kau tidak apa-apa ,Ayah ... Atau aku akan sangat marah padamu ...." bisik Lucius gelisah.
**********
Ester dengan gembira memasukkan semua bahan ke dalam kantong yang sudah disiapkan oleh pemilik toko.
"Kita akan membuat resep kue baru yang paling istimewa untukmu, Alan," ucap Ester pada bocah kecil yang tengah duduk sambil menjilat es krim di tangannya itu.
"Terima kasih Bibi Ester. Kue buatanmu lebih enak daripada buatan Ally," ucap Alan dengan tertawa.
"Kau menghinaku ya ... kau mau kugelitiki rupanya." Ally baru saja akan bergerak ketika adiknya itu tertawa dan segera turun dari kursi lalu bersembunyi di belakang rok Ester.
Mereka bertiga tertawa berderai. Kegembiraan benar-benar membuncah di hati Ally. Bagaimana tidak ... Lucius mengatakan mencintainya, membuat hatinya terisi dengan kebahagiaan penuh, Ally merasa hidupnya sempurna. Ia menemukan Lucius dan mendapatkan cinta dan kasih sayang pria itu, kebahagiaan yang tercermin dan memancar ke wajah dan mata Ally.
Setelah keluar dari toko dan memasukkan semua bahan yang mereka beli ke dalam mobil, Ester mengernyit, ia teringat sesuatu yang lupa ia masukkan dalam daftar belanjaan.
" Kalian tunggu di dalam mobil saja. Aku akan kembali sebentar lagi," ujar Ester.
Setelah melihat Ester kembali masuk ke dalam toko tak jauh dari mobil mereka, Ally membuka pintu mobil bagian depan, menyuruh Alan masuk.
"Masuklah Alan, kita menunggu di dalam saja," ucap Ally pada adiknya. Alan mengangguk. Bocah kecil itu baru saja akan menapakkan kakinya ke dalam mobil ketika satu tangan besar menangkap bahunya dan menangkup mulut bocah itu. Ally yang terperanjat belum sempat melakukan apapun, ia menatap nanar pada pria gemuk dengan perut yang buncit yang tengah menyandera putranya sendiri itu.
"kau mau Adikmu selamat kan? Sebaiknya kau ikuti aku tanpa membuat keributan. Aku sangat serius...." Carloz menatap mengancam pada Ally.
Ally melihat tangan Carloz sudah melingkari leher adiknya, Alan mulai menangis katakutan.
"Baik ... Baik ... Aku akan ikut denganmu. Tapi jangan sakiti Alan," ucap Ally.
"Gadis pintar ... Sekarang naiklah ke pick up di balik mobil itu!" Carloz memberi tanda dengan dagunya pada pick up yang terparkir di balik sebuah mobil lain. Ally menyesal kenapa ia tidak memandang sekitarnya dulu, ia pasti mengenali mobil itu jika saja ia berhati-hati. Kebahagiaan yang ia rasakan sepertinya mengurangi kewaspadaannya.
Ally melangkahkan kaki, lalu Naik ke atas pick up di sebelah kemudi. Setelahnya Carloz naik ke belakang kemudi dengan tetap memeluk Alan di depannya.
"Akan sulit bagimu mengemudi jika Alan duduk di sana. Biarkan dia duduk denganku," ucap Ally.
"Tidak. Kita akan pulang ke rumah kita, dan Alan akan menjadi jaminan agar kau tidak melakukan hal nekat seperti melompat dengan membawa adikmu ini!" ucap Carloz dengan bengis.
Ally terdiam. Ia menelan ludah. Ketakutannya menguar. Apa yang akan dilakukan oleh ayah tirinya ini ketika mereka sudah sampai di rumah. Tidak akan ada yang bisa menolongnya. Ia tidak bisa menghubungi siapapun, karena ponselnya kehabisan baterai. Sinyal wilayah itu juga terkadang sangat jelek, baterai ponsel jeleknya itu cepat sekali habis.
Harapannya hanya Ester ... Ester menyadari mereka di tangkap dan akhirnya memberitahu Lucius. Ally sangat berharap Lucius datang dan segera membebaskan mereka.
**********
From Author,
Jangan lupa Like, love, vote, komentar dan bintang lima ya....
Terimakasih bagi yang sudah mampir dan baca karya thor ini.
Salam, DIANAZ.