
Frederic memberikan ponsel yang sudah terhubung dengan Tuan Eloy Sanchez itu pada Tuannya. Enrico segera menyambutnya dan mengucapkan salam dengan sopan pada orang tua itu.
"Maafkan Aku, Paman Eloy. Aku tidak dapat segera menjamu kalian sekeluarga di mansionku. Ada urusan mendadak yang tidak dapat aku tunda. Aku harus segera berangkat pagi ini agar tidak terlambat. Jadi malam ini kita tunda dulu pertemuan keluarga ini. Mungkin malam besok. Aku berjanji akan mengusahakannya." Enrico mengucapkan penyesalannya pada orang tua itu.
"Pasti sangat penting, hingga kau harus langsung turun tangan, Nak," ucap Eloy lembut.
"Benar, Paman. Pemberitahuannyapun mendadak. Aku menyesal sekali harus membuatmu menunggu. Padahal kalian sekeluarga sudah repot datang kemari." Enrico mengusap wajahnya, merasa tidak enak hati pada ayah Lucius itu.
"Tak apa, Nak. Aku mengerti. Hitung-hitung aku bisa jalan-jalan dulu. Sudah lama aku tidak melihat daerah ini ...." Eloy terkekeh pelan. Lalu tiba-tiba Rico mendengar suara yang berbeda. Suara Lucius yang rupanya sudah merebut ponsel dari tangan ayahnya.
"Kau selesaikan urusan yang harus kau kerjakan. Tapi Aku akan menemui Ally. Bila kau belum bisa bertemu keluargaku, maka Ally dan Alan bisa. Aku akan menjemputnya." Kata-kata Lucius membuat Rico tersenyum lebar. Pria itu menguping pembicaraannya dengan tuan Eloy.
"Terserah padamu, Lucius ... Kau sungguh tidak sabaran," ucap Rico.
"Done. Sudah disepakati kalau begitu." lalu Rico mendengar nada terputus dari ponselnya.
"Siapa yang sepakat, Lucius Sanchez. Aku kan belum bilang kalau Ally dan Alan akan ikut denganku," ucap Rico dengan serigai lebar. Frederic tersenyum kecil atas ulah tuannya.
"Semua sudah siap, Tuan." ucap Frederic. Enrico mengangguk lalu bangkit dan melangkah keluar dari ruang kerjanya.
Ketika menuruni tangga menuju aula depan, ia melihat Ally dan juga Alan sudah menunggunya.
"Apa aku tidak bisa tinggal saja di mansion selagi kau menjemput temanmu?" tanya Ally penuh harap.
"Tidak, Alison. Luciusmu akan datang dan menculikmu lagi." Rico memencet hidung Ally hingga memerah. Ally memajukan bibirnya, cemberut sambil menarik Alan keluar. Ia tahu percuma membujuk walinya itu.
"Ah ... Derek Langton, datang dengan si mungil Amy yang menggemaskan. Kita bertemu lagi, Cara* ...."
Dengan penuh semangat Enrico melangkahkan kaki menyusul Ally sambil dengan sengaja menepuk bahu Frederic agar mengikutinya.
**********
Perjalanan menuju kota memakan waktu 3 jam. Enrico membuka pintu mobil, lalu mengangkat Alan yang tertidur. Frederic membuka pintu mobil untuk Ally. Gadis itu keluar dan mengucapkan terima kasih.
"Ayo, kita akan beristirahat dulu." Enrico mendahului melangkah memasuki lobi hotel mewah itu. Seorang lelaki datang menyambutnya dengan tergopoh-gopoh.
"Tuan Costra, Anda sudah tiba, " ucap pria itu. Berusaha menahan keheranan di matanya melihat Tuannya yang datang dengan menggendong anak kecil yang tertidur.
"Antarkan kami, Vasques!" perintahnya. Pria itu mengangguk berulang kali. Setiap pegawai yang mereka lewati tampak menunduk memberi hormat ketika mereka lewat. Ally menaikkan alisnya, para pegawai wanita langsung memandangnya setelah Rico melewati mereka.
Apa mereka fikir, aku kekasihnya. Fikir Ally geli.
Mereka menaiki lift dan tiba di lantai atas, Kamar yang ditempati Alan dan Ally terbuka. Rico masuk dan membaringkan Alan di tempat tidur besar di kamar mewah itu.
"Tidak. Alan tidak akan bisa tidur jika ia sendirian di kamar sebesar ini," ucap Ally.
"Alan atau kau yang tidak bisa?" tanya Rico dengan alis terangkat. Lalu sebuah bantal mendarat di wajahnya.
"Kau fikir aku ini penakut. Tidak berani tidur sendiri!" ucap Ally bersungut-sungut."
Rico tertawa kencang. Ia menunjuk ke arah pintu walk in closet kamar itu.
"Di sana sudah disediakan semua kebutuhanmu dan Alan," ujarnya. Lalu ia keluar dari kamar tersebut.
Ally masuk melalui pintu yang Rico tunjuk, melihat gaun, sandal, sepatu, tas. Ia mengernyit. Apakah ini memang di siapkan untuknya? Atau Rico terbiasa membawa gadis ke hotel miliknya ini hingga di kamar yang ia tempati selalu sudah siap dengan semua kebutuhan seorang gadis? Lalu Ally melihat perlengkapan untuk anak kecil. Untuk Alan. Ia tersenyum lebar, Rico sangat perhatian dan baik hati. Semua ini memang disiapkan untuk dirinya dan adiknya.
**********
"Ingat perkataanku ... Kau tidak boleh dekat-dekat dengannya!" ucap Derek tegas.
"Sayang, bagaimana tidak dekat-dekat. Kita akan tinggal di mansion Enrico," ucap Amy terkikik.
"Aku tahu. Tapi kau harus menjaga jarak dari pria itu! Sudah bertahun-tahun, ia masih saja memanggilmu Sayang!" sungut Derek.
"Tapi itu terdengar manis," ucap Amy. Segera ia mendapat cubitan di bokongnya.
"Maafkan aku," ucap Amy geli.
Cecilia melihat interaksi suami istri itu sambil tersenyum di kursinya. Penerbangannya tidak akan lama lagi. Mereka akan tiba dan teman Derek yang bernama Enrico itu akan menjemput mereka. Cecilia tidak sabar lagi menginjakkan kakinya kembali ke tanah. Menghirup udara daratan dan memanjakan matanya sebentar lagi. Hatinya penuh antisipasi melihat kebun anggur dan sungai berbatu yang diceritakan Derek padanya.
Di sudut hatinya yang paling dalam, Cecilia mengakui alasan yang paling mendasari hatinya yang penuh antisipasi itu bukanlah ingin melihat kebun anggur. Melainkan ingin melihat seorang pria yang sangat pandai menyembunyikan semua ekspresi dari wajahnya, pria yang sangat ia rindukan, mengisi fikirannya siang dan malam. Bukan saja saat ia terbangun dan sadar, namun juga selalu datang menjajah bahkan ke dunia mimpinya.
**********
*Cara \= sayang
From Author,
jangan lupa like,love, komentar, bintang lima, dan vote ya...
Terimakasih banyakkkk
Salam, DIANAZ.