Love Seduction

Love Seduction
Chapter 52. You are not your father



Lucius mengernyit mendengar nama yang disebutkan oleh Mike. Seingatnya tidak ada orang kepercayaan ayahnya dengan nama tersebut.


"Bertrand ... kurasa tidak ada orang kepercayaan ayahku yang bernama Bertrand, Mike."


"Mungkin karyawan atau pernah bekerja di perusahaanmu?"


Lucius menggelengkan kepalanya sambil memandang Mike.


"Jika memang dia adalah orang suruhan ayahku, kurasa ayahku tidak akan menyuruh karyawan biasa untuk menemui Eliazar. Dia pasti akan menyuruh seseorang yang sangat ia percaya. Orang-orang kepercayaan ayahku tidak ada yang bernama Bertrand. Kau tahu nama belakangnya?"


Giliran Mike yang menggelengkan kepala.


"Tidak. Homer hanya ingat Eliazar memanggil nama pria itu Bertrand. Itupun jika ingatannya tidak salah. Sudah bertahun-tahun dan ia hampir melupakannya."


"Eliazar ini ... apakah orang yang menjual informasi pada ayahmu?" Suara Derek tiba-tiba bertanya membuat Lucius dan Mike menoleh ke arahnya.


"Ya ... Rudolf Eliazar. Dia berasal dari Klan Langton. Kurasa Mike tahu siapa dia." Lucius mengendikkan dagunya ke arah Mike.


Derek memandang Mike, menyuarakan pertanyaannya lewat pandangan. Mike hanya menampilkan wajah datar untuk menjawab pertanyaan itu.


"Seseorang yang berkhianat di Klan ini. Bukan hanya menjual informasi tentang Marinna. Sudah banyak rahasia perusahaan yang ia jual untuk kepentingan pribadinya sendiri. Tapi Erland sudah menanganinya. Pria itu mati dua minggu kemudian ...."


Derek menaikkan alisnya. Dia tidak tahu cerita ini. Nama itupun baru pertama kali ia dengar. Ayahnya Erland selalu menceritakan silsilah seluruh keluarga yang berada dalam naungan Klan Langton.


Apakah keluarga Eliazar ini dulunya adalah salah satunya?


Derek menahan pertanyaan yang ingin diutarakannya pada Mike itu di depan Lucius.


"Baiklah ... aku pamit undur diri. Aku akan bertanya pada beberapa orang yang masih bekerja pada ayahku semenjak mereka masih muda. Mungkin mereka tahu seseorang yang bernama Bertrand ini."


Mike dan Derek mengangguk.


"Umm ... Lucius, apakah kami boleh menjenguk ayahmu? Kau tahu ... dulu seseorang temanku pernah coma lama dan menggunakan alat penunjang hidup, lalu aku membawanya ke tim ahli dokter terbaik yang kami punya. Aku tidak bermaksud mengatakan tim doktermu tidak bagus, hanya saja mungkin kau mau mempertimbangkan untuk menerima second opinion. Mendengarkan pendapat dari tim dokterku, atau bahkan membuat mereka bekerja sama. Untuk kesembuhan ayahmu ...."


Derek memasukkan tangannya ke dalam saku celana, merasa tidak enak dengan saran yang ia berikan. Namun niatnya tulus ingin membantu. Mike tersenyum lembut, jiwa Erland yang pengasih sungguh menurun pada putranya itu.


Lucius agak terkejut dengan penawaran Derek. Tidak menyangka akan menerima perhatian dari laki-laki itu untuk ayahnya. Ia melihat ketulusan di mata Derek.


"Aku sangat berterimakasih, Derek. Bantuan apapun untuk kesembuhan ayahku sangat berarti. Aku akan menyuruh Lance mengkoordinasikannya dengan tim dokter kami. Sungguh aku menghargai bantuanmu. Kuharap kau menghubungiku ketika tim ahlimu sudah siap."


Dengan menahan haru, Lucius mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan keduanya, lalu ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kantor Derek.


Mike masih duduk di sofa dengan kedua siku bertumpu pada lutut dan jari-jari saling mengait. Menunggu ... ia tahu Derek akan menyuarakan pertanyaannya.


"Kau mengenal orang itu?"


Derek duduk di depan Mike dan memandang langsung ke matanya. Mike tahu pasti siapa yang dimaksud oleh Derek.


"Ya ...."


"Siapa dia, Mike?"


"Orang kepercayaan ayahmu yang berkhianat karena ketamakannya." Lalu Mike menceritakan kejadian di Mansion Eliazar, yang menyebabkan Rudolf mati oleh penembak jitu, juga tentang dirinya yang dijadikan tameng dan ditembak tanpa menyebutkan hubungan yang ada antara dirinya dengan Rudolf.


"Aku tidak pernah mendengar namanya," ucap Derek.


"Karena tidak ada yang mau mengenang pengkhianat itu lagi, Derek. Kejadian itu terjadi sebelum Erland membawamu ke Mansion Langton."


"Apakah orang ini keluarga lama?"


Keluarga lama yang dimaksud Derek adalah keluarga yang membangun klan dari awal. Mendukung Langton bahkan dari masa kakek buyut mereka.


Mike tampak mengusap wajahnya mendengar pertanyaan Derek. Terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan itu.


"Ya ...," Jawab Mike pelan.


"Benar ... ayah orang itu dan kakeknya."


"Apakah Erland yang menghilangkan keluarga ini dari klan? Maksudku adalah menghapus namanya sama sekali dari klan kita sehingga aku bertahun-tahun tidak pernah mendengar nama keluarga ini di dalam klan. "


"Tidak. Ayahmu tidak melakukannya ... akulah yang melakukannya."


"Kau!?" Derek sangat terkejut dengan pengakuan Mike.


Dengan mengembuskan napas panjang, Mike bangkit dan memandang keluar kaca gedung ruangan Derek. Gedung tinggi itu memberi pemandangan luas kota mereka dari atas. Jalanan yang dilewati kendaraan terlihat kecil dari tempat Mike berdiri. Seperti perasaannya saat ini yang merasa kecil dan tidak berharga . Merasa malu menyandang nama Eliazar di bahunya.


"Rudolf Eliazar adalah ayahku, Derek. Dia mengkhianati Erland dan melakukan apapun untuk kepentingannya. Termasuk menjadikan nyawaku sebagai tameng."


Rasa terkejut membuat Derek terdiam di tempatnya. Perlahan ia mencerna dan mulai mengerti dengan jelas alasan mengapa Mike menghapus jejak keluarga Eliazar. Pria itu menembak anaknya sendiri. Ketika Mike tadi bercerita tentang kejadian di Mansion Eliazar, ia tidak mengira kalau hubungan Mike dengan orang yang menjadikannya tameng adalah ayah dan anak.


"Dia menembakmu," desis Derek.


"Yeah ... nyawaku sama sekali tidak berharga untuknya. Berbanding terbalik dengan anggapan Erland. Erland menghentikan seluruh pengawalnya dan mengikuti kemauan Rudolf untuk menyelamatkan nyawaku."


Lalu keheningan menyeruak. Derek membiarkan Mike sendiri dengan pikirannya. Ia menunggu, memberi waktu bagi Mike untuk menghilangkan sesak di dadanya. Tapi lama waktu berlalu dan Mike belum juga mengatakan sesuatu.


"Kau harus mengeluarkannya, Mike ... ganjalan di hatimu itu ...."


Mike memejamkan mata. Kenapa rasa sakit di hatinya tidak juga hilang, padahal bertahun-tahun sudah berlalu.


"Lalu Rudolf terbunuh di luar Mansion Eliazar. Seperti kataku tadi, oleh penembak jitu ... beberapa saat setelah itu aku memutuskan ingin pergi meninggalkan klan."


Beberapa saat Mike terdiam lagi. Ia menelan ludah melancarkan tenggorokannya.


"Erland memohon ketika itu, namun aku berkeras. Niatku sudah bulat, aku tidak mau lagi berada di keluarga Langton ... lalu ayahmu mulai menangis ... aku telah membuatnya mengeluarkan air mata. Dia memelukku dan terus memohon agar tidak meninggalkannya. Mengatakan dia akan kehilangan putranya jika aku pergi ...."


Suara Mike sangat serak. Dengan susah payah ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Mengingat dengan sangat jelas pelukan hangat Erland ketika itu, juga air mata yang dikeluarkan Erland. Pelukan yang akhirnya membalut luka di hatinya yang patah dan membuatnya mengambil keputusan.


"Aku akhirnya memenuhi permintaannya. Tetap berada di Klan Langton dengan syarat Erland menghilangkan nama keluarga Eliazar. Semua orang dalam keluarga Langton dilarang menyebutkan nama itu lagi. Setiap keluarga dalam naungan Langton diperingatkan untuk menutup mulutnya dan mengubur nama Eliazar dalam-dalam."


"Termasuk menghilangkan namamu ...." Derek mendesah sedih.


"Ya ... hanya Mike. Nama panggilan Erland untukku."


Derek memahami semuanya sekarang. Termasuk alasan Mike menolak ayahnya mengadopsinya sebagai seorang putra.


"Inikah alasan kau menolak ketika ayah ingin mengangkat kau sebagai putranya?"


Mike terlihat menghapus sesuatu di pipinya.


"Aku tidak memerlukan surat itu untuk mengakuinya sebagai ayah. Hanya dia ayahku satu-satunya. Lagipula dia akhirnya mengadopsimu. Aku tahu dia melakukannya agar aku mempunyai saudara ... teman ... seseorang yang tidak tahu masalaluku dan hanya menganggapku seorang Mike. Bukan seorang Eliazar ...."


Setelah mengucapkannya, dengan langkah cepat Mike berbalik dan melangkah meninggalkan kantor Derek.


Derek hanya menunduk menahan rasa sesak di dadanya sendiri. Derek mengingat Erland dan kasih sayangnya pada mereka berdua yang bukan darah dagingnya. Kasih sayang tulus dan cinta yang amat besar.


"Mike ...."


Derek memanggil Mike yang baru akan keluar dari pintu kantornya. Langkah kaki pria itu terhenti, namun ia tidak berbalik. Hanya berdiri menunggu.


"Satu hal yang ingin kuingatkan padamu, Brother ... kau bukan ayahmu."


Derek memandangi Mike yang kembali melangkah meninggalkan kantornya tanpa menoleh.


Mike berjalan cepat menuju ruangannya sendiri. Kata-kata Homer dan Derek barusan terngiang kembali di telinganya.


Kau bukan ayahmu, Mike ....


**********