
Lucius membaca laporan yang diberikan oleh Lance asistennya.
"Kau yakin mereka berada di villa putih wilayah utara?" Ia bertanya tanpa menegakkan kepalanya dari lembaran laporan itu. Lance mengangguk kemudian menyadari pimpinannya tidak melihat gerakan kepalanya.
"Benar, Tuan. Mereka menyusun pasukan di wilayah itu."
"Berapa banyak?" tanya Lucius lagi.
"Kurasa ... jika Tuan Derek Langton di tangan mereka, cukup untuk mengamankan proses peralihan kekuasaan klan besar itu, Tuan. Para petinggi keluarga itu tidak akan mau mengambil resiko atas nyawa Tuan Langton."
Lance mengucapkan kata-katanya dengan perlahan. Takut suaranya akan mengganggu pasien yang tengah tertidur dengan semua alat bantu penunjang hidup di atas ranjang rumah sakit tak jauh dari tempatnya berbicara dengan tuannya Lucius.
"Pastikan mereka merasa aman berada di wilayah kita Lance. Biarkan saja mereka mengira semuanya berjalan sesuai rencana mereka. Urusan ini adalah urusan internal keluarga Langton. Tapi jika kita mendapatkan keuntungan dengan perselisihan di dalam keluarga itu, maka kita akan mengambilnya dengan senang hati." Lucius menutup laporan itu, lalu menoleh ke arah ranjang rumah sakit tak jauh dari sofa tempatnya duduk.
"Benar ,Tuan. Tuhan akhirnya memberi jalan untuk kita agar bisa menerobos masuk wilayah dua klan besar itu setelah bertahun-tahun. Kuharap secepatnya kita bisa menemukan Nona ...."
Lucius hanya diam mendengar kata-kata Lance. Ia juga berharap begitu. Ia tidak tahu sampai kapan ayahnya bisa bertahan dengan semua alat penunjang hidup yang terpasang di tubuhnya itu. Ayahnya hanya ingin melihat putri satu-satunya yang hilang. Keinginan terakhirnya sebelum ia dibalut ketidaksadaran karena serangan stroke yang di deritanya.
"Permudah usaha Mike dan orang-orang Derek Langton menyelidiki keberadaan tuan mereka, Lance. Bantu mereka tanpa ketara. Kita memerlukan persetujuan Derek untuk kesepakatan yang telah dibuat bersama Mike. Aku tidak tahu apakah laki-laki itu akan menyetujui kesepakatan yang telah dibuat tangan kanannya dengan keluarga Sanchez." Lucius sungguh ragu Derek akan mengubah aturan yang telah dijalankan dari jaman ayahnya untuk tidak menjalin relasi apapun dengan klan Sanchez.
"Baik, Tuan." Lance mengangguk patuh.
"Tuan ... bagaimana jika akhirnya Tuan Derek tidak setuju dengan kesepakatan itu." Lance mengemukakan pikirannya terhadap kemungkinan kesepakatan itu ditolak.
Lucius tersenyum sinis. Ia berpaling pada asistennya dan berucap dingin.
"Maka kita terpaksa harus menculik gadis itu, Lance. Kau tahu jika Jonathan membawa seorang gadis di villa itu bersama sang Singa Langton. Aku bertaruh dia bukan gadis sembarangan. Posisinya pasti penting di klan Langton."
Lance mengangguk mengerti atas rencana tuannya. Derek yang dijuluki sang Singa Langton memang di sekap bersama seorang gadis di villa itu. Menurut informan mereka yang merupakan seorang pembunuh bayaran yang direkrut oleh Jonathan, Derek malah terlihat melindungi gadis itu dan membiarkan dirinya dipukuli sampai babak belur.
"Buat rencana serapi mungkin Lance. Jangan sampai orang-orang kita terlihat. Kita akan mengawasi dari jauh dan mencari sela saat pertikaian mereka memuncak. Gadis itu akan kita tangkap jika terlihat sedikit saja kesempatan. Lebih cepat lebih baik."
Kembali asistennya mengangguk mendengar instruksi tuannya.
"Tuan ... apa yang akan anda lakukan jika menemukan wanita itu?" Lance memberanikan diri bertanya.
Lucius tahu, wanita yang Lance maksud bukanlah gadis yang disekap oleh Jonathan. Tapi wanita yang tengah mereka buru sejak lama.
"Kau sudah tahu ...." Suara yang terdengar dingin itu membuat Lance bergidik. Ia menarik napas panjang. Membayangkan kondisi penjara bawah tanah yang gelap, lembab dan bau di mansion keluarga Montague yang telah ditinggalkan sejak lama.
"Sekarang pergilah, urus semuanya dengan rapi, Lance." Perintah itu segera mendapatkan anggukan.
"Baik, Tuan. Saya pergi." Lance melangkahkan kaki, keluar dari kamar rumah sakit meninggalkan tuannya yang juga telah berdiri melangkah mendekati ranjang, tempat seorang pria terbaring dengan tubuh diam tak bergerak. Selang napas nampak terpasang di paru-parunya, tersambung pada sebuah mesin yang menyangga kehidupannya. Selang infus, selang makanan, bahkan selang untuk pembuangan urine pun terpasang di tubuhnya. Semuanya dibantu total oleh alat-alat medis.
Lucius menggenggam tangan pria tua itu. Menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Dadanya tiba-tiba merasa sangat sesak.
"Kapan kau akan bangun? Apakah kau akan terus membuatku merasa khawatir!" Lucius bicara sendiri di keheningan kamar itu.
"Aku menemukan jalannya! Jadi bangunlah! Kau ingin putrimu bukan!?" Lucius meremas jemari di genggamannya.
Geraman keluar dari bibir Lucius. Rasa sakit tiba-tiba mendera seluruh tubuhnya. Ia meringkuk ke arah tempat tidur, melepas genggaman tangan pada tangan ayahnya lalu memeluk dirinya sendiri.
"Sampai kapan aku akan seperti ini, Ayah ...." Kata-kata lemah penuh penderitaan itu keluar dari bibir Lucius yang meringis, keningnya mengernyit, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Rasa mual menguar dan bergulung di perutnya. Ia memejamkan mata. Trauma masa lalu itu selalu bisa membuatnya merasakan sakit seolah ia tengah mengalami penyiksaan di seluruh tubuhnya.
Lucius mengatur napas, menyeret tubuhnya berdiri dan kembali ke sofa. Ia mengambil obat dan segera menelan pil yang diberikan oleh dokternya, lalu membaringkan badan, mencoba memejamkan mata. Merilekskan tubuh serta mengosongkan pikiran, berharap pil yang ia telan segera bekerja dan menghilangkan semua rasa sakit yang ia rasakan di seluruh tubuhnya.
**********
Reggie bergerak-gerak gelisah. Mimpi buruk yang mendatangi membuatnya berkeringat. Rintihan ketakutan kadang terlepas dari bibirnya. Sejak melihat pria berambut hitam yang datang menemui Mike kala itu, tidur Reggie tidak pernah tenang. Mimpi buruk selalu mendatanginya.
"Jangannnnn!" Teriakan ketakutan itu membuat Reggie terjaga. Napasnya memburu, lelahan airmata tanpa sadar telah membasahi kedua pipinya.
Ia menghapus lelehan itu dengan lengan, lalu mengelengkan kepalanya memindai kamar tempatnya berada sekarang. Seolah tengah mencari seseorang yang telah membuatnya sangat ketakutan.
Reggie tersadar ia berada di kamarnya di mansion utama keluarga Langton. Ia bergerak duduk di pinggir tempat tidur. Menuangkan air dari wadah yang ada di atas nakas dan minum untuk melancarkan tenggorokannya yang terasa kering.
"Mom ... akhirnya aku melihatnya tanpa sengaja setelah bertahun-tahun ... katakan apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus segera pergi dari sini? Tuan Arthur dan Mother Greta telah tiada, Tuan Erland yang diminta Mother Greta untuk menjaga agar keluarga itu tidak menemukan kita juga telah lama pergi. Putranya Derek tidak tahu tentang kita, Mom ... pada siapa aku harus meminta perlindungan? Apa aku harus pergi menyembunyikan diriku? "
Reggie berbicara sendiri di tengah keheningan kamarnya. Otaknya berpikir keras. Sungguh ia sangat khawatir pada Amy dan mengerti alasan mengapa Mike menghubungi keluarga Sanchez untuk mencari Derek. Mereka perlu akses ke wilayah Sanchez untuk menemukan Jack dan Jonathan yang ternyata bersembunyi di wilayah mereka.
Mike terpaksa melanggar ketentuan tuan Erland Langton untuk tidak menjalin kerjasama apapun dengan keluarga Sanchez dan bahkan memberikan akses pada Lucius Sanchez untuk masuk ke wilayah Langton dan Sky.
Reggie sungguh mengerti, keselamatan Amy dan Derek lebih utama. Lagipula tidak ada satupun yang tahu perihal masa lalunya. Orang-orang yang tahu telah tiada.
"Masih ada kesempatan bagiku untuk melarikan diri, bukan begitu, Mom? " Reggie berbisik pelan.
Sungguh ia ragu ia dapat bertahan di luar sana dari Klan Sanchez yang memiliki kekuasaan yang lumayan besar. Bisnis persenjataan, obat-obatan, pabrik kimia keluarga itu membuatnya menjadi salah satu keluarga yang diperhitungkan. Selama ini hanya karena keluarga Langton dan Sky melindungi dan menghentikan semua akses keluarga Sanchez untuk mencari Reggie dan ibunyalah yang membuat mereka tidak pernah ditemukan. Sekarang ia tidak mungkin menceritakannya pada Mike. Pikiran Mike akan bercabang, sedangkan Derek dan Amy tidak bisa menunggu, harus segera ditemukan dan diselamatkan.
Reggie memejamkan mata rapat-rapat. Membayangkan wajah ibunya yang tersenyum. Mengumpulkan kekuatan dan keberanian dari senyum itu.
"Selalu dampingi aku dari atas sana, Mom. Aku akan melaluinya dengan cara apapun. Aku akan memastikan Amy selamat dan terlindungi. Memastikan ada orang yang akan selalu membuatnya bahagia dan memberikan perlindungan padanya selamanya. Lalu aku akan mengurus diriku sendiri ... aku tidak akan menyeret putri Tuan Arthur ke dalam jeratan masa lalu kita. Sudah cukup orang tuanya membantu kita sejak bertahun lalu ...."
Reggie menguatkan tekadnya. Ia akan menghadapinya sendiri.
"Doakan aku, Mom." Ucapan pelan mirip rintihan itu keluar dari bibir Reggie yang terasa amat kering.
*********
Hai para pembaca. Author harap pembaca semua tetap setia menunggu update kisah ini ya. Author mencoba update secepatnya agar bisa segera di review admin pihak manga/noveltoonπππ
Bagi yang belum baca kisah Derek dan Amy, silakan di buka karya Author di "passion of My Enemy " Jangan lupa tinggalkan jejakmu disana lewat vote, like, fav, bintang5 dan komentar yaπππ
Tentu saja tinggalkan juga jejakmu di karya ini para readersππππ
Wholeheartedly πππfrom me...
---- DIANAZ ----