Love Seduction

Love Seduction
Chapter 27. Phobia



Lucius memandangi Amy Sky yang memasuki kantornya membawa sebuah gunting tajam. Gadis yang ia rawat setelah kecelakaan mobil itu sampai sekarang belum juga dijemput oleh keluarga Langton.


Kabar terakhir dari Mike mengatakan kalau Derek memerlukan perawatan untuk memulihkan kondisinya yang kehilangan banyak darah setelah tertembak.


Gadis itu mengikuti kemanapun ia pergi. Lucius tidak mau mengambil resiko kehilangan Amy dari jangkauan pandangan matanya dan ia pun tidak keberatan, pembawaan gadis itu ceria, selalu mampu membuat Lucius tersenyum geli melihat tingkahnya. Ia tidak menyangka kalau gadis itu adalah Amy Sky, Putri Arthur Sky yang telah mati beberapa waktu lalu dalam sebuah pembantaian di mansion keluarganya.


Lucius mengintip dari balik laporan yang ia bawa, Amy menggunting snack potato chips yang ia pesan dan telah dibelikan oleh para pengawalnya di luar ruangan kantor. Lucius tahu keinginan awal Amy adalah keluar dan ingin pulang sendiri ke Mansion Langton. Tapi para pengawalnya menghadang di depan pintu dan Amy beralasan ia hanya ingin memesan Snack dan juga minuman. Pesanan yang segera dicarikan oleh pengawalnya.


"Kau mau?" Suara menegurnya membuat Lucius mendongak. Amy terlihat mendekat dengan sekantong potato chips di satu tangan dan gunting di tangan yang satunya lagi. Lucius tiba-tiba merasakan perutnya bergulung, mual menyerang lambungnya. Sekuat tenaga ia menahan keinginan untuk muntah. Amy meletakkan gunting ke atas meja di hadapan Lucius dan menyodorkan kantong potatochipsnya.


"Aku tidak makan makanan sampah!" ujar Lucius tegas. Ia memandangi gunting yang Amy letakkan di atas mejanya.


"Singkirkan itu!" perintahnya pada Amy.


Gadis itu terlihat bingung. Ia menoleh bolak-balik antara snack di tangannya dan gunting di atas meja, lalu memandangi lucius yang terlihat pucat.


"Kau kenapa?" tanya Amy khawatir sebelum pemahaman akhirnya merasuki otaknya.


"Kau takut benda ini?" Amy mengacungkan gunting ke hadapan Lucius. Membuat laki-laki itu terlonjak dan berteriak.


"Singkirkan benda itu! Sebelum aku muntah!"


Amy cepat-cepat kembali ke sofa tempat duduknya dan memasukkan gunting ke dalam kantong belanjaan snacknya sehingga tidak terlihat, lalu ia kembali ke hadapan Lucius.


Gadis itu memandangi wajah Lucius lama sebelum akhirnya berucap, "pantas saja kau membiarkan rambutmu sepanjang itu ...."


Lucius yang tengah memijit keningnya sendiri mendongak mendengar kata-kata Amy.


"Maksudmu?"


Amy tampak berkacak pinggang, tersenyum penuh kemenangan seolah dapat menebak sesuatu.


"Kau phobia gunting! Karena itu kau membiarkan rambutmu panjang! Dan supaya tidak kehilangan kesan macho kau menambahkan berlian itu di telinga kirimu. Bukankah aku benar!?" Amy mengedipkan matanya, kejahilan nampak di wajah gadis itu.


Lucius memandangi gadis yang mengedip seolah tengah menggodanya itu. Tiba-tiba ia merasa sangat geli dan mulai tertawa, makin lama makin kencang. Sampai rona pucat yang tadi menghiasi wajahnya telah kembali normal.


"Ah ... akhirnya kau kembali. Kau sungguh kelihatan pucat beberapa saat yang lalu."


"Gadis jahil ... aku memanjangkan rambutku karena aku menyukainya dan aku memakai berlian karena ...."


"Kau juga menyukainya." Amy menyambung kata-kata Lucius sehingga laki-laki itu kembali tertawa geli.


"Ya ... aku menyukainya. Tidak ada alasan khusus," bantah Lucius.


"Terserah padamu ... kau yang paling tahu alasannya," ucap Amy penuh pengertian.


**********


Lucius menerima pemberitahuan dari Mike kalau Derek telah kembali pulih dan mereka akan datang menjemput Amy Sky hari ini. Lucius ingin menunggu tamunya di ruang tamu. Tapi Amy menyeretnya ke perpustakaan, gadis itu ingin membaca sebuah buku yang belum sempat ia selesaikan.


Karena tidak tahu jam berapa tamunya akan datang, Lucius memutuskan memberitahu kepala pelayannya agar nanti mengantarkan tamunya ke perpustakaan ketika mereka sudah datang. Ia sengaja tidak memberitahu Amy kalau Derek akan datang.


Lucius berbaring di sofa panjang di hadapan Amy yang mulai membaca. Ia merasa sedikit mengantuk. Sejak menemukan jalan untuk mencari Marinna di wilayah Langton, trauma masa lalu itu kembali mendatanginya lebih buruk. Mimpi buruk lebih sering muncul dan serangan tak kasat mata akibat trauma yang dialaminya kerap membuatnya merasakan nyeri di seluruh tubuh.


Mimpi buruk yang mendatanginya tadi malam membuat Lucius tidak bisa tidur. Ia hanya berbaring dengan mata nyalang memandangi langit-langit kamarnya.


Sekarang berada di keheningan perpustakaan membuat Lucius terserang rasa kantuk. Ia memejamkan mata dan mulai tertidur di atas sofa. Tubuhnya yang tinggi menyebabkan kakinya melewati badan sofa.


Beberapa saat setelah terlelap dalam tidurnya, Lucius mulai bermimpi. Mimpi buruk tentang masa lalu yang hampir selalu datang, apalagi sejak kemungkinan untuk mencari Marinna telah terbuka. Ia merintih seolah seseorang tengah menyiksanya. Keringat mulai mengalir di wajah dan leher Lucius, membuat Amy meletakkan bukunya dan melangkah mendekat.


Amy mengguncang bahu Lucius dengan wajah khawatir. Laki-laki itu merintih kesakitan berulangkali.


Amy mengguncang lebih kuat, sampai kedua mata berwarna hitam itu terbuka dan menatap langsung ke matanya.


"Bangunlah ... kau mimpi buruk." Amy mengambil tisu dan mulai mengelap keringat Lucius. Laki-laki itu tiba-tiba bangkit dan duduk di sofa. Mengusap wajahnya yang berkeringat.


Amy kembali mengelap wajah Lucius yang berkeringat.


"Kau kan sudah bangun. Mimpinya sudah pergi ...." Gadis itu seperti tengah mencoba menghiburnya, lalu dengan terkejut Lucius menyadari jari-jari Amy telah meraup rambutnya yang lembab karena keringat, gadis itu mengambil sebuah pita dan mengikat rambutnya menjadi satu di belakang leher.


Gerakan di pintu perpustakaan membuat Lucius menoleh dengan ekor matanya. Dengan perasaan senang bercampur geli ia menyadari Derek tengah memandangnya dengan tatapan tajam. Amy belum juga menyadari kedatangan dua orang tamu mereka itu.


"Amy ... apa yang tengah kau lakukan?" Derek terdengar lembut, namun penuh peringatan bila menatap matanya yang tidak pernah beralih dari Lucius.


Suara itu membuat Amy menoleh dengan cepat, gadis itu segera menghambur ke arah Derek dan memeluknya erat. Derek menangkapnya dan mengecup puncak kepala Amy. Tapi matanya masih belum meninggalkan Lucius. Tantangan itu diterima Lucius dengan memandangnya sambil menyeringai.


Mike menggelengkan kepala. Ia ingin cepat menyelesaikan urusan ini. Sesuatu membuat Regina menjadi gelisah. Apalagi ketika tahu bahwa Amy masih menjalani perawatan di tempat Sanchez karena kecelakaan dan Mike masih belum juga menjemputnya karena harus mengurus Derek yang ternyata memerlukan waktu untuk pulih disebabkan kehilangan banyak darah.


Regina terlihat agak berbeda ketika nama Sanchez di sebut. Gadis itu tiba-tiba terkejut atau bahkan bisa terlonjak.


"Semua baik-baik saja kan, Sanchez?" tanya Mike sambil melangkah masuk .


"Tentu saja, Mike. Aku hanya mengira kalian lupa padanya." Lucius menunjuk sofa mempersilahkan tamunya duduk.


"Ada sedikit penundaan." ujar Mike pelan.


"Kalian bahkan tidak mengajak Reggie. Aku rindu padanya!"


Lucius tersenyum mendengar Amy yang merengek pada Derek. Amy telah bercerita padanya bahwa ia punya seorang pengawal yang selalu bersamanya sejak kecil, seorang gadis bernama Reggie.


"Bukankah kau menikmati penundaan ini?" Nada cemburu yang kental di suara Derek membuat Lucius mengedipkan mata pada Amy.


"Benar sekali. Kami menikmati waktu yang menyenangkan, bukan begitu, Mungil?"


Lucius merasa puas melihat rahang Derek yang mengetat. Namun Amy menolak menyambut provokasinya. Derek sudah terlihat marah.


"Aku akan membawanya sekarang. Mengenai keinginanmu, bicarakan dengan Mike. Ia bahkan akan membantumu."


Lucius melihat ke arah Mike yang mengangguk mendengar ucapan Derek.


"Terimakasih. Ini sangat berarti bagiku. Semua informasi yang ingin kami cari menemui jalan buntu ketika berhadapan dengan keluarga Arthur dan ayahmu, Derek." Lucius menelan ludah, merasa jalannya begitu lebar terbuka.


"Ayahku? Apa hubungannya dengan ayahku?" Amy memandang heran tiga pria di hadapannya. Tapi tidak ada satupun yang berniat untuk menjawab.


"Aku tidak tahu alasan kenapa ayahku menutup semua jalur untuk keluargamu, Sanchez. Ia tidak pernah bercerita tentang alasannya. Tapi kau bisa mencarinya sekarang, aku membuka aksesnya untukmu. Jika memang wanita yang kau cari berada di keluarga Langton ataupun di keluarga Sky, maka carilah dia dan temukan." Derek serius mengucapkan kata-katanya, sebelum merangkul Amy dan akhirnya pamit pulang.


Lucius mengantar tamunya sampai ke dekat mobil yang akan membawa mereka. Sebelum masuk ke dalam mobil, Amy terlihat berbalik ke arahnya dan memberikan pelukan selamat tinggal.


"Aku berterimakasih kau sudah menjagaku dan menampungku di sini. Aku berdoa kau baik-baik saja dan mimpi burukmu segera hilang." Gadis itu memberinya senyum kecil.


"Sama -sama, Mungil ... jaga dirimu." Lucius berbisik pelan dan melihat Derek yang terlihat mengetatkan gerahamnya. Lucius tersenyum geli, laki-laki itu cemburu ....


Lucius melihat mobil yang membawa tamunya sampai hilang di kejauhan. Ia memandangi langit. Hari-harinya bersama Amy membuatnya merasa tidak terlalu kesepian.


Akan begitukah rasanya jika dia ada disini dan hidup di mansion ini bersamaku dan ayah ...


Lucius menghilangkan pikiran itu segera. Ia harus menemukan wanita itu lebih dulu.


**********