
Cecilia mengernyit ketika mendengar suara pintu kamar di ketuk, lalu terdengar ibunya memanggil.
"Cecil ... Cecil, buka pintunya, Sayang."
Cecilia menarik nafas panjang, tidak beranjak dari jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ia selalu suka berdiri di jendela dan memandang ke arah pohon-pohon buah yang ditanam oleh ayahnya di halaman samping.
"Ada apa, Mom?" sahutnya tanpa bergerak untuk membuka pintu.
"Cecil, buka pintunya. Ada sesuatu yang ingin Ayah sampaikan. Amy dan Derek meminta bantuanmu, Nak."
Kerutan di kening Cecilia makin dalam ketika mendengar suara ayahnya. Bukankah ayahnya tadi sudah berangkat ke kantor?
"Ya, Ayah. Tunggu ...." dengan malas-malasan, Cecilia bergerak menuju pintu dan membukanya.
"Ya ampun! Kau belum juga mandi!" teriak Marlene
"Aku akan mandi Mom ... Tapi nanti ...."
"Ya Tuhan ... sudah siang Cecil! Pergilah mandi! Ibu akan membantu kau berkemas."
Cecilia memandang heran pada ibunya. Tapi ia seolah malas untuk terus berbicara. Ia mengambil selimutnya dan kembali berbaring di pinggir ranjang.
"Cecil!" teriak Marlene.
"Cecil ... kau sakit?" tanya Frank sambil mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Ia meraba kening putrinya, tidak panas, suhunya biasa.
"Cecil ... Ayah pulang untuk menyampaikan pesan Derek dan Amy padamu."
Frank melihat putrinya membuka mata, menatapnya dan kemudian mengangguk pelan.
"Katakan saja Ayah."
"Derek dan Amy akan bepergian. Eve tidak bisa ikut untuk membantu Amy mengawasi Erland dan Arthur,
Jadi Derek meminta bantuanmu ... apakah kau bersedia ikut mereka dan membantu Amy? mungkin akan memberimu sedikit kesibukan, sehingga tidak hanya mengurung dirimu di kamar. Ayah dan ibu khawatir, Cecilia. Kau mengerti bukan?"
Cecilia memandang ayahnya, lalu ibunya yang tampak sedih. Ia menarik nafas panjang dan kemudian mengangguk.
"Baiklah, Ayah. Katakan pada Derek aku akan pergi,"
Frank Damario tersenyum ketika putrinya itu dengan lesu bangkit, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Marlene memandang suaminya. Penasaran kenapa suaminya tidak mengatakan kemana tujuan Derek dan siapa yang ingin ia temui di sana nanti.
"Frank ... kenapa kau tidak mengatakannya?"
"Aku akan mengatakannya, Marlene. Tapi nanti ... Aku hanya ingin melihat, di kala hatinya tidak tenang, ternyata putri kita masih peduli pada keluarga klan Langton. Aku tidak mau alasan ia ikut ke sana hanyalah agar dapat melihat pria itu. Kau lihat bukan? Ia mau pergi karena Amy membutuhkannya."
Frank tersenyum pada istrinya yang menganggukkan kepala.
"Sebaiknya kau mulai mengemasi pakaiannya, Marlene." ucap Frank.
Marlene segera beranjak dari kamar, memasuki walk in closet lalu mulai memilih baju baju yang akan di masukkannya ke dalam koper. Ia keluar sambil membawa baju-baju itu dan meletakkannya di samping Frank. Kemudian ia masuk lagi, dan keluar sambil menarik sebuah koper. Frank segera berdiri dan membantu istrinya mengangkat koper itu ke atas kasur.
Frank membuka koper dan Marlene mulai melipat baju-baju Cecilia dan menatanya ke dalam koper. Mereka hampir selesai ketika pintu kamar mandi terbuka dan Cecilia keluar dengan jubah mandinya yang berwarna putih.
Cecilia menaikkan alis ketika melihat ibu dan ayahnya sudah selesai dengan pakaiannya.
"Pilih dalamanmu, lalu sepatumu,"
"Mom ... Dad, aku bisa melakukannya sendiri, kalian tidak perlu repot."
"Menghemat waktu, Sayang. Agar kau tidak terlambat. Derek dan Amy akan menunggu di bandara."
"Oh, memangnya jam berapa kami akan pergi?" tanya Cecilia sambil melangkah masuk ke walk ini closet dan mulai berpakaian.
"Pesawatnya berangkat satu jam lagi sayang. Jadi kau sudah harus berangkat sekarang juga." ucap Frank Damario.
Frank dan Marlene tertawa kecil mendengar suara putri mereka yang terdengar bersungut-sungut. Lebih baik mendengarnya dari pada nada lesu yang bisa diperdengarkan oleh Cecil.
Setelah mengenakan celana Jeans dengan baju rajutan model tanktop yang mengantung di pusarnya, Cecilia keluar dan kemudian mengambil sisir.
Frank Damario mengernyit melihat pakaian putrinya.
"Kau akan mengenakan itu?" tanyanya. Nada tidak setuju terdengar kental mewarnai suara Frank.
Cecilia tertawa lebar melihat kening ayahnya yang berkerut memandang perutnya yang terekspos. Ia melanjutkan menyisiri rambut sampai selesai. Setelahnya ia mengambil jaket hitam dibalik pintu dan mengenakannya.
"Jangan khawatir, Dad. Ini akan dikenakan dengan jaket ini," ucapnya sambil mengancingkan jaket bagian bawah.
"Aku sudah siap! Tapi ... Kau belum mengatakan kemana aku akan pergi bersama Amy," ucap Cecilia sambil masuk kembali ke Walk in closet. Ia mencari tas tangan yang cocok dan memutuskan akan membawa yang mempunyai tali bahu.
Cecilia baru saja memasukkan dompet, tas kecil make up dan juga tisunya ke dalam tas ketika suara ayahnya terdengar memberitahu.
"Amy dan Derek akan menemui seorang temannya. Sekaligus juga menemui Mike dan Reggie yang sedang mengusahakan lamaran pada seorang gadis untuk Lucius."
Cecilia menjatuhkan tasnya ke atas lantai. Ia berbalik dan segera muncul di kamar.
"Ayah bilang Lucius?"
"Ya, Nak. Kau akan pergi ke tempat dimana keluarga Sanchez sedang berkumpul. Tentu saja di sana akan ada Lance ...."
Frank dan Marlene menarik nafas panjang berbarengan ketika melihat senyum lebar yang sangat ceria khas Cecilia muncul di wajah putrinya itu.
"Tapi kau mesti berjanji satu hal padaku!" Frank menatap tajam putrinya yang segera mengangguk anggukkan kepala berulang kali.
"Jangan pernah bertindak angresif lagi seperti memaksa mencium laki-laki itu! Kau mau melihatnya kan? Nah, ketika tiba di sana, lihat saja dia. Lalu cukup! Ayah sudah meminta Derek mengawasimu dengan sangat ketat. Kau di larang dekat-dekat dengan Lance, apalagi menyentuh pria itu. Dengar itu Cecilia!"
Frank menatap wajah Cecilia yang menatap heran pada Ayahnya.
"Memaksa mencium Lance? kenapa Ayah fikir aku mau melakukannya?" tanya Cecilia.
Frank Damario melipat tangannya di depan dada, bersedekap dan memandang putrinya dengan sinar mata sedikit geli.
"Cecilia Damario ... Aku melihat kau menarik dasi pria itu lalu memaksa menciumnya saat kita di mansion Eliazar!"
Semu merah segera memanjat naik ke wajah cantik Cecilia. Frank Damario dan Marlene menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Jangan lakukan lagi, Nak. Jaga jarak dari pria itu. Jika kau melakukannya, berarti kau juga menjaga hatimu. Nikmati waktumu di sana bersama keluarga Langton. Berjanjilah pada ayah dan ibumu, " ucap Marlene lembut.
Cecilia segera memeluk ibunya, " Maafkan aku, Mom. Aku sudah membuat kalian khawatir."
"Ya ... Berjanjilah pada kami ... Kau akan jadi Cecilia yang ceria, lincah, penuh senyum, menularkan keceriaan di sekitarmu seperti dulu, Kau akan tegar dan menjaga hatimu sendiri." Marlene mengelus rambut panjang putrinya.
"Aku berjanji," bisik Cecilia. Lalu ia berpindah ke pelukan ayahnya.
"Jangan kira kami jauh sehingga tidak bisa mengawasimu, Cecil. Mata Derek dan Amy jadi pengganti mata kami. Mike dan Reggie juga akan segera bergabung ... Kau akan di jaga dan diawasi oleh mereka."
Cecilia tersenyum lebar sambil mengangguk. Ia akan menurut, menjaga jarak atau apapun perintah mereka. Saat ini ia hanya ingin agar dapat melihat Lance lagi, itu sudah cukup.
**********
From Author,
Jadi ingat kisah cerpen yang pernah kubaca saat remaja. tiap hari tokohnya selalu menunggu di depan gerbang sekolah saat pulang, hanya agar dapat ngeliat wajah doi yang dia taksir, wkwkkwkw
Cecil lagi ngalamin itu, cuma mau lihat wajah Lance katanya. Percaya gak ya? 😂😂😂😂
Please semuanya, jangan lupa like ,love , vote and komentarnya ya. Bintang lima juga bagi yg belum kasih ya. menjaga rating novel ini tetap baik.
Atas apresiasinya DI ucapin terimakasih.
Salam, DIANAZ.