Love Seduction

Love Seduction
Chapter 103. Petite baby



Sudah tiga puluh menit pintu ruang operasi itu tertutup. Namun, sudah terasa berjam-jam bagi Mike yang menunggu dengan hati gelisah dan gundah. Fikirannya berputar dengan banyak kata seandainya yang berkelebat. Seandainya ia tidak mengabaikan intuisinya dan lengah karena para penjahat itu berhenti sejenak dari kegiatan mereka menguntit Regina, seandainya ia menyiapkan lebih banyak orang untuk menjaga istrinya, dan banyak seandainya lain yang terus berganti berdatangan di fikirannya yang kalut.


Suara tangisan bayi terdengar pelan dari arah dalam ruangan operasi. Mike membelalak dan menatap ke arah pintu yang masih tetap tertutup. Ia terisak keras.


"Derek, apakah itu suara putriku? putrikukah itu ... Derek?" dada laki-laki itu berguncang keras.


"My little princess... Tell Mom, she must be strong. Please... tell Mom...." tangisan Mike makin menjadi, ia terisak keras dan pilu. Derek hanya memeluknya dari belakang tanpa mengatakan apapun.


Suara langkah kaki berlari mendekat dengan tergesa. Evangeline tiba lalu menghentikan langkahnya ketika melihat Mike yang terisak di lantai dengan Derek yang memeluk bahunya dan menyandarkan kepalanya di bahu Mike. Airmata Eve langsung terbit, ia menggeleng perlahan dengan mata berkeliling mencari Alex. Pria itu bersandar di dinding dengan kedua tangan bersedekap. Eve melangkah mendekati Alex dengan airmata berurai.


"Katakan padaku... mereka baik-baik saja...."


Alex memejamkan mata, dua tetes airmata lolos dari matanya yang sudah sejak tadi berkaca-kaca dan menahan tangis. Ia mengulurkan lengan ke arah Eve yang langsung melangkah masuk ke dalam pelukannya, Eve merasa seperti tercekik.


Alex merengkuh Eve dengan kedua lengannya. Meletakkan dagunya ke puncak kepala Eve yang terisak-isak pilu.


"Bagaimana...." Eve tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya seperti disumbat.


"Aku sungguh tidak tahu, Ivy. Mereka sudah tidak sadarkan diri dengan darah membasahi tubuh mereka ketika kami datang."


"Ya Tuhan...." Eve dan Alex saling memeluk dan menangis.


Di lantai yang sama di rumah sakit itu, di bagian bedah, Lance menunggu bersama Eloy Sanchez di hadapan sebuah pintu. Tangis menghiasi wajah Eloy Sanchez, dalam rintihannya yang amat pelan ia mengucapkan doa bagi keselamatan anak dan cucunya. Eloy Sanchez nampak semakin tua dan sangat rapuh di atas kursi roda yang ia duduki. Lance yang berdiri di sampingnya dan bersandar di dinding tidak dapat mengatakan apapun. Kebahagiaan yang baru saja diperoleh keluarga itu kembali porak-poranda oleh Kejahatan Eleanor Montague.


Setelah tiga jam berlalu, seorang perawat keluar dan memberitahu Eloy Sanchez dan Lance bahwa Lucius akan dipindahkan ke ruang intensive, melalui jalur pintu lain yang dihubungkan ke ruang Recovery Room, Eloy dan Lance masuk dan melihat Lucius yang telah berada di atas brankar , masih tidak sadar dengan sebuah oksigen masker bertengger menutupi mulut dan hidungnya.


"Nak...." Eloy berbisik di telinga putranya sambil terisak.


"Tuan... sementara ini tanda vitalnya stabil dan keadaannya secara umum baik. Tindakan tidak mencabut pisau itu sangat benar, jadi pendarahannya bisa diminimalisir, ia juga sudah mendapatkan tranfusi darah. Namun, kita masih perlu memantaunya secara intensive. Sekarang kita akan memindahkannya ke ruang ICU."


Lance menarik nafas lega... ia mengangguk pada dokter yang mengajaknya bicara. Mereka membiarkan para perawat itu memindahkan Lucius.


Setelah memastikan tuannya Lucius stabil dan telah dipindahkan, Lance mendorong kursi roda Eloy menuju pintu kamar operasi Reggie.


Mike yang sudah duduk di kursi panjang berdampingan dengan Eve dan Derek mendongak ketika kursi roda mertuanya berhenti di depan kakinya.


"Ayah, Lance, bagaimana Lucius?" tanyanya dengan suara serak.


"Sementara ini kondisinya stabil, Tuan. Dokter mengatakan secara umum keadaannya baik, pisau itu sudah dikeluarkan dan ia sudah mendapatkan tranfusi darah," Lance menjawab pertanyaan Mike.


Eloy Sanchez mengulurkan tangan dan menggenggam kedua tangan menantunya. Mike membalas genggaman itu, berbagi kesedihan dan kegelisahan mereka.


Suara pintu terbuka membuat semua orang kecuali Eloy segera berdiri dan menoleh. Dokter wanita yang menangani Regina sudah berdiri dan melepas masker di wajahnya.


"Sir... Putrimu sedang ditangani oleh tim intensive bagian neonatologi. Kelahirannya dalam usia 32 minggu membuat putrimu harus dibantu dengan alat pernafasan dan dirawat dalam inkubator. Istrimu juga sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang Recovery Room, keadaannya tidak bagus, Sir. Tekanan darahnya terlalu rendah, kami sudah mengusahakan yang terbaik. Kabar baik yang bisa kusampaikan saat ini adalah... tindakan histerectomy tidak jadi dilakukan, kami bisa mengatasi pendarahannya. Namun, kondisinya sangat kritis, tanda vitalnya berubah-ubah dan ia masih banyak memerlukan tranfusi darah."


Derek dan Alex memegangi Mike yang goyah. Laki-laki itu tidak bicara dan menanggapi sang dokter.


"Kusarankan Anda melihatnya di ruang ICU. Kami akan memindahkannya di ruang khusus bersama kakaknya, Tuan Lucius. Anda juga akan mendengar pemberitahuan lebih lanjut tentang kondisi putri anda...."


Mike hanya diam dengan wajah pucat, akhirnya Derek yang menyahuti pemberitahuan dokter itu.


"Baiklah Dok... terimakasih," ujarnya pelan. Sang dokter mengangguk dan dengan wajah penuh dukungan memandang Mike.


"Kuharap istri anda bisa melewati masa kritis ini, Sir...." bisik dokter itu pelan.


**********


Mike mengikuti seorang perawat ke ruang Neonatus intensive care, membawanya ke sebuah kotak kaca. Di dalamnya, seorang bayi yang begitu kecil bergerak-gerak dan merintih pelan. Sebuah selang kecil terpasang di kedua lubang hidungnya dan terhubung ke sebuah alat pernafasan.


"Ini Putrimu, Sir... maaf, kau belum bisa menggendongnya sekarang. Dia harus dipakaikan alat pernafasan,dan juga berat badannya lahirnya rendah, hanya 1900 gram."


Mike mengangguk, ia hanya diam menatap ke dalam inkubator, tempat putrinya tengah merintih pelan. Perawat tadi menepuk punggungnya sebelum pergi meninggalkan ia di dekat inkubator.


Mike mengulurkan tangan menyentuh penutup inkubator. Bayinya begitu kecil, kulitnya terlihat masih sangat tipis dengan warna kemerahan. Airmata Mike mengalir deras, ia mengelus kaca inkubator dengan telapak tangannya yang besar, memandang ke arah putrinya dengan kesedihan dan keputusasaaan yang membelit.


"My petite... maafkan Daddy yang tidak bisa melindungi kalian...."


*********


From Author,


Jangan lupa Like, love, bintang 5 ,dan komentar serta Votenya ya para pembaca🙏🙏😘😘😘


Terimakasih...


Salam, DIANAZ