Love Seduction

Love Seduction
Chapter 78. Bruised part 2



Reggie berlari menghampiri ketika melihat Amy yang berjalan di lorong rumah sakit bersalin bersama Eve.


Amy tersenyum lebar dan merentangkan tangannya menyambut Reggie.


"Oh, syukurlah. Kau bisa datang, aku ingin sekali kau ada di sini. "


Mereka berpelukan singkat sebelum akhirnya Amy kembali mengernyit.


"Ada apa?" tanya Reggie khawatir.


"Oh, dia kontraksi. Tidak apa-apa. Itu normal." Eve tersenyum sambil memegang lengan Amy.


"Ayo, kita berjalan-jalan saja, aku merasa nyerinya sedikit berkurang jika dibawa berjalan." Amy menarik lengan Eve dan Reggie.


Lucius yang masih berdiri di dekat sana segera menyingkir ketika melihat ketiga wanita itu akan melewatinya.


"Aku akan menemaninya berjalan-jalan, Kak. Kau pergilah cari Derek," ujar Reggie ketika melewati Lucius. Lucius mengangguk, tidak melewatkan panggilan Reggie yang memanggilnya kakak, ia merasa sangat senang ketika mendengarnya.


Amy berjalan pelan sambil mengatur napas. Ia akan berjalan lebih cepat ketika nyeri datang, lalu memelan ketika nyeri hilang. Ketika mereka sampai di sebuah kursi panjang, Amy segera duduk.


"Ah, akhirnya aku bisa bersembunyi sebentar dari pandangan Derek. Dia terlihat seperti orang yang akan menerima hukuman mati. Dia pucat dan ketakutan ketika aku memberitahu bahwa aku akan melahirkan." Amy bersandar di kursi.


Eve terkikik geli. "Ya ... dan dia makin menjadi-jadi ketika melihatmu mengernyit."


"Karena itu aku memilih pergi dulu dari sana. ahhhn... hufhhhn...." Amy kembali mengernyit dan mencoba mengatur napas ketika kontraksinya kembali, Reggie yang duduk di sebelahnya terlihat pucat dan berulangkali menelan ludah.


Setelah mereda, Amy memandang Reggie dan menepuk bahunya sambil tersenyum. "Hei, aku baik-baik saja. Ini normal."


Reggie terlonjak dan mengerang ketika merasakan tepukan di bahunya itu. Membuat Amy dan Eve memandangnya heran.


"Kau kenapa?" tanya Eve. Reggie menggelengkan kepala sambil tersenyum, menahan diri agar jangan meringis karena rasa nyeri pada lebam di bahunya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya cemas," ucap Reggie.


Mereka duduk di sana beberapa saat sampai Amy merasakan jarak kontraksinya sudah semakin dekat. Eve segera berdiri dan membantu Amy untuk tegak. Ia membiarkan Amy berjalan lebih dulu dan menghampiri Reggie.


Eve sengaja menepuk bahu Reggie sehingga gadis itu terlonjak mundur. Eve lalu menarik lengan kiri Reggie dan menaikkan lengan kaus yang ia pakai. Lengan bagian atas itu terlihat lebam dan mulai berwarna biru keunguan. Eve sangat yakin lebam itu menjalar sampai bahu Reggie yang tadi terasa sakit ketika ditepuk olehnya.


"Stttt ... aku mohon jangan mengatakan apa-apa, atau Amy akan mulai mengamuk. Dia butuh konsentrasi pada bayinya." Reggie menatap Eve memohon. Eve mengetatkan geraham sambil memicingkan mata memandang Reggie. Ia melepaskan lengan Reggie dan kembali melangkah menyusul Amy.


"Dia tidak akan lepas begitu saja ...," desis Eve sambil berlalu.


Derek berdiri dari kursi ketika melihat Amy datang.


"Sepertinya aku perlu masuk, agar mereka bisa memeriksa apakah pembukaannya sudah mengalami kemajuan." Amy tersenyum pada Derek yang mengangguk.


"Maaf Amy. Ak--aku menunggu di luar ya," ucap Reggie terbata. Amy terkekeh.


"Jarang-jarang aku melihat kau pucat dan ketakutan. Pftttt ...."


"Jangan tertawa kau gadis jahil! Aku mencemaskanmu!" sungut Reggie.


"Aku baik-baik saja. Kalian semua ada untukku." Amy kembali menepuk bahu Reggie sehingga Reggie mengernyit dan melangkah mundur.


Derek segera menarik Amy dan mencoba tersenyum pada semua orang di lorong itu. Ia masuk dan memanggil Eve.


"Eve ...." Derek melihat Eve tengah berbisik sambil berjinjit ke telinga Mike. Sesuatu yang membuat wajah Mike menggelap. Derek tidak tahu apa yang sudah dikatakan oleh gadis berambut merah itu.


"Eve, kemarilah. Kami membutuhkanmu."


Eve menepuk bahu Mike dan segera menyahuti panggilan Derek.


"Ya ... ya ...." Ia berlari mengikuti Derek masuk dan mengunci pintunya.


Mike yang berdiri bersandar di dinding memandangi Reggie yang termenung sambil memandangi pintu kamar bersalin. Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan Derek yang menyuruh dokter melakukan sesuatu agar istrinya tidak terlalu kesakitan. Reggie terlonjak mundur sampai punggungnya bersandar di dinding rumah sakit. Ia menoleh dan mendapati Mike tengah menatap ke arahnya.


Mereka berpandangan ketika suara rintihan Amy kembali terdengar dan suara teriakan Derek kembali memarahi staf medis di dalam sana membuat mereka bergidik. Reggie menggosok lengannya yang mulai terasa dingin.


Memangnya apa yang terjadi di dalam sana?


Lucius mendekat ketika melihat Reggie berulangkali menggosok lengannya dan terlihat tidak nyaman.


"Hei ... dia akan baik-baik saja," ujar Lucius menenangkan. Reggie mendongak dan menatap mata hitam kakaknya yang terlihat khawatir. Ia menelan ludah dan mengangguk. Tidak menolak ketika Lucius merentangkan tangan dan memeluknya.


Mike berhenti bersandar di dinding dan melangkah menuju kursi panjang. Ia duduk dengan mata tak lepas menatap Lucius dengan tajam dan dingin. Beribu makian ingin terlontar dari mulutnya pada Lucius, tapi Mike menahannya dengan menggetatkan geraham.


Lucius menaikkan alisnya sambil menatap balik pada pria bermata abu-abu itu. Wajah Mike seperti menantangnya untuk berkelahi. Lucius mengalihkan tatapannya ketika merasakan Reggie menyandarkan pipi ke dadanya dan balik memeluk kakaknya itu.


Teriakan Amy terdengar lantang dari dalam ruangan di dalam sana. "Demi Tuhan, Derek! Aku akan membunuhmu bila kau tidak keluar dari sini sekarang!"


Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan Eve mendorong tubuh besar Derek keluar.


"Mike! Jaga dia agar jangan masuk! Dia merepotkan!" Eve kembali menutup pintu dan menguncinya.


Mike menepuk kursi panjang di sebelahnya, menyuruh Derek duduk. Reggie mengeratkan pelukannya pada Lucius ketika teriakan Amy terdengar kembali di dalam sana.


"Entahlah, aku belum pernah melahirkan. Jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu." Kata-kata kakaknya itu membuat senyum geli tersungging di bibir Reggie.


"Carilah istri. Agar kau tahu jawabannya dari istrimu nanti," ujar Reggie pelan. Lucius terdengar mendengus keras mendengar kata-kata Reggie.


Suara tangisan bayi di dalam sana, membuat Derek berdiri dan melangkah sampai ke depan pintu. Derek terlihat memegang pintu dengan telapak tangannya dan menyandarkan keningnya di sana. Beberapa saat kemudian Eve muncul dari pintu itu dan tersenyum lebar pada Derek .


"Ayo lihat jagoanmu, Derek," ajak Eve sambil menarik Derek masuk. Tarikan napas lega terdengar dari tiga orang yang menunggu di luar.


Mike segera berdiri dan menatap tajam pada Lucius.


"Aku ingin bicara berdua denganmu."


"Ada apa?" Reggie melepaskan pelukannya dan mengernyit memandang Mike.


"Dimana?" tanya Lucius dengan nada datar.


"Ikuti aku!" Mike melangkah lebih dulu.


"Aku ikut!" ucap Reggie. Lucius menggelengkan kepalanya.


"Kau duduk di sini dan tunggu kabar dari Eve. Jangan membantahku!" perintah Lucius.


Reggie cemberut saat Lucius mendorongnya agar duduk di kursi, lalu Lucius meninggalkannya mengikuti Mike yang terlihat berbelok di ujung lorong.


Setelah sampai di depan sebuah lift, Mike menunggu Lucius yang datang menghampirinya. Mike memberi tanda agar mereka masuk dan langsung menekan tombol lift ke lantai dasar yang merupakan tempat parkir.


Lucius menaikkan alis. Memangnya kemana dia akan mengajakku?


Setelah sampai di area parkir, Mike memandang berkeliling. Tidak ada orang di sana.


"Kurasa yang kau mau bukanlah bicara. Bukan begitu!?" ucap Lucius sambil melipat tangan di depan dada dan berdiri tegak dengan kuda-kuda siap menyerang.


Mike mendengus. "Kau apakan Regina!?"


"Apa maksudmu? Lagipula apa urusanmu!?" tanya Lucius heran.


Jawaban pertanyaan itu adalah sebuah kepalan yang mendarat di pipi kirinya dengan keras. Lucius terempas sampai tubuhnya menabrak sebuah mobil yang ada di belakangnya. Tawa kering terdengar dari mulut Lucius yang berdarah. Sudut kiri bibirnya pecah karena kuatnya pukulan Mike.


"Ah ... akhirnya kau tidak menahannya lagi. Kau memang ingin memukulku dari awal bukan, Mike?" Lucius terkekeh, lalu berdiri dengan seringai mengerikan di wajahnya.


"Asal kau tahu, tanganku juga sudah gatal ingin memukulmu!" Lucius bergerak cepat dengan tangan terkepal. Ia mengincar pelipis Mike. Namun Mike mengelak, hingga pukulan itu hanya mengenai udara kosong.


Keduanya saling menyerang, sampai suatu ketika telapak kaki Lucius akhirnya mengenai pelipis Mike. Membuat laki-laki itu terempas ke lantai.


Lucius berdiri mengangkang dengan mata hitamnya yang berkilat puas memandang Mike yang terjengkang dan memegangi pelipisnya yang robek. Kedua pria itu mengatur napas mereka yang memburu, Lucius menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya sambil membungkuk.


"Kau hanyalah pria pengecut yang berani memukul wanita!" ejek Mike sambil mencoba berdiri dan mengatasi kepalanya yang terasa pusing karena tendangan Lucius.


Mata Lucius kembali berkilat. "Apa maksudmu!?"


"Kau memukul Regina bukan!? Eve mengatakan lengan atasnya terdapat lebam biru keunguan sampai ke bahunya! Kau yang melakukannya kan!? Dia tinggal bersamamu!" ucap Mike lantang.


"Memukul Gina!?" Lucius sama sekali tidak mengerti.


"Lebam itu pasti disebabkan pukulan yang amat keras! Hingga berbekas di tubuh Regina!"


Lucius teringat ketika ia bertengkar dengan Gina dan mendorong adiknya itu berkali-kali. Gina terbentur sudut meja, lalu terempas ke lantai berulang kali. Namun Gina tidak berhenti kembali berdiri dan memeluknya sambil menangis. Apakah lebam itu hanya di lengan? Lucius mengernyit ketika otaknya menjawab tidak. Ia yakin seluruh tubuh adiknya itu terasa sakit dan lebam bukan hanya terdapat di lengan dan bahunya. Tapi Gina tidak mengatakan sepatah kata pun.


"Kau diam. Kau mengakui telah memukulnya kan!" Mike kembali menyarangkan tinjunya ke wajah Lucius. Lucius tidak sempat mengelak, sekarang gilirannya terempas ke lantai. Darah kembali mengucur dari mulut Lucius. Ia menghapusnya dengan lengan dan mencoba berdiri dengan berpegangan pada tiang besar penyangga gedung.


"Berhenti Mike. Kita lanjutkan ini di lain waktu. Aku tidak tahu Gina terluka. Dia tidak mengatakan apapun. Aku akan membawanya ke Dokter Lawrence sekarang." Tanpa menunggu jawaban Mike, Lucius meninggalkan tempat itu dengan tubuh terhuyung. Kepalanya pusing karena kerasnya pukulan Mike. Lucius masuk ke dalam Lift dan menekan tombol lantai tempat ia meninggalkan Regina. Ia kembali menghapus darah di sudut bibirnya yang pecah.


Lucius mencoba merapikan penampilannya agar tidak terlalu tampak berantakan. Namun noda darah di kemeja dan sudut bibirnya yang pecah tidak dapat menyembunyikan kenyataan bahwa ia baru saja baku hantam dengan seseorang.


Mike memicingkan mata pada laki-laki yang akhirnya menghilang ke dalam lift. Reaksi Lucius memperlihatkan kalau ia tidak tahu tentang lebam di tubuh Regina.


"Cihh! Hal ceroboh apalagi yang kau lakukan, Kucing liar, sehingga tubuhmu membiru seperti itu." Mike mendesis lalu memegang luka robek di pelipisnya. Ia menarik tangannya dan melihat noda darah yang membuat jari-jarinya berwarna merah.


"Kita benar-benar harus melanjutkannya lain kali, Lucius, Karena aku belum puas memukulmu, tidak sampai kau terkapar dan pingsan." Dengan ucapan itu Mike melangkah menuju lift untuk kembali ke lantai atas.


**********


From Author,


Pada benjol jadinya Mike dan Lucius πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Tungguin update selanjutnya ya....


Jangan lupa di like and kasih komentar....Sorry ada adegan pukul-pukulan dikittπŸ˜πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜‚


Follow author ya dengan klik ikuti di profil author ya para pembaca. Terimakasih.


Salam, DIANAZ.