Love Seduction

Love Seduction
Chapter 9. Found you



Lucius menyipit di balik kacamata hitam yang ia pakai ke arah pesawat yang sudah menunggunya. Jadi juga Beruang besar yang merupakan adik iparnya itu pamer. Sebuah pesawat pribadi yang siap mengantar Lucius dengan nyaman selama penerbangan.


"Dua pengawal anda sudah menunggu. Anda hanya tinggal naik dan berangkat," ujar Lance.


Lucius menoleh dan melepas kacamata hitam yang ia pakai, kilat di mata hitam itu cemerlang bak kilat berlian di telinga kirinya.


"Apa yang dia katakan ketika ia memberitahumu tentang pesawat ini?" tanya Lucius.


Lance tidak dapat menahan senyumnya. Tuan Mike memaksa Lance agar menerima tawarannya untuk mengatur keberangkatan Lucius. Mike menahan Lance agar jangan menggunakan penerbangan komersil.


"Tuan Mike mengatakan, sampaikan pada 'Kakak Iparku yang paling tampan' selamat menikmati penerbangan mewah dan nyaman ... tidak perlu berterimakasih, karena ini hanyalah hal kecil bagi keluarga Eliazar yang merupakan anggota keluarga besar klan Langton." tutur Lance, tanpa mengurangi atau menambahkan sedikitpun kata-kata yang di ucapkan oleh suami Nona Regina itu. Lance masih terbayang senyum geli di wajah pria bermata abu-abu itu ketika meminta Lance menyampaikan pesannya pada Tuan Lucius.


"Huh! ... Dia pamer!" cetus Lucius.


"Saya rasa Beliau memang sengaja, Tuan," ucap Lance dengan senyum geli.


"Ya sudahlah ... nikmati saja fasilitas dari adik ipar yang kaya. Aku pergi Lance ... aturlah semuanya di sini dengan baik. Telpon aku secara berkala ... beri kabar tentang semuanya, termasuk kabar keluargaku."


Lance mengangguk, lalu sedikit membungkuk hormat pada Lucius yang melangkah ke arah pesawat. Tuannya itu sempat menoleh sebentar ke arahnya sebelum akhirnya melangkah kembali menaiki pesawat yang akan membawanya.


*********


Hari sudah sore saat Lucius dan dua pria pengawalnya, Brad dan Santoz mencapai hotel.


Reservasi sudah di atur oleh Lance. Dua pria yang mengiringi Lucius tentu saja tidak datang bersamaan dengannya. Lucius melakukan semuanya sendiri, dua pria itu berpura-pura menjadi dua orang asing yang tidak Lucius kenal,mereka hanya menjaga dan mengawasi Lucius dari jauh.


Lucius merasa hal seperti ini sebenarnya tidaklah perlu. Tapi percuma ia membantah Lance, tangan kanannya yang setia itu hanya ingin dirinya aman. Jadi Lucius membiarkan saja hal ini.


Setelah mandi dan beristirahat di atas ranjangnya yang empuk, Lucius melihat ponselnya dan teringat akan perkataan Regina agar ia menelpon jika sudah sampai.


Well ... ia belum sampai di perkebunan, baru sampai di kota terdekat yang bisa dicapai dengan penerbangan. Lucius harus berkendara lagi dengan mobil untuk mencapai lokasi tanah mereka.


Lucius mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video call dengan Regina. Setelah beberapa saat, tampak Reggie dan juga keponakannya Marie di layar. Mata besar Marie tampak melebar menatap wajah pamannya di layar ponsel.



Cast : Marinna Eliazar or Marie


"Halo Uncle ... kau sudah tiba rupanya," ucap Reggie.


"Ya ... aku mesti berkendara lagi sekitar dua jam untuk mencapai perkebunan. Jadi besok saja aku ke sana. Malam ini aku akan beristirahat di hotel dulu."


"Kau sudah makan malam?"


"Belum ... aku baru saja mandi dan istirahat. Aku akan turun dan keluar hotel, mencari makan malam unik khas kota ini."


"Jangan makan sembarangan, Uncle. Perutmu bisa sakit." Reggie menggerak-gerakkan tangan Marie seolah bayi itu melambai ke arah Pamannya.


"Kau makin lucu ... rambutmu makin tebal dan mengkilat, Marie."


"Makin mirip dengan rambutmu, Paman Lucius,"


Lucius menyerigai lebar mendengar ucapan adiknya.


"Dan wajahku makin mirip Daddy," ucap Reggie lagi dengan nada geli.


Lucius tertawa, "Akan seperti apa jika kau besar nanti ,Marie ...."


Suara Mike yang memanggil Regina terdengar kencang, adiknya itu menoleh ke belakang lalu tersenyum meminta maaf.


"Mike memanggilku, Kakak. Nanti kita bicara lagi, Oke ...."


"Ya ... pergilah. Aku juga akan mencari makan malam."


Setelahnya Lucius mematikan ponselnya. Ia bangkit dari ranjang dan mengambil dompet. Lucius memasukkan dompet ke kantong celana jeans yang ia kenakan. Lalu ia mengambil kaos di dalam koper yang sengaja tidak ia bongkar karena besok ia akan segera keluar dan melanjutkan perjalanannya kembali.


Setelah memakai jaket parka berwarna hitam tanpa dikancingkan ke tubuhnya, Lucius mengambil ponsel dan memasukkannya ke kantong jaket. Setelahnya ia keluar dari kamar dan pergi mencari makan malam.


Aku tidak perlu memberitahu Brad dan Santoz. Biarkan mereka istirahat. Lagipula terasa tidak bebas terus di ikuti oleh kedua orang itu. Lucius memutuskan di dalam hati untuk pergi sendirian tanpa memberitahu para pengawalnya.


**********


Lucius berdiri di antara kerumunan orang yang juga menonton. Di depan sana, dua pasang penari tengah melompat, bertepuk dan berputar, Menarikan tarian rakyat yang dikenal Lucius dengan Tarantella ... beberapa orang bahkan ikut bertepuk tangan menyemangati para penari itu.


"Bravo!" teriakan itu menggema ketika musik makin energik dan penari laki-laki memutar penari perempuan sambil terus melompat. Lucius tanpa sadar ikut bertepuk tangan dan tertawa, terbawa suasana ceria dan riang yang disuguhkan oleh para penari itu.


Namun ketika seseorang menarik sesuatu dari kantong parka yang ia pakai, Lucius menoleh dan mendapati seorang remaja laki-laki sudah berlari setelah merogoh sesuatu dari kantongnya.


Lucius menyadari bocah remaja itu telah mencopet ponselnya. Reflek ia berlari dan mengejar, awalnya ia sedikit kesulitan diantara kerumunan. Namun makin lama bocah itu makin dekat, Lucius yakin ia akan bisa menangkapnya sebentar lagi.


Ia mengejar sampai ke sebuah gang, setelah masuk ke gang sempit itu, bocah remaja itu malah berhenti berlari. Ia berbalik dan berdiri menunggu Lucius.


"Kau! Pencuri kecil! Kembalikan ponselku!" bentak Lucius garang.


Bocah itu berkacak pinggang dan memandang Lucius dengan wajahnya yang kotor dengan sinis.


"Ambil sendiri kalau kau bisa, Bodoh!" lalu bocah itu menyerigai, belum sempat untuk kembali menggertak dan bergerak menangkap bocah lelaki itu, Lucius merasakan benda keras menghantam keras kepalanya. Ia terhuyung ke depan dan memegang belakang kepala sebelum akhirnya tersungkur. Hantaman balok keras itu membuatnya kehilangan kesadaran seketika. Lucius tertelungkup dengan pipi menempel di atas tanah dan mata terpejam. luka robek di kepalanya mulai mengalirkan darah yang mengalir membuat jejak merah di pipi sebelum akhirnya jatuh ke tanah.


"Periksa kantongnya. Ambil semua yang bisa diambil," ucap seorang pria yang merupakan pemimpin gerombolan pencuri itu.


Seorang pria lain mulai menggerayangi tubuh Lucius. Ia menarik dompet dari celana jeans yang Lucius pakai dan melemparnya pada pemimpinnya tadi.


"Bolehkah aku meminta jaket yang dia pakai?" bocah remaja yang bertugas mencari target dan membawanya ke tempat sepi itu berkata pada pria yang tadi mengambil dompet.


"Tentu, ambillah luiz ... kerjamu bagus. Ada banyak uang tunai di sini," pemimpin mereka yang menjawab. Lalu Lucius di lucuti, ia ditarik telentang, rambut panjangnya berserakan di atas tanah, sebagian menutup leher dan rahangnya. Jaket parka dan kaos yang ia pakai di buka dan di ambil. Setelahnya para pencuri itu mulai melangkah menjauh, meninggalkan tubuhnya telentang di tanah di gang sempit itu dalam keadaan pingsan.


"Apa dia mati?" tanya Luiz, bocah itu sudah mengenakan jaket parka baru yang kebesaran di tubuhnya.


"Tidak ... dia pingsan. Biarkan saja, ayo pergi dari sini," ucap pemimpin pencuri itu dengan hati senang karena telah mendapatkan mangsa yang mudah malam itu.


**********


Alison menggendong adiknya yang sudah tertidur, berulang kali adiknya itu melorot, Alan sudah sangat lelah, ia terpaksa mengikuti Ally kemanapun Ally bekerja. Ally tidak punya tempat untuk menitipkan adiknya itu selama ia bekerja.


Ia beruntung karena Madam Gavany mengizinkan ia membawa Alan. Restoran Madam selalu ramai dan butuh pencuci piring yang mau bekerja seharian seperti dirinya.


Para pekerja mulai berdatangan ke tempat Madam mulai pagi hari untuk mencari sarapan, lalu siang hari akan bertambah ramai, malam hari adalah puncaknya. Ritme pekerjaan akan menurun setelah hampir tengah malam.


Alison menyanggupi bekerja sampai malam karena upah yang ia terima sangat lumayan. Bisa membayar kamar kecil di gang kumuh yang ia tinggali saat ini. Ia juga mendapatkan makan tiga kali sehari dari restoran sehingga ia tidak perlu lagi membeli.


Beruntungnya lagi, Madam mengerti bila ia harus membawa adiknya sambil bekerja. Alan kecilpun sangat membantu, bocah itu tidak nakal, ia akan menunggu Alison bekerja di sudut dapur tanpa mengganggu siapapun. Hanya di temani seekor anak kucing milik Madam yang ada di sudut dapur. Alan bahkan membantu mengurus kucing kecil itu dengan membersihkan kandangnya dan memberinya makan.


"Kau pasti sangat lelah, Alan," bisik Alison sedih.


Memasuki gang sempit tempat tinggalnya, Alison segera bergegas, keadaan di luar gang agak gelap. Setibanya ia di depan pintu gedung kumuh tempat kamarnya berada di salah satu kamar-kamar berukuran kecil yang disewakan di sana, ia melihat pemandangan yang membuatnya mundur karena terkejut.


Alison memicingkan mata ... tubuh telanjang pria itu tergeletak begitu saja di tanah kering berdebu tak jauh dari pintu gedung. Pria itu hanya mengenakan celana Jeans. Suasana yang gelap membuat Alison kesulitan melihat dengan jelas.


Noda apa yang terlihat menghitam di wajah pria itu? apakah itu darah? dia sepertinya tidak sadarkan diri ... Alison bergerak cepat dan mendekat. Dengan terkejut ia menyadari sekujur tubuh pria itu penuh dengan parut bekas luka yang terlihat mengerikan.


"Sir ...." Alison memanggil, lalu perlahan berjongkok dan menggoyangkan bahu pria itu dengan satu tangan.


Alison memeriksa dan menyadari pria itu pingsan dan kepalanya sepertinya terluka. Ia melihat ke arah pintu gedung, lalu ke arah Alan di pelukannya, terakhir ke arah pria berambut panjang yang pingsan itu. Memikirkan tindakan selanjutnya yang akan ia lakukan.


**********


From Author,


Akankah Alison menolong pria itu?


atau memilih membiarkan saja orang asing itu tetap tergeletak di sana?


Ikuti kisahnya di chapter selanjutnya ya my Readers..


Jangan lupa untuk klik like, vote dan komentarnya ya...kritik, saran bahkan spoiler kisah selanjutnya versi para Readers... akan jadi inspirasi buat AuthorπŸ™πŸ™..bagi yg belum klik favorite, boleh dong sekarang di klikπŸ˜‚ yg belum kasih rating bintang limanya jugaπŸ™πŸ™


Follow author dengan klik ' ikuti' di kolom profil ya...Terimakasih banyak semuaaaa...😘😘😘


Salam, DIANAZ.