
Pulang dari acara makan malam di mansion utama Langton, Mike memasuki apartemennya dan langsung menuju dapur. Kebiasaannya langsung membuka kulkas dan mencari botol air putih. Ia menuang ke dalam gelas, lalu duduk dan meminum air yang tadi ia tuang.
Mike menekuri meja yang mulai mengembun di bawah botol air dingin yang ia taruh. Pikirannya melayang menghubungkan setiap perkataan Lucius dan ketakutan Regina akan nama keluarga itu.
Acara makan malam di mansion utama Langton tadi dihadiri oleh Lucius membuat Mike berpikir tentang Reggie yang berada di apartemennya. Mike menelisik setiap centi wajah Lucius saat ia berada di sana dan sesuatu yang aneh menggelitiknya ketika melakukan itu. Sesuatu yang tidak mau ia pikirkan saat ini.
Beberapa saat yang lalu Lucius pernah datang ke kantor Derek. Meminta bantuan untuk menemui setiap orang yang pernah ditemui atau berhubungan dengan Greta Sky.
Menurut dugaan Lucius, Greta Sky yang sebelumnya bernama Margaretha Langton adalah teman Marinna Hastings, wanita yang keluarga Sanchez cari selama bertahun-tahun.
Marinna Hastings diketahui kabur melarikan diri bersama putri kecil keluarga Sanchez, ia menemui teman masa kecilnya saat di panti asuhan dulu, Seseorang bernama Isabella yang diadopsi oleh keluarga Langton.
Karena hanya ada satu anak angkat perempuan di keluarga itu, yaitu Margaretha Langton, Lucius menduga Isabella adalah Margaretha Langton. Jadi ia ingin menemui orang -orang yang pernah berhubungan dengan Margaretha untuk mencari Marinna.
Mike menghela napas panjang, Lucius mengatakan gadis kecil putri keluarga Sanchez yang dibawa kabur itu memiliki rambut berwarna hitam dan juga mata yang berwarna hitam. Reggie cocok dengan gambaran itu. Mike mengetahui gadis itu sudah bertahun-tahun hidup bersama keluarga Greta Sky, mungkinkah sejak ia masih kecil?
"Ini terlalu kebetulan ...." Mike menggelengkan kepalanya berulangkali, berusaha menjelaskan setiap informasi yang lewat di kepalanya, sampai suara pelan orang yang sedang menangis memasuki pendengarannya. Mike terlonjak dan segera melangkah keluar dari dapur menuju pintu kamar Reggie. Ia mencoba membuka pintu dan mendapati pintu itu terkunci.
"Ckk! Dasar keras kepala!" Mike mengumpat, lalu mendengar Reggie mulai mengigau dalam tidurnya.
"Tidak! Pergilah! ... aku mohon ...." Reggie terdengar memelas disela isak tangisnya. Mike yakin gadis itu masih tidur. Dengan geram Mike mundur, lalu menghantamkan bahunya ke pintu dengan keras. Pintu itu langsung terbuka dengan suara kencang, menyebabkan Reggie terlonjak di atas ranjang, menatap nanar ke sekeliling ruangan dengan air mata meleleh dan rambut yang kusut.
Ketakutan yang menguar dari kedua bola mata itu membuat Mike mendekat dan segera memeluk tubuh Reggie. Gadis itu sepertinya belum sepenuhnya menyadari dimana ia berada.
"Stttt ... ini aku Regina ... Mike." Mike memeluk Reggie dan mengelus rambutnya.
"Kau ada di apartemenku. Dikamarmu ...." Penjelasan Mike membuat Reggie kembali tersadar. Napasnya yang awalnya memburu perlahan kembali teratur.
Setelah merasa kembali tenang, Reggie melepaskan pelukan Mike. Ia mencoba tersenyum, walaupun yang muncul hanyalah ringisan.
"Terimakasih, Mike. Ummm ... aku baik-baik saja sekarang." Gadis itu mendorong dada Mike agar menjauhinya.
Mike berdecak marah melihat tingkah gadis itu.
"Apa yang kukatakan mengenai pintu yang terkunci, Regina! Kau sama sekali tidak mendengarkanku!Jangan terlalu keras kepala, Regina!" Bentakan Mike membuat Reggie terkejut.
"Hak ku untuk tidur dengan mengunci pintu, Mike! Kau tidak dapat mengatur hal itu." Reggie membantah, suaranya mulai naik tanda emosinya juga tersulut mendengar kemarahan Mike.
"Hakmu? Oh, No! Kau menumpang di sini Regina! Dan kewajibanmu adalah menurutiku karena aku pemilik apartemen ini!"
Reggie mengetatkan gerahamnya. Ia tidak perlu di ingatkan akan statusnya yang menumpang.
"Ikuti aturanku Regina!" Perintah Mike keras. Ia merasa sangat geram pada kucing liar di hadapannya.
"Tidak akan! Aku akan pergi dari sini! Hingga kau tidak seenaknya saja memerintahku!"
Ucapan Reggie membuat Mike marah besar. Gadis itu mengancam meninggalkan apartemennya. Perasaan takut yang asing muncul di hati Mike, membuat ia melampiaskan kemarahannya.
Reggie melawan sekuat tenaga. Ia meninju Mike dengan kepalan tangannya sambil menggerak-gerakkan kepala menghindari ciuman Mike.
Mike makin marah dan menahan kepala Reggie dengan kedua tangannya. Mengunci kepala Reggie agar tidak bergerak dan kembali mencoba mencium bibir itu.
Mata Reggie memelototi Mike yang mencecap dan memaguut bibirnya.
Tidak. Aku tidak boleh merasa lemah. Aku akan meninggalkannya ... jangan tumbuhkan perasaan apapun pada laki-laki ini.
Reggie mengingatkan dirinya sendiri. Ia lalu mendorong Mike dengan kedua lengannya yang bebas, sekuat tenaga dengan bertumpu pada dorongan tubuh, menyebabkan Mike terhuyung dan melepaskan pagutan bibirnya.
Mike melihat Reggie bergerak cepat bangkit meninggalkan tempat tidur. Dengan sigap ia menangkap pinggang Reggie dan membanting gadis itu ke atas kasur. Mereka bergumul, Mike mencoba menahan kedua lengan Reggie yang tidak berhenti bergerak. Ia tidak mau merasakan cakaran lagi di wajahnya seperti dulu.
"Ayo ... kau mau berkelahi denganku? Aku layani dengan senang hati!" Mike mengunci kedua lengan Reggie di atas kepala. Menindih tubuh Reggie yang akhirnya berhenti bergerak-gerak.
"Kenapa berhenti? Bergerak saja terus. Kau akan memancing sesuatu yang tidak akan bisa kau hadapi!" Mike menyeringai memandang wajah Reggie yang syok. Gadis itu berhenti bergerak karena Mike menindih tubuhnya di bawah pria itu. Terus bergerak menyebabkan tubuh mereka saling bergesekan.
"Sudah tenang?" Mike memandangi wajah cemberut di bawahnya. Tersenyum geli dan mencium kening Reggie, membuat Reggie terkejut dan memandangnya aneh.
"Sekarang dengarkan aku, Regina. Aku akan tidur di sini denganmu mulai saat ini. Sampai kau menceritakan apa yang menjadi masalahmu sebenarnya." Mike melihat Mata hitam itu membelalak. Mike segera membaringkan tubuhnya miring dan memeluk Reggie. Berpura-pura memejamkan mata.
"Lagipula kita sudah pernah melakukannya dan tidak terjadi apa-apa bukan? Jadi mulai saat ini aku akan tidur denganmu. Mimpi burukmu makin parah." Mike membuka matanya dan melihat Reggie yang menggeleng berulang kali.
"Tidak. Kau tidak perlu melakukannya!"
"Jika kau tidak mau aku melakukannya, ceritakan padaku kenapa kau selalu mimpi buruk akhir-akhir ini? Apa yang membuatmu Khawatir?"
Keheningan yang menjawabnya membuat Mike berdecak.
"Ckkk ... sekarang diamlah dan tidur. Aku mengantuk!" Mike kembali memejamkan mata. Lengannya masih memeluk Reggie yang berbaring telentang.
Merasa tidak dapat berbuat apa-apa, Reggie bergerak membelakangi Mike. Memandang ke arah pintu yang sedikit terbuka karena kuncinya sudah rusak. Ia mendengarkan napas Mike yang mulai teratur di belakang telinganya, lalu menunduk memandangi lengan besar yang melingkari pinggangnya.
Jangan membuatku menyukaimu ,Mike! Aku akan pergi dan meninggalkan semuanya. Kau seharusnya membiarkanku.
Dengan napas berat, Reggie mencoba memejamkan matanya kembali, berharap semoga mimpi buruknya tidak datang lagi, atau ia akan sangat mengganggu tidur pria yang ada di sebelahnya.
Mike mendengarkan embusan napas berat itu sebelum akhirnya keheningan dan napas teratur Reggie memberitahunya bahwa gadis itu telah kembali tertidur.
Masa lalu apa yang menghantuimu, Regina.
Mike mengeratkan pelukannya ke pinggang Reggie, menghirup aroma rambut gadis itu sebelum kembali memejamkan matanya.
**********