
Lucius menyadari ada yang aneh ketika setiap sambungan teleponnya tidak ada yang tersambung.
Ponsel Ally tidak pernah aktif lagi sejak ia meninggalkan tanah perkebunan. Pabio dan Ester juga tidak ada yang bisa di hubungi.
"Ini aneh ...." bisik Lucius.
"Apa yang aneh, Nak?" tanya Eloy. Ayahnya sudah nampak segar dan gembira. Membuat Lucius mulai memikirkan akan kembali dan melihat sendiri apa yang terjadi pada Ally, segera ia akan kembali karena ayahnya dinyatakan sudah boleh pulang.
"Tidak ... Tidak ada, Ayah," ucap Lucius.
Eloy tersenyum, gembira sudah di perbolehkan pulang. Mereka sepakat akan membawa Eloy ke mansion Eliazar, agar Reggie selalu bisa ada di dekatnya dan karena adiknya itu berkeras ingin membawa ayahnya ke tempatnya.
"Tadi kau bilang ada yang aneh," ucap Eloy.
Lucius memberikan senyum menenangkan pada ayahnya, "kita akan pulang, Marie sudah merindukan kakeknya," ujar Lucius.
"Aku juga sudah tidak sabar ingin melihatnya," ucap Eloy.
"Makan malam nanti Reggie mengundang keluarga Damario. Mereka meminta ijin datang sekalian menyambut kepulanganmu," ucap Lucius.
"Ajaklah Lance saat kau datang makan malam, dan jangan terlambat!" perintah Eloy.
Lucius menangkupkan telapak tangannya di dada dan membungkuk ke arah ayahnya," sesuai perintahmu, Yang Mulia," ujarnya geli.
**********
"Saya tidak perlu hadir, Tuan." Lance bertahan dan menolak ajakan Lucius untuk datang ke tempat Reggie.
"Oh, ayolah, Lance. Aku ingin menyampaikan pada Ayah besok mungkin aku harus pergi lagi ke perkebunan. Ada sesuatu yang perlu ku periksa secara langsung. Kau tidak mungkin melewatkan makan malam terakhir bersamaku dan Ayah ,bukan?" bujuk Lucius lagi.
"Anda sudah bisa menghubungi mereka?" tanya Lance.
"Sepanjang siang ini tidak ada yang mengangkat panggilanku, baik Ester maupun Pabio. Tapi sudah terhubung, sepertinya mereka tidak ada di rumah atau sedang pergi ke suatu tempat." Lucius mengangkat bahunya.
"Apa yang ingin Anda periksa? Aku bisa menyuruh Brad atau Santoz."
"Kau ingat Alison? yang kau tanyakan waktu itu ...."
Lance hanya mengangguk.
"Dialah yang ingin kuperiksa. Dan aku ke sana untuk menjemputnya," ucap Lucius dengan senyum lebar.
"Seorang gadis, Tuan?" tanya Lance.
Lucius kembali tersenyum lebar. Ia melangkah meninggalkan Lance tanpa menjawab.
"Lima belas menit lagi kita pergi, Lance. Bersiaplah, jangan terlambat!" teriak Lucius tanpa menoleh.
Lance menarik nafas panjang, ia tahu tidak lagi dapat mengelak. Ia harus pergi ke mansion Eliazar. Makan malam bersama keluarga Eliazar dan Damario ... tentu saja Nona menggelisahkan yang satu itu pasti juga akan datang.
**********
Lucius dan Lance tiba beberapa menit setelah keluarga Damario.
Eloy dan Frank tampak masih berpelukan dan saling menceritakan kabar masing-masing. Reggie mengajak Cecilia dan Marlene langsung menuju ke ruang makan.
Mike masih menunggu di depan mansion karena telah melihat mobil Lucius dan Lance datang.
"Kenapa kau sangat enggan, Lance?" tanya Lucius.
"Tidak ... Saya biasa saja," bantah Lance.
Lucius tertawa geli, membiarkan lance lolos dan berkelit dari pertanyaannya. Ia turun dan mendatangi Mike diikuti oleh Lance di belakangnya.
"Dua bujangan Sanchez, kenapa lama sekali ?" tanya Mike. Lance langsung mengerutkan dahi mendengar ucapan Mike.
Lucius terkekeh," Aku harus membujuk seseorang yang enggan ... jadi kau bayangkan saja lamanya," ucap Lucius.
Mike menatap Lance," Kau enggan ikut kemari?" tanya Mike.
"Bukankah Saya datang, Tuan," jawab Lance.
"Setelah Aku memaksamu," ucap Lucius.
Mike menggeleng, ia tahu pasti Cecilialah yang menyebabkan Lance merasa tidak nyaman hadir di rumahnya malam ini.
"Ayo ...Mereka sudah menunggu kita," ucap Mike pada dua pria itu.
Makan malam berjalan lancar, Tuan Frank dan keluarganya mohon pamit karena takut akan mengganggu waktu istirahat Eloy jika mereka terlalu lama, Namun Eloy meminta Frank untuk mengobrol sebentar. Menemaninya sebelum waktu istirahatnya datang. Reggie dan ibunya terlibat pembahasan yang tidak bisa diikuti oleh otak Cecilia. Fikirannya hanya pada pria berwajah tanpa ekspresi yang tadi mengekor di belakang Lucius dan sampai sekarang tidak terlihat lagi.
Cecilia segera berjalan-jalan sendiri ke arah luar, melewati aula, ruang santai dan tiba di teras. Lalu ia melihat Lance yang berdiri sendirian di teras yang temaram dengan mendongak menatap langit malam dan kedua tangan berada di dalam saku celananya.
"Kemana Lucius? Bukankah tadi kau bersamanya?" tanya Cecilia sambil mendekat.
Lance sedikit terkejut karena tidak menyangka Cecilia sudah ada di dekatnya. Gadis yang baru saja ia fikirkan di otaknya itu.
"Tuan naik ke kamar Marie ...." ucap Lance.
"Oh ...." ucap Cecilia, lalu ia diam dan ikut memandang ke arah langit malam seperti yang tadi Lance lakukan.
"Masuklah, Nona ... Jangan berdiri di sini," usir Lance. Keberadaan Cecilia membuatnya makin tidak nyaman.
Cecilia menarik nafas panjang, mencoba bersabar menghadapi pria menjengkelkan di sebelahnya itu.
"Tidak ada, Nona," jawab Lance.
"Memanggilku Cecilia saja kau tidak mau. Apa kau benar-benar tidak bisa berteman denganku?" desak Cecilia.
Lance bergeming, tidak melirik, tidak menjawab bahkan juga tidak bergerak sedikitpun.
"Panggil aku Cecilia ... Apa begitu sulit?" tanya Cecilia lagi.
Hening ... tidak ada jawaban. Cecilia jadi sedikit geram, ia menoleh ke arah dalam, sepi ... tidak ada orang.
Gadis itu bergerak, berpindah dan berdiri di hadapan Lance. Membuat Lance mundur. Namun, Cecilia tidak mengizinkannya mundur terlalu jauh. Jari tangan gadis itu telah menarik dasinya. Cecilia mendekat dan mendesis.
"Kau ingat pesan terakhirmu padaku?" tanyanya.
"Apa yang kau lakukan, Cecilia ... Lepaskan tanganmu," Lance balik mendesis, ia mengeluarkan tangannya dari saku dan mencoba menarik tangan Cecilia yang memegang dasinya.
Cecilia menyadari, Lance memanggil namanya tanpa embel-embel nona. Ia menyerigai senang.
"Kau ingat ... Kau mengatai ciumanku ciuman anak kecil, dan menyuruhku belajar lagi. Sekarang ... kenapa tidak kau saja yang mengajariku?" Lalu Cecilia berjinjit sambil menarik dasi Lance hingga laki-laki itu terpaksa mendekat.
Gadis itu kembali menempelkan bibirnya pada Lance, sama seperti yang ia lakukan dulu. Hanya saja kali ini ia tidak spontan melakukannya seperti saat pertama, saat ini ia memang merencanakannya , memang berniat mencium dan menggoda laki-laki berwajah datar tanpa ekspresi itu.
Satu tangan Cecilia menarik dasi Lance, sedang tangan satunya ia kembangkan di depan dada laki-laki itu. Merasakan debar jantung pria itu yang mulai berdetak kencang seperti detakan jantungnya sendiri.
Cecilia merasakan ketika bibir itu melembut dan membalas ciumannya. Kali ini Lance memagut balik lalu mencecap bibir gadis itu dengan kedua tangan melingkari punggung Cecilia.
Di dalam ruangan santai menuju arah teras yang pintunya terbuka, Frank Damario mundur perlahan-lahan setelah menyaksikan adegan sepasang anak muda di teras itu. Ia menggosok kepalanya, menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Sedikit merasa malu, Frank menyadari, putrinyalah yang menarik dasi Lance kemudian mencium pria itu lebih dulu.
Cecil ... Siapa sebenarnya yang kau inginkan? Jangan sampai Ayah memilih laki-laki yang salah, siapa yang kau cintai sebenarnya, Nak?
"Frank ... Kau bertemu Cecil?" tanya Marlene yang sudah menunggunya. Frank Damario menggeleng.
"Kita tunggu saja sebentar lagi. Ia tahu kita akan pulang," ucap Frank.
"Mungkin masih mengobrol bersama Lucius," ucap Eloy.
Frank hanya tersenyum, lalu melihat Lucius yang datang dari arah lantai dua.
"Cecilia tidak bersamamu?" tanya Eloy.
"Tidak, Ayah ... Kenapa? kemana Cecil?" tanya Lucius.
Tidak perlu menunggu lama, langkah kaki mendatangi aula, semua menoleh dan melihat Cecilia.
"Kau darimana, Nak?" tanya Marlene.
"Maaf ... Aku lupa waktu. Kita pulang?" tanyanya dengan tersenyum. Frank menatap putrinya lalu segera berpamitan pada keluarga Sanchez dan Eliazar.
Setelah tamu mereka pulang, Lucius mencoba menghubungi Pabio kembali. Kali ini panggilannya di jawab pada dering pertama.
"Halo ...." suara Ester menjawab.
"Hai Ester ... kemana saja, berulang kali aku mencoba menghubungi kalian." ucap Lucius.
"Maafkan kami, Bagaimana Ayah Anda, Tuan?" tanya Ester. Ester dan Pabio menjenguk Ally dan Alan ke rumah sakit. Walaupun Tuan Rico tidak mengizinkan mereka bicara lama-lama. Namun, Ester dan Pabio yakin Tuan Rico mengurus Ally dan Alan dengan sangat baik.
"Ayah sudah sehat kembali, Ester. Syukurlah ... Dimana Ally? " tanya Lucius tidak sabar.
Ester menarik nafas panjang. Ia menghindar menjawab telepon Lucius karena tidak mau menjawab pertanyaan ini. Tapi saat ini Tuan Eloy sudah pulih, Pabio yang sudah mendapat kabar dari Santoz akhirnya mengizinkan Ester menjawab telepon dan menjelaskan serta bercerita dengan lengkap pada Lucius.
"Maafkan kami ... kami lalai menjaga titipan Anda," ucap Ester mengakhiri ceritanya dengan sedih.
Lucius mendengarkan dengan wajah yang memucat dan tangan gemetar. Seluruh anggota keluarganya menunggu dengan heran namun tidak mengganggu percakapan telepon itu. Mereka menunggu Lucius selesai dan bercerita ada masalah apa sebenarnya.
Lucius mematikan ponselnya. Ia mengusap wajah.
"Apakah mungkin jika aku mengajukan permohonan agar kau menerbangkan aku malam ini kembali ke tanah perkebunan, Mike?" tanya Lucius dengan mulut kering. ia menelan ludah berulang kali. Rasa takut telah terjadi sesuatu pada Allynya membuat hatinya menciut.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Mike.
"Aku memang akan bercerita pada kalian ketika Ayah sudah sehat dan pulang. Aku sudah menemukan orang yang ingin kuajak mendampingiku ... menghabiskan sisa hidupku bersamanya dengan saling mencintai ... Alison ... Allyku," Lucius menatap Lance yang balik menatapnya.
"Tapi sekarang gadis itu ditahan Rico ... Orang yang ingin membeli tanah perkebunan kita. Ester mengatakan Ally baik-baik saja, tapi Rico mengatakan pada Ester bahwa ia tidak akan melepaskan Ally ...."
Semua orang berpandangan, Lucius menatap Mike. Menunggu jawaban iparnya itu.
"Well ....Kurasa kau tidak hanya butuh pesawat. Tapi juga butuh orang-orang jaringan Langton untuk membantumu di sana. Jika yang kau hadapi Tuan tanah kaya raya yang ingin mempertahankan Allymu, kurasa tidak bisa kau hadapi sendiri." ucap Mike.
"Aku akan pergi bersama Anda, Tuan ...." Lance menambahkan dengan penuh tekad. Ia juga perlu pergi dari tempat ini, menjauhkan dirinya dan otaknya dari sosok Nona Cecilia Damario yang sudah mampu memancingnya berbuat hal gila.
Mike menganggukkan kepala, " Kurasa bisa di atur. Soal bisnis bisa kalian kendalikan dari jarak jauh. Kalian juga butuh Alex ... Hanya dia yang tahu orang-orang seperti apa yang kalian butuhkan di sana nanti."
"Aku perlu cepat ... Mike ..." ucap Lucius.
"Apa gadis ini ... calon Bibinya Marie?" tanya Reggie.
"Seharusnya Regina ... Dan aku akan memastikan akan mengambilnya kembali dari Enrico Costra!"
**********