
"Kenapa Anda tidak menceritakan perihal keinginan Tuan Rico?" Lance mengucapkan pertanyaannya setelah Lucius menutup panggilan video call dengan ayah dan adiknya.
"Ayah perlu istirahat, Lance. Aku tidak mau membebaninya dengan hal ini. Regina juga harus konsentrasi mengurus ayah dan juga Marie."
Alasan yang dikemukakan Tuannya membuat Lance terdiam. Ia mengerti, jika mereka menyampaikan hal ini, maka Tuan Eloy dan Regina dipastikan akan berangkat menyusul mereka. Perjalanannya pasti akan melelahkan untuk Eloy yang sudah tua.
"Ayo kita turun ... Ester pasti sudah menunggu kita untuk makan malam,"
Lance mengangguk, ia bangkit dan melirik ke arah ponsel Lucius yang tergeletak di meja kerja di ruangan itu.
"Tuan ...." ucapnya ragu-ragu.
"Ya?" Lucius menjawab tanpa menoleh, mereka tetap berjalan beriringan menyusuri koridor menuju ke arah tangga.
"Apakah Nona Damario pernah menelpon lagi?" tanya Lance, nada suaranya terdengar biasa, seolah ia sedang menanyakan perihal cuaca.
Lucius sekuat tenaga menahan keinginannya untuk menoleh ke belakang, ingin sekali ia melihat wajah Lance saat ini. Namun ia tahu, jika ia menoleh, maka Lance pasti hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresinya itu.
Lucius menuruni tangga dengan serigai lebar di wajahnya. Ia berdehem dan menjawab pertanyaan Lance dengan nada yang sama biasanya dengan nada suara Lance tadi.
"Tidak, Lance. Dia tidak pernah menelpon lagi. Apakah ia pernah menelponmu?" tanya Lucius sambil lalu.
"Tidak," jawab Lance pendek. Lalu keduanya beriringan menuju meja makan, tempat Pabio dan Ester sudah menunggu.
**********
Lance memutuskan keluar dan menghirup udara malam di beranda depan. Ia berdiri dengan satu tangan berada di dalam kantong celananya dan tangan satu lagi memegang ponsel.
Matanya menatap ke langit malam. Lance berdiri di depan pembatas beranda, lalu menarik nafas panjang dan dalam.
Cecilia Damario ... Ia memikirkan gadis itu dan mengakui merindukannya. Sedari tadi ia memegang ponselnya dan berharap Nona Damario yang cantik itu menghubunginya. Tapi sepertinya gadis itu sudah menyerah ... Kenapa ia merasa kehilangan sesuatu di hati kecilnya? Dan kenapa ia tidak punya keberanian sedikitpun untuk menghubungi gadis itu lebih dulu jika memang ia ingin mendengar suaranya.
Lance menggelengkan kepalanya berulang kali. Urusan cinta dan hati ini hanya membuat gelisah. Belum lagi masalah Tuan Lucius ... Memangnya Tuan Rico yang arogan itu akan memberikan restu, setelah ia bertemu Tuan Eloy dan Nyonya Reggie? Bisakah Rico menjaminnya?
"Atau aku perlu menghubungi Tuan Alex? Meminta orang-orangnya menculik Alison?" Lance berbisik pada angin malam, mengucapkan ide yang terlintas dalam fikirannya. Lalu ia tertawa sendiri beberapa saat kemudian membayangkan kemarahan Rico. Tapi yang jadi masalah adalah, apakah gadis muda nan cantik yang jadi pelabuhan hati Tuannya itu mau tetap bersama tuannya ketika mereka melakukan itu. Nona muda itu tampak menurut sekali pada walinya.
**********
"Ini terlalu banyak," ucap Ally melihat tumpukan pakaian, gaun, sandal, sepatu, bahkan topi dan juga bermacam pernak pernik wanita yag bertumpuk di kamarnya.
"Itu sedikit, seharusnya aku membawamu ketika menyuruh Fred membelinya." Rico bersandar di dinding kamar dan menatap sepasang sepatu yang baru saja di keluarkan oleh Alan dari dalam kotak. Haknya yang tinggi membuat Rico tersenyum lebar.
"Kau bisa memakainya?"
"Aku bisa memakainya, tapi tidak bisa membawanya berjalan," sungut Ally.
"Lagipula darimana kau tahu ukuran kaki dan pakaianku? " tanya Ally.
Rico terkekeh," Kau lupa aku adalah penggemar para wanita cantik, Allyku Sayang. Aku tahu ukuran mereka hanya dalam sekali lihat," ucap Rico.
"Kau hebat, Paman," sahut Alan.
"Tentu saja," ucap Rico sambil menyerigai.
"Kau ini ... Parah sekali, jangan bicara tentang ukuran wanita pada Alan," sungut Ally lagi.
"Ally, Kau harus mencoba yang ini!" Alan memasangkan sepasang sepatu lain di kaki kakaknya. Yang ini sepatu santai, dengan pita di pergelangannya. Desainnya terlihat seperti diperuntukkan bagi para remaja.
"Kau memilih sepatu untuk gadis kecil," ucap Ally.
Rico tertawa, "Well ... Salahmu sendiri tidak mau ikut. Harusnya kau memilih sendiri sehingga cocok untukmu, Lagipula aku memang mengatakan pada pegawai di sana agar mengeluarkan persediaan gaun dan pakaian mereka, mereka bertanya diperuntukkan untuk kekasihku, ibuku atau adikku. Aku bilang untuk adikku. Karena tubuhmu kurus dan kecil, mereka mungkin mengira kau masih remaja."
Ally menatap kakinya, Alan sudah melepas sepatu berwarna krem tadi dan kemudian menggantinya dengan sepatu dengan model tali tali yang membuat kaki putih Ally tampak sexy.
"Kau seharusnya tidak perlu melakukan ini," ucap Ally pelan, namun tetap terdengar di telinga Rico.
"Terima kasih, Paman. Tapi kau sudah membelanjakan aku begitu banyak barang. Aku tidak mau tambah lagi," ujar bocah itu. Rico tertawa, lalu menggendong Alan dan bermaksud akan membawanya keluar dari kamar Ally.
"Kurasa tidak perlu beli lagi. Ini saja banyak sekali, " ucap Ally menolak.
"Kau tidak mau terlihat cantik dengan gaun gaun yang membuatmu tampak berkilau ya?Jika nanti keluarga Lucius datang dan mau melihatmu. Kau mau tetap memakai gaun bututmu? atau kau sengaja membuat mereka berfikir kalau aku tidak mengurusmu dengan baik?" tanya Rico.
"Tidak ... Aku tidak bermaksud begitu," bantah Ally cepat.
"Kalau begitu turuti saja kata-kataku, Alison. Ayo kita keluar, Alan. Biarkan kakakmu mencoba pakaian barunya. Aku akan memanggil pelayan untuk membantumu." Rico berlalu meninggalkan Ally yang tidak bisa menyampaikan protesnya. Ia menggelengkan kepala, menyadari entah sejak kapan fikiran negatifnya tentang Rico sudah musnah. Ia bahkan mengikuti dan menurut pada pria itu seperti ia mempercayai keluarganya sendiri. Ricopun bersikap baik dan memperlakukannya dan juga Alan seperti anggota keluarganya sendiri.
Ally tersenyum ... mungkin beginilah rasanya jika ia punya seorang kakak yang menjaganya dan melindunginya. Punya seseorang yang peduli dan memperhatikan ia dan Alan.
Ally mengambil sebuah gaun, ia mulai membuka pakaiannya dan mencoba gaun itu. Benar saja, ukurannya pas, gaun tanpa lengan berwarna kuning pucat dengan manik mutiara di sekeliling pinggang. Ally tersenyum, ia membayangkan jika Lucius melihatnya dalam balutan gaun itu,
"Lucius akan melihatku seperti seorang gadis kecil, Apa yang Rico fikirkan ketika membeli pakaian ini. Apa ia sengaja ingin aku terlihat seperti anak kecil?" Ally tertawa sendiri lalu mulai melepas gaunnya. Kemudian seorang pelayan mengetuk pintu, mengatakan ia diperintahkan Tuan Rico untuk membantu Ally.
"Ya, masuklah," ucap Ally sambil tersenyum ketika pelayan itu masuk dan memberi hormat sambil membalas senyum Ally.
**********
Lance terbangun pagi itu karena dering ponselnya. Ia bergerak cepat dan menerima panggilan itu tanpa mengecek siapa yang menelponnya.
"Ya, halo ," jawab Lance.
"Wow ... Kau cepat juga, Lance." suara Reggie di seberang sana membuat Lance menyadari Ia menunggu ponselnya berbunyi semalaman ini, sehingga dengan reflek ia menjawab cepat ketika ada panggilan masuk.
"Ah, ponselku ada di dekatku, Nyonya Reggie. Jadi aku bisa segera menjawabmu, " ucap Lance memberi alasan.
"Oh, begitu. Aku tidak mengganggu tidurmu bukan?" tanya Reggie.
"Tidak ... Aku memang seharusnya sudah bangun," ucap Lance serak. Ia tidak bisa tidur, sudah menjelang pagi baru matanya mau tertutup. Dan sekarang ia sudah terbangun lagi. Kepalanya pusing dan fikirannya tidak fokus.
"Lance ... Apa Alison memang tidak ada disana?" tanya Reggie.
"Tidak, Nyonya. Tuan Rico mengatakan tidak akan mengizinkan Tuan Lucius membawa gadis itu jika keluarga Tuan Lucius belum datang dan menemuinya. Tuan Rico adalah wali Nona Ally," ucap Lance tanpa sadar bercerita.
"Kenapa Rico melakukannya?" tanya Reggie.
"Kurasa Tuan Rico takut gadis itu tidak diterima dan diperlakukan dengan baik. Jadi ia ingin bertemu dulu dengan keluarga Sanchez, baru kemudian memberikan keputusannya." ucap Lance sambil memijit keningnya.
"Apa!? Jangan katakan kalau orang itu meragukan ketulusan kakakku!" seru Reggie dengan nada terdengar marah.
"Memang itulah yang terjadi ... dan gadis itu menurut apa kata walinya," ucap Lance lagi.
"Kalian ini! kenapa tidak mengatakannya dari kemarin! Oh Tuhan ... Kau punya dua kakak yang payah sekali, Regina!! " Regina terdengar mengomel lalu Lance mendengar sambungan itu terputus.
Lance melempar ponselnya ke atas kasur.
"Cecilia ...." Ia mendesah, menutup kepalanya dengan bantal dan menyadari ia kecewa karena bukan Cecilia yang menelpon. Lance memejamkan mata kembali, Ingin tidur lagi dan melupakan kegelisahannya. Tidak menyadari jika dalam omelannya Reggie menyebutnya dan Lucius sebagai dua kakak wanita itu. Juga tidak menyadari jika ia sudah membuat kehebohan dengan menceritakan hal yang sebenarnya pada Regina.
**********
From Author,
Tuh kan ... Rindu juga hatinya tapi gak mau ngaku😂😂😂
Jangan lupa like, love, bintang lima, komentar dan vote nya ya my Readers semua😘😘😁😁
I Love you😘😘Happy reading..... menuju chapter chapter menjelang akhir LS season 2😘😁🎉🎉
Terima kasih ya
Salam, DIANAZ.