Love Seduction

Love Seduction
Chapter 47. Spiteful maid



Reggie menyuap makanannya dengan perlahan, Elina yang berada disampingnya juga menyantap makan malamnya dalam diam. Keduanya sedikit merasa lelah karena Liz kembali mengacau dengan mengotori kembali beberapa ruangan yang sebelumnya sudah Reggie dan Elina bersihkan.


Reggie tidak mau menjadi perhatian dengan meladeni tingkah wanita itu. Ia hanya diam dan mengajak Elina kembali membersihkan ruangan-ruangan yang telah dibuat acak-acakan oleh Liz.


"Hei, kalian pendiam sekali!" Tina, Gadis bertahi lalat dan berambut keriting yang sudah menjadi teman untuk Reggie dan Elina datang dengan senyum lebar. Piring makanannya segera ia letakkan di meja yang sama dengan Reggie.


"Kenapa kalian lesu?" tanya Tina ceria. Elina cemberut dan menjawab Tina dengan bersungut-sungut.


"Aku geram sekali dengan gadis sok kuasa itu! Kalau bukan karena Rose melarangku membuat ribut, sudah kudatangi dia!" sungut Elina.


"Siapa?" Tina menaikkan alisnya bertanya.


"Liz. Kau tahu bagaimana dia kan ...." Reggie tersenyum memandang Elina yang makin cemberut.


"Ah ... dia memang senang sekali mengganggu orang baru. Jangan dihiraukan," ujar Tina memberi saran.


"Itulah yang kami lakukan, walaupun sepertinya Elina mungil kita menjadi kesal." Reggie menjentikkan jarinya ke hidung berbintik temannya itu.


"Oh, kau terlalu baik! Andai kau tadi tidak menahanku, Aku akan menampar dan menjambak rambutnya!"


"Dan akan menyebabkan dirimu dihukum oleh madam," ujar Reggie datar. Elina hanya mendengus mendengar ucapan Reggie.


"Ya, jangan sampai kalian dihukum dan dikurung di sel bawah tanah," ujar Tina memberitahu.


Elina membelalak.


"Sel ... sel bawah tanah!?" Ia mencicit.


Tina mengangguk. "Tempat Tuan Sanchez mengurung orang bersalah dan para pekerjanya yang membangkang atau melakukan kesalahan."


Reggie dan Elina terdiam. Elina bersyukur Rose menahannya dari membuat keributan dengan Liz. Ia bergidik membayangkan dikurung di penjara yang gelap sendirian.


"Hari ini Madam bertugas ke rumah sakit. Beberapa orang ditugaskan membantu semua keperluan tuan besar Eloy Sanchez secara bergantian. Jadi hindari membuat masalah, Liz akan makin menjadi bila Madam tidak ada di mansion."


Rose dan Elina mengangguk mendengar saran Tina.


Reggie mengetahui Tuan Eloy Sanchez coma dan di rawat di rumah sakit. Hidupnya bertahan oleh semua peralatan medis yang terhubung ke tubuhnya. Reggie sangat ingin mengunjungi pria tua itu. Tapi gerakannya sebagai pelayan sangat terbatas, ia tidak bisa keluar dari mansion ini.


**********


"Elina menyuruhku memanggilmu." Seorang gadis yang Reggie kenal sebagai pelayan di lantai tiga mengetuk pintu kamar dan kemudian mengajaknya mengikutinya.


Reggie mengerutkan kening. Elina pamit turun ke dapur mengisi botol air minum dan sudah lumayan lama belum kembali ke kamar. Reggie sudah mengenakan piyamanya untuk tidur saat ini sambil menunggu Elina kembali.


"Memangnya dia dimana?"


"Ikuti aku." Gadis itu langsung berbalik, sangat yakin Reggie akan mengikutinya. Reggie menutup pintu kamarnya dan melangkah mengikuti gadis itu.


Reggie dibawa ke lantai bawah, mereka berhenti di sebuah pintu besi yang nampak kokoh. Tak lama berselang Liz dengan dua orang gadis pelayan lain muncul. Dengan seringai meremehkan tiga orang gadis mulai memegangi Reggie kuat-kuat.


"Apa yang kalian lakukan!" Reggie melihat Liz mulai membuka pintu besi. Tidak ada suara gesekan engsel yang menandakan pintu itu dirawat dan engselnya diminyaki.


Tubuhnya didorong ke dalam, seketika kegelapan melingkupinya, lalu Liz menekan sebuah tombol di sisi dinding. Cahaya temaram menerangi ruangan besar itu. Mereka berada di sebuah tangga dan Reggie digiring oleh tiga gadis lainnya turun ke lantai bawah.


"Elina!"


Reggie mengetatkan gerahamnya. Para gadis ini mulai keterlaluan.


"Buka kunci yang itu, Agnese!" Liz memerintah seorang gadis membuka salah satu sel. Gadis itu mengangguk dan melepaskan pegangannya di tangan Reggie. Seketika Reggie bergerak. Ia memelintir tangan gadis yang masih memegang satu tangannya yang lain, karena merasa sakit, gadis itu segera melepaskannya, lalu ia berbalik menyerang gadis yang menjaga di belakangnya. Reggie menghentakkan lututnya ke perut gadis itu. Membuatnya meringkuk sambil berteriak kesakitan. Lalu ia kembali akan menghajar gadis ketiga yang baru akan membuka satu pintu sel, gadis itu melotot memandangi Reggie yang menyeringai.


"Terima ini! Gadis bodoh!"


Reggie merasakan satu pukulan mendarat di belakang kepalanya.


Seketika Reggie terbelalak, memegangi belakang kepalanya yang terasa berdenyut. Ia berbalik dan mendapati Liz memegang sebuah gagang kayu yang lumayan panjang. Ia tersadar kayu itulah yang baru saja menghantam kepalanya. Reggie terduduk di lantai tanah dengan kepalanya yang mulai terasa pusing dan berputar.


Dengan cepat Liz memerintahkan menyeret Reggie ke dalam salah satu sel. Setelah mengunci Reggie di dalam sana, mereka beranjak naik kembali ke atas.


"Nikmati tidurmu di penjara gelap itu gadis sombong!" Liz mematikan lampu, lalu keluar bersama para pengikutnya. Ia mengunci kembali pintu besi dan tertawa meninggalkan Reggie dan Elina di sel penjara yang diselimuti kegelapan.


Liz dan pengikutnya tidak berhenti sampai di sana. Mereka membuka paksa kamar Elina dan Reggie, lalu mengobrak-abrik isi lemari. Beberapa barang dan pakaian diambil oleh ketiga gadis yang dibawa Liz. Liz sendiri mengambil sebuah kotak yang terkunci dengan gembok kecil di lemari bagian sudut. Ia tidak tahu itu milik Elina atau Rose. Berharap menemukan sesuatu yang berharga, ia mencari sesuatu untuk membuka kunci kecil itu.


Mereka meninggalkan kamar setelah merasa puas. Liz membawa kotak kecil itu ke dapur dan membukanya dengan merusak gembok kecil kotak itu dengan palu.


Keempat gadis itu melongo dan tidak melihat sesuatu pun yang berharga. Hanya benda-benda yang sepertinya disimpan karena kenangan yang tercipta di benda tersebut. Liz mengacak-acak isi kotak , sebuah gelang mutiara yang nampak biasa ia angkat, setelah memandangnya ia menyeringai.


"Lumayan, daripada tidak mendapatkan apapun sama sekali," cetusnya.


Kemudian keempat gadis itu beranjak ke kamar masing-masing untuk tidur.


"Ingat perkataanku ... jaga mulut kalian! Dan pastikan kedua gadis bodoh itu tidak menceritakannya pada siapapun! Besok kau ancam mereka!"


Ketiga gadis lainnya mengangguk, membuat senyum puas tersungging di wajah Liz sebelum ia mulai melangkah menuju kamarnya sendiri sambil melempar sisa kotak di tangannya ke tempat sampah.


**********


From Author,


Hai pembaca semuanya,


Sebelumnya Author mohon maaf karena untuk 1 januari tidak ada update ya. Reggie dan Mike mo libur dl😁😁😁


Thor akan mulai up lagi di tanggal 2. Akan di usahakan setiap hari. Tapi untuk chapter yang akan up disesuaikan kemampuan menulis dan waktu yang thor punya ya, pekerjaan thor agak banyak untuk 2020πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


Itupun setelah berhasil lolos dulu dari proses review pihak manga/noveltoon .


Semoga di tahun yang baru nanti kita semua selalu diberikan kesehatan, kesuksesan dan tentunya kebahagiaanπŸ’–πŸ’–πŸ’– Aamiin.


Salam maniez dari thor dan tetap setia ya😘😘


Terimakasih.


Salam, DIANAZ.