Love Seduction

Love Seduction
Chapter 54. Pearl Bracelet part 2



"Mike? "


Tepukan Derek di bahunya membuat Mike tersentak. Ia menoleh dan mendapati Derek memandangnya heran.


Ia segera tersenyum dan menyingkir dari depan pintu. Segera mencairkan keheranan yang tercetak jelas di setiap wajah dengan berkata,


"Aku akan menghubungi para pengawal kita di bawah. Mereka akan mengantarkan Dokter Barkley dan rekan-rekannya kembali, tapi kita akan tinggal sebentar lagi, Derek."


Mike mengambil ponselnya dan menghubungi pengawal mereka. Derek hanya bisa menganggukkan kepala.


Kenapa Mike tiba-tiba mengurungkan niat untuk pulang? Batin Derek.


Derek lalu menyingkir dan mempersilahkan dokter Barkley dan para rekannya lewat.


"Mobil menunggumu di bawah, Dok. Mereka akan mengantarmu kembali."


Dokter Barkley mengangguk dan berlalu dari ruangan itu bersama rekan-rekannya. Para dokter yang menangani tuan Eloy juga pamit undur diri.


"Siapa namamu?" Mike mendekati Liz. Dengan bingung gadis itu memandang ke arah Lance yang segera mengangguk. Memberi tanda agar gadis itu menjawab pertanyaan Mike.


"Aku Liz, Tuan," ucapnya pelan. Entah kenapa pandangan mata abu-abu itu membuatnya sedikit bergidik.


"Bolehkah aku melihat gelang yang kau pakai, Liz?" Mike mengulurkan telapak tangannya yang terbuka ke hadapan Liz.


Kembali Liz melihat ke arah Lance yang mengangguk. Liz mengangkat lengan kirinya, memperlihatkan gelang yang ia pakai.


"Bisakah kau membukanya sebentar?" Mike meminta Liz melepas gelang itu.


Gadis itu mengangguk, lalu mulai melepaskan gelang dari tangan kirinya. Ia menaruh gelang itu ke telapak tangan Mike.


Dengan memicingkan mata Mike mengangkat gelang itu di depan matanya. Sesaat kemudian ia menggenggamnya di telapak tangan.


"Aku akan mengembalikannya padamu nanti. Bisakah kau beritahu aku dari mana kau mendapatkannya?"


Liz bergerak-gerak gelisah, wajahnya mulai memucat.


Derek dan Lucius hanya diam dan membiarkan Mike menanyai gadis itu. Seribu tanya berkelebat dalam pikiran mereka.


"Ah ... sepertinya aku harus mengganti pertanyaanku. Kau membelinya dari siapa, Liz?" ucap Mike lembut.


Pertanyaan itu membuat Liz mengangkat wajahnya. Kedua tangannya mulai meremas seragam pelayan yang ia pakai.


"Um ... seorang pelayan lain menjualnya padaku, Tuan," ucap Liz berbohong.


"Siapa nama pelayan itu, Liz?"


Lama Liz tidak menjawab. Namun Mike berdiri dan menunggu. Tidak akan pergi tanpa satu nama yang ingin ia ketahui.


"Rrrr ... Rose, Tuan." Tergagap nama itu disebutkan oleh Liz.


"Rose ... hanya Rose?" tanya Mike lagi. Gadis itu mengangguk cepat.


Mike menoleh ke arah Lucius. Tersenyum dengan tangan terkepal menggenggam gelang mutiara di telapak tangannya.


"Aku harus merepotkanmu lagi, Lucius. Pelayan bernama Rose ini, aku ingin menemuinya."


"Mike?" tanya Derek pelan. Mike menoleh dan memaku mata Derek.


"Ikutlah denganku. Jika perkiraanku benar, kau akan mengerti nantinya ...."


Derek hanya mengangguk. Ia sangat heran dan penasaran. Tapi memilih diam dan mengikuti.


"Lucius?" Suara Derek membuat Lucius akhirnya mengeluarkan suara.


"Well ... aku tidak terlalu mengenal yang mana dari mereka yang bernama Rose," ujarnya.


"Saya tahu, Tuan." Lance memberitahu tuannya.


"Kalau begitu bawa aku menemuinya, Lance!" Mike terdengar mulai tidak sabar. Membuat Derek memandang tegas ke arah Lance.


"Kau akan menunjukkan pelayan itu kepada kami, Lance. Sekarang ayo berangkat menuju mansionmu Lucius!" Derek memandang tajam ke arah Lucius yang mengangkat alis. Suara arogan pemimpin Langton itu akhirnya kembali terdengar.


Ia menyeringai sambil mengangkat bahu.


"Baiklah. Ayo, Lance." Lucius melangkah mendahului semua orang meninggalkan ruangan itu. Mike dan Derek mengikutinya kemudian.


Liz akan bergerak mengikuti. Tapi Lance menahan lengannya.


"Kau tetap di sini bersama Madam." Dengan suara tegas Lance memberi tatapan memerintah pada gadis itu.


Madam segera mengangguk.


"Kita akan menunggu di sini, Liz. Menjaga Tuan Eloy. Lance bisa menunjukkan dengan benar yang mana Rose."


Lance mengangguk pada Madam, lalu melangkah meninggalkan ruangan itu menyusul tuannya.


Liz sangat gelisah, jantungnya berdebar.


Ada apa dengan gelang itu? Apakah mungkin itu gelang curian? Yah ... itu mungkin gelang yang dicuri Rose dari rumah tempat ia bekerja sebelumnya dan Tuan bermata abu-abu itu mengenali, lalu ingin bertemu dengan Rose yang diketahui telah mencuri gelang itu.


Liz menebak, jika perkiraannya benar, maka sebentar lagi riwayat gadis itu akan tamat. Paling ringan dia akan dipenjarakan bahkan akan dipukuli atau di siksa lebih dulu.


Dengan pemikiran itu Liz tersenyum senang. Membuat Madam mengernyit ke arahnya.


"Apa yang membuatmu tersenyum, Liz?"


"Umm ... tidak ... tidak ada Madam. Hanya teringat sesuatu yang lucu," ujarnya pelan.


*********


From Author,


Jangan lupa Like, love, komentar, vote dan rating bintang limanya untuk vitamin Author ya para pembaca semua....😉😉😉


Terimakasih.....


Salam, DIANAZ.