
Mike mengernyit mendengar permintaan Regina.
"Aku tidak minta kau mengantarku. Aku bisa meminta Fidel agar menemaniku." Reggie meremas kedua tangannya. Sebenarnya ia ingin sekali Mike yang menemaninya. Tapi kerutan di dahi laki-laki itu membuatnya tidak ingin berharap.
"Untuk apa kau ke sana? Mansion itu memang sudah dibersihkan dan beberapa pelayan dan penjaga sudah ditempatkan kembali di sana ... tapi ...."
"Ada sesuatu yang ingin aku ambil. Aku harap benda itu masih ada di sana ...."
"Kau benar-benar yakin mau mengunjungi mansion itu?" Mike kembali menegaskan keinginan Reggie untuk mengunjungi mansion keluarga Sky. Tempat itu pasti menyisakan kenangan menyedihkan akan pembantaian keluarga Sky oleh Jack. Ayah Amypun terbunuh di mansion itu.
Reggie mengangguk.
"Aku menunda ke sana selama ini karena masih terbayang pembantaian yang terjadi di sana. Tapi ada benda yang ingin aku cari. Benda itu sangat penting untukku."
Mike masih diam. Membuat Reggie makin gelisah.
"Aku harus ke sana," ucap Reggie lagi.
"Kau tahu mansion itu setengahnya terbakar saat kejadian itu kan, walaupun sekarang tidak akan tampak bedanya. Karena Derek sudah merenovasi mansion itu. Benda yang kau cari mungkin sudah tidak ada di sana."
"Aku tahu, tapi aku tetap ingin memeriksanya dulu." Reggie berkeras, membuat Mike mengalah dan memutuskan akan mengantar gadis itu ke mansion keluarga Sky. Rumah bagi Amy dan Reggie dulu sebelum Jack menghancurkannya dan membunuh ayah Amy.
"Baiklah. Kau boleh pergi."
Ucapan mike membuat Reggie tersenyum.
"Terimakasih. Aku akan minta tolong Fidel menemaniku sekarang."
Reggie baru akan berbalik ketika Mike menghentikannya.
"Siapa bilang Fidel yang akan menemanimu? Kita akan pergi ke sana. Kau tunggu sebentar agar aku bisa menghubungi Eve untuk mengurus beberapa hal tentang pekerjaan."
Mike mengambil ponselnya dan menghubungi Eve, yang segera mengangkat panggilan itu dalam hitungan detik.
Reggie tersenyum lega, Mike yang akan mengantarkan dan menemaninya. Terus terang kembali ke mansion itu membuat Reggie agak tidak nyaman. Kenangan pembantaian itu dengan mudah kembali bila ia mengingat Mansion Sky.
"Jangan cerewet, Eve. Aku bilang izin sebentar karena Reggie perlu pergi ke suatu tempat."
Mike mendengar Eve terkekeh.
"Katakan kalau kau tertarik pada kucing liar itu. Bukan begitu? Dia tidak mencakarmu lagi kan?" Eve terdengar meledek Mike di seberang sana. Mike mengumpat dalam hati. Derek pasti telah bercerita pada wanita itu tentang pipinya yang dulu pernah dicakar Reggie.
"Derek terlalu besar mulut!" ujar Mike kesal.
Eve kembali terdengar terkekeh.
"Tidak ada rahasia antara aku dan Derek, Mike. Lagipula wajar saja kau tertarik, dia cantik dan kurasa agak sedikit sulit ditaklukkan. Apa aku benar?"
Tawa renyah Eve kembali terdengar, membuat Mike bisa membayangkan rambut merahnya bergoyang karena tertawa begitu keras.
"Kau tahu Eve ... sama denganmu, tidak ada rahasia antara aku dan Derek. Memangnya aku tidak tahu alasan kau pergi berbulan-bulan ke luar negeri waktu itu. Padahal kau tidak pernah mau pergi lebih dari dua minggu." Mike terkekeh. Ia memancing wanita itu, ingin membalas meledeknya.
"Apa! Derek benar-benar ... dia bilang akan mengunci mulutnya! " Eve berteriak, sehingga Mike harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Seperti yang kau katakan, tidak ada rahasia antara aku dan Derek." Mike terkekeh.
"Tidak seperti yang kau bayangkan, Mike! Aku agak mabuk waktu itu, Jadi tanpa sengaja menyerang Alex dan menciumnya seperti itu! Aku tentu saja tidak serius ketika mengajaknya menikah!" Suara Eve di seberang sana terdengar sangat jengkel.
Tawa Mike meledak. Derek sebenarnya tidak pernah mengatakan alasan Evangeline pergi berbulan-bulan ke luar negeri. Jadi inilah penyebabnya, Eve pasti merasa sangat malu dan mau menghindari Alex sehingga menerima pekerjaan itu.
Tawa keras yang terdengar di ponselnya membuat Eve sadar ada sesuatu yang aneh.
"Mike ... jangan katakan padaku Derek sebenarnya tidak pernah ...." Eve terdiam, wanita itu terdengar mengatur napasnya.
"Kau benar Eve. Derek tidak pernah mengatakan apa-apa. Well ... aku pernah bertanya, tapi tidak mendapatkan jawaban apapun. Sekarang kau yang menjawabnya sendiri." Tawa Mike makin keras, "oh ya ampun ... Alex yang malang ...."
"Mikeeeee!" Teriakan Eve di telinganya membuat Mike mematikan ponsel. Ia masih terkikik geli ketika menoleh ke arah Reggie.
"Kalian sepertinya sangat akrab." Reggie ikut tersenyum melihat Mike yang tak berhenti tertawa.
"Sudah seharusnya Regina. Kami keluarga Klan Langton. Eve sudah seperti saudara bagi Derek, yang artinya juga saudara untukku."
Penjelasan singkat itu membuat Reggie mengerti. Perasaan yang sama yang ia rasakan terhadap Amy.
"Ayo, kita berangkat."
**********
Tidak ada perubahan berarti dari mansion itu, hanya beberapa bagian di sayap timur yang nampak selesai direnovasi.
"Apakah lorong rahasianya masih dibiarkan oleh Derek?" Reggie berjalan pelan menghampiri pintu utama mansion. Seorang pria berpakaian rapi menyambut kedatangan mereka.
"Ya. Derek membiarkannya," ucap Mike pelan.
"Anda sudah datang, Tuan," sapa pria yang menyambut mereka sambil menunduk hormat. Mike tersenyum mengangguk.
"Ya. Aku akan berkeliling, Watson. Terima kasih sudah mengurus semuanya."
"Sudah seharusnya, Tuan." Pria itu lalu bergeser membukakan pintu dan membiarkan Mike dan Reggie masuk.
Pemandangan di hadapannya membuat Reggie teringat akan puluhan orang yang terpaksa menemui ajalnya malam itu. Ruangan itu masih sama dan ia adalah salah satu saksi hidup yang bisa menceritakan betapa mengerikannya pembantaian Jack. Mike memeluk bahunya dan menghelanya mendekat.
"Aku baik-baik saja," ujar Reggie serak.
"Aku tahu. Lebih baik cari benda yang ingin kau ambil, lalu kita pulang."
Reggie mengangguk mendengar ucapan Mike. Ia melangkah menuju kamar yang dulu ia tempati semasa tinggal di mansion ini.
Reggie masuk ke kamar lamanya diikuti oleh Mike. Gadis itu berputar melihat sekeliling kamarnya sebelum berhenti di sebuah lukisan bunga mawar. Gadis itu meraba sesuatu di sudut belakang lukisan dan tiba-tiba lukisan itu bergeser.
Mike mendekat dan melihat ke dalam ruang kecil di belakang lukisan. Ada sebuah kotak yang di ambil oleh Reggie. Ia membukanya dan memeriksa, kemudian tersenyum senang. Reggie mengangkat sebuah gelang mutiara yang terlihat biasa saja.
"Benda itukah yang kau cari?"
Pertanyaan Mike dijawab anggukan oleh Reggie.
"Semua isinya adalah peninggalan almarhum ibuku."
Bagi Mike perkataan Reggie telah menjelaskan segalanya. Alasan Reggie ingin mendatangi tempat itu.
"Ada yang lain?" tanya Mike lagi.
"Tidak ada," jawab Reggie pelan.
"Kalau begitu kita langsung pulang saja." Mike memutuskan sambil menggenggam tangan Reggie. Menariknya untuk keluar dari mansion.
*********
Haiiii ... bagi pembaca yang belum mengikuti kisah Derek dan Amy, Silakan mampir di novel author berjudul " Passion Of My Enemy "
Thank you.
Salam, DIANAZ,