Love Seduction

Love Seduction
Chapter 107. Welcome Marie



"Apa yang kau fikirkan?" Mike memeluk Reggie dari belakang. Wanita itu berdiri di kamar mereka di depan jendela lebar yang mengarah ke pemandangan taman dan kolam renang di bawah sana. Mereka telah kembali ke kamar lama mereka di lantai dua mansion.


Reggie menyandarkan punggungnya di dada Mike ketika merasakan Mike memeluknya.


"Kau menangis lagi," ucap Mike pelan sambil mencium puncak kepala istrinya. Sejak diperbolehkan keluar dari rumah sakit, Regina sangat mudah menangis.


"Kenapa sekarang kau mudah sekali menangis, Gina?" Mike merasakan tangan Reggie memeluk lengannya yang mengelilingi pinggang istrinya itu.


"Entahlah ... mungkin karena aku sangat bersyukur masih diberikan kesempatan lagi untuk mengarungi kehidupan Mike, aku masih diberi kesempatan untuk mendampingimu, mengasuh putriku, melihat seluruh keluargaku ...."


"Aku juga mensyukuri akhirnya semuanya baik-baik saja Regina. Melihatmu penuh darah dan mempertaruhkan nyawamu dan anak kita, aku tidak akan sanggup menjalaninya lagi. Entah apa jadinya bila semua tidak berjalan baik ... aku tidak mau membayangkannya."


Reggie membalikkan badannya menghadap ke arah Mike. Ia mendongak menatap mata suaminya, Mike mengulurkan tangan menghapus bekas air mata yang masih tersisa di pipi Reggie.


"Lihat aku sekarang, Mike. Aku ada di sini untukmu ... dan besok, Marie juga akan ada di sini."


Mike memejamkan matanya dan menunduk, menyatukan keningnya pada kening Regina.


"Bersyukur pada Tuhan, ia bayi yang kuat ... " desis Mike terharu.


"Benar , dan besok, ia akan pulang dan berkumpul dengan kita kembali."


Mike membuka matanya dan menatap kilau mata hitam istrinya.


"Lucius benar, dia cantik seperti ibunya, rambutnya hitam seperti rambutmu ...."


Reggie terkikik geli mendengar kata-kata suaminya.


"Jangan sampai Lucius mendengar kalau kau setuju dengannya Mike, ia akan terus mengolok-olok dirimu. Lagipula hanya rambutnya yang mirip denganku. Selebihnya, Marie sangat mirip Daddynya."


"Ya, dan Paman Lucius tidak suka itu." Mike terkekeh senang. Bahagia melihat rona kemerahan telah kembali pada pipi Reggie.


"Aku mencintaimu, Honey," bisik Mike sepenuh hati.


Reggie tersenyum lebar," Aku juga mencintaimu, Daddy."


Mike mendekatkan bibirnya, mencium dan mencecap bibir istrinya dengan perlahan, kedua lengannya memeluk dan mengangkat tubuh Regina. Segera saja mereka larut dalam gairah. Lengan Reggie sudah melingkar di leher Mike, ketika bibir suaminya itu berpindah mencium ujung hidung, kedua mata, sisi rahangnya lalu bergerak ke telinga dan akhirnya menuruni leher. Reggie menumpukan tangan pada bahu Mike, merasa haus akan sentuhan suaminya itu.


Mike sekuat tenaga menahan diri, Reggie belum bisa menerima dirinya. Ia hanya bisa mencium dan menyentuh Regina hanya sebatas ini. Sekuat tenaga ia menjauhkan kepalanya dari leher jenjang istrinya itu.


"Aku sungguh rindu menyentuhmu," ucapnya serak.


"Mmmmm...." Reggie hanya mampu berguman tidak jelas. Ia tahu alasan Mike berhenti.


"Aku sangat mencintaimu, Mrs. Eliazar ...." Mike mengecup kening istrinya mesra. Bintik mata hitam itu berkilau sangat terang di mata Mike. Reggie tersenyum. Keduanya menarik nafas panjang, mengisi paru-paru mereka untuk menenangkan gairah yang sudah membelit.


"Sebaiknya kita tidur," ucap Mike serak. Reggie mengangguk, lalu mengikuti ketika Mike menariknya ke arah ranjang. Mereka membaringkan tubuh dengan posisi berpelukan.


"Tidurlah, Honey ...."


"Aku tidak sabar menanti besok, Mike. Marie akan pulang ...."


"Aku juga ... ayo, pejamkan matamu" Mike melihat Regina mengikuti kata-katanya, mata itu terpejam dan Mike menyadari kapan tepatnya istrinya itu benar-benar terlelap, karena sedetikpun, Mike tidak mengalihkan tatapannya pada wajah cantik yang telah menguasai hatinya itu.


**********


Mike mengernyit ketika melihat banyak mobil terparkir rapi di depan mansion Eliazar.


"Kurasa kita kedatangan tamu," ucapnya sambil mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.


Mike turun dari mobil dan membuka pintu sisi penumpang, Reggie turun dengan buntalan selimut berisi putrinya yang mungil. Seorang Nanny juga turun dari kursi belakang, membawa dua buah tas berisi peralatan bayi Marie.


"Ayo masuk ... sepertinya banyak yang akan menyambutmu, Marie," Mike berucap sambil memandang ke arah pintu mansion yang terbuka lebar.


Mereka melangkah dan memasuki mansion. Amy dan Eve segera menghampiri dan memeluk Reggie. Mike menatap berkeliling dan tersenyum lebar melihat sebagian besar anggota keluarga Langton yang hadir di aula mansionnya.


"Apa kalian tidak pergi bekerja?" tanyanya geli.


"Oh, itu bisa di atur, Mike." paman Noel menanggapi ucapan Mike. Lalu Mike satu demi satu menyapa dan menyalami tamunya.


Reggie hanya berkeliling dan memperlihatkan wajah putri kecilnya. Lalu Amy segera mengarahkannya ke kamar bayi.


"Ayo, Reggie. Tidurkan Marie di kamarnya."


Setelah berpamitan pada para tamu, Reggie membawa bayinya ke lantai atas bersama Amy.


"Besok-besok, kita akan menyediakan dua box di kamar bayi. Agar Arthur bisa diletakkan di kamar bayi jika kami ke mansionmu, dan Marie bisa diletakkan di kamar bayi Arthur jika kau ke mansion Langton," ucap Amy bersemangat.


"Ide yang bagus," jawab Reggie senang. Mereka menatap sebentar ke arah dua bayi itu sebelum akhirnya menitipkannya pada Nanny.


Dua wanita itu di sambut gembira, para wanita terlihat sibuk dengan makanan dan minuman, sedang para pria mulai mengobrol dan bercanda, termasuk Eloy Sanchez yang dijemput khusus oleh Frank Damario untuk dibawa ke mansion Eliazar.


Eloy akhirnya memutuskan menelpon Lucius yang sudah pergi bekerja, ia menyuruh putranya datang, Lucius memang tidak diberitahu kalau Marie akan pulang hari ini.


Beberapa saat kemudian satu mobil kembali mendatangi mansion Eliazar. Lucius turun dari kursi penumpang dan menatap ke arah mansion.


"Ayo,Lance ...." Lucius berjalan lebih dulu, lalu Lance menyusul tidak jauh di belakangnya.


Ketika masuk, Lucius disambut adiknya dengan sepiring kecil kue.


"Duduklah ... Ayah di teras samping bersama Paman Noel dan Paman Frank," ucap Reggie sambil kembali berlalu mendekati Amy yang melambai ketika melihat Lucius. Lucius membalasnya dengan melambai.


Lucius baru berjalan beberapa langkah ketika berpaspasan dengan Cecilia. Gadis itu tersenyum dan menegurnya.


"Hai, Lucius ... Ayahmu menunggumu sejak tadi," ucapnya.


"Kau tahu dimana dia?" Lucius sengaja mengedipkan mata, membuat Cecilia tersipu. Padahal ia tahu dimana ayahnya, karena Reggie baru saja memberitahunya.


"Dia di teras samping, tengah mengobrol bersama ayahku dan Paman Noel."


"Baiklah, terimakasih."


Cecilia mengangguk dan berlalu untuk berkumpul bersama para wanita lainnya.


Sedang Lucius melangkah menuju teras untuk menemui ayahnya.


"Ah, kau datang, Nak," ucap Eloy senang.


Lucius menyalami para pria dan segera menarik sebuah kursi.


"Jadi, apa yang kalian bicarakan?" tanyanya sambil menyuap kue yang tadi Reggie berikan untuknya.


"Kami membicarakan pernikahan, Nak. Kau termasuk di pembicaraan kami, apakah kau tidak tertarik untuk menikah?" Frank Damario menuturkan kata-katanya sambil menatap lekat wajah Lucius.


Lucius berhenti menyuap, ia melirik satu demi satu ke arah tiga pasang mata yang menatapnya dan tengah menunggu jawabannya.


Astaga ... kesalahan besar, kenapa tadi aku memilih duduk ....


**********


"Halo, Tuan Lance ... Kau mau kue?" pertanyaan bernada tajam itu membuat Lance menoleh. Cecilia Damario menghampirinya dengan sepiring kecil kue.


"Tidak, Nona. Tapi terimakasih sudah menawariku," ucap Lance dengan sangat sopan. Ia melihat sinar mata dan gerak tubuh gadis itu terlihat sangat jelas tidak menyukainya.


"Kau tahu kenapa semua berkumpul di sini?" tanya Lance lagi dengan nada yang sama sopannya dan wajah datar tanpa ekspresi.


"Marie mungil sudah diperbolehkan pulang," jawab Cecilia.


"Benarkah?" nada senang akhirnya mewarnai suara Lance.


"Kau tidak tahu itu, Tuan Lance? Kukira kau tahu segalanya," ucap Cecilia dengan nada puas.


Lance menatap dan menyadari gadis dengan mata bulat besar itu tengah membalasnya. Namun wajahnya tidak menyiratkan apapun, ia hanya diam tidak menanggapi. Akhirnya Cecilia memutuskan meninggalkan pria itu dan membawa kembali piring kue di tangannya.


"Dasar freezer ...." desisnya pelan, namun Lance dapat mendengar dengan jelas ucapan gadis itu.


**********


From Author,


Uiiihhhhh....🙈🙈


Kasih bumbu dulu ya...menu utama lagi di ramu..😂😂😂


Jangan lupa like, love ,koment, bintang lima dan vote, all my readers...


Terimakasihhhh....


Salam, DIANAZ.