
Madam Gavany memasang senyumnya yang termanis. Seorang pria tampan dan gagah sudah di bawa oleh karyawannya di ruangan kantor kecilnya di restoran.
"Maaf Aku mengganggu kesibukanmu, Madam," pria tampan itu bersikap manis dengan mengulurkan tangan dan memberi ciuman di punggung tangan Madam Gavany yang telah berdiri menantinya.
"Ah, santai saja, Tuan. Aku tidak sering kedatangan pelanggan kaya sepertimu, penikmat restoranku adalah kalangan para pekerja," ucap Madam lembut.
"Duduklah," perintah Madam. Pria tampan yang tak lain adalah Rico itu mengangguk sopan dan kemudian duduk di seberang Madam.
"Katakan, ada apa kau mau menemuiku, Tuan," ucap Madam sambil menuangkan teh ke cangkih porselen yang sudah disiapkan pegawainya di atas meja.
"Perkenalkan ... Aku Enrico Costra, Anda bisa memanggilku Rico saja, Madam." Rico memperkenalkan dirinya dan reaksi Madam membuatnya menduga bahwa wanita itu tahu siapa dirinya. Wajah ramah di depannya sudah berganti menjadi curiga.
"Kau ... Rico pemilik perkebunan Costra Land?" tanya Madam Gavany memastikan.
"Ya, Madam. Aku orangnya. Jadi, Anda pasti tahu apa keperluanku kemari." ucap Rico santai.
Madam Gavany menyipitkan matanya,"Jika ini berhubungan dengan Ally, maka kau datang pada orang yang salah. Aku tidak akan memberitahumu apapun!"
Tepat saat itu, pintu kantor kecil itu terbuka, seorang pelayan lelaki diseret paksa karena berusaha menghalangi jalan, pria malang itu di lempar ke sudut ruangan dengan pistol mengancam di pelipisnya.
"Madam ... Maafkan saya. Mereka memaksa masuk ...." ucap pelayan itu dengan ketakutan.
Madam Gavany terbelalak, lima orang pria telah berdiri di dalam kantornya yang kecil membuat ruangan itu terasa penuh dan sesak. Wajah Madam mulai memucat.
"Sebenarnya aku tidak ingin memakai cara ini. Tapi aku ingin informasi yang cepat tanpa harus terhalang oleh mulut Anda yang tertutup." Rico memajukan tubuhnya, menatap Madam dengan tatapan tajam.
"Anda tahu ... Aku bisa bersikap sangat kejam. Aku bisa menghancurkan restoran ini."
Madam Gavany menelan ludahnya, ia mulai ketakutan, laki-laki di depannya itu terlihat dingin dan kejam, entah kemana wajah manis dan sopan yang tadi ia suguhkan saat tadi datang ke kantor itu.
"Ap ... Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Madam terbata.
Rico menyerigai, memasang senyuman kejam di wajahnya yang dingin.
"Katakan alasan yang Allyku katakan padamu kenapa ia sampai melarikan diri dari rumah ayahnya sendiri."
Tanpa sadar Madam mendengus, lalu tatapan tajam Rico membuat Madam terdiam dan kembali menelan ludah.
"Katakan!" perintah Rico.
"Ally lari dari ayah tirinya yang kurang ajar itu, pria itu mulai mencoba menggerayanginya!" Madam mencibirkan bibirnya ke arah Rico sebelum melanjutkan.
"Dan Carloz yang tidak tahu diri itu memberitahunya kalau waktu untuk menyerahkan Ally padamu sudah dekat. Gadis itu berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan mendapatkan cinta untuk dirinya sendiri daripada hidup dengan menjadi simpananmu," ucap Madam sinis.
"Simpanan? Itukah yang Ally katakan?" tanya Rico dengan alis terangkat.
"Ya! Carloz mengatakan pada Ally kalau gadis itu akan diberikan padamu."
Rico menyipitkan mata,"Jelaskan padaku lebih terperinci, Madam. Sehingga Aku bisa yakin Aku tidak salah mendengarnya. Carloz menggerayangi Allyku?"
"Ya ... Ally pergi karena pria itu sudah beberapa kali mencoba mencium dan merabanya! Pria yang selalu mabuk itu ... siapa yang tahu apa yang akan ia lakukan bila nanti ia mabuk dan kemudian mencoba memperkosa Ally!"
Rico menggeretakkan gerahamnya, pipinya berkedut.
"Ally yang mengatakan ini?"
"Ya! Yang membuat pria itu berhenti menggerayangi Ally adalah pemikiran tentang hukuman yang akan kau berikan bila ia menyerahkan Ally padamu dengan keadaan tidak murni lagi." Madam berkata ketus, memikirkan pria buncit ayah tiri Ally itu membuat kemarahannya naik menggantikan ketakutan terhadap pria yang duduk di seberangnya itu.
"Carloz menggerayangi Allyku ... " Rico berbisik menakutkan.
"Bukan digerayangi saja! Ally mengatakan ia dipukuli, lalu secepatnya Carloz akan menyuruh Ally mengobati luka dan memberikan obat pada memarnya. Ia meracau akan mendapatkan hukuman darimu jika kau tiba-tiba mengambil Ally dan melihat tubuhnya tergores sedikit saja. Kau memang mengancamnya?" Madam menatap tajam dengan alis terangkat.
Rico hanya diam tidak menanggapi, kemarahan pada Carloz mulai mengisi dadanya.
"Kalau kau mencari Ally sekarang, maka kau terlambat. Gadis itu sudah pergi!"
"Apa maksudmu? Ally ketakutan setelah ditemukan oleh Carloz. Ia kembali melarikan diri bersama Alan," ucap Madam
Rico bersandar pada sofa, bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan pada Madam.
"Jujurlah, Madam. Pengawalku tidak hanya memegang pistol. Mereka juga membawa pisau-pisau dengan bilah yang sangat tajam. Jadi katakan siapa pria itu? Yang membawa Ally pergi bersamanya?"
Madam Gavany menatap Rico," Apa yang kau inginkan dari Ally? Kau tidak kekurangan wanita, Tuan Rico. Kekayaan dan wajah tampanmu membuat banyak wanita pasti tergila-gila padamu, apa gunanya kau mengejar Ally?"
Tawa Rico membahana di ruang kantor yang kecil itu. Pria itu meletakkan telapak tangan kanannya di depan dada, sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Madam. Dengan manis ia berucap,"Terimakasih, Madam ... Kuanggap itu pujian,"
Madam mendengus, membuat tawa Rico bertambah kencang.
"Percayalah Madam Gavany ... Aku sama sekali tidak berbahaya untuk Ally. Aku hanya ingin memastikan Allyku baik-baik saja." ucap Rico kemudian.
Madam mengerutkan dahinya menatap pria di depannya itu. Wajah itu tidak lagi kejam dan dingin, sudah berganti lagi ke wajah ramah dan manis seperti saat awal ia datang.
"Sebenarnya apa maumu terhadap gadis itu?" tanya Madam.
"Oh, hanya ingin melindunginya Madam. Dan sepertinya aku gagal karena pria buncit itu menipuku ...Sekarang katakan padaku nama pria itu." ucap Rico tegas.
"Sudah kukatakan tidak ada pria! Ally pergi hanya dengan Alan!"
Rico tersenyum dan dengan nada mengancam menatap ke arah Madam,"Jangan berbohong Madam. Carlos mengatakan Ally bersama seorang pria. Berambut hitam panjang, dengan sebuah anting ditelinga kiri. Katakan siapa dia!?"
Madam tidak menjawab, ia menutup mulutnya rapat rapat. Hingga Rico memberi kode dengan lirikan mata pada salah satu pengawalnya.
Pengawal itu mengeluarkan sebuah pisau dari balik jas yang ia pakai, ia mulai mendekati Madam.
"Ma... Mau apa kau!" serunya panik.
"Aku hanya menginginkan sebuah nama, Madam."
"Aku tidak tahu namanya!" seru Madam lagi. Pengawal itu makin dekat, dengan pisau yang berkilat di tangannya.
"Nama ...." desis Rico tajam. Ketika pisau itu telah menempel di urat lehernya, dengan ketakutan dan mata terpejam, Madam akhirnya menyebutkan nama yang diminta Rico.
"Lucius! Lucius Sanchez!" ucap Madam Gavany dengan ketakutan.
Rico tersentak," Lucius Sanchez? Kau tidak salah menyebutkan nama bukan? sebutkan ciri-cirinya!"
Kalimat berhamburan dari mulut Madam Gavany. Ketakutannya membuatnya menceritakan semua yang ia tahu.
"Ia mengajaknya pergi, tidak mengatakan secara pasti kemana ia mengajak Ally. Pria dengan rambut hitam panjang, mata yang juga berwarna hitam dan sebuah berlian di telinga kiri," ucap Madam Gavany.
Dengan satu lirikan pada pengawalnya, pisau di leher Madam Gavany terangkat. Madam Gavany menarik nafas panjang, ia memegang dadanya, berkata di dalam hati ia terpaksa melakukannya dan memohon maaf di dalam hatinya pada Ally.
"Banyak pria dengan nama Lucius Sanchez. Aku tahu satu orang, walaupun belum pernah bertemu. Aku akan mencari mereka. Terimakasih informasinya Madam."
Rico bangkit berdiri, lalu memberi tanda pada para pengawalnya agar mengikutinya. Mereka pergi meninggalkan Madam Gavany yang masih memegang dadanya, menenangkan jantungnya yang berdetak tidak teratur.
"Maafkan aku, Ally," ucap Madam dengan nada kesedihan mewarnai suaranya di keheningan kantor kecil itu.
**********
From Author,
Please Like ,Love, vote, komentar, bintang limanya ya my readers. Yuks follow Author dengan klik 'ikuti' di kolom profil author ya🙏🙏
Sekalian thor mau ajak readers sekalian ramein grup chat author yuk. klik aja grup chat yang ada di bawah kolom vote ....
Terimakasih semuanya
Salam, DIANAZ.