
Rico dan Lucius saling memandang dengan tatapan tajam. Alan yang masih berada di gendongan Lucius merasakan hawa tidak menyenangkan di sekitarnya. Bocah itu menggaruk kepalanya, berulang kali memandang wajah Lucius dan Rico bergantian.
Asisten Rico, Frederic, memindahkan kursi pengganjal pintu sehingga pintu bisa bergerak tanpa penghalang. Lalu pria itu berdiri diam di dekat tuannya.
"Ummm ... Paman ... Ummm...." Alan berkata dengan kebingungan.
Lucius menoleh, lalu memasang senyum di bibirnya.
"Ada apa, Alan?"
"Bolehkah aku pergi mandi dulu?" tanyanya.
"Tentu saja." Lucius lalu menurunkan Alan agar bocah itu bisa pergi mandi. Namun Alan bukan berlari ke arah belakang, bocah itu malah mendatangi Rico dan menyapanya.
"Paman, duduklah dulu, Aku akan pergi mandi. Aku akan memanggil Ally kemari."
"Ya ... Pergilah, Anak pintar," ucap Rico sambil tersenyum dan mengelus puncak kepala Alan.
Bocah itu tersenyum lebar kemudian berbalik dan berlari sambil berteriak.
"Ally!! Ada Paman Rico di sini! Cepatlah!" teriaknya sambil berlalu.
Rico melangkah ke arah sofa dan mengambil posisi duduk yang nyaman. Ia memandang Lucius yang masih berdiri dengan tatapan tajam ke arahnya. Alan terlihat sudah akrab dengan pria itu, tidak terlihat takut sama sekali.
"Kau membobol pintu itu," ucap Rico.
"Ya ... Ally tidak akan membukakan pintunya jika aku mengetuk."
"Seharusnya kau menunggu, datang lagi sampai ia membukanya."
Lucius tertawa sinis, " anggap saja Aku bukan pria yang sabar," ucapnya dengan ringan.
Suara langkah kaki kemudian mendekati pintu rumah. Semua mata menatap ke arah pintu. Lance muncul beberapa saat kemudian disusul oleh Brad dan Santoz juga Pabio.
"Ah, sudah datang ... para pengawalmu ya, Tuan Lucius Sanchez?" tanya Rico sinis.
Ally mempercepat acara mandi dan berpakaiannya setelah mendengar teriakan Alan. Ia memakai gaun selutut berwarna hijau muda lalu dengan cepat menyisir rambut, kemudian keluar dari kamarnya.
Pemandangan di ruang tamunya membuat Ally sesak nafas. Aura maskulin dari para lelaki bertubuh besar terasa kental mendominasi ruang tamunya, tempat itu terasa sesak dan sempit dengan kehadiran para pria ini.
"Ah, kau tampak Cantik, Alison ... Kemarilah." Rico memberi senyum kecil pada Ally yang mengikuti arahannya dan duduk di sofa, di samping Rico yang tadi menepuk nepuk sisi tempat duduk di sofa sebelahnya.
Lucius mengeretakkan gerahamnya menahan geram. Ally menurut sekali pada laki-laki itu. Bukannya dulu Ally takut pada Rico? Lucius bergerak dan mengambil tempat duduk di sofa di hadapan Rico. Lance juga mengambil tempat dengan duduk di salah satu sofa bersama Pabio. Brad dan Santoz mengambil posisi dengan berdiri di belakang tempat duduk Lucius.
"Ally ... Kau ingat syarat yang kukatakan jika kau mau pindah ke rumah lamamu bukan?" tanya Rico. Lucius menahan kejengkelannya mendengar suara lembut pria itu pada Ally. Berbeda sekali dengan nada tajam saat pria itu pertama kali masuk rumah.
"Ya," ucap Ally pelan.
"Kau boleh pindah jika aku menganggap semuanya aman untukmu. Kemarin aku menyiapkan dua orang untuk menemanimu di sini. Tapi kau menyuruh mereka pulang lagi ke mansion. Malam ini pintu rumahmu di bobol orang. Bagiku ... kau sudah tidak aman tinggal di sini, meskipun Carloz sudah tidak akan mengganggumu lagi. Tuan Lucius Sanchez sepertinya tidak punya sopan santun dan melakukan perbuatan menyelinap ke rumahmu."
"Itu ... ummm ...." Ally kebingungan menjelaskan pada Rico.
"Itu bukan urusanmu Tuan Enrico Costra. Aku sudah bilang akan menemukan Ally dan bicara padanya," ucap Lucius sinis.
"Apapun urusanmu, kau seharusnya tidak menyelinap. Kau seharusnya mengetuk. Lagipula kau bertamu di tengah malam ... mana ada orang bertamu di jam tidur, Tuan Lucius Sanchez," sindir Rico tak kalah sinis.
Ally melirik ke arah pintu depan rumahnya. Dan benar saja, pintunya sudah di buka paksa.
"Alison ... Aku sebenarnya ingin melihat dan mengajakmu sarapan pagi bersama, tapi setelah menemukan pria ini di rumahmu, aku memutuskan kau dan Alan akan pindah kembali ke mansion Costra." Rico berkata tegas pada Ally.
"Apa ... Tap ... Tapi ...." Ally terbata dan kesulitan mengucapkan bantahannya.
"Anda tidak berhak melakukannya, Tuan. Jika anda merasa bisa membawa Ally ke mansion Costra, maka Tuan Lucius juga bisa membawa Ally ke mansion Sanchez." Lance yang sedikit jengkel dengan sikap arogan Rico mengucapkan pandangannya pada laki-laki itu.
Rico menaikkan alisnya dan menatap Lance.
"Dan jika boleh aku bertanya, atas dasar apa ia bisa membawa Allyku ke mansion Sanchez? pergi membawanya keluar dari negara ini tanpa kejelasan status dan tanpa kejelasan situasi seperti apa yang akan menyambutnya di mansion Sanchez yang tadi kau sebutkan itu! Jangan berbuat seenaknya seolah Alison tidak punya pelindung! Kau kebetulan menemukannya saat ia lari dan keluar dari pengawasanku, aku lalai karena memercayai si bodoh Carloz, tapi sekarang tidak akan lagi ... Akulah walinya yang sebenarnya saat ini. Jadi jangan mencoba melakukan apapun, apalagi mengatakan akan membawanya seolah kalian hanya mencomot suatu benda!"
Suara Rico bergema di ruang tamu rumah Ally. Keheningan merebak, membuat kata-kata Rico menyusup dan di cerna oleh setiap orang.
Ally menganggukkan kepalanya, " Ya," ucapnya dengan mantap dan yakin.
Rico tersenyum, memandang Lucius dengan mata menantang.
"Mau membawa Allyku begitu saja? Jangan harap kau bisa Tuan Lucius Sanchez! Aku akan menghalangimu kecuali kau bisa melakukan sesuatu yang akhirnya membuatku memberikan izin."
Ally menatap ke arah Lucius yang memandang geram ke arah Rico. Sepertinya aku harus kembali ke mansion Costra, mengikuti rencana Rico ...
" Jangan sebut dia Allymu Tuan Enrico Costra! Sudah kukatakan saat bertamu ke mansionmu, bahwa di manapun kau menyembunyikan Ally aku akan menemukannya! Kau tidak akan bisa menyembunyikannya!" Lucius mengucapkan kegeramannya saat mendengar kedua kalinya Rico menyebut Ally sebagai Allynya.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, Tuan Lucius Sanchez, Aku membawanya kembali ke mansion Costra, jika kau mau bertemu dengannya, maka kau harus melewati pintuku dan mendapatkan izinku juga persetujuan dari Ally. Jadi tidak akan ada lagi pintu yang dipaksa di buka," ucap Rico dengan nada manis.
"Memangnya kenapa jika aku memaksa masuk? Aku hanya ingin melihatnya, dan dia sudah tidur, jadi aku membuka sendiri pintunya." Lucius menyilangkan kakinya dan duduk bersandar. Tangannya bersedekap dengan mata tak lepas memandang Rico.
"Aku juga seorang pria, Tuan Lucius Sanchez. Sampai pagi ini, aku jamin dan yakin, kau bukan hanya sekedar melihat Allyku! Kau sudah menyentuhnya bahkan lebih dari sekedar melihat!" Rico mencibirkan bibirnya sambil memandang Lucius. Tidak ada perubahan di wajah Lucius. Ia masih hanya menatap dengan ekspresi yang sama.
Rico dan juga semua mata yang memandang Lucius tidak menemukan jawaban dari dugaan yang baru saja keluar dari mulut Rico. Tapi saat memandang ke wajah Ally, semuanya tahu jika dugaan itu benar. Wajah Ally sudah merona sampai ke leher karena sindiran Rico barusan. Gadis itu langsung teringat ciuman penuh kerinduan yang Lucius lakukan tadi malam, juga saat ia dan Lucius tidur bersama sebelum Lucius memutuskan untuk pindah keluar.
"Alison Adair ... katakan apa yang pria ini lakukan padamu tadi malam," ucap Rico dengan menyipitkan mata ke arah Ally.
"Ti ... Tidak ada, sungguh!" ucap Ally dengan menggeleng berulang kali.
"Kau tidak pandai berbohong, Sayang ... Bereskan barangmu! Ikut aku pulang ke mansion sekarang juga!"
"Ummm ..." Ally ragu-ragu, berulangkali menatap ke arah Lucius yang tidak bereaksi.
Alan datang beberapa saat kemudian. Rico melihatnya dan memberikan perintah dengan balutan kata-kata manis.
"Alan Sayang ... maukan kau membantu kakakmu? bereskan kembali barangmu. Tidak usah repot membawa semuanya, di mansion sudah tersedia. Serial kartun baru dan seperangkat mobil balap dengan remote yang kita pesan sudah tiba," ucap Rico pada Alan yang langsung tersenyum lebar.
Alan langsung mengangguk dan berlari masuk ke kamarnya untuk melaksanakan perintah Rico.
"Kau menyogoknya, " ucap Lucius.
Rico menaikkan kedua bahunya, lalu menoleh dan menatap ke arah Ally.
"Pergilah Alison. Bereskan barangmu juga," ucap Rico.
Ally mengangguk sambil menunduk. Menahan matanya dari menatap wajah Lucius.
Setelah Ally berlalu, Lucius dan Rico kembali saling menatap tajam.
"Kau sengaja mempersulitku bukan, Tuan Enrico Costra!?" desis Lucius.
Rico tersenyum miring, " Tentu saja tidak Tuan Lucius Sanchez, aku hanya ingin menilai ... kau memenuhi syarat atau tidak untuk Allyku. Soalnya aku punya banyak relasi yang tentu saja punya kapasitas setara denganmu, bahkan ada yang lebih ... Allyku akan mendapatkan pasangan terbaik," ucap Rico manis.
Lucius terdiam, ucapan ini mengingatkannya pada Mike. Saat ia menguji perasaan Mike pada Regina. Ia lebih kurang mengatakan hal yang sama.
Lucius mengernyit. Sungguh menjengkelkan dan membuat geram ... perasaan inilah yang mungkin dulu Mike rasakan ketika ia melarang Mike mendekati Regina. Karena Lucius ingin menguji sejauh mana perasaan Mike pada adiknya.
Semua orang di ruangan itu terdiam. Menyadari dua tuan muda itu saling memanggil nama lengkap masing-masing sejak tadi. Tapi terasa sekali bukan sebagai panggilan hormat. Di telinga para pria di ruangan itu, panggilan itu lebih terdengar sebagai sindiran dan juga mengandung tantangan.
**********
From Author,
Semangat babang Lucius ... Ally dibawa Rico dulu ya, ntar thor fikirin caranya supaya kita bisa boyong Ally pulangππππ
Jangan lupa tekan like, komentar, vote, bintang lima dan favorite ya my readers.
Yuk follow Author dengan klik 'ikuti' pada kolom profil author ya, juga mari bergabung di grup chat author, sama-sama kita sharing, sapa tau mau berbagi ide sama authorππππ
Terima kasih semuanya,
Salam, DIANAZ