Love Seduction

Love Seduction
Chapter 77. Bruised



Lance memandangi Dokter Lawrence memeriksa Eloy Sanchez yang telah terbangun. Cahaya dari penlight dokter itu menerangi pupil mata tuan Eloy. Sesaat sesudahnya ia tersenyum dan berpandangan dengan mata hitam Eloy yang terbuka.


Lance melihat Reggie berdiri di belakang kakaknya. Kedua tangannya menggenggam lengan atas Lucius. Kecemasan meliputi raut wajah gadis itu. Sedangkan tuan Lucius yang telah mengenakan kemejanya kembali memandang penuh antisipasi pada dokter Lawrence.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Lucius.


"Aku sangat gembira melihatmu membuka mata, temanku ...." Dokter Lawrence menghapus cairan bening yang mengancam akan keluar dari sudut matanya. Ia lalu menatap Lucius.


"Bersyukurlah doa kita akhirnya terkabul, Lucius. Ayahmu benar-benar telah sadar kembali." Dokter Lawrence kembali menatap Eloy yang menoleh menatap sepasang mata hitam Lucius. Cairan bening kembali menuruni sudut mata Eloy. Lucius segera mendekat dan menggenggam tangan ayahnya, menyebabkan Reggie yang memegang erat lengannya terseret ikut mendekat.


"Ayah ...." Lalu seolah rasa sesak menghimpit dadanya, Lucius berhenti bicara. Ia ikut menangis.


"Aku sungguh merindukanmu ...."


Sepasang mata hitam Eloy berpindah ke wajah yang ada di belakang Lucius, terlihat jernih dan sama dengan matanya sendiri.


Lucius melepaskan cengkeraman Regina di lengannya, lalu menarik Regina berdiri di sampingnya.


"Kau lihat? Dia kembali." Lucius meletakkan tangan Reggie ke dalam genggaman ayahnya yang langsung menutup menggenggam balik tangan Reggie. Buliran bening makin deras menuruni pipi mereka. Ayahnya membuka mulut, terlihat memajukan bibir dan berusaha keras mengucapkan satu kata dengan susah payah.


"... ina ...." Gerakan bibir itu hanya mengeluarkan suara pelan ujung nama Regina. Reggie menangis keras, melepas genggaman ayahnya dan memeluk tubuh ayahnya di atas ranjang.


"Ya, Ayah. Aku benar-benar Regina ...."


Suara tangis menghiasi ruangan itu. Dokter lawrence dan perawat segera pamit undur diri pada Lance sambil menghapus airmata dengan lengan mereka. Meninggalkan keluarga itu meluapkan semua perasaan, Lance juga menyingkir keluar dan duduk di sofa sambil memandang ke dalam ruangan kaca.


"Syukurlah ... Anda akhirnya bangun, Tuan Eloy. Kedua anak anda semuanya sudah ada di sini." Lance menunduk dalam, mengucap syukur dalam hatinya dan berharap keluarga itu akhirnya benar-benar lepas dari masa lalu mereka yang buruk.


**********


Beberapa saat setelah bangun dan menangis, Eloy terlihat sangat lelah, seolah tenaganya habis. Ia akhirnya tertidur kembali. Reggie tidak pernah pergi dari sisinya. Ia terus menatap kedua mata ayahnya, seolah menunggu ketika mata itu membuka dan terbangun lagi.


Lucius membuka pintu kaca dan berdiri sambil menahan pintu itu.


"Kemarilah," ucap Lucius, sambil menunggu Reggie bangkit dan mengikutinya ke ruang tunggu. Mereka duduk di sofa.


"Ada apa?" Reggie menatap cemas lalu memandang ayahnya. Mengira Lucius membawa kabar buruk setelah keluar beberapa saat tadi menemui dokter.


"Tidak ... tidak, Gina. Ini bukan tentang ayah. Ayah baik-baik saja. Dokter Lawrence berkata ia memang butuh tidur agar cepat pulih. Beberapa waktu ia akan mudah sekali merasa lelah. Jadi tubuhnya butuh istirahat yang cukup."


Reggie menarik napas lega. "Syukurlah," ucapnya pelan.


"Ini tentang Amy ... Derek meneleponku. Ia ingin tahu apakah kau bisa datang ke rumah sakit sekarang. Amy akan melahirkan ...."


Reggie kembali menoleh ke arah ayahnya.


"Jika kau ingin ke sana, aku akan mengantarmu. Lance akan menunggu di sini sampai Madam datang kemari."


Reggie terlihat masih ragu dan kembali memandang ayahnya di ruangan dibalik kaca.


"Ayah akan baik-baik saja sampai kita kembali. Dokter Lawrence bilang mungkin akan memakan waktu beberapa jam sampai akhirnya ayah mampu membuka matanya lagi. Tidur ini sangat dibutuhkan untuk pemulihannya. Jadi kita bisa pergi sebentar melihat Amy."


"Be ... benarkah?" Reggie menatap penuh harap ke arah kakaknya yang segera mengangguk.


Lance datang dan segera menghampiri tuannya.


"Saya akan menjaga Tuan Eloy sambil menunggu Madam, Tuan. Anda pergilah bersama Nona," ucap Lance .


"Kita pergi, Gina?" Lucius berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Reggie yang masih duduk di sofa. Reggie mendongak dan menatap tangan besar yang terulur itu. Ia mengangguk dan menyambut tangan yang langsung menggenggam jemarinya.


"Kami pergi dulu, Lance. Tolong jaga Ayah." Lucius melangkah dengan menggandeng Regina .Mereka pergi meninggalkan Lance yang menarik napas lega melihat sikap tuannya yang terlihat mulai mencair pada adiknya itu.


**********


Mereka sampai di depan rumah sakit. Lucius memarkirkan mobil dan mendekap bahu Reggie menuju lift. Reggie terdengar meringis kesakitan.


"Ada apa? Kau kenapa?" tanya Lucius dengan kening berkerut. Mereka berhenti di depan lift.


Reggie menggeleng sambil tersenyum. Mengutuk bibirnya yang tanpa sadar meringis ketika Lucius menyentuh memar di bahunya. Reggie tahu lengan atas, bahu dan pinggulnya memar karena tindakan Lucius yang mendorongnya berkali-kali sampai terempas membentur meja dan lantai. Ia mencoba menyimpan rasa nyerinya dan membeli sendiri obat untuk mengurangi rasa sakit.


"Ayo ... kita masuk saja. Amy pasti sudah berada di ruang bersalin."


Reggie mengalihkan pembicaraan dan menarik tangan Lucius agar segera masuk ke dalam Lift.


**********


From Author,


Bersambung gaesπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜πŸ˜ Amy melahirkan ada di part Epilog "passion of my enemy" Jadi yg belum baca silakan mampir ya.


Jgn lupa like di tiap chapter ya guys. love, bintang5, komentar dan vote untuk karya ini sbg vitamin penyemangat author.


Terimakasih semua.


Salam, DIANAZ.