Love Seduction

Love Seduction
Chapter 36.Leave



Reggie memandang Mike yang tertidur di sampingnya. Sudah hampir dua bulan setelah Amy menikah dan ia masih menunda-nunda melaksanakan rencana yang telah lama ia buat. Semuanya karena Reggie ingin mengumpulkan sebanyak mungkin ingatan dan kenangan bersama Amy dan juga Mike.


Hatinya terasa berat untuk pergi, dirinya sudah memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa setiap harinya Amy berbahagia dan dirinya pun entah mengapa merasakan perasaan itu. Bahagia ketika berkunjung dan melihat senyum Amy merekah, senyum yang dulu telah kembali, senyum yang sama seperti ketika Tuan Arthur Sky masih hidup. Mungkin dicintai seseorang mengembalikan cahaya itu ke dalam hidup Amy.


Bahagia juga Reggie rasakan ketika bangun dan mendapati Mike ada di sampingnya. Laki-laki itu tidur dan menjaganya setiap malam dari mimpi buruk yang semakin sering datang. Mike akan membangunkan Reggie jika ia mulai merintih atau berteriak, lalu akan menyuruhnya tidur kembali dengan lengannya yang hangat memeluk dan melingkupi tubuh gadis itu.


Bahagia juga ia rasakan ketika menanti Mike pulang dan mengulurkan gelas yang akan Mike sambut lalu menuangkan air minum untuk laki-laki itu. Hanya hal kecil yang sepele tetapi disimpan rapat oleh Reggie didalam memorinya.


Malam ini mungkin terakhir kalinya ia tidur di ranjang ini. Bersama laki-laki yang telah mengisi ruang kosong di hatinya, Reggie tidak berani menjelaskan rasa yang muncul di hatinya itu, karena itu tidak akan ada faedahnya.


Ia akan pergi dan meninggalkan Mike, jadi lebih baik tidak diteruskan sama sekali. Lagipula Mike pun hanya menganggap Reggie sebuah tanggung jawab yang diberikan padanya oleh Amy dan Derek. Reggie tidak bisa membaca hati dan pikiran laki-laki itu, perasaan ditolak dulu saat mereka berada di dapur Mansion Langton masih membekas di hati Reggie.


Tanpa berkedip Reggie memandangi Mike yang terpejam, ia ingin menyentuhnya dengan ujung jari, namun menghentikan niatnya karena takut Mike akan terbangun.


Terimakasih sudah menjagaku dan maaf aku pergi tanpa pamit besok ....


Tanpa disadarinya, dua bulir air mata menuruni lereng pipi Reggie.


Mike tiba-tiba terbangun dan bergerak miring ke arah Reggie. Dengan cepat Reggie bergerak memajukan tubuhnya dan menyimpan wajahnya ke dada Mike yang sekarang selalu tidur dengan kaus longgar. Reggie tahu Mike melakukan itu untuknya, agar ia tidak merasa jengah tidur satu ranjang dengan pria bertelanjang dada.


Reggie berusaha tidak bersuara, tidak mau ketahuan kalau ia sedang menangis.


"Regina ... kau bangun? Kau bermimpi lagi?"


Mike menunduk menatap puncak kepala dengan rambut hitam yang tengah menempel di dadanya itu. Lengannya segera bergerak memeluk Reggie.


"Tidak. Aku tidak bermimpi." Setelah menelan ludah berkali-kali, Reggie menjawab Mike dan membuat tubuhnya rileks dalam pelukan pria itu.


"Tidurlah kembali," ujar Mike sambil melingkupi Reggie dengan lengannya.


"Ya." Reggie mendekat, menghirup aroma laki-laki itu, tangannya menempel di dada Mike dan ia memejamkan mata.


Aku ingin mengingat ini ... tertidur dalam pelukanmu, mungkin untuk yang terakhir kalinya.


Dengan perasaan sedih Reggie memejamkan matanya dan tertidur dalam pelukan Mike.


**********


Setelah memeriksa layar ponselnya untuk terakhir kali, Mike menghabiskan kopinya dan menoleh ke arah Reggie yang tengah mencuci piring bekas sarapan mereka.


"Aku pergi, Regina." Ucapan Mike membuat Reggie berhenti dan segera mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. Ia mendatangi Mike dan tersenyum.


"Kemarilah. Dasimu miring."


Reggie mendekat dan langsung memegang dasi laki-laki itu. Mike menunduk dan merasa aneh karena dasinya sama sekali tidak miring. Ia menatap Reggie yang menarik pelan seolah membenarkan letak dasinya itu. Reggie hanya tersenyum, lalu tiba-tiba gadis itu memeluknya.


"Pergi bekerja dengan awalan sebuah pelukan. Kurasa aku akan menyukainya." Mike menaikkan alisnya bertanya, ketika Reggie melepaskan pelukannya dan masih tersenyum sambil menepuk pelan dadanya.


"Pergilah ... jangan minum kopi lagi di kantor nanti, Mike. Kau sudah terlalu banyak minum kopi."


Reggie masih menepuk kecil dadanya, membuat Mike menangkap tangan itu dan menggenggamnya.


"Kau akan pergi?" Mike bertanya menyelidik.


Raut wajah Reggie dilihatnya tidak berubah. Masih tersenyum dan gadis itu mengangguk.


"Kenapa tidak menelepon jasa delivery? Kau tidak perlu repot."


Mike mengerutkan keningnya ke arah Reggie. Gadis itu kembali tersenyum.


"Lalu apa yang aku kerjakan? Aku terkurung dan agak bosan, Mike. Aku akan keluar dan sedikit berjalan menggerakkan badanku. Hanya laundry di dekat sini, tidak jauh."


Dengan berat hati Mike mengangguk, spontan ia mencium kening gadis yang masih tersenyum di hadapannya itu, lalu segera pamit untuk berangkat.


"Aku pergi Regina." Ucapan Mike yang disambut senyuman dan iringan langkah kaki Reggie sampai ke pintu depan.


"Selamat tinggal, Mike." Reggie berbisik dibalik pintu yang telah tertutup dan Mike yang telah pergi. Ia masih berdiri di sana dengan air mata yang membanjiri pipinya.


Setelah puas menangis, Reggie mengecek semua barangnya yang akan ia bawa. barang itu sudah ia letakkan di dalam tas yang dibungkus kantong laundry. Kantong yang ia tunjukkan pada Mike tadi.


Reggie kembali menyibukkan dirinya membersihkan dapur, lalu beralih membersihkan kamar tidur mereka. Membelai pelan seprai di atas ranjang yang telah menjadi tempat tidurnya bersama Mike selama berminggu-minggu. Ia meletakkan kertas note yang sudah ia tulisi dengan pesan untuk Mike.


"Sekali lagi terimakasih, Mike. Aku pergi ... entah apa yang akan aku hadapi di luar sana nanti. Kuharap kau selalu baik-baik saja ...."


Dengan satu tarikan napas panjang, Reggie memindai semua isi kamar, lalu melangkah keluar dan kembali ke dapur. Ia melepas celemeknya dan menggantungkannya di gantungan di dekat pintu dapur, kemudian ia menjinjing kantong laundry yang berisi tas pakaiannya dan membawanya ke pintu keluar apartemen.


Reggie berbalik untuk menatap terakhir kalinya tempat tinggal yang sudah ditempatinya selama berminggu-minggu ini.


"Selamat tinggal," ucapnya pelan, lalu berbalik dan menyiapkan sebuah senyum lebar palsu di wajahnya. Ia membuka pintu apartemen lalu keluar dan menguncinya kembali.


"Mau pergi, Regina?" Sapaan Castro disambut Reggie dengan senyum lebar. Ia menunjukkan kantong yang ia bawa.


"Aku ingin sedikit berolahraga, Cast. Aku akan mencuci di laundry umum. Hanya beberapa blok dari sini."


"Baiklah, aku akan beritahu Shawn kalau aku akan pergi mengantarmu."


Reggie segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Cast. Kalian tetaplah di sini dan berjaga. Aku akan berjalan kaki dan akan kembali secepatnya."


Tanpa menunggu jawaban, Reggie berjalan meninggalkan Castro yang masih bingung memutuskan akan mengikuti gadis itu atau tetap berjaga di apartemen saja.


Keputusan kedualah yang diambil Castro. Ia tetap berjaga di apartemen karena melihat Reggie telah memasuki lift dan melambai padanya sambil tersenyum.


Dengan napas lega Reggie memegang erat kantong laundry yang ia bawa. Castro tidak mengikutinya, Jadi rencananya berjalan lancar sejauh ini.


Reggie harap akan lancar sampai akhir. Walaupun ia ragu apakah akan ada akhir yang menyenangkan untuk dirinya setelah ini.


**********


*Vote...Vote...vote please.


* Tinggalkan komentar, like, favorite, coin and rating bintang limanya untuk vitamin penambah semangat author ya para pembaca.


* Terima kasih....


Salam, DIANAZ.