
Lucius membantu menarik Ally yang terjatuh bersamanya. Ia menarik sebuah daun yang menempel di pipi gadis itu.
"Kau baik-baik saja kan?" Lucius memeriksa Ally dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Baik. Aku tidak apa-apa." Ally tertawa malu, menyadari ada empat orang yang menatap geli ke arah mereka.
"Maafkan aku. Aku terkejut dan terus maju dengan menarik tanganmu. Dahan lembut tumbuhan itu tidak dapat menahan laju tubuh kita."
Ally mengangguk dan berpaling ke arah Cecilia yang masih terkikik, telapak tangannya menutup mulut. Tidak bisa menghentikan tawa yang terus menggelitiknya.
"Oh, Cecil ... berhentilah menertawakanku!" Ally cemberut menatap teman barunya.
"Maaf ... maaf Ally ... tapi sungguh. Ini lucu sekali. Kau dan Lucius ...."
Ally dan Lucius menatap bergantian pada empat orang yang masih terkikik geli. Mata Lucius berhenti pada Reggie.
"Katakan padaku apa maksud dari nama yang kau sebutkan tadi Regina." Lucius menatap adiknya dan Mike bergantian.
Reggie bertatapan dengan Mike, lalu melirik Lance yang hanya diam, pura-pura tidak tahu bahwa namanyalah yang ditanyakan oleh Lucius. Cecilia merasakan situasinya jadi aneh. Ia menoleh dan menatap ke mata Lance.
"Ada apa?" tanyanya. Lance menggeleng, tersenyum kecil menenangkan.
"Tidak ada ...." ucap Lance. Cecilia langsung memeluk pinggang Lance dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu sebelum berbisik.
"Tidak masalah jika tidak ada keluarga yang akan ikut bersamamu. Kau bisa tetap datang dan ayahku pasti tetap akan menerimamu. Aku juga ... kumohon jangan berubah fikiran," ucapnya dengan nada gelisah.
Lance terkekeh. Melingkarkan lengannya ke bahu Cecilia.
"Kekhawatiranmu tidak beralasan," ucap Lance.
"Sepertinya banyak yang perlu kita bicarakan. Sebaiknya kita pulang. Ayah dan Enrico akan membicarakan kapan tepatnya hari pernikahan Ally dan Lucius akan dilangsungkan nanti ... Lucius?" Mike menatap Lucius yang sepertinya masih mencerna apa yang dikatakan oleh Reggie yang sampai membuatnya terkejut.
"Ya ... Ayo ...." Lucius menatap Lance dengan tatapan aneh. Lance tidak menanggapi, ia menghela bahu Cecilia dan mengajaknya melangkah pergi.
"Ayo, Honey...." Mikepun menghela bahu istrinya. Mereka kembali ke arah mansion.
Ally memandang Lucius yang menatap ke arah punggung Lance sampai benar-benar menghilang.
"Lucius? Ada apa?" Ally menghela pipi Lucius dengan telapak tangannya hingga pria itu mengalihkan mata menundukkan wajah menatapnya.
"Ada apa?" ulang Ally.
Sebuah senyum akhirnya menghilangkan kerutan di kening Lucius. Ia meraup Ally lalu mendekatkan tubuh mereka sebelum menunduk, kembali mencium Ally .
Beberapa saat kemudian barulah Lucius mengangkat wajahnya. Ia menyeringai senang.
"Tidak ada apa-apa. Hanya satu rahasia yang baru kusadari sesaat tadi. Aku harus pulang ... Ayo, Ally."
Lucius menarik Ally kembali ke mansion. Tuan Eloy sudah bicara dan berpamitan pada Enrico dan Derek, setelah Mike membisikkan sesuatu ke telinga ayah mertuanya itu.
Mereka semua sudah akan memasuki mobil ketika Derek menghentikan lengan Mike.
"Semuanya baik-baik saja?" tanya Derek.
Mike tersenyum, " kau gagal mengawasi putri Paman Damario, Derek. Aku melihatnya kembali mencium Lance." Mike berbisik di telinga Derek.
"Apa!" tanpa sadar Derek berteriak. Semua mata memandangnya. Mike terkekeh, ia melirik Cecilia yang berdiri di beranda mansion bersama Ally dan Amy.
"Dia mengecohmu. Kau sudah tua, karena itu gadis itu bisa melewatimu," olok Mike.
Derek mendengus," kuharap Marie cepat besar, lalu mulai membuatmu pusing dengan tingkahnya. Saat itu tiba, aku akan ganti mengejekmu, Mike!"
Mike tertawa. Masuk ke belakang kemudi dan memundurkan mobil lalu berputar mengikuti mobil lance dan Pabio yang sudah melaju lebih dulu.
*********
Derek mendekati Cecilia, tersenyum sambil menyipitkan mata.
"Kemana kau tadi? Sesaat sebelum keluarga Sanchez pamit pulang." Derek bersedekap menunggu jawaban.
"ummmm ...." Cecilia memandang ke arah Amy, meminta bantuan. Amy terkikik, menggamit Ally dan mengajaknya mencari camilan. Cecilia cemberut melihat Amy tidak mau membantunya.
"Kami dari taman, Tuan Derek. Cecilia tadi berbicara dengan Lance." tanpa di minta Ally memberitahu Derek. Cecilia menepuk dahinya, Derek menyeringai lebar dan Amy tertawa kencang.
"Astaga... Ada apa? Apakah ada kata-kataku yang salah?" tanya Ally kebingungan. Amy terkikik dan menarik Ally bersamanya.
"Tidak, Sayang. Ayo kita makan camilan. Atau Erland, Alan dan Enrico akan menghabiskannya." Mereka bergandengan menuju meja dimana Enrico tengah memegangi piring kue lebar di pangkuan. Dua bocah duduk di sisi kiri dan kanannya sambil terus mencomot kue.
Derek masih bersedekap, menatap Cecilia dan menunggu penjelasan.
"Aku tidak melakukan apapun!" cetus Cecilia kesal.
"Aku akan mengatakannya pada ayahmu, lalu selama sebulan kau tidak diperbolehkan kemana-mana. Kau pilih mana....."
Cecilia mencibir," Aku heran Amy tahan menghadapimu ... Aku mencari Lance. Itu saja!"
"Untuk apa!?"
"Untuk bicara."
"Bicara apa?"
"Ck ... perasaanku!" Cecilia berdecak. Derek melotot, tangannya yang bersedekap terlepas, ia menunjuk Cecilia dengan jari telunjuknya.
"Katakan padaku perasaan apa yang kau bicarakan pada Lance!" tuntut Derek.
"Aku mengatakan padanya kalau aku mencintainya, aku menginginkannya dan aku sangaaaaaat merindukannya," Cecilia terkikik, tersenyum lebar melihat Derek melotot dengan mulut menganga.
" Kau ... Kau mengatakan itu!?" seru Derek.
"Ya! Dan kali ini dia mengatakan juga mencintaiku,juga menginginkanku dan juga merindukanku!" Cecilia tertawa gembira," kurasa ia cemburu padamu Enrico!" seru Cecilia. Amy dan Enrico tertawa.
"Cecilia ... " Derek menarik nafas panjang dan baru akan mulai bicara lagi ketika Cecilia memotong.
"Dan kali ini, Aku hanya perlu mendekat. Lance yang lebih dulu menangkapku dan menciumku. Bukan aku yang duluan menciumnya...." setelah mengatakan itu Cecilia meninggalkan Derek dan bergabung bersama Amy.
**********
Keluarga Sanchez berkumpul di ruang tengah rumah perkebunan. Mike dan Reggie duduk berdampingan di sofa panjang. Tuan Eloy duduk sendiri dan memandang bergantian pada Lucius dan Lance yang masih berdiri.
"Apa kalian berdua tidak mau duduk dulu?" tanya Eloy.
"Katakan saja langsung, Ayah. Regina menyebut Lance dengan nama Luiz Sanchez di ujungnya. Jelaskan padaku. Kenapa Regina dan Mike tahu tapi aku tidak," ucap Lucius.
Lance menatap tanpa ekspresi ke arah Tuan Eloy, sedikit termenung berdiri di belakang sebuah sofa.
"Sebelum aku sakit kemarin, aku menceritakan kebenarannya pada Reggie dan Mike, Lucius. Aku kehabisan akal bagaimana membujuk Lance agar menggunakan namanya dan mengumumkan pada dunia bahwa ia adalah keluarga kita."
"Aku sudah merasa seperti itu, Tuan. Tidak perlu diumumkan pada siapapun. Hanya kalianlah keluargaku." Lance menjawab cepat.
"Aku tahu, Lance. Tapi aku mengambilmu dari sana sebagai seorang anak. Menjadi putraku yang disahkan lewat dokumen yang juga sah. Kau kubawa ke keluargaku bukan hanya untuk teman yang mendampingi Lucius. Kau kubawa ke dalam keluarga Sanchez sebagai putraku. Namaku kusematkan di namamu anakku. Lance Luiz ... kau seorang Sanchez. Aku sudah tua Lance. Kapan aku bisa mendengarmu memanggilku Ayah? bukan Tuan seperti yang selalu aku dengar."
Lance menelan ludah, bertahan memandang wajah tuan Eloy yang memandangnya dengan senyum teduh. Menahan matanya agar tidak menatap Lucius.
"Dia kakakmu, Lucius. Aku mengadopsinya secara sah dari sebuah panti. Perkembanganmu terlihat tidak baik, cara Eleanor mendidikmu membuatmu tampak tertekan dan tidak bahagia untuk bocah seumuranmu yang seharusnya ceria dan bermain bebas. Aku bermaksud membawanya sebagai temanmu ... Aku ayah yang buruk. Sibuk mengejar harta dan kesuksesan membuatku lupa menyediakan waktu untuk putraku sendiri, juga membiarkan hubungan dengan Marinna yang tengah dilanda masalah dibiarkan begitu saja. Hasilnya memukulku telak .... Aku kembali dengan Lance dan menemukanmu hampir mati, juga mengetahui bahwa Marinna dan Reggie juga mengalami hal yang sama akibat kegilaan Eleanor. Marinna melarikan diri, menghilang bersama putriku. Bertahun-tahun usahaku tidak ada yang berhasil untuk menemukan keduanya. Lalu putraku hidup dalam trauma berkepanjangan. Kau sangat membenciku pada awalnya Lucius, jangankan membantumu, mendekatpun aku tidak bisa ...." Eloy terisak, mengingat kebodohannya di masa lalu, penyesalan terdalam dalam hidupnya.
"Aku dan Lance medampingimu sampai kau sadar di rumah sakit. Tapi kau tidak mau melihatku. Kau melihat Lance sebagai orang asing yang menemukanmu kemudian menolong membebaskanmu dari penjara Eleanor. Usianya yang hampir sebaya membuatmu dengan cepat mempercayainya."
"Itu alasan kau tidak memberitahu siapa dia?"
"Kau mengalami trauma berat, Lucius. Ibu yang melahirkanmu menyiksamu sedemikian rupa. Lalu apa yang akan terjadi bila kau mengetahui jika ayah yang menyianyiakanmu malah mengadopsi seorang putra lain ... "
Eloy menatap Lucius, " Kau mungkin akan pergi meninggalkanku saat itu juga ...."
Lucius menoleh, menatap tajam Lance sambil bersedekap. Ia mengerti alasan ayahnya saat itu.
"Setelah beberapa bulan, kau tampak stabil. Hanya ingatan tertentu yang datang dalam mimpi burukmu masih selalu datang. Lance melarangku mengatakan apapun. Meminta membiarkan berjalan seperti apa adanya. Lalu ketika kalian mulai dewasa, aku pernah menyinggungnya, Lance tetap menolak. Mengatakan trauma masa lalumu belum hilang seluruhnya. Kau stabil, namun masih memerlukan obat. Akan buruk bila memberi masalah baru.... Aku menurutinya."
"Lalu kenapa belum ada yang bicara hingga saat ini? Ayah memberitahu Regina. Tapi tidak padaku." ucap Lucius dengan nada datar. Reggie menyandarkan kepala ke bahu Mike. Pasangan itu hanya menyimak dengan serius tanpa berkomentar.
"Apalagi alasan yang dikatakan pria ini kepada Ayah agar tidak membongkar rahasia ini. Apa dia mengatakan aku akan jadi gila bila tahu aku punya satu orang lagi saudara!?" Lucius menyipitkan mata ke arah Lance. Bersedekap, memaku mata tanpa ekspresi itu agar memandangnya.
"Saya hanya ingin yang terbaik untuk Anda ...."
Lucius tertawa kering." Apakah kau tahu seperti apa nada bicaramu itu!? Sejak kapan kau jadi ahli menentukan apakah itu baik atau tidak bagiku, Lance! Kau membuatku jadi merasa buruk. Kau tidak mendapatkan hakmu dalam keluarga Sanchez dan kau membuat diriku yang menjadi alasannya!"
"Tidak begitu, Tuan ... Saya sudah menganggap keluarga Sanchez adalah keluarga saya. Tanpa surat adopsi itupun, Saya merasa inilah keluarga saya. Saya tidak punya siapapun ketika Tuan Eloy membawa saya bersamanya. Sejak itu, hanya Sanchezlah keluarga saya ...." Lance menelan ludah, sedikit kernyitan mengubah wajahnya yang sedari tadi tanpa ekspresi.
Kemarahan Lucius tersulut dengan cepat. Ia mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Lance.
"Kalian dengar itu ... Keluarga katanya ... Hakh!! Kau pria bodoh!" Lucius maju dan melayangkan kepalan tangannya ke wajah Lance.
Lance yang tidak menyangka sama sekali terhempas dan jatuh ke lantai dengan pipi berdenyut. Matanya sempat merasa gelap setelah merasakan tinju di pipi atas dan pelipisnya itu.
"Kakak!" Reggie berteriak, menahan Lucius yang kembali maju dan bermaksud menarik Lance dan memukulnya lagi. Reggie mendekap Lucius dan menahan langkah kaki kakaknya itu.
"Kau dengar cara bicaramu itu! Keluarga katamu! Kau memanggilku Tuan! Kau memanggil ayahku Tuan! Kau seolah bawahan yang bekerja pada kami! Kaulah yang membuatnya jadi seperti itu!" teriak Lucius penuh emosi.
Mike dan Tuan Eloy sengaja tidak menghentikan kedua pria itu. Membiarkan mereka meluapkan semua isi hati.
"Kau sama sekali tidak menganggap kami keluargamu! Apa alasanmu menyimpannya sampai selama ini! Apa bagimu aku adalah orang yang sangat picik sampai mau menguasai semuanya! Ayahku sudah mengangkatmu sebagai putranya! Dan kau membuat akulah alasan sehingga kau tidak bisa menerima hakmu sebagai seorang Sanchez!"
Lance bangkit dan berdiri, mengelus pipinya yang sakit.
"Tidak begitu ... Sudah saya katakan, saya sudah menganggap keluarga Sanchez adalah keluarga saya sejak dulu, walaupun tanpa surat itu."
"Tapi surat itu ada! Tingkahmu tidak memperlihatkan kalau kau menganggap kami sebagai keluargamu! Dasar pecundang! Apa yang membuatmu takut sebenarnya !? Kau menjadikan aku kambing hitam agar tidak menggunakan nama Sanchez di belakang namamu!"
Rahang Lance tampak berkedut, pria itu tampak menahan emosi yang timbul akibat mendengar kata-kata Lucius.
"Saya bukan pecundang!"
"Oh ya!? Kalau begitu... kau adalah orang sombong yang menganggap kami keluarga Sanchez tidak pantas ada di ujung namamu! Kau benar-benar angkuh Lance. Angkuh, sombong, dingin dan ya... cocok sekali dengan wajahmu yang tanpa ekspresi itu..." Ejekan Lucius tampak menyinggung Lance. Tuan Eloy memutuskan ikut bicara.
"Berhentilah Lucius ...." ucap Eloy dengan nada sabar.
"Lance ... Kini Lucius sudah tahu. Kau lihat sendiri, dia marah karena tidak mengetahuinya lebih awal. Jadi apalagi alasanmu, Nak. Mulailah memanggilku Ayah," ucap Eloy.
Lance menelan ludah, menatap tuan Eloy dengan mata berkaca-kaca.
"Anda memang ayahku, Tuan. Walaupun aku tidak mengucapkannya dengan lantang. Aku merasa tidak pantas ... keluarga Sanchez begitu baik padaku, itu sudah cukup. Aku hanya seorang anak yatim piatu yang tidak tahu asal-usulnya, kalian menyambutku dengan sangat baik, memperlakukanku dengan penuh kasih sayang. Memberikan semua yang aku butuhkan. Aku tidak pantas mendapatkan lebih. Tidak ada yang dapat aku berikan untuk membalas jasa Anda."
"Kau salah ... Kaulah yang melakukannya untuk kami. Kau mendampingiku dan menjagaku hingga aku bisa bangkit dan tidak bunuh diri, Lance. Kau memegang tanganku dan membangunkanku ketika mimpi buruk terus datang. Kaulah yang memberikan semua yang aku butuhkan, karenamu aku dan ayah bisa melalui semuanya. Kau sudah memberikan semuanya ... semuanya ... karnamu kami semua tidak hancur. Kau juga membuat Reggie akhirnya tidak pergi."
Lucius bergerak, Regina melepas pelukannya hingga kakaknya itu bisa melangkah. Lucius mengulurkan tangan dan mendekap Lance.
"Terima kasih, Lance. Terima kasih ...." ucapan lirih yang disertai isakan itu membuat airmata Lance mengalir tanpa disadarinya.
"Sekarang lakukanlah permintaan Ayah ... Aku mohon." ucap Lucius sambil menghapus cairan bening yang menuruni pipinya.
Reggie terisak, lalu melangkah mendekat, mendekap keduanya dalam rengkuhan lengannya. Lance dan Lucius memisahkan diri, menarik dan memeluk Regina bersama-sama.
Tuan Eloy menunduk, menghapus lelehan air mata yang menuruni lereng keriput pipinya. Lalu ia menoleh ketika sebuah tangan mengulurkan tisu. Eloy mengambilnya dan menghapus pipinya lagi.
"Terima kasih, Nak," ucapnya pada Mike dengan tersenyum bahagia.
***********
From Author,
Panjang nehhhhh.......hehe, mo tamat loh.
like, love , komentar, vote ,bintang lima jangan lupa ya...
Terima kasih,
Salam, DIANAZ