
"Akhirnya kau datang! Aku sungguh butuh pendapatmu! Apakah mansion kita cukup besar untuk penyelenggaraan pestanya? Menu apa yang sebaiknya kita siapkan? Akan ada anak-anak nantinya, pertunjukan apa yang akan kita berikan? Badut? Sulap?"
Reggie tertawa renyah mendengar Amy yang langsung memberondongnya dengan pertanyaan. Evangeline yang juga ada di sana terkikik geli.
"Ayolah Amy sayang ... Aunty Reggie sudah datang, Jadi kita akan meninggalkannya bersama Erland." Eve mengedipkan matanya pada Amy. Sesuatu berkilau di mata itu ketika Eve memandang ke arah belakang mansion. Amy menangkapnya dan segera tersenyum lebar.
"Kau benar. Well ... Aunty, Erland kami percayakan padamu. Kami akan pergi sekarang mengambil beberapa pesanan." Dengan kata-kata itu kedua wanita itu meninggalkan Regina dengan Erland yang tengah menghamburkan mainannya di seluruh penjuru kamar anak. Reggie tertawa melihat keadaan kamar itu yang sudah seperti kapal karam.
"Erland? Maukah kau pergi bersama Bibi?" Reggie membujuk bocah itu agar mau pergi dengannya. Jadi Nanny akan mudah membereskan kamar itu.
Erland menatap dan mengangguk, seketika berlari membuang mainannya dan menghambur ke pelukan Reggie yang segera mengangkatnya.
"Erland mau Pie," rengeknya pada Reggie.
"Pie? Apakah Madam Koki membuat pie?"
Anggukan kepala kecil dengan mata biru yang mirip ibunya itu membuat Reggie melangkah turun dan pergi menuju dapur. Ia menemukan Madam koki yang segera saja tersenyum dan mengangsurkan sepiring pie jeruk. Kesibukan begitu terlihat di dapur besar itu. Akan ada pesta besar malam nanti di kediaman mansion utama Langton. Pesta ulang tahun Erland yang ke 2 , aula dan taman yang mengitari mansion telah dipersiapkan sedemikian rupa.
"Maafkan kami mengganggu pekerjaanmu, Madam." Reggie mengambil piring pie yang diulurkan oleh madam.
"Oh, aku memang sudah berjanji pada Tuan kecil untuk memberinya kue ini, Nona Reggie." Madam koki tersenyum sambil mengedipkan mata pada Erland yang mengulurkan tangan dan memegang pipinya.
Reggie berterima kasih dan membawa Erland dalam gendongannya di satu tangan dan tangan lain memegang piring.
Setelah sampai di belakang mansion, ia berhenti di teras besar dan lebar di sana. Ia menurunkan Erland dan duduk di undakan tangga. Hanya ada tiga undakan tangga menurun sebelum lantai kembali datar menuju area kolam renang.
"Kemarilah dan buka mulutmu." Reggie menunduk dan menyuapi Erland satu buah pie. Mereka duduk bersebelahan dan mengulurkan tangan saling menyuapi. Tidak menyadari sama sekali tatapan dalam dari mata abu-abu yang memandang mereka dari arah pinggir kolam renang.
Mike yang tengah berenang melihat Reggie berjalan keluar dari pintu mansion sambil menggendong Erland. Satu tangannya memegang sebuah piring. Ia berenang mendekat dan berhenti di pinggir kolam. Melipat tangannya dan memandang interaksi antara Regina dan Erland.
Erland lah yang menyadari pertama kali kalau paman Mikenya ada di pinggir kolam. Ia menjerit dan berlari mendekat.
"Uncle Mike!"
"Easy, My knight. Pelan-pelan ... jangan berlari." Mike segera mengangkat tubuhnya naik agar bisa menangkap bocah kecil itu. Pemandangan tubuhnya yang hanya mengenakan celana renang ketat terpampang jelas di bawah matahari sore.
Reggie mengumpat dalam hati. Ia menahan diri jangan sampai terlihat tengah meneguk air liur karena tatapan tajam mata abu-abu itu masih menghujam ke arahnya.
"Paman tidak mengajak Elan belenang ...." Suara Erland yang kadang masih sedikit cadel membuat Mike mengalihkan tatapannya pada bocah itu.
"Kau akan berulang tahun yang kedua malam nanti. Apakah kau sudah menyiapkan diri?" tanya Mike pada Erland.
Erland kecil menjawab dengan anggukan. Reggie melihat Mike mulai melangkah ke arahnya dengan menggendong Erland. Ia memaki ketika melirik tubuh basah dengan air yang mengalir menuruni otot-otot kencang yang dilewatinya, sampai ke kedua paha lalu betis sebelum luruh ke atas lantai.
Sial ... Laki-laki brengse*! Kenapa ia harus punya tubuh segagah itu?
"Boleh aku minta?" Mike mengendikkan dagunya ke arah piring pie. Reggie hanya diam, lalu mengangkat piring dan mendekatkannya pada Mike yang turut duduk di undakan tangga.
Erland segera mengambil satu dan menyuapkannya ke mulut Mike.
"Aaaaaa ...." Erland menirukan suara ibunya ketika sedang menyuapinya makan, lengkap dengan contoh membuka mulut lebar-lebar.
Reggie terkikik geli, membuat Mike akhirnya melirik ke arahnya. Sejak pertengkaran di ruang kerja Lucius yang berakhir dengan gelas yang pecah berkeping-keping saat itu, Mike tidak pernah lagi melihat dan bicara dengan gadis itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Mike sambil mengunyah pie.
"Aku baik. Terimakasih." Reggie hanya menjawab pendek. Ia ingin sekali pergi dari sana.
"Rambutmu tampak sudah panjang kembali ...." Mike terdengar canggung.
Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi dia terdengar canggung .
Reggie hanya bergumam dalam hati. Ia diam tidak menjawab. Menatap ke arah air kolam.
"Reggie ... lihat aku ...." Mike menarik dagu Reggie sehingga pandangan mata mereka bertatapan.
"Maafkan aku jika kata-kataku menyakiti perasaanmu waktu itu." Mike menatap mata hitam di hadapannya dengan penyesalan. Ia tahu ia telah sangat menyinggung perasaan Regina.
"Tak apa. Aku sudah memaafkanmu. Lagipula kau benar ... aku mengincar seorang pria tapi luluh di pelukan pria lain." Reggie tertawa masam.
"Tetap saja ... aku brengse* karna menciummu paksa dan malah mengatakan hal jahat." Mike memicingkan mata memandang senyum Regina.
"Sudahlah ... lupakan saja." Reggie kehilangan suaranya ketika tatapan mata abu-abu itu kembali menyihirnya.
"Aunty cudah punya hadiah untuk ulang tahunku nanti?" Pertanyaan Erland akhirnya mematahkan sihir itu. Reggie tersenyum masam. Pria ini masih memberikan efek itu padanya. Membuatnya terpesona, merasa mabuk dan tergila-gila, lalu membuat dirinya sendiri malu.
"Tentu saja Erland. Aunty akan membawa hadiahnya nanti malam."
"Apakah kau datang bersama Lucius?" Mike ingin menjemput Reggie. Ia telah membenahi semuanya dibantu oleh Derek. Rumah, nama dan juga melupakan masa kelam di masa lalu. Ia punya rencananya sendiri untuk masa depan dan memutuskan Regina harus terlibat di dalamnya.
"Ummm ... sepertinya tidak ... aku akan datang dengan seseorang." Reggie memaksa matanya melembut dan senyumnya mengembang ketika mengucapkan kata seseorang, seolah ia tengah membayangkan orang itu di otaknya.
"Siapa?" Mike memicingkan mata.
Reggie tersenyum lebar. "Tunggulah nanti malam. Tentu saja aku akan mengenalkannya padamu ... ayo Erland, Bibi akan masuk. Kau ikut?"
Kepala kecil itu mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Mike, lalu keduanya pergi dengan bergandengan tangan meninggalkan Mike yang menyipit dan menatap punggung Reggie dengan mata penuh emosi.
"Siapapun itu ... kali ini aku tidak akan melepaskanmu," ucap Mike geram.
**********
"Sebenarnya ada apa? Kau pulang dan memburuku untuk mencarikan seseorang. Waktunya sudah dekat, Gina. Pergi saja denganku."
Lucius tertawa menatap adiknya yang cemberut dan meringkuk di sudut sofa.
"Kau harus membantuku! Aku mengatakan pada Mike akan datang dengan seseorang dan akan mengenalkannya padanya!"
Lucius menaikkan kedua alisnya.
"Ah ... Regina Sanchez, kau berbohong ... omong besar." Lucius terkikik geli. Membuat Reggie makin cemberut.
"Seorang pria, Kak. Harus tampan! Harus gagah! harus mapan! Harus ...." Regina terdiam, lalu mulai menutup mukanya. "Ya Tuhan ... aku menjebak diriku sendiri."
Lucius terbahak. "Kau ingin membuatnya cemburu?"
Regina membuka tangannya dan mendengus keras.
"Dia membuatku sangat malu terakhir kali! Aku ingin memperlihatkan padanya! Pria tampan yang tertarik padaku juga banyak!"
Lucius terkekeh.
"Tidak perlu banyak, Gina ... tapi sangat memenuhi syarat dan terlihat sempurna," ucap Lucius dengan mata berbinar.
"Temanmu bukan? Hubungi dia, Kak! Katakan agar dia mau menemaniku ke pesta Erland."
Lucius makin geli melihat ekspresi adiknya, ia terus terkekeh hingga membuat Regina melemparkan bantalan sofa ke arahnya.
"pftttt ... tenanglah, Gina. Angelo akan menyelesaikan permasalahanmu itu. Sebaiknya kita pergi menemuinya sekarang. Biarkan ia mendandanimu sekaligus menyiapkan seorang aktor tampan yang akan menjadi pacarmu malam ini." Kilau mata hitam Lucius berkilat dengan cemerlang.
Ah ... akan menarik sekali malam ini. Aku tidak akan melewatkannya.
**********
From Author,
Jangan lupa Like, dan kasih komentar ya...bagi silent readers, boleh dong sekali-sekali ketik komentarnya di sini. Kasih pendapat kalian tentang kisah Mike and Reggie.
Terimakasih semuanya...
Salam, DIANAZ.