
Lucius menatap ke arah tiga pria yang tengah mengobrol santai di teras. Angin sepoi-sepoi meniup daun tumbuhan dalam pot besar yang ditata Regina di dekat kursi-kursi yang berjejer di pinggir teras. Ia menarik sebuah kursi dan duduk, lalu menatap ke arah ayahnya.
"Ayah ingin bicara denganku?" tanya Lucius langsung.
"Benar. Apakah Lance sudah memberitahumu?" Eloy balik bertanya pada putranya. Lucius menarik nafas lega dan segera mengangguk. Merasa lolos dari pembicaraan yang tidak ia inginkan.
"Tentang perkebunan anggur?"
Eloy mengangguk dan menarik nafas panjang. " Tempat itu terbengkalai. Pengusaha muda yang bersebelahan dengan tanah kita itu menghubungiku lewat pengacara. Memberikan penawaran untuk membeli perkebunan itu."
"Sudah bertahun-tahun tempat itu tidak di urus dengan benar, Ayah. Wajar saja jika pemilik perkebunan di sebelahnya tertarik, aku yakin ia bisa mengurusnya dengan lebih baik."
"Jadi kau setuju untuk menerima penawarannya?"
"Entahlah, semua kuserahkan padamu Ayah ...."
Eloy Sanchez menarik nafas panjang, "Suami istri pengurus perkebunan itu sudah mulai menua. Entah dimana mereka bisa menemukan pekerjaan lain. Lalu ada sedikit pekerja yang masih kupertahankan di sana Lucius. Tanah itu lumayan luas."
"Kita bisa memberikan mereka uang pensiun," ucap Lucius memberi solusi pada ayahnya. Namun pria tua itu nampak keberatan.
"Ayah ... apakah perkebunan ini punya nilai tersendiri untukmu? kenangan mungkin? sesuatu yang membuatmu agak berat untuk menjualnya." Mike bertanya pada ayah mertuanya yang terlihat mengangguk setelah mendengar pertanyaannya.
"Kau benar, saat itu perkebunan ini sangat menghasilkan. Aku mendapat keuntungan dan akhirnya bisa mengembangkan bisnis ke bidang yang aku sukai. Rasanya sedih untuk melepasnya ...."
Ucapan sentimentil ayahnya membuat Lucius terdiam, secara tidak langsung berarti ayahnya keberatan tanah itu dijual.
"Kurasa akan lebih baik kita memulihkan perkebunan itu, Ayah? jadi pengusaha muda di sebelahnya tidak lagi sakit mata melihat tanah terbengkalai di sebelah perkebunannya yang subur. Mungkin saja aku malah bisa membuatnya mau bekerja sama," ucap Lucius kemudian. Eloy Sanchez tampak antusias dengan ide itu.
"Kurasa itu lebih baik Lucius ... mengolahnya kembali ...." ucap Eloy setuju.
"Nah, kau dengar itu Lance? Kurasa kau mulai harus mengurus semua prosesnya dari sekarang," ucap Lucius pada Lance yang sedari tadi hanya menyimak. Lance mengangguk perlahan.
"Baik, Tuan," jawab Lance .
Lucius merasa lega karena ayahnya ternyata tidak menyinggung masalah menikah, tapi hanya ingin membicarakan perihal tawaran seorang pengusaha yang memiliki perkebunan bersebelahan dengan tanah mereka yang terbengkalai.
"Jadi kapan kau akan mulai berkencan, Lucius?" tanya Eloy kemudian.
Mike menyerigai lebar mendengar pertanyaan ayah mertuanya. Ia tahu Lucius mulai alergi bila ada yang menanyakan padanya perihal menikah. Lance hanya menunduk, seolah mengalihkan wajah agar senyumnya tidak terlihat.
"Jangan tanya lagi, Ayah."
"Kenapa? umurmu sudah lebih dari cukup!"
"Aku tahu ... tapi nanti saja, Ayah."
"Kapan Lucius? setidaknya bawa dulu gadis itu pada kami."
Lucius menarik nafas panjang, terlalu berlebihan bila berharap ia akan bebas begitu saja dari ayahnya.
"Nanti, Ayah. Jika aku sudah bertemu dengannya."
Kali ini Eloy yang menarik nafas panjang. Wajah muram Eloy membuat Lucius ingin segera menghiburnya.
"Tapi kau boleh mencari seorang gadis untuk Lance dulu, Ayah." Ucapan Lucius membuat Lance segera mendongak, tangan kanannya itu menyipit memandangnya.
"Apa? " Lucius tergelak menatap Lance. " Kau lebih tua setahun di atasku Lance. Jika harus menikah, maka kau dulu baru aku menyusul," ujar Lucius tergelak.
Mike ikut tergelak memandang Lance yang agak pucat dan terdiam.
"Kurasa kali ini Lucius benar, Ayah. Jangan hanya fokus pada Lucius. Lucius terlihat sering berkencan, teman wanitanya juga banyak walaupun belum ada yang bisa menggetarkan hatinya yang dingin itu. Nah, bagaimana denganmu Lance? apa ada gadis yang sudah mengisi hatimu tanpa kami ketahui? kau hanya sibuk dengan pekerjaan. Perlukah ayah mengatur kencan untukmu?"
"Ho ho ho ... tidak bisa begitu, Lance. Kau akan tetap membujang bila kami menyerahkan keputusan tetap di tanganmu." ujar Lucius memprovokasi ayahnya, dan pria tua itu mengangguk berulang kali.
"Kalian benar. Bukan Lucius saja yang butuh kencan. Kau juga Lance," ujar Eloy setuju.
Lance mengepalkan tangannya, menatap tajam ke arah Mike lalu Lucius. Dua pria di hadapannya terkekeh bersamaan. Membuat Lance heran, kenapa kali ini dua pria itu memilih bersekutu ketika rencana Tuan Eloy untuk membuat Lucius menikah malah mengikut sertakan dirinya.
"Sungguh, Tuan Eloy. Jangan merepotkan dan menambah beban fikiran anda. Aku baik-baik saja dan tidak butuh kencan," ucap Lance cepat-cepat.
"Kalian akan menua pada akhirnya, lalu para gadis akan berfikir dua kali untuk melirik pria tua. Jadi carilah istri, mumpung kalian masih muda dan tampan."
Lucius dan Mike menyerigai makin lebar ketika Eloy Sanchez menepuk-nepuk bahu Lance.
"Tenang saja, Anakku. Tentu saja aku tidak akan memilih gadis secara sembarangan. Kau orang terbaik kami. Kau patut mendapatkan istri cantik yang baik hati dan penuh cinta," ujar Eloy.
Lance menelan ludah mendengar perkataan Tuannya Eloy Sanchez. Ia kembali menyipit memandang Lucius yang terkekeh geli.
Anda mencoba mengalihkan rencana orang-orang ini pada saya, Tuan Lucius. Tapi saya tidak akan berdiam diri ... Lance berkata dalam hatinya sambil menatap tajam bergantian dua pria yang tiada henti terkekeh di hadapannya. Lucius dan juga Mike.
"Anda tahu Cecilia Damario kerap menatap anda ketika kita menghadiri pesta yang diadakan oleh keluarga besar klan Langton, ataupun keluarga Sanchez bukan, Tuan Lucius?" Lance menancapkan senjatanya di hadapan Lucius.
Lucius terdiam. Kali ini ia yang menyipit memandang ke arah Lance.
"Apa maksudmu, Lance?" tanya Eloy penasaran. Tentu saja ia mengenal Cecilia Damario. Ia lebih mengenal lagi ayah gadis itu, Frank Damario.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, Tuan. Tapi kurasa Cecilia Damario sangat pantas. Gadis itu sering tertangkap menatap Tuan Lucius saat berada di pesta-pesta yang kita hadiri," ucap Lance kalem, ia merasa geli melihat Lucius yang mulai menggeretakkan gerahamnya.
"Jangan berkata yang tidak-tidak ,Lance." Lucius menggeram pada Lance sambil menatap dengan mata berkilat.
"Ah, benarkah? kalau begitu aku akan mulai memperhatikan juga, Lance. Putri Frank memang sangat cantik dengan matanya yang bulat besar, ia seperti boneka barbie ... Aku tidak menyadari gadis itu punya tatapan seperti itu pada Lucius." Eloy tidak menyadari Lucius dan Lance berperang lewat tatapan mata. Lucius menatap tajam Lance yang berusaha mengumpankan seorang gadis pada ayahnya untuk dijadikan target perjodohan. Lance menatap tajam Lucius yang berusaha mengalihkan rencana yang di arahkan pada dirinya agar beralih pada Lance yang tidak berminat sama sekali.
Mike yang bertopang dagu melirik ketiga pria itu bergantian. Ia tertawa di dalam hati ketika mata abu-abunya singgah di wajah Lance.
Kau sangat tahu bahwa Cecilia Damario kerap menatap Lucius. Orang lain tidak ada yang menyadarinya kecuali dirimu, Lance. Bukankah itu berarti ... Secara tidak langsung kau mengakui bahwa kau kerap memperhatikan Cecilia Damario? jadi kau menyadari apa yang tidak disadari oleh orang lain. Ini menarik ....
Mike menatap ketiga pria itu sebelum akhirnya tawa geli keluar dari bibirnya. Membuat tiga pria di hadapannya menoleh dan berucap.
"Kenapa kau tertawa,Mike?" tanya Eloy.
"Apa yang lucu!" sungut Lucius.
"Kenapa anda tertawa, Tuan?" tanya Lance.
Semuanya berbarengan, membuat tawa Mike akhirnya makin menjadi.
"Tidak ... tidak ada ... teruskan sa ... ja." Mike terus terkekeh geli.
Mike berhenti ketika merasakan tangan Reggie di bahunya dan kecupan singkat di pipinya.
"Apa yang begitu lucu, Sayang? hingga kau tertawa sangat geli," tanya Regina pada suaminya yang balik mengecup pipinya dengan sayang.
**********
Ringan ajah....mulai bibit bucinπππ
Jangan lupa like, love ,fav, bintang lima dan komentar untuk vitamin author ya my Readers...
Terimakasih semuanya....
Salam, DIANAZ.