Love Seduction

Love Seduction
Chapter 6. Engagement plan 3



Cecilia keluar dari ruangan perpustakaan diapit Derek dan juga Lance. Jas Lucius sudah tersampir di bahunya, menutup gaunnya yang robek di bagian bahu. Tidak ada yang mengizinkan ia ikut bicara, berulang kali ia berusaha menyela pembicaraan para pria itu, namun hasil akhirnya adalah ia di suruh keluar. Derek dan Lance yang memastikan ia benar-benar dibawa menjauh dari ruangan perpustakaan.


"Cecil ... Ada apa Nak?" nada khawatir dari suara ibunya membuat pertahanan Cecil jebol. Ia mencebik.


"Mom ... akulah yang bersalah, aku yang telah menarik Lucius, katakan pada ayah itu bukan salah Lucius, Mom."


Airmata Cecilia mengalir, ia terisak karena situasi yang telah membuat semua orang salah paham.


"Stttt ... Cecil Sayang, tenangkan dirimu, sebenarnya ada apa?" Amy mengelus rambut gadis itu dengan lembut.


Cecilia memeluk ibunya, masih saja terus menangis. Semua wanita saling berpandangan, mereka mengira-ngira apa yang telah terjadi.


"Ada apa sebenarnya Lance?" Reggie akhirnya bertanya pada Lance.


"Tuan Lucius dan Nona Cecil ...." Lance bingung memilih kata-kata untuk menyampaikan apa yang terjadi. Ia kehilangan suara tiba-tiba.


"Lucius dan Cecilia ditemukan di lantai ruang perpustakaan dalam posisi yang sedikit aneh ...." Derek mencoba menyampaikan apa yang telah terjadi tanpa bisa menyembunyikan nada geli di suaranya.


"Aneh bagaimana, Derek?" Istri Paman Noel bertanya tidak sabar.


"Itu bukan salah Lucius, Mom. Aku yang telah menariknya, sehingga kami berakhir di lantai," ucap Cecilia sambil terisak. Gadis itu tidak sadar ucapannya malah membuat para wanita itu salah paham.


"Nona Cecil ditemukan tertindih oleh Tuan Lucius di lantai perpustakaan, Nyonya Marlene. Baju Nona Cecil robek hingga bahu dan dadanya telanjang," ucap Lance setelah berhasil menemukan suaranya kembali.


"Kejadiannya tidak begitu, Bodoh!!" Cecilia berteriak ke arah Lance dengan airmata berurai.


"Sttt ... tenang, Sayang. Ayahmu akan menyelesaikannya." Nyonya Marlene menepuk-nepuk pundak putrinya yang terlihat marah.


"Ya, Sayang. Semuanya akan berakhir baik. Aku yakin Lucius sangat menyukaimu. Makanya dia melakukannya," ucap Nyonya Stefano.


"Ya Tuhan ... kenapa tidak ada yang mendengarkan aku! kejadiannya tidak begitu! Akulah yang salah! Aku yang menariknya!" teriak Cecil histeris.


"Sttt ... tenanglah, tenang ...." bisik Amy berusaha menenangkan. Derek terkekeh, membuat Amy memelototinya.


"Apa yang lucu, Derek?" tanya Amy.


"Tidak ada, Sweety." Derek langsung mengunci mulutnya, ketika melihat istrinya yang cemberut.


"Mom ... Aku mau pulang," ucap Cecilia lirih di antara isakannya.


"Tapi sayang ... Ayahmu masih bicara dengan Tuan Eloy. Bagaimana mungkin kita meninggalkannya," ujar Nyonya Marlene.


"Lance ... bisakah kau saja yang mengantar Cecil pulang? Bibi Marlene akan menunggu Paman Damario selesai bicara dengan ayah." Reggie meminta Lance membantu.


"Baik, Nyonya Reggie ..." lance menjawab dan menganggukkan kepalanya.


"Ada apa ini?" tanya Paman Noel yang baru saja masuk dari teras bersama Paman Stefano dan juga Mike.


Derek memberi tanda dengan tangannya. Membuat tiga pria yang baru masuk itu berhenti dan memandang ke arah Cecilia yang tengah menangis.


"Pergilah Lance. Antarkan Cecilia pulang," ucap Reggie.


Lance mengangguk dan segera mengulurkan tangan tanda mempersilakan untuk melangkah ke arah Cecilia. Gadis itu memeluk ibunya sekali lagi dan berpamitan.


"Aku pulang, Mom. Katakan pada Ayah, lucius sama sekali tidak salah. Kejadiannya tidak seperti yang Ayah bayangkan. Kami hanya terpeleset."


Nyonya Marlene mengangguk berulang kali untuk menenangkan putrinya.


"Lucius pasti juga sudah menjelaskan pada Ayahmu di dalam sana, Sayang. Sekarang berhentilah menangis dan pulanglah. Tenangkan dirimu," ucap Marlene menenangkan. Dengan anggukan terakhir, Cecilia melangkah bersama Lance, keluar dari mansion dengan jas Lucius masih tersampir di bahunya.


**********


"Apa begitu buruk bila kejadian ini membuatmu akhirnya bersama Tuan Lucius? "Lance bertanya dengan nada suara yang ia buat selembut mungkin. Menjaga agar gadis yang duduk di sebelahnya ini tidak tersinggung lagi oleh kata-katanya seperti dulu.


"Tidak, tidak buruk sama sekali. Tapi ...." Cecilia berhenti.


"Tapi apa Nona Cecilia? kalian pasangan yang amat serasi. Aku bisa meyakinkanmu, Tuan Lucius orang yang baik, dia pria yang sangat penyayang, hatinya penuh dengan cinta dan kasih sayang. Ia akan melindungi dan menjagamu, dia tidak akan mengecewakanmu."


Cecilia terdiam. Gadis itu menoleh ke arah kaca dan memandang ke arah luar, Lance tidak dapat mengintip ekspresi gadis itu.


"Kurasa kau juga menyukai Tuan Lucius bukan? kebersamaan yang kalian rajut bisa membuat cinta akhirnya tumbuh ... kenapa kau tidak mencobanya saja?"


"Terlepas kejadian tadi memang tidak seperti yang terlihat, andai benar kau terpeleset dan menarik Tuan Lucius sehingga kalian terjatuh bersamaan, apakah kau benar-benar tidak mau mencoba membina hubungan serius dengannya? " tanya Lance masih dengan nada lembut yang membujuk.


"Lance ... boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Cecilia tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela mobil.


"Tentu ,Nona ...."


"Apa kau pernah jatuh cinta?"


Hening. Keheningan hadir selama beberapa menit dan terus berlanjut. Membuat Cecilia yakin Lance tidak akan menjawab pertanyaannya.


"Aku hanya ingin mengatakan ... Lucius berhak menerima yang terbaik, perasaan jatuh cinta pada seorang gadis yang benar-benar membuat hidupnya berbahagia, cinta yang bersinar dari dalam hati dan terpancar lewat matanya untuk gadis itu. Dia tidak boleh menerima kurang dari itu."


Lance terdiam.


"Kurasa aku tidak perlu menjelaskan kepadamu bagaimana perasaan kami terhadap satu sama lain. Kau mengikutinya selama bertahun-tahun. Aku yakin kau dapat melihat ...."


Lance mengerutkan kening mendengar ucapan Cecilia.


"Kami saling menyukai, tapi aku yakin kau tahu dalam kapasitas apa ... apakah perasaan suka hanya sebagai seorang teman ini cukup untuk Tuanmu?"


Cecilia melirik Lance yang diam membisu.


"Hidup bersama seorang gadis yang ia sayangi sebagai seorang teman. Padahal di luar sana, cinta sejatinya masih menunggunya ...."


Ketika Lance masih diam, Cecilia tahu Lance setuju pada ucapannya.


"Apapun keputusan para orang tua nanti, tugasmu adalah memastikan Lucius tidak hanya mengikuti arus dan mengambil keputusan yang salah. Demi Lucius ... aku tidak ingin kami sama-sama menyesal ... Aku tidak akan banyak membantu, kau lihat sendiri tadi, aku tidak akan di dengarkan. Semua sanggahan dan keberatanku nanti tidak akan dianggap. Ayahku akan segera mengambil keputusan."


Lance mencengkeram kemudi dengan fikiran berputar. Gadis ini membuat fikirannya jadi bercabang. Bila nanti karena kejadian ini keduanya dipaksa bertunangan dan menikah, apakah benar itu yang terbaik untuk Tuan Lucius? Lance sangat ragu akan ada cinta yang membuncah antara keduanya, karena ia memang dapat melihat jika interaksi keduanya hanya layaknya teman akrab.


Tapi bila memang mereka akhirnya bersama, bukankah mereka bisa berharap cinta itu datang, tumbuh dan bersemi?


Lance menjadi bimbang, apa yang harus ia lakukan nanti.


Saat tiba di mansion keluarga Damario, Lance turun dan membukakan pintu untuk Cecilia.


"Terimakasih Lance. Sudah mengantarku pulang ...." ucap Cecilia lirih.


"Ini ... kembalikan ini pada Lucius." Cecilia membuka jas yang tersampir di bahunya dan memberikannya pada Lance.


Tangan Lance mengambil Jas yang Cecilia berikan, Namun matanya tertumbuk pada bahu putih telanjang yang kini terbuka milik Cecilia.


"Fikirkan yang aku katakan tadi. Jika semua berada di luar kendali, hanya kau yang dapat membantunya. Dan itu juga akan menjadi bantuan untukku," Cecil menepuk lengan Lance dan mendongak, menangkap mata Lance dan menguncinya.


"Jangan biarkan Lucius kehilangan kesempatannya untuk menemukan cinta sejatinya, Lance." ujar Cecilia. Keduanya bertatapan, lama dan tanpa ada yang berniat memutus kontak mata itu.


Desiran aneh yang muncul di hati Cecilia kemudian membuat gadis itu melangkah mundur berbarengan dengan pintu mansion yang terbuka lebar.


"Anda sudah pulang, Nona?" suara kepala pelayan yang menegurnya membuat Cecilia akhirnya tersadar dan berucap.


"Aku akan masuk. Sekali lagi terimakasih sudah mengantarku pulang ...."


Lalu gadis itu berlalu, masuk ke dalam mansion. Meninggalkan Lance yang menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu,


Kenapa jantungku berdetak lebih cepat ketika memandang bahunya yang telanjang, seperti belum pernah melihat bahu seorang gadis saja sebelumnya... Bodoh!! Hei jantung konyol, kenapa detakmu tidak beraturan hanya karena ia menyentuh lenganmu dan menatap lurus langsung ke matamu.


**********


From Author,


Tak bosan bosannya Author nyinyirin jangan lupa like, love ,komentar, bintang5 dan Vote ya pembaca🙏🙏


Jadi vitamin buat author untuk lebih semangat lagi menulis.


Terimakasih....


Salam, DIANAZ.