
"Bagaimana caranya kalian bisa pergi dari sana Regina?" Pertanyaan Mike membuat isak Reggie kembali. Namun ia masih mencoba berbicara di antara suara tangisnya. Membuat Mike dan orang yang mendengarkannya harus mencernanya lebih dulu.
"Dia tahu, Mike ... wanita itu tahu ... dia curiga karena aku sudah ti--tidak lagi terlalu sering menangis atau merengek, dia juga melihat luka-luka ibu lebih cepat sembuh dari biasanya karena Lucius se--selalu memberikan obat pada ibu ...."
Reggie menelan ludah, bicara terbata diantara isak tangisnya, lalu ia teringat rasa bersalah ibunya karena memilih mengkhianati Lucius.
"Ibu merasakan kalau Lucius sebentar lagi akan ketahuan ... jadi ia meminta Lucius agar mencari cara agar membebaskan kami dan mencuri kunci sel. Lucius berjanji akan melakukannya dengan satu syarat ...." Lalu ucapan Regina terputus. Ia kembali menangis sangat keras. Membuat Mike harus memeluk tubuhnya yang berguncang..
"Aku masih mengingatnya, Mike ... pandangan mata dan gelengan dari kepala kakakku untuk terakhir kalinya. Aku ... aku dan Ib--Ibu ... kami ... kami ...."
"Sshhhh , Regina, Regina, tenangkan dirimu, pelan-pelan. Sshhhhh ... atur napasmu." Mike kembali menyeka aliran air mata Regina.
"Ia berjanji membebaskan kami jika Ibu mau membawanya ikut serta. Ia sudah tidak tahan hidup di mansion itu. Lucius ingin ibu mengantarkannya kepada Ayah ... dan ... dan ... dan ibu menyetujuinya, Mike. Ibu setuju dan lalu--lalu ...." Regina sudah hampir histeris. Matanya terbelalak sambil bercerita.
Mike diam dan hanya memeluk Regina. Membiarkan gadis itu menumpahkan kata-katanya lewat isak tangis dan ucapan yang tidak beraturan. Secara garis besarnya mereka dapat menangkap isi cerita itu, tapi Reggie harus menyelesaikannya.
"Lalu apa Regina ... lanjutkan."
"Lalu Lucius mendapatkan kunci itu di satu malam, ia membebaskan kami, bahkan membawakan uang yang ia curi untuk perbekalan kami pergi melarikan diri, lalu ibu... ibu ...." Regina mencengkeram kemeja Mike dan menyembunyikan wajahnya di sana. Suaranya sangat pilu dan sarat kepedihan, diselingi isak tangis yang makin memilukan.
"Ibu ... Ibu mendorong Lucius masuk ke dalam sel, lalu menguncinya di sana. Lucius hanya diam seperti patung ... Ibuku lalu bersimpuh di lantai penjara, ibu bersujud di depan Lucius. Ibu ... Ibu mengingkari janjinya. Ibu mengatakan tidak dapat membawa Lucius kepada ayah, karena ibu tidak akan pernah kembali kepada Ayah, ia tidak akan pergi menemui Ayah dan ibu tidak dapat membawa Lucius karena wanita gila yang selalu menyiksanya itu akan kembali memburunya karena melarikan putranya. Ia memohon maaf, ia bersimpuh menangis dengan hati yang hancur. Kakakku tidak mengatakan apapun Mike. Kakakku berdiam diri di sana dan tidak mengatakan apapun ...." Reggie membenturkan keningnya berulang kali ke dada Mike sambil menarik kemejanya.
"Ibu memohon pada Lucius agar mengerti ... Ibu mengatakan ibu Lucius tidak akan melakukan tindakan apapun pada putranya. Lagipula kesempatan ibu untuk menghilang jika ia membawa Kakak akan semakin kecil. Ia takut ia tidak menemukan sahabatnya sesuai rencana dan ... dan mereka akan mencari kami jika pewaris satu-satunya keluarga Sanchez dan Montague menghilang. Sehingga kesempatan kami mencari Bibi Isabella akan musnah."
Mike memejamkan matanya. Reggie menanggung beban rasa bersalah ibunya hingga saat ini.
"Dia ... dia tidak mengatakan apapun. Dia menatap dengan wajah kosong sambil menggelengkan kepala. Matanya seperti tidak punya jiwa ... aku ... aku bahkan tidak tahu apakah ia menyadari ketika kami pergi dan meninggalkannya di sana."
"Ya Tuhan." Derek menghela napas.
Mike memeluk Reggie yang masih terisak.
"Sshhhh ...," ucapnya berulangkali sambil mengelus rambut gadis itu.
Lance baru memahami sekarang, kenapa tuannya menyimpan rasa marah yang sangat besar pada Marinna. Lance sendiri tidak bisa melupakan kenangan Ketika ia datang bersama tuan Eloy ke Mansion Montague.
Tuan Eloy datang untuk mempertemukannya dengan Tuan Lucius. Ia diminta untuk tinggal di Mansion Montague. Tuan Eloy mengatakan Lucius mungkin membutuhkan teman. Lucius jarang keluar dan ibunya mengatakan ia lebih suka belajar di mansion. Tuan Eloy yang saat itu sangat sibuk mengembangkan bisnisnya jarang pulang dan mengunjungi putranya sehingga tidak tahu bagaimana cara istrinya mendidik putranya.
Tuan Eloy lalu menceraikan wanita itu dan membawa putranya pergi dari kegilaan ibunya. Namun ketika luka di seluruh tubuh tuannya mulai sembuh, Luka di hati tuannya tidak pernah sembuh sama sekali. Trauma itu masih menyelubunginya hingga sekarang. Mencekiknya dan tidak membiarkan hidupnya tenang. Lance menyeka matanya yang tidak disadarinya telah berair.
"Tenanglah, Regina. Kita akan membicarakan hal ini dengan Lucius. Sekarang kita hanya bisa memberikan waktu untuknya agar tenang dan menerima kenyataan atas kehadiranmu." Mike mencium puncak kepala Reggie.
Derek menarik napas panjang. "Sekarang sebaiknya kita pulang dulu Reggie. Amy menunggumu. Ia tidak bisa berhenti khawatir."
"Derek benar. Kita akan mendatangi Lucius beberapa hari lagi. Mungkin saat itu ia sudah bisa di ajak bicara ...."
"Ya. Sepertinya itulah yang terbaik saat ini." Derek kemudian berdiri, menunggu Mike ikut berdiri sambil menyangga Reggie yang masih terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa.
Mereka menoleh ke arah Lance untuk berpamitan dan terkejut. Lance sudah bersimpuh dengan kedua tangan menapak di atas lantai mansion. Kepalanya di tundukkan seperti posisi orang yang bersujud.
Elina yang berdiri tak jauh darinya tersentak dan mundur beberapa langkah. Ia melotot melihat tangan kanan tuannya itu bersujud di depan tamu-tamunya.
"Tuan Lance," ujarnya Elina lirih.
"Saya memohon kepada Anda, Nona. Jangan pergi. Tuan Lucius membutuhkan Anda. Dia akan mengamuk ketika terbangun dan mengetahui anda pergi lagi meninggalkannya. Saya mohon ... tolonglah ...." Lance berucap dengan suara serak dan menunduk dalam. Memohon sepenuh hati demi tuannya.
Reggie memandang Lance yang bersimpuh di hadapan mereka dan menundukkan kepala. Tidak menyangka Lance akan memohon sampai sedemikian rupa demi Lucius.
"Lance ...." Reggie kehilangan kata-kata.
Lalu sedetik kemudian Reggie berpaling dan memandang wajah Mike dengan raut wajah penuh tekad. Mike langsung menggeleng melihat ekspresi itu.
"Jangan pernah mencoba memikirkannya, Regina. Aku melarangmu," desis Mike lirih.
**********
From Author,
Hai semua...terimakasih masih bersama Mike dan Reggie ya.....Mohon VOTE untuk mereka ya para pembaca. Tidak lupa like, komentar dan favorite serta bintang limanya ya..
Terimakasih....
Salam, DIANAZ