
Ally berdiri dan mulai membereskan piring-piring bekas makan mereka.
"Tinggalkan itu. Pelayan yang akan mengerjakannya," ucap Rico.
Alison berhenti, lalu kembali duduk. Alan segera turun dari kursinya dan segera meminta izin untuk menonton televisi.
"Bolehkah aku menonton TV?" tanyanya pada Rico.
"Pergilah, tapi berhentilah ketika Kakakmu sudah menyuruhmu untuk tidur," perintahnya lagi.
Alan mengangguk lalu berbalik dan berlari meninggalkan mereka. Ally sangat iri pada adiknya, seandainya ia bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa seperti Alan yang memang belum mengerti apapun.
"Aku mau bicara ... Ikuti aku," ucap Rico. Lalu pria itu berjalan lebih dulu, dengan berat Ally bangkit dan berjalan pelan mengikutinya.
Mereka tiba di luar mansion, Memandang ke arah Luar, Ally dapat melihat lahan keluarga Costra yang membentang di bawah kegelapan langit malam.
"Apa yang telah dilakukan Carloz padamu?" tanya Rico.
Ally masih berdiri dengan tangan terjalin di depan. Sedang Rico sudah duduk di sebuah kursi di depan meja bulat yang ada di beranda luar itu.
"Duduklah, Alison. Aku tidak menggigit. Aku hanya ingin bertanya," ucap Rico.
Ally segera duduk di seberang Rico. memangku kedua tangannya dan menatap pria itu. Mereka saling menatap, hingga akhirnya satu senyum kecil tersungging di bibir Rico.
"Apa kau menatap Sanchez seperti itu juga?" tanyanya.
Ally berkedip, ia hanya menatap dan menunggu Rico bicara, tidak menyadari mata bulatnya membuat Rico malah menanyakan itu.
"Apa maksudmu?" tanya Ally
"Kau tahu Sanchez bukan? Pemilik tanah perkebunan tempat Ester dan Pabio tinggal." Rico sengaja tidak menjawab pertanyaan Ally.
"Lucius mengatakan ia ditugaskan melihat tanah itu oleh Tuannya, Lance ." ucap Ally dengan kening berkerut.
"Lance?" tanya Rico.
"Ya ... Bukankah itu nama pemiliknya?"
"Apakah itu yang di katakan Lucius padamu?"
Ally mengangguk dengan wajah polos, lalu ia mengernyit ketika melihat Rico mulai tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Ally dengan nada kesal.
"Ally Adair ... Lucius membohongimu ... Dialah pemilik tanah itu! Lance adalah nama orang kepercayaannya yang aku hubungi pertama kali saat aku melakukan penawaran atas tanahnya."
Ally mengernyit,"maksudmu ...." ucapnya terputus.
"Orang yang tinggal bersamamu di rumah Ester dan Pabio itu adalah pemilik tanah perkebunan yang ingin ku beli itu. Tanah Sanchez. Dia adalah Lucius Sanchez putra dari Eloy Sanchez. dan setahuku, Eloy Sanchez hanya punya satu putra ..."
Ally terkejut, terdiam lama mendengar penuturan Rico. Hatinya tanpa bisa ditahan kembali terasa sakit. "Lu ... Lucius berbohong?" tanyanya pelan.
"Ya ... Jangan tanya Aku mengapa ...." ucap Rico.
Rico menatap Ally yang mengerutkan keningnya.
"Yang ingin Aku jelaskan padamu adalah ... Apa yang kau lihat dan dengar dari Lucius Sanchez tidak semuanya benar ... Sama juga dengan apa yang kau lihat dan dengar tentang Aku."
Ally mengangkat tatapannya, menatap Rico yang juga tengah menatapnya.
"Aku akan bertanya lagi ... Apa yang diceritakan Carloz tentang aku?" tanya Rico.
Ally menarik nafas panjang, Rico sepertinya tidak mempunyai niat buruk terhadapnya dan Alan. Sejauh ini mereka diperlakukan dengan sangat baik.
"Dia mengatakan kapan waktu penyerahan itu?"
Ally menggeleng.
"Dia mengatakan kau akan dijadikan apa nantinya ketika diserahkan padaku?"
Pipi gadis itu menggembung ketika mendengar pertanyaan Rico. Rico menaikkan alisnya, tetap menunggu pertanyaannya dijawab oleh gadis yang cemberut itu.
"Dari cara Carloz mengatakannya sepertinya aku akan di serahkan untuk dijadikan wanitamu ... simpanan mungkin ...." rutuk Ally.
Rico tertawa terbahak mendengar ucapan itu.
"Lalu kau kabur karena tidak mau? Bagaimana kalau kujadikan istri, mau?" tanyanya dengan nada menggoda.
Ally mencibir," maaf, Aku tidak tertarik!"
Jawaban Ally membuat Rico kembali tertawa.
"Karena itu kau kabur?" tanya Rico lagi.
Ally mengangguk." Bukan itu saja ... Dia mulai menggerayangiku, memaksakan ciumannya dan merabaku. Aku tidak mau hidup dalam ketakutan setiap hari."
Pandangan Rico menajam," Dia mencoba memperkosamu?" tanyanya.
Ally mengangguk," Suatu hari saat ia mabuk, ia pernah hampir melakukannya. Lalu ia memarahi dirinya sendiri dan mengatakan kau akan menghukumnya sangat berat karena telah merusak dan mengambil milikmu. Kurasa ketakutannya menerima hukuman darimu ketika menyerahkan aku dalam keadaan tidak murni lagi menyebabkan ia belum merusakku."
Rico mengetatkan gerahamnya mendengar cerita Ally. Seharusnya ia mengawasi pria itu lebih seksama.
"Tapi Aku sudah tidak mau mempertaruhkan nasibku lagi. Siapa yang tahu apa yang akan ia lakukan ketika ia mabuk, dan mengenyampingkan rasa takutnya atas ancamanmu. Ia juga semakin sering memukulku dan Alan ... Jadi aku memilih pergi. Aku melarikan diri ...."
"Hanya berdua Alan? Siapa yang membantumu?"
"Tidak ada ... Aku membawa Alan dan pergi sendiri. Aku mencuri uang Carloz dan mengambil cincin emas ibuku yang tersisa dari semua perhiasannya yang dulu sering ia kenakan."
"Kudengar kau juga bekerja di perkebunan? Kemana gajimu?"
"Ya ... Aku bekerja ... upahku diambil Carloz ... untuk membeli minumannya," ucap Ally kesal.
Rico menggeretakkan gerahamnya dengan sangat geram.
"Sialan kau Carloz!" teriaknya sambil meninju meja di depannya.
Ally mengerutkan dahinya melihat sikap Rico. Lalu pria itu menatapnya.
"Setiap bulan ia mengambil uangmu pada asistenku. Kukira ia pakai dengan benar untuk mengurusmu!"
Ally mengernyit. Makin tidak mengerti dengan ucapan Rico. Uang? uang apa?
**********
From Author,
Author mohon maaf up tidak tentu ya semua🙏🙏
Author akan tetap usahakan up disela kesibukan pekerjaan thor akhir-akhir ini. Libur Corona ini Thor gak libur ... 😢😢😢
Smg kita semua selalu dalam lindungan-Nya ... smg wabah ini cepat berlalu, Aamiin . Stay At Home ya semua. putus rantai penularan Covid 19.
Terima kasih semua...
Salam, DIANAZ.