
Amy Langton menatap mata suaminya, terheran-heran dengan ide liburan yang tiba-tiba diutarakan oleh suaminya itu. Ia berjinjit lalu mengulurkan tangan memegang dahi suaminya dengan sengaja.
"Kau tidak demam, lalu kenapa kau tiba-tiba mengajak liburan,"
Derek terkekeh melihat perbuatan Amy. Ia meraup pinggang istrinya itu dan memeluknya di dadanya.
"Turunkan aku, Derek. Jangan terus mengangkatku seolah aku adalah boneka yang dengan mudah diangkat dan dibawa kemana-mana," Amy mengomel, namun kedua tangannya ia letakkan di bahu suaminya. Kepala mereka sejajar sekarang, karena Derek mengangkat tubuh istrinya yang mungil itu.
"Ayolah ... aku perlu menemui Enrico. Urusan yang sangat penting," ajak Derek lagi.
"Mike sedang cuti, kau seharusnya ada di kantor dan menangani semuanya. Eve akan kesulitan jika kau juga pergi." Amy masih menolak ide suaminya itu.
Derek menarik nafas panjang, lalu mulai berjalan ke arah pintu samping mansion sambil terus mengangkat Amy.
"Derek ... Aku bisa berjalan. Turunkan Aku!" seru Amy.
Derek menurunkan Amy ketika mereka sudah tiba di teras luar. Ia mengambil posisi duduk di kursi santai lalu menarik Amy ke pangkuannya.
"Kau ini ...." bisik Amy sambil menepuk pelan dada Derek. Namun ia menurut ketika Derek menarik kepalanya hingga bersandar di dada suaminya itu.
"Ceritakan dulu ... Sebenarnya ada urusan apa sehingga kau harus menemui Enrico? Apakah Enrico masih menemuimu jika sedang berada di negara ini? Bibinya masih di sini bukan?"
"Ya ... kami akan mengusahakan untuk bertemu walaupun hanya untuk secangkir kopi ketika ia datang untuk menjenguk bibinya."
"Lalu ada urusan apa sehingga kau mau menemuinya? Kau mengatakan mengajak Erland dan juga Arthur. Itu artinya Nanny juga harus ikut. Jika Erland ikut, ia akan meminta agar Bibi Evangelinenya juga ikut. Siapa yang akan mengurus semuanya jika kita semua akan pergi?"
Derek tersenyum, ia membelai rambut halus istrinya dan menghidu bau harum yang menguar dari rambut yang lembut itu.
"Kau mencuci rambutmu? wangi ...." ucap Derek.
"Oh, ayolah Derek. Kita sedang bicara tentang rencana mendadakmu. Bukan tentang rambutku. Katakan apa sebenarnya yang ingin kau lakukan di tempat Enrico." Amy bersungut-sungut ketika suaminya itu teralihkan karena aroma rambutnya.
"Kau tidak sabaran, Sweety." Derek kembali terkekeh melihat Amy yang mulai merasa kesal.
"Baiklah, dengarkan baik-baik. Aku ingin bercerita tentang sesuatu yang kutemukan beberapa hari lalu, tentang Enrico dan juga keluarga Sanchez."
Lalu Derek menceritakan semua fakta yang ia temukan tentang Alison Adair atau Ally yang telah membuat Lucius jatuh cinta dan ingin melamarnya. Namun sesuai cerita yang dikemukakan oleh Mike, wali gadis itu menolak sebelum bertemu dan melihat langsung keluarga Lucius. Ia ingin memastikan Ally akan diterima den diperlakukan dengan baik setelah nanti ia dibawa pergi dari mansion Rico.
"Jadi maksudmu, Enrico adalah wali Alison?" Amy mendongakkan wajahnya, menatap wajah Derek yang tengah bercerita.
"Benar. Karena itu Mike pergi bersama keluarga Sanchez kesana."
"Akan sangat menarik melihat reaksi Enrico ketika tahu keluarga Sanchez memiliki hubungan dengan klan Langton karena pernikahan. Juga akan menjadi kejutan bagi Reggie ketika melihat kita sudah ada di mansion temanmu itu."
"Itulah yang kufikirkan. Karena itu aku menghubungi Enrico. Mengatakan aku punya urusan di sana dan ingin dia membantuku. Aku sudah memintanya menjemput kita di bandara."
Amy membelalak, " kau sudah mengatur semuanya!" ucap Amy.
Derek menunduk, melihat mata biru istrinya yang terbelalak. Ia tidak dapat menahan diri dan segera menunduk. Mencium bibir Amy yang masih bersandar di dadanya. Lama pasangan suami istri itu berbagi berciuman, sebelum suara putra sulung mereka Erland menyela ciuman itu.
"Mom ... Dad ... Aku tidak bisa tidur,"ucap bocah itu sambil menggosok kedua matanya.
Amy dan Derek segera menoleh, keduanya tersenyum melihat Erland yang telah berdiri di dekat mereka dengan piyama tidurnya.
Amy segera mengulurkan tangan, mengajak Erland duduk di pangkuannya. Erland segera memanjat dan mengatur posisi di pangkuan ibunya. Lengan Derek segera melingkari kedua bahu Amy dan Erland. Memeluk anak dan istrinya dalam rengkuhan lengannya yang besar.
"Daddy...." panggil Erland dengan mata yang terlihat masih mengantuk.
"Kapan paman Mike dan bibi Reggie pulang?" tanyanya pada Derek.
"Kenapa? Kau merindukan mereka?"
Kepala Erland mengangguk, " Ya. Aku juga rindu Marie. Arthur tidak menyenangkan diajak bermain. Ia mulai nakal. Ia suka menggigit," Erland terdengar seperti mengadu.
Amy menyadari Erland tidak mendorong atau memukul adiknya untuk memaksa jarinya lepas. Ia hanya menjerit dan menahan rasa sakitnya sampai Amy datang dan kemudian memaksa Arthur melepaskan gigitannya pada jari Erland. Arthur memang suka menggigit karena gigi-giginya yang mulai tumbuh membuatnya selalu ingin menggesekkan gusinya pada sesuatu. Payudara ibunya tidak terlepas dari gigitan ketika ia menyusui. Membuat Amy kadang menahan nafas ketika merasakan gigi-gigi kecil Erland menancap di payudaranya dan membuatnya mendesis kesakitan.
"Kita akan menemui mereka, Sayang. Sedikit liburan yang pastinya akan menyenangkan buatmu. Daddy akan mengajakmu memetik anggur langsung dari pohonnya. Memancing di sungai dan menikmati mandi di air sungai yang berbatu." Derek berkata sambil mengenang waktu yang ia habiskan di mansion Costra, ketika ia dan Enrico menghabiskan waktu liburan kuliah bersama-sama di mansion itu.
"Benarkah? Jadi Paman Mike ternyata pergi liburan? dan tidak mengajakku!" Erland terdengar kesal. Amy dan Derek tersenyum. Erland memang sangat dekat dengan paman Mikenya.
"Tidak Sayang. Paman Mike tidak liburan. Ia pergi kesana karena suatu urusan. Kita yang akan kesana lalu mengajaknya untuk berlibur."
Ucapan ayahnya tampak memuaskan Erland. Ia memejamkan mata, tersenyum membayangkan liburan yang akan segera datang.
**********
"Kalau begini kau tidak bisa ikut ...." Derek, menggosok dagunya sambil memandang Eve.
"Ya ... Mereka ingin ini diselesaikan besok. Aku harus bertemu mereka dan membahas detailnya. Ah, padahal aku ingin sekali ikut pergi ," Eve mendesah. Pekerjaannya tidak dapat di tunda.
Suara ketukan menyela pembicaraan Derek dan Eve. Derek menyempatkan diri datang ke kantor sebelum ia pergi siang nanti bersama keluarganya.
"Apa aku boleh masuk?" suara Frank Damario terdengar di ruangan itu. Derek dan Eve langsung menyambutnya dengan senyum lebar.
"Tentu, Paman. Masuklah."
Derek menyambut Frank dan mengajaknya duduk di sofa di dekatnya.
"Ah, melihatmu aku jadi punya ide, Paman." cetus Eve tiba-tiba.
"Ide apa, Eve?" tanya Frank pada gadis berambut merah itu.
"Begini, Paman. Kau sudah dengar bukan? Amy dan Derek akan pergi menyusul Mike. Ada suatu urusan yang ingin Derek tangani di sana. Amy mengajakku agar ada yang bisa membantunya mengawasi dua bocah Langton yang sangat nakal mirip ayahnya yang usil dan jahil," ucap Eve sambil mengedipkan mata, sengaja mengatai Derek yang segera meremas sebuah kertas dan membuatnya menjadi bola lalu melemparnya pada Eve yang langsung terbahak.
Frank Damario ikut tertawa mendengar kata-kata Eve. "Mereka bocah yang lincah dan sangat aktif. Amy akan kesulitan jika tidak ada yang membantunya di sana nanti walaupun ada Nanny yang ikut. Erland tidak menurut pada ucapan Nanny, sedang kan Amy harus memegang Arthur secara bersamaan."
"Nah, kau mengertikan, Paman. Berbeda jika berada di mansion. Banyak pelayan yang akan membantunya. Tapi di tempat yang akan di kunjungi Derek nanti, kita tidak tahu situasinya," ucap Eve.
"Jadi bagaimana rencanamu, Eve?" tanya Frank. Tidak mengerti dengan ucapan Eve yang berputar-putar.
"Bisakah Paman meminta Cecilia menggantikan aku? Aku punya jadwal besok yang tidak dapat dibatalkan ataupun ditunda. Itu jika Cecilia mau dan tidak keberatan," pinta Eve.
Frank Damario mengernyit, Derek akan pergi menyusul Mike. Yang berarti pergi ke tempat keluarga Sanchez yang tengah menangani urusan Lucius. itu juga berarti Lance akan ada di sana. Ia menarik nafas berat.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, Derek. Aku ingin pendapatmu, karena terus terang saja. Aku sudah tidak sanggup melihat kesedihan yang memayungi mata Cecilia ..."
Frank Damario berucap dengan suara serak. Ia teringat raut wajah putri kesayangannya jika gadis itu menyendiri. Raut wajah yang akan berganti tersenyum dan riang jika ia atau Marlene menegur dan mengajaknya bicara. Frank tahu putrinya hanya bersikap riang agar orang tuanya tidak khawatir. Namun Frank tahu, putri cantiknya yang ceria, lincah dan mudah tersenyum menyimpan kesedihan karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan, juga karena dirundung kerinduan yang amat sangat pada laki-laki yang bahkan mungkin tidak memikirkannya sama sekali.
Derek menegakkan tubuhnya, menatap Frank Damario yang tampak sangat sedih. Orang tua itu terlihat tertekan.
"Katakan padaku, Paman ... Apa yang mengganggumu dan Cecilia? Aku akan menyelesaikannya untukmu ...."
**********
From Author,
Memangnya apa yang akan dilakukan pemimpin klan Langton nanti ya?π€π€π€ππ
Smg sabar dan setia menanti lanjutan kisahnyaππ
Jangan lupa like, love, komentar, bintang lima dan votenya ya....
Terimakasih.
Salam, DIANAZ.