Love Seduction

Love Seduction
Chapter 62. Stay



"Regina, kau pulang. Kau ikut kami pulang!" Mike berkata tegas. Mereka tidak tahu apa yang akan Lucius lakukan, bukan tidak mungkin kemarahan dan dendam masih bertahta di hati Lucius, tidak ada jaminan laki-laki itu tidak akan menyakiti Regina.


Reggie menggeleng kuat-kuat. "Tidak Mike. Kali ini aku akan tinggal. Aku tidak akan meninggalkannya lagi."


"Tapi Regina, kita tidak tahu apa yang akan Lucius lakukan padamu. Kemarahannya pada ibumu bisa saja masih membara dan ia mungkin bisa menyakitimu."


"Tetap saja Mike ... aku harus tinggal." Reggie mencoba tersenyum, wajah Mike yang khawatir membuatnya terenyuh.


"Kau harus pulan." Mike menggenggam kedua tangan Reggie.


"Aku akan menemanimu kemari kapanpun kau mau. Tapi sekarang kau harus ikut kami pulang."


Reggie memandang Mike dengan kilau penyesalan si matanya. Ia perlahan-lahan melepaskan genggaman tangan Mike.


"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa. Aku akan tinggal. Aku akan menghadapinya sendiri. Aku tidak akan melarikan diri lagi, Mike."


Lalu Reggie menghadap ke arah Derek. Air matanya jatuh dan ia mulai sesenggukan kembali.


"Kumohon pulanglah dan katakan pada Amy aku baik-baik saja. Tolong jaga dia untukku ... katakan aku merindukannya."


"Kau bisa ikut aku pulang dan mengatakan semua itu langsung di hadapannya. Dia gelisah Reggie ... kehamilannya semakin besar dan dia tidak berhenti memikirkanmu. Pulanglah ...." Derek mencoba membujuk Reggie. Kata-katanya membuat air mata Reggie mengalir semakin deras, tapi tekadnya tidak goyah. Ia tetap menggeleng.


"Tidak. Tolong aku ... katakan padanya jangan mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Sungguh. Tolonglah, jangan biarkan dia mengkhawatirkan aku terus."


Derek menggeleng mendengar ucapan Reggie.


"Itu diluar kuasaku, Reggie. Hanya kau saudaranya. Tidak ada yang mampu membuatnya berhenti khawatir selain dirimu. Biarkan dia melihatmu Reggie. Pulanglah."


"Tidak. Jangan katakan itu. Amy tidak akan membiarkan aku pergi jika aku pulang sekarang. Aku akan mulai menjalani hukumanku. Kalau tidak, aku tidak akan bisa hidup dengan tenang. Mengertilah."


Derek dan Mike menarik napas panjang. Tidak akan ada yang bisa membujuk Reggie. Tekadnya sudah bulat.


"Berjanjilah kau akan menghubungi kami jika memerlukan sesuatu atau sesuatu terjadi padamu." Derek menepuk pundak Reggie yang membersit hidung sambil mengangguk.


"Ya," ucap Reggie parau. Matanya menatap mata Mike dan ia maju perlahan, merentangkan kedua lengannya dan mendekap Mike.


"Kau juga ... berhentilah khawatir. Aku akan baik-baik saja. Kakakku membutuhkanku."


Mike memejamkan matanya dan balik mendekap Reggie. Mereka tidak perlu kata-kata, semuanya sudah tercurah lewat pelukan erat yang mereka bagi.


"Berjanjilah kau tidak akan kalah. Kau harus membuatnya mendengarkanmu," bisik Mike di puncak kepala Reggie.


"Ya ... dia harus mendengarkanku dan yang paling penting, dia harus tahu bahwa aku menyayanginya ...."


Mereka saling terdiam sebelum akhirnya Derek menyela.


"Kami akan pulang, Reggie. Kau harus menjaga dirimu."


Reggie dan Mike memisahkan diri, dengan tersenyum Reggie membalas ucapan Derek.


"Ya. Pasti."


Mike menoleh dan memandang tajam ke arah Lance yang masih duduk bersimpuh di lantai. Kelegaan tampak di wajahnya ketika mengetahui keputusan nonanya untuk tidak pergi meninggalkan mansion.


"Dan kau Lance ... jangan harap kau bisa bernapas lega jika sesuatu terjadi padanya. Kau bertanggung jawab atas keselamatannya!" ucap Mike tegas.


Lance kembali membungkuk.


"Saya akan menjaganya,Tuan. Dengan nyawa saya sendiri."


Mike dan Derek mengangguk puas mendengar pernyataan Lance. Dengan hati berat Mike melangkahkan kakinya ke halaman depan mansion. Ke arah mobilnya yang telah menunggu. Derek sudah lebih dulu masuk, Mike mengikutinya dan membuka pintu dari sisi lain Derek. Namun ia tidak segera masuk, ia menoleh kembali ke arah Reggie yang berdiri di depan mansion dengan rambut berantakan dan pipi yang memerah .


Mike berbalik dan melangkah cepat ke arah Reggie yang menatapnya heran.


Reggie menaikkan alis saat Mike merengkuh kedua sisi wajahnya di telapak tangan, lalu ia menunduk dan dengan lembut mencium Reggie. rasa terkejut membuat Reggie hanya diam dan membelalakkan mata.


Mike mencecap dan menngulum sampai suara batuk dari Lance yang berdiri tak jauh dari mereka membuat ia mengangkat kepalanya.


Reggie memandang mata abu-abu Mike di atasnya dengan terpana. Mike menghapus bekas ciumannya di bibir Reggie dengan ibu jari lalu kembali mengecup ringan.


"Aku belum bilang padamu Regina. Aku merindukanmu ...."


Lalu Mike melepaskan tangannya, memandang Lance yang menundukkan kepala sekilas sebelum kembali berbalik dan melangkah menuju mobil. Ia masuk dan duduk di sebelah Derek yang tidak mengatakan apapun.


Mobil itu melaju meninggalkan Mansion keluarga Sanchez. Setelah beberapa lama Derek akhirnya bersuara.


"Apa itu tadi?" tanya Derek.


"Yang mana?" ujar Mike pendek. Ia masih menoleh ke sisi kaca mobil memandangi pemandangan yang mereka lewati.


"Kau menciumnya."


"Nah, kau sudah tahu. Mengapa bertanya?"


"Well ... kau dan Reggie ...." Derek menghentikan ucapannya.


"Aku dan Reggie kenapa?" tanya Mike sambil menoleh memandangi Derek.


"Kau menciumnya tiba-tiba seperti itu ... apakah kau tidak lihat dia terkejut?"


Mike terkekeh.


"Apakah aku harus meminta ijinnya untuk mencium?" tanya Mike dengan alis terangkat.


"Tidak juga. Hanya saja dia terlihat terpana. Jangan sampai kesannya kau menyerang dan memaksakan ciumanmu," ucap Derek dengan nada menggurui.


Mike makin geli mendengar ucapan Derek.


"Kenapa kau malah tertawa?"


"Kau mendapatkan ciuman pertama dari Amymu juga dengan cara memaksa, Derek. "


"Ah ... itu, kau benar juga," ujar Derek dengan senyum miring.


"Tapi kau beruntung Reggie hanya diam walaupun terkejut. Dia tidak menendang sellangkanganmu," ujar Derek lagi sambil menyeringai. Teringat kesialannya saat memaksa mencium Amy.


Mike terbelalak, lalu mulai tertawa terbahak-bahak.


"Ya ... tapi kau juga beruntung wajah tampanmu lolos dari goresan kuku memanjang yang mencakar wajahmu."


Dengan ucapan itu dua laki-laki itu tertawa bersama. Kegelian dalam suara mereka menular pada sopir yang membawa mereka, yang tak dapat menahan senyum simpul yang tersungging di bibirnya ketika mendengar lelucon dua tuannya itu.


**********


From Author,


para pembaca semua, jangan lupa VOTE untuk Reggie dan Mike ya, and terimakasih banyak sudah setia ngikutin terus kisah mereka.


Klik juga Like di setiap chapter ya semua, untuk vitamin penyemangat author. Komentar, favorite dan bintang limanya juga author tunggu.


Terimakasih.


Salam, DIANAZ.