Love Seduction

Love Seduction
Chapter 39. Morning at Adair house



Suara itu berbisik dan terdengar di telinga Ally. Tapi dirinya menolak untuk bangun. Mimpi indahnya tengah berlangsung, mimpi tengah bergandengan tangan sambil berlari di sebuah taman penuh bunga. Kemudian tangannya dilepas, ia berputar berkeliling sambil tertawa dengan lebar. Lalu pria itu menangkapnya, mereka tertawa bersama sebelum pria itu berhenti mengajaknya berputar. Kemudian Ally merasakan keningnya mulai dikecup, berpindah ke pipinya, di kiri, kanan, lalu ketika kecupan terasa di bibirnya, Ally mengernyit. Karena kecupan itu terasa sangat nyata.


"Bangunlah Putri Tidur," ucap sebuah suara di dekat Ally.


Ally membuka matanya perlahan, pemandangan seraut wajah tampan di depannya memberitahu Ally bahwa tadi malam ia tidak bermimpi. Lucius benar-benar sudah datang.


Ally menatap termangu, hatinya berdesir, betapa rindu ia memandang wajah itu. Lalu ia merasakan Lucius mulai mengangkat kaos yang ia pakai. Ally segera bangkit dan menepis tangan Lucius.


"Ap ... Apa yang kau lakukan!!" teriak Ally.


"Biarkan aku melihat bekas cambukan yang dilakukan Carloz,"


"I ... itu sudah sembuh,"


"Biarkan aku melihatnya sendiri,"


Lucius bergerak ke atas kasur. Menangkap Ally, kemudian menariknya. Ia duduk di pinggir ranjang dan mendudukkan Ally di pangkuannya. Dengan satu tangan Lucius menahan tubuh Ally bagian depan, mengelilingkan lengannya ke tubuh Ally. Sedangkan dengan tangannya yang satu lagi, Lucius menarik paksa ujung kaos pink yang Ally kenakan ke atas, sehingga punggung telanjang gadis itu terpapar polos di depannya.


"Ya ampun ...." Ally berbisik, merasa jengah dan malu. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Berusaha menata degup jantungnya yang mulai berdebar kencang. Lengan Lucius yang menahan bagian tubuhnya dari depan menempel erat di dadanya, Ally sangat malu jika Lucius menyadari perubahan irama jantungnya.


"Ini pasti sakit sekali ...." Lucius menatap bekas goresan memanjang yang terlihat kemerahan di punggung Ally. Semua lukanya sudah mengering dan beberapa sudah berwarna seperti jaringan kulit normal yang lain. Tapi bagian kulit yang terkena cambukan dan terluka agak dalam masih menyisakan rona kemerahan dan bekas jaringan kecoklatan yang mengeras tanda lukanya sudah sembuh. Lucius menyentuh keropeng yang ada di bekas luka itu dan kembali berbisik.


"Maafkan aku ... kau harus mengalami kesakitan seperti ini," ucap Lucius, ia membayangkan ketika sabetan cambuk itu mendarat dan merobek kulit Ally. Rasa nyeri dan perih yang pasti gadis itu rasakan.


"Bukan salahmu ... lagipula sekarang tidak terasa sakit lagi," ucap Ally pelan. Ia tidak lagi menutup wajahnya dengan telapak tangan ketika bicara.


"Tidak usah berbohong, Aku pernah mengalaminya ... jadi aku tahu bagaimana rasa sakitnya."


Ally langsung teringat pada seluruh bekas luka yang ia lihat di tubuh Lucius.


"Tubuhmu ...." Ally menelan ludah, tidak sanggup melanjutkan. Ia sangat ingin tahu, tapi takut akan membuat Lucius mengingat kenangan yang pasti menyakitkan bagi laki-laki itu untuk mengingatnya.


"Ibuku yang melakukannya," Lucius mengelus lagi punggung Ally, memeriksa tiap goresan, menyadari bagian yang terkena tidak terlalu dalam akan sembuh tanpa meninggalkan bekas, tapi bagian yang lebih dalam mungkin tidak akan seberuntung itu.


Ally terhenyak mendengar kata-kata Lucius. Ia menoleh, menatap ke arah wajah Lucius.


"Jika kau mau mendengarnya, maka aku akan menceritakan bagaimana aku mendapatkan seluruh luka di tubuhku ini ..."


"Apa kau tidak akan apa-apa? Maksudku, ini hal menyakitkan untukmu. Membicarakannya kembali akan membuatmu mengingat kejadian itu lagi."


"Aku tidak apa-apa ... Berkat adikku yang telah kembali, aku belajar melupakan dan membiarkan masa lalu lewat dan tidak mengganggu kehidupanku saat ini,"


Kemudian secara singkat Lucius menceritakan masa lalunya, bagaimana ia mendapatkan luka dari siksaan dan kegilaan ibunya, kemudian kedatangan ayahnya dan Lance. Sampai akhirnya ia menemukan Regina adiknya. Ia tidak terlalu menceritakan secara detil, itu saja sudah membuat Ally menggosok lengannya sendiri ketika cerita Lucius berakhir.


"Syukurlah ... Akhirnya kau berkumpul kembali dengan saudaramu."


Ally terlihat menunduk dan mengusap matanya. Suara Ally juga terdengar serak dan berat.


"Kau menangis?" tanya Lucius.


"Ti ... tidak ...." ucap Ally pelan.


Lucius tersenyum, tahu kalau gadis itu berbohong. Ia menarik tubuh ally dan memeluknya di depan dada. Ally menurut, ia bersandar miring di dada pria itu. Menempelkan sisi kepala dan bahunya ke dada Lucius. Penderitaannya sangatlah tidak berarti bila di banding penderitaan dan rasa sakit yang harus Lucius tanggung. Bahkan sampai ia dewasa. Trauma yang menyertai berakhirnya penyiksaan itu melilit Lucius , memberinya mimpi buruk dan tidur dalam kegelisahan, tetap memberikan rasa sakit di dalam ingatan bawah sadarnya.


Mereka berpelukan dalam diam. Lucius sudah menutup kembali punggung Ally dengan menurunkan kaosnya, ia mengelilingkan kedua lengannya ke tubuh Ally dan menempelkan dagunya ke puncak kepala gadis itu.


Ally menarik nafas panjang, hatinya gelisah. Pelukan hangat kedua lengan pria ini memberinya rasa nyaman luar biasa. Bagaimana ia bertahan menahan perasaannya pada laki-laki ini, seperti yang Rico katakan padanya, Lucius telah berbohong, Ally tidak tahu latar belakang dan karakter Lucius lebih dalam lagi. Maukah ia memberikan kepercayaannya lagi pada pria itu dengan resiko siap jika hatinya patah lagi.


"Ally !" teriakan Alan terdengar sampai ke kamar Ally. Alan pasti sudah bangun dan mencarinya. Ally bergerak, meliukkan tubuhnya untuk melepaskan diri dari Lucius.


"Lucius, lepaskan lenganmu,"


Lucius mengangkat Ally dan memindahkannya ke atas kasur.


"Kita bicara lagi setelah kau mandi, Alison." Lucius menyentilkan jemarinya ke ujung hidung Ally lalu berbalik dan melangkah menuju pintu.


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan bukan?"


"Banyak sekali, Ally. Banyak sekali yang perlu kita bicarakan. Dan kau sebaiknya menurut dengan pergi mandi lalu setelahnya bicara denganku. Aku akan menunggumu di meja makan."


Ally mencibirkan bibirnya mendengar nada perintah di suara lucius.


"Kau tidak bisa memaksaku, lagipula kau sebaiknya pergi sebelum ada tetanggaku yang melihat ada seorang pria yang bukan keluargaku yang tinggal di sini bersamaku."


"Kau yakin kau tidak mau mandi dulu dan bicara padaku setelahnya?... jika memang begitu, aku akan mengunci kembali pintu ini dan kau harus bicara denganku sekarang. Sampai kau menerima alasanku dan menghapus kemarahan dan ketidakpercayaan yang ada di hatimu itu."


Lucius menunggu, ia berbalik dan bersandar di pintu kamar, melipat tangan di depan dada sambil menatap ke arah Ally yang menatapnya menantang.


"Aku dengan senang hati bicara sekarang ... Lagipula kau tampak cantik dengan rambut kusut dan mata baru bangun tidur itu. Dan ....." pandangan mata Lucius menelusuri bagian dada Ally. Membuat Ally jengah dan menyambar sebuah bantal kemudian menutupi dadanya.


"Pergilah ... keluar! Aku akan mandi!" perintahnya dengan nada kesal.


"Baiklah ... Tapi berjanjilah sesudahnya kau akan bicara dan mendengarkan aku." Lucius bergeming, tidak bergerak dari tempatnya berdiri.


"Baik ... Baik, sekarang pergilah!" Ally berkata cepat, berharap Lucius pergi dan tidak lagi menatapnya dengan matanya yang berkilau jahil.


Lucius tertawa, "Nah, itu jawaban yang aku inginkan. Kau sangat manis Ally sayang. Apa yang kau sembunyikan di balik bantal itu? Aku sudah tahu kau tidak mengenakan bramu bukan, lagipula aku sudah melihat punggungmu tadi."


Ally mendelik, " Kau!" teriaknya sambil melempar bantal di tangannya ke arah Lucius. Namun pria itu sudah menyelinap keluar dan menutup pintu dengan cepat. Meninggalkan Ally yang merona dan mendesah malu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Lucius masih tertawa ketika keluar dan mendapati Alan telah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Paman Lucius!" teriak bocah itu.


"Hai Alan. Senang melihatmu lagi," Lucius mendekat lalu mengangkat tubuh Alan.


"Kau semakin besar," pujinya dengan senyum lebar.


"Kapan kau datang?" tanya Alan gembira.


"Tadi malam, Alan."


"Kenapa kau datang lagi, Paman? Ally sepertinya tidak akan senang melihatmu."


"Bagaimana denganmu? Apa kau tidak senang juga?"


Alan menggeleng cepat, "tentu saja aku senang sekali. Kau tidak akan pergi tanpa kabar lagi bukan?"


"Tidak Alan. Kali ini aku datang karena aku akan menjemput kalian. Aku akan membawa kalian ikut bersamaku."


Alan terlihat mengernyit dalam gendongan Lucius.


"Kenapa? Kau tidak mau?" tanya Lucius.


"Bukan itu, Paman. Sekarang kami sudah punya Paman Rico yang menjaga kami. Aku dengar ia mengatakan pada Ally, kami harus mengatakan padanya kemanapun kami mau pergi. dan Ally tidak bisa pergi jika itu tanpa ijin darinya," jelas Alan.


"Apa yang kau katakan benar sekali Alan. Dan aku sekarang menarik ucapanku untuk mengizinkan kalian tinggal di sini. Baru satu malam dan seorang pria sudah menerobos masuk tanpa ijin."


Kata-kata bernada dingin itu terdengar setelah pintu depan di dorong paksa. Menyebabkan kursi yang mengganjal pintu berderit dengan suara kencang.


Lucius menatap ke arah sumber suara. Pada Tuan Enrico Costra yang sudah berdiri di sana dengan tatapan tajam padanya.


**********


From Author,


Nah loh ... begimana jadinya yah😂😂😂


Tungguin next chapternya ya my readers. Jangan lupa tetap tekan like, love ,bintang lima dan juga komentar serta vote untuk Ally.😘😘😘


Terima kasih semua....


Salam, DIANAZ.