Love Seduction

Love Seduction
Chapter 31. Back home



Rico menunggu seorang perawat yang tengah memeriksa Ally menyelesaikan tugasnya. Memeriksa tekanan darah Ally, suhu tubuh dan juga nadinya. Ally terlihat pasrah, sedikitpun tidak pernah memandang Rico, padahal Rico yakin gadis itu tahu ia ada di ruangan itu.


"Tekanan darahmu belum juga stabil. Sebaiknya kau mulai makan dengan benar, Nona," ucap perawat yang memeriksa dengan tersenyum pada Ally. Lalu perawat itu menoleh ke arah Rico.


"Anda harus membantunya, Tuan. Pastikan ia makan, setidaknya setengah porsi dulu jika tidak bisa langsung satu porsi. Nona Ally sama sekali tidak mau makan ...."


Rico hanya mengangguk, lalu menunggu perawat itu berpamitan setelah memberikan senyum pada Alan yang telah duduk di atas ranjangnya.


"Kau siapa?" pertanyaan itu di ajukan Alan pada Rico yang masih berdiri dengan tangan bersedekap di samping ranjang Ally. Rico mengatur dua kakak beradik itu di rawat dalam satu kamar khusus dengan ranjang berdampingan.


Rico memberikan senyum mautnya yang terkenal membuat para wanita bertekuk lutut pada si kecil Alan.


"Aku Enrico Costra ... pemilik perkebunan Costra Land, kau tahu Costra Land bukan?" tanya Rico pada Alan.


"Tentu ... Ayah bekerja di sana," jawab Alan. Bocah kecil itu balas tersenyum pada Rico, lalu ia menatap ke arah Ally yang hanya diam.


"Ally?Kenapa Lucius tidak datang kemari? Bibi Ester dan Paman Pabio juga ...." ucapnya heran.


Ally tidak menjawab, hatinya terasa perih ketika nama Lucius disebut. Ia memejamkan mata, lalu menjawab pertanyaan Alan dengan memaksakan diri, "aku tidak tahu, Alan ."


"Makanlah ... Lalu sehatlah dan kita bisa meninggalkan tempat ini. Akan aku jelaskan kemana Lucius Sanchez sebenarnya." ucapan Rico membuat Ally dan Alan menoleh serentak ke arahnya.


"Kau mengenalnya?" tanya Ally. Rico menatap dan mengangkat kedua alisnya ke arah gadis itu.


"Kau bicara padaku? Kukira kau tidak tahu kalau ada orang selain Alan di ruangan ini." Sindiran Rico membuat rona merah melintas di pipi gadis itu, tapi hanya sebentar dan kembali Ally menutup diri.


"Tentu saja aku tahu siapa Lucius." ucap Rico, "tapi, jika kalian ingin tahu kemana dan siapa pria itu, maka ikut pulang denganku setelah kalian sehat, kalian mungkin akan bertemu dengannya kembali, jika aku mengijinkan ...." pria itu menyerigai pada Alan dan Ally.


Ally membuang muka, sedangkan Alan hanya menatap saudarinya dengan pandangan tidak mengerti.


Memangnya kami bisa kemana lagi? kalaupun tidak mau ke tempatmu, kau akan tetap mengikat kami dan memaksa kami ke tempatmu .... Ally memejamkan mata, merasa lelah, ia pasrah dan mengistirahatkan dirinya, Ia butuh banyak energi untuk menghadapi masalah baru dari pria tampan di dekatnya itu.


"Kenapa kau tidak mengantar kami pulang ke tempat Lucius saja?" tanya Alan pada Rico.


Rico menatap wajah Ally yang telah memejamkan mata dengan seksama, "karena Lucius Sanchez sudah pulang meninggalkan tanah perkebunan itu, Alan. Jadi percuma saja kalian mencarinya di sana."


Alan masih memandang Rico dengan pandangan tidak mengerti. Fikirnya, jikapun Lucius pergi, tapi Lucius pasti akan kembali. Sedangkan Ally menahan perasaan sakit di hatinya. Jika apa yang Rico katakan benar, maka semua kebahagiaan yang melambungkannya bersama Lucius waktu itu hanya mimpi. Lucius tidak mencintainya, ia bahkan pergi tanpa mengucapkan apapun ....


***********


"Bagaimana Ayah, Lance?" pertanyaan yang pertama kali Lucius tanyakan ketika ia turun dari pesawat dan mencapai Lance yang sudah berdiri menunggu untuk menjemputnya.


"Dia sudah terbangun ... syukurlah, kami semua sangat cemas ... Tapi Beliau menanyakan Anda." Lance segera masuk ke dalam mobil setelah menganggukkan kepala kepada Brad dan Santoz yang akan pergi dengan mobil lain dan mengiringi mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Lucius.


"Sebaiknya Tuan menanyakannya pada dokter Tuan Eloy saja ketika kita tiba," ucap Lance.


Lucius mengangguk. Lalu ia teringat Ally dan segera mengambil ponselnya. Tidak ada balasan dari pesan yang ia kirimkan. Lucius mencoba menelepon Ally, namun ponsel itu masih saja tidak aktif.


"Ayolah Alison ... Kemana kau sebenarnya," ucapnya lirih.


Lance menangkap nama Alison dengan jelas. Setahunya pengurus perkebunan di sana bernama Ester dan Pabio ... lalu siapa Alison? Lance menyimpan pertanyaannya di dalam hati. Melirik Tuannya yang masih sibuk mencoba menghubungi seseorang lewat ponsel.


Mereka tiba di rumah sakit dan disambut Regina dan Mike. Adiknya itu tampak lelah dengan mata yang bengkak seperti habis menangis.


Regina segera memeluknya dan menyandarkan pipinya ke dada Lucius.


"Oh, Tuhan ... Aku takut sekali, Syukurlah semuanya sudah lewat ... Ayah sudah bangun, dan berulang kali menanyakanmu ." ucap Regina.


Lucius tidak berkata apa-apa, hatinya lega mendengar ayahnya sudah bangun, ia tidak dapat membayangkan ayahnya tertidur lama lagi seperti waktu itu, sebelum mereka menemukan Regina.


Lucius diantar masuk ke dalam oleh Lance, setelah keduanya menghilang di balik pintu, Mike menggamit istrinya.


"Kakak-kakakmu sudah di sini, apakah kita bisa pulang sebentar nanti untuk melihat Marie? Aku yakin ia sudah sangat gelisah tidak melihat kita dari pagi," ucap Mike pada istrinya.


Reggie mengangguk, keduanya lalu duduk kembali dan menunggu Lucius dan Lance keluar dari ruangan ayahnya.


"Ayah ...." ucap Lucius. Eloy tersenyum, tahu putranya pulang dengan cepat untuknya dan terlihat sangat khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Nak. Hanya serangan ringan ... seharusnya aku tidak perlu memikirkan macam-macam. Jadi penyakitku kumat," Eloy terkekeh pelan, membuat Lucius memberengut ke arah ayahnya. Ia segera duduk di kursi di samping tempat tidur.


"Kau tahu? Aku sangat khawatir ... kau membuatku cemas setengah mati, Lagipula apa yang kau fikirkan?" tanya Lucius.


Eloy mengulurkan tangannya yang disambut dan di genggam oleh Lucius, " putra ku belum ada yang menikah ... Aku ingin menantu perempuan," ucap Eloy pelan. Matanya menatap Lucius, lalu menatap Lance yang berdiri di belakang kursi Lucius.


Lucius menatap ayahnya, lalu tersenyum lebar.


"Kau dengar itu, Lance? Kau harus segera mencari istri. Aku menikah jika kau sudah menikah." ucap Lucius.


ucapannya disambut tawa oleh Eloy, Lucius sendiri terkekeh. Lance hanya diam dan menatap ayah dan anak itu dengan wajah datar. Perasaannya tidak terbaca ... namun di dalam hati, ia menikmati dengan penuh rasa syukur tawa lepas dari dua orang yang sudah bertahun-tahun ia dampingi itu, Tuannya, keluarganya ....


**********


"Pulanglah Regina ... Marie pasti rewel mencarimu," ucap Lucius pada adiknya.


"Dia benar. Kakak-kakakmu sudah ada di sini. Mereka akan menjaga Ayah. Kita pulang dulu, Honey," Mike berdiri dan membantu Regina bangkit dari kursinya.


"Baiklah ... Aku pulang, telephone aku jika terjadi sesuatu," ucap Regina pada Lucius.


Lucius mengangguk, lalu menyambut pelukan adiknya. Balas memeluk dan mengecup puncak kepalanya.


"Beristirahatlah," ucap Lucius. Regina mengangguk. Lalu wanita itu berpindah pada Lance, tiba-tiba memeluk Lance seperti ia tadi memeluk Lucius. Lance terkejut dan hanya berdiri diam, tidak melakukan apa-apa.


"Terima kasih, entah apa jadinya jika kau dari awal tidak bersama kami," bisik Regina lirih. Lance hanya membalas dengan tersenyum kecil pada Nyonya muda itu. Sedikit heran dengan sikap Regina barusan.


Mike tersenyum pada dua pria itu lalu menghela istrinya ke arah ruangan perawatan, "kami akan berpamitan pada Ayah," ujarnya.


Setelah keduanya masuk, Lucius menatap Lance dan mengangkat alis. Ia sedikit merasa ada perubahan yang tidak ia mengerti dan tidak ia pahami dari kata-kata dan sikap Regina, namun ia juga sedikit bingung bagian mana yang membuat ia merasa seperti itu.


"Ada sesuatu yang mau kau jelaskan?" tanya Lucius.


Lance memasukkan tangannya ke dalam saku jas dan menggelengkan kepalanya.


"Ayolah ... kenapa aku merasa sikap Regina sedikit berubah?" tanyanya.


"Bagian yang mana Tuan?" tanya Lance.


"Entahlah ... karnanya aku ingin kau menjelaskan." ucap Lucius.


"Saya tidak punya penjelasannya,Tuan," jawab Lance.


Lucius mengernyit. Ia lalu ia mengangkat bahu nya dan berjalan ke arah ruangan perawatan. Namun belum sampai tiga langkah, ia berbalik lagi ke arah Lance.


"Tapi kau merasa juga kan kalau ada yang aneh dari Regina?" tanya Lucius dengan kening berkerut,


Lance menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali sebelum menjawab.


"Anda benar. Saya merasa aneh karena Nyonya Reggie memeluk saya seperti ia memeluk Anda sebelumnya." jelas Lance. lalu ia melihat Tuannya itu menyerigai,


"Aku hanya ingin tahu kau menyadarinya atau tidak ,Lance ... karena ekpresimu itu kerap tidak menyiratkan apapun." ucap Lucius dengan sedikit terkekeh.


Lance menaikkan alisnya, lalu dengan sambil lalu ia menanyakan pertanyaan yang terlintas di otaknya saat dalam perjalanan ke rumah sakit tadi.


"Siapa Alison, Tuan Lucius? Seorang gadis?" tanyanya.


Lucius menatapnya dan tersenyum lebar. Menyadari Lance mendengar ketika ia menyebut nama Alison saat di dalam mobil.


"Kau akan tahu sebentar lagi," ucapnya dengan penuh misteri.


**********