
Lucius meletakkan kontrak penawaran yang tadi ia baca ke atas meja.
"Jadi Tuan Rico menolak penawaran kerjasama dari perusahaan kita?" tanya Lucius.
Lance mengangguk, " Ya ,Tuan. Beliau hanya menginginkan tanah itu. Beliau ingin membelinya seperti penawaran yang ia buat di awal."
Lucius menggosok rahangnya perlahan, lalu ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh anting berlian di telinga kirinya. Lucius langsung tersenyum, teringat jari-jari mungil Marie akan langsung menggapai ke arah telinga kirinya dan menarik anting berlian itu jika ia menggendong bayi yang sekarang sangat montok dan lucu itu.
"Begitu ... Baiklah, sepertinya kita perlu pergi kesana dan menengok tanah itu dulu Lance ... tapi yang pasti, kita tidak akan menjualnya pada Tuan Rico. Ayah menyayangi tanah itu," ucap Lucius.
"Sepertinya itu yang terbaik, Tuan. Melihat langsung seperti apa tanah perkebunan itu."
"Menurutmu kau atau aku yang akan ke sana? kita tidak mungkin pergi berdua, harus ada orang yang mengurus di sini."
"Saya terserah pada Anda, Tuan. Jika Anda menyuruh saya yang pergi, maka saya yang akan pergi."
Lucius mengangguk, " Kita akan memutuskannya nanti," ujarnya.
"Anda tidak lupa pada jamuan nanti malam bukan?" tanya Lance tiba-tiba. Lucius menyerigai mendengar kata-kata Lance.
"Mana mungkin aku lupa, calon mertuaku akan datang bersama putri mereka," ucap Lucius ceria.
Lance sama sekali tidak dapat menduga perasaan Tuannya, keceriaan itu apakah memang berasal dari hati atau hanya dibuat-buat. Tuannya makin terlihat akrab dengan Nona Cecilia, Namun karena sudah mengenal Tuannya itu puluhan tahun, Lance merasakan ada sesuatu yang janggal tentang hubungan kedua orang itu.
"Syukurlah anda mengingatnya. Tuan Eloy tidak hanya mengundang Tuan Frank Damario, tapi juga Tuan Noel, Tuan Stefano dan Tuan Derek."
"Ah, Derek dan para pria tua ... memang terlihat cocok," Lucius terkekeh sendiri dengan ucapannya.
Lance hanya tersenyum dan segera pamit undur diri dari hadapan Tuannya. Keluar menuju ruang kantornya sendiri.
**********
Makan malam itu berjalan lancar dengan penuh tawa dan nuansa akrab kekeluargaan. Para pria yang di undang Eloy Sanchez membawa serta istri-istri mereka. Hanya Frank Damario yang datang bertiga dengan istrinya Marlene dan putrinya Cecilia.
Acara santai setelah makan malam diisi dengan tawa para wanita di aula yang di temani Reggie. Sedangkan para pria lebih memilih berada di luar, di teras ke arah taman.
"Jadi apakah ada perkembangan baik yang mau kau sampaikan pada kami perihal keakrabanmu dengan Cecil, Lucius?" pertanyaan Paman Noel menggema, disambut anggukan dengan wajah penasaran oleh para pria lainnya yang mengelilingi meja itu.
"Apakah kau menyukai Cecil kami Lucius?" kali ini Derek menambah pertanyaan yang harus Lucius jawab.
"Tentu saja aku menyukai Cecilia, Derek. Siapa yang tidak? keceriaannya menular ... soal perkembangan, biarkan aku dan Cecil menjalaninya pelan-pelan Paman Noel," jawab Lucius. Tampaknya jawabannya memuaskan. Karena pria tua itu mengangguk sambil tersenyum.
Dalam beberapa menit, Lucius mulai kewalahan dan merasa gerah, para pria ini mengobrol santai, tapi arahnya adalah untuk mendorong Lucius agar segera melamar Cecilia. Ia mulai berkeringat dingin ....
"Ah ... aku pamit ke belakang sebentar," ucap Lucius semanis mungkin.
"Pargilah, Nak. Tapi kembali kemari secepatnya," ujar Eloy pada putranya.
"Tentu ...." Lucius bangkit dan melangkah masuk, ia melihat kumpulan wanita di aula yang tengah cekikikan. Cecilia tampak tersenyum setengah terpaksa, Lucius tahu gadis itu pasti mengalami hal yang sama dengannya. Tengah di giring ke masalah perjodohan. Lucius jadi kasihan melihat gadis itu. Ia datang dan mengejutkan para wanita itu.
"Halo, semuanya ... bolehkah aku menculik gadis cantik kalian di sana sebentar? ada yang mau aku bicarakan dengannya," ucap Lucius dengan manis dan sopan.
Nyonya Noel tampak menjawab dengan bersemangat, melebihi Nyonya Marlene ibu Cecilia.
"Tentu saja, Lucius. Cecilia pasti juga merasa bosan mengobrol dengan para wanita tua seperti kami," ujarnya.
"Ah, kita sudah tua Reggie ...." Amy berkata sedih, hingga tepukan di lututnya membuat istri Derek itu terkekeh.
"Sudah tua nantipun, kau akan selalu tampak cantik Amy...." ucap Nyonya Marlene.
Reggie yang tadi menepuk lutut Amy ikut tertawa, " kita memang sudah tua, Amy sayang. Jadi biarkan Kakakku mengajak yang paling muda di sini pergi mengobrol." Reggie berkedip pada Amy.
Cecilia menyambut ajakan itu dengan cepat. Ingin bebas dari pertanyaan-pertanyaan yang terasa menjebaknya tentang hubungannya dengan Lucius.
"Aku permisi sebentar," ucap Cecilia pelan.
"Oh, lamapun tak apa Sayang ... kami sangat mengerti," ucap Nyonya Stefano yang segera saja disambut tawa oleh para wanita itu.
" Ah, akhirnya bisa terbebas dari pertanyaan-pertanyaan mereka ...." Cecilia menarik nafas panjang. Lucius terkekeh geli.
"Kita bisa menghilang sejenak dan membebaskan diri. Ayo ikut aku, kita ke ruang perpustakaan saja. Duduk bersantai, kau bisa membaca buku untuk mengisi waktu," ajak Lucius.
Mereka sampai ke ruang perpustakaan, Lucius segera menuju rak dan menuang minuman di sebuah gelas yang ia ambil dari rak.
"Kau mau minum?" tanyanya pada Cecilia yang tengah fokus pada ribuan buku yang ada di rak yang berjejer rapi di dinding ruangan.
Cecilia berbalik dan segera menggeleng," Tidak," jawabnya sebelum kembali berbalik pada rak buku.
Lucius menyesap minumannya dan duduk di sofa. Ia menunggu ketika Cecilia sepertinya menemukan sebuah buku yang menarik minatnya.
Gadis itu membawa buku tersebut dan mengambil posisi duduk tak jauh di sebelah Lucius. Namun Cecilia tidak membuka buku yang ia pilih, ia hanya meletakkannya di pangkuannya.
"Lucius? boleh aku menanyakan sesuatu?" nada suara Cecilia yang ragu-ragu membuat Lucius tersenyum.
"Tentu saja," jawab Lucius santai.
"Kenapa kau tidak mau memotong rambutmu?" tanyanya hati-hati.
Lucius menaikkan alisnya mendengar nada hati-hati di suara gadis itu.
"Hanya belum sempat, Cecil. Aku suka memanjangkan rambut. Tidak ada alasan khusus, " ujarnya.
Cecilia tahu itu bukan alasan sebenarnya. Tapi ia cukup tahu diri untuk tidak bertanya lebih lanjut. Sosok Lucius baginya begitu banyak misteri.
Mereka mengobrol santai dan tidak merasakan waktu yang berlalu karena begitu menikmati obrolan mereka. Cecilia sangat ceria, kecerian itu menular hingga membuat Lucius sangat suka berlama-lama mengobrol dengan gadis itu.
Setelah melihat jam yang tergantung di dinding ruangan, Cecilia menyadari mereka sudah terlalu lama pergi meninggalkan para tamu yang lain.
"Kita sebaiknya kembali," ucapnya pada Lucius yang segera mengangguk.
"Kau benar." Lucius segera berdiri dengan gelas masih di satu tangan.
Cecilia yang ikut berdiri melangkah maju ke arah pintu yang ada di belakang Lucius, sedangkan Lucius yang berniat meletakkan gelas ke atas meja di belakang Cecilia juga bergerak maju ke arah gadis itu. Keduanya bertabrakan agak kencang karena melangkah tergesa-gesa, menyebabkan Cecilia yang bertubuh lebih kecil dari Lucius oleng dan terdorong.
Hak kecil runcing dari high heels yang ia pakai membuat tapakan kakinya goyah. Gadis itu terdorong kebelakang setelah tabrakan.
Lucius yang melihat Cecilia akan terjatuh segera mengulurkan tangan ingin menangkap. Namun, ujung jarinya hanya menarik ujung lengan gaun Cecilia, sehingga yang terjadi malah ia merobek bahan halus gaun gadis itu.
Tangan Cecilia reflek menggapai dan ia menarik ujung jas Lucius hingga laki-laki itu ikut terbawa jatuh dan kemudian menimpa tubuhnya di atas karpet.
Cecilia kesulitan bernafas, terengah karena tindihan tubuh besar lucius di atasnya.
Seolah waktu tidak berpihak pada mereka, saat itulah pintu ruangan perpustakaan terbuka lebar. Eloy Sanchez, Frank Damario, Lance dan Derek Langton menatap pasangan yang seolah tengah bergumul di lantai perpustakaan itu dengan berbagai macam ekspresi.
Frank Damario dan Eloy Sanchez melotot terkejut dan shock, Lance memandang heran, seolah tidak percaya pada pandangannya. Sedang Derek malah menyerigai lebar bak singa yang mendapatkan buruannya.
"Well ... well ... well ... Lucius Sanchez, tak kusangka kau bergerak cepat juga," ucap Derek.
"Anda sadar yang anda lakukan Tuan?" ucap Lance sambil melihat bahu dan dada Cecilia yang sedikit menyembul dari robekan bajunya, dan menyadari nafas terengah gadis itu.
"Nak ... Ayah gadis itu ada di sini. Sebaiknya kau bersikap layaknya seorang pria ...." suara Eloy Sanchez yang penuh ketegasan memberi ultimatum pada Lucius yang masih menatap nanar ke arah rombongan orang yang masuk ke ruang perpustakaan itu.
**********
From Author,
Duh.... gimana inih Banggggg๐๐๐
Ditunggu like di tiap chapter, love,vote,bintang lima dan komentarnya ya my Readers...
Terimakasih...
Salam, DIANAZ.