
Ester turun dari mobil dan berlari menuju rumah. Pabio menyambutnya, pria tua itu mengernyit melihat istrinya pulang sendirian.
"Dimana Ally dan Alan, Ester?" tanyanya cepat.
"Dimana Lucius Pabio? Aku perlu bicara padanya, Cepat!" Ester berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Tidak nampak siapapun, ia memanggil," Lucius!"
"Ester! Lucius sudah di perjalanan. Ia pulang ...."
"Pulang? Maksudmu, Pabio?" tanya Ester tidak mengerti.
"Tuan Eloy sakit, Ester. Mereka memanggil Lucius pulang secepatnya, Tuan Eloy terjatuh dan tidak sadarkan diri."
Ester terbelalak, ia mengangkat tangan dan menutup mulutnya, sesaat kemudian Ester terhuyung.
"Ester! Cepat, duduklah ...." Pabio membimbing istrinya menuju sofa. Dengan heran Pabio menyadari istrinya itu mulai menangis.
"Sayang, ada apa? Di mana Ally dan Alan?"
Lalu dengan diiring isak tangis, Ester menceritakan kejadian Ally yang tiba-tiba menghilang dan pergi bersama seorang pria yang bercirikan seperti Carloz.
"Ya Tuhan ... Bagaimana ini. Kita tidak mungkin memberitahu Lucius. Akan membuatnya harus memilih ... Tuan Eloy membutuhkannya saat ini."
Pabio dan Ester berpegangan tangan, kebingungan dengan apa yang harus mereka lakukan.
Setelah beberapa saat, Pabio lalu berdiri, pria itu pergi ke gudang belakang, dan kembali dengan sebuah senapan menembak.
"Apa yang hendak kau lakukan?" tanya Ester pada suaminya.
"Aku akan menyelamatkan Ally. Setidaknya membuat pria itu takut dengan mengancam akan menembaknya dan membawa Ally kabur, Selanjutnya kita akan fikirkan apa yang harus kita lakukan. Yang penting bebaskan dulu Ally dan Alan."
Ester berdiri setelah mendengar ucapan suaminya,"Aku ikut ... Aku bisa membantu," ucap Ester. Lalu kedua suami istri itu masuk ke dalam mobil dengan sebuah senapan. Berdoa dalam hati mereka tidak terlambat menyelamatkan Ally.
**********
Enrico tiba di depan rumah kecil itu dan mendengar teriakan dari dalam. Ia segera berlari dan menendang pintu hingga terhempas dan terbuka. Lima pengawal dan asistennya ikut berlari dan menerobos masuk.
Suara Carlozlah yang tadi ia dengar tengah memaki Ally dengan sebutan gadis jala**. Rico menatap Alison yang kusut dengan pakaian robek dan kulit penuh darah. Sebuah pecahan botol minuman masih tergenggam kuat di tangan gadis itu.
Ally membelalak, mengenali pria yang datang itu adalah Rico. Ia terhenyak mundur, seutas harapan yang kembali membentang di hatinya ketika ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah tadi seketika putus. Tadi ia berharap Lucius sudah datang. Ally lunglai, ia baru akan menggerakkan pecahan botol di tangannya ketika tanpa di duga secepat kilat tangannya di pelintir hingga genggamannya terpaksa membuka dan ia menjatuhkan botol itu ke lantai. Kemudian pria itu menangkap Ally yang sudah lemas, Rico menoleh ke arah pengawalnya yang sudah bergerak meringkus Carloz. Asisten Rico memeriksa Alan yang terpejam dan terbaring di sudut ruangan. Anak itu masih bernafas, namun ia pingsan karena terbentur keras. Asisten Rico memberi tanda pada Tuannya dan segera mengangkat tubuh Alan.
Pandangan mata Ally sudah berkabut, airmatanya sudah membanjir dan sedetik kemudian ia terpejam, kelelahan dan keputusasaan melingkupi dirinya, hingga ketika ketidaksadaran menghampirinya, ia menyambutnya sepenuh hati dan menenggelamkan dirinya dalam pusaran kegelapan, segelap hatinya yang ternyata telah patah tanpa bisa ia cegah. Tidak ada Lucius ... tidak ada.
Rico menggendong Ally dan membaringkannya ke sofa. Pandangan matanya kejam ketika menatap Carloz.
"Kau menyentuhnya, Carloz! Aku sudah mengingatkanmu! Sekarang kau terima balasanku!"
Carloz menggeleng berulang kali," Dia pantas menerimanya Tuan. Dia menyepelekanmu, Dia lari darimu!"
"Dia tidak lari dariku Carloz! Dia lari karena kau!"
Rico menoleh ke pintu, begitu juga seluruh orang yang ada di ruangan itu ketika seorang pria dengan senapan berburu di bahunya dan seorang wanita yang tak lain adalah Pabio dan Ester mendatangi.
Ester langsung berteriak ketika melihat Ally dan Alan.
"Ally! Alan ...mereka kenapa? Ya Tuhan ... Ally," Ester membelalak memandang kondisi blus dan kulit Ally yang penuh bercak darah.
"Kau Pabio bukan? Pengurus perkebunan Sanchez." ucap Rico pada Pabio yang menyandang senapan dan masih berdiri di pintu.
"Ya ... Kuharap kau mengizinkan kami membawa gadis dan bocah itu ke rumah sakit, Tuan Rico," Pabio menatap langsung ke mata Rico. Ia mengenali Tuan tanah tetangganya itu.
Rico mengalihkan pandangannya dari Pabio dan melihat ke arah Ally.
"Itulah yang akan kulakukan," lalu segera ia mengangkat Ally. Asistennya menggendong Alan dan mengikutinya.
"Kalian urus pria baji**** ini!" perintahnya pada para pengawalnya. Lalu ia berlalu ke arah mobil. Ester mendekati asisten tuan Rico dan mengulurkan tangannya.
"Biarkan aku yang menggendongnya," ujar wanita tua itu. Rico memberi anggukan pada asistennya, memberi ijin memberikan Alan pada Ester. Setelah memasukkan Ally ke dalam mobil, disusul Ester yang menggendong Alan, Rico masuk ke sebelah kemudi, dan memberi tanda pada tangan kanannya untuk segera pergi dari sana.
Pabio menarik nafas panjang, ia berharap keputusannya tepat tidak memberi tahu Lucius semua kejadian ini. Eloy membutuhkan Lucius. Sementara ini, ia akan melihat dulu, apa yang akan Tuan Rico lakukan perihal kedua kakak beradik itu. Pabio masuk ke dalam mobilnya dan mengiringi mobil Tuan Rico yang sudah melaju meninggalkan kediaman Adair.
**********
"Alan ..." panggil Ally lemah.
"Kau bangun, Sayang ...." ucap Ester penuh rasa syukur. Ally melihat Ester, dan otomatis matanya berkeliling, mencari sosok yang sangat ingin ia lihat.
"Oh, Ally. Maafkan kami ... Kami tidak dapat memberitahunya ...." Ester menangis dan menggenggam tangan Ally.
Ally punya seribu pertanyaan yang berputar di benaknya. Tapi mulutnya kelu, kering dan tenggorokannya sangat sakit. Ia hanya membuka mulut dan menutupnya lagi, berulang kali. Ester menepuk pelan punggung tangannya.
"Jangan bicara ,Sayang ... Pulihkan dulu dirimu. Kita harus berterima kasih pada Tuan Rico. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu jika pria itu tidak datang. Kau dicambuk dan lukamu ...." Ester kembali terisak,"oh, Ally ... Maafkan aku ... ini salahku ...." ucap Ester pilu.
Ally menggeleng, membalas genggaman Ester dengan airmata mengalir. Ia ingin tahu di mana Lucius. Tapi Ester belum juga mengatakannya, dan tenggorokannya terasa akan terkoyak ketika ia mencoba bicara. Ally memejamkan mata kembali ....
"Ya ,Sayang ... Jangan fikirkan apapun. Kau akan baik-baik saja. Alan juga ... Istirahatlah."ucap Ester lembut.
Ally kembali tertidur, di sofa di sudut ruang perawatan itu, Rico mendengar percakapan Ester dengan Ally. Ia belum bicara apapun pada kedua suami istri pengurus perkebunan keluarga Sanchez tersebut mengenai Tuan mereka Lucius Sanchez. Rico menyimpan pertanyaannya kenapa pria itu belum juga datang dan tidak menyelamatkan Ally.
Rico berdiri dan mendekati Ester. Ia memberi tanda dengan jarinya, mengajak Ester keluar dari ruang perawatan itu.
Ester mengikutinya, keduanya keluar dan disambut Pabio yang duduk di luar di sebelah asisten Rico di sebuah kursi panjang.
"Jadi benar selama ini Ally dan adiknya tinggal bersama kalian?" tanya Rico.
"Benar, Tuan Rico. Tuan Lucius bertemu dengannya dan menyelamatkannya dari Carloz. Kemudian membawanya ke perkebunan." ucap Pabio.
"Lalu kemana pria itu sekarang? " tanya Rico. Menanyakan pertanyaan yang berputar di otaknya sejak tadi.
Pabio menarik nafas panjang, lalu menceritakan kepulangan mendadak Lucius yang harus menengok Eloy yang tiba-tiba jatuh sakit.
"Tuan menitipkan Nona Ally dan Alan pada kami. Kami lalai menjaganya pagi ini ...Ini salahku, harusnya aku tidak meninggalkannya di luar, Kami berterimakasih padamu, Tuan Rico." ucap Ester.
Rico mengangguk, lalu mengucapkan pernyataan yang Ester dan Pabio takutkan sejak menemukan Tuan Rico sudah berada di rumah Carloz.
"Aku yang harus berterimakasih, karena Tuanmu Lucius menyelamatkan Allyku dari makhluk menjijikkan itu. Aku akan memberi hukuman setimpal pada Carloz karena berani menyentuh milikku. Setelah ini, Aku yang akan mengurus Ally dan Alan . Jadi sampaikan pada Tuanmu Lucius, Ally sudah aman ... sampaikan juga terimakasihku karena sudah menjaganya selama ini." Rico menatap ketika wajah tua pasangan suami istri itu memucat. Ia tahu Lucius Sanchez tidak hanya menolong Ally ...Ada sesuatu yang lebih mungkin terjadi di antara keduanya, dan Rico ingin tahu sudah sejauh mana hubungan antara keduanya.
"Tapi, Tuan ... Tuan Lucius hanya pulang sebentar. Ia akan kembali dan menjemput Nona Ally, juga Alan. Mereka ...." Ester berhenti berucap. Ia bingung menyampaikan jika Lucius mencintai Ally dan juga sebaliknya.
"Mereka kenapa, Ester?" tanya Rico dengan tangan bersedekap.
"Tuan Lucius mencintai Nona Ally, Tuan. Tuan Lucius tidak akan mengizinkan Anda membawa kedua kakak beradik itu." ucap Pabio.
Rico menaikkan kedua alisnya dan menatap dengan tersenyum pada kedua orang tua itu.
"Aku yakin, kalian lebih memilih tidak menceritakan hal ini pada Lucius, karena ini akan membuat fikirannya terpecah. Sedangkan keluarganya di sana membutuhkannya. Karena itu kalian sendiri yang datang untuk menyelamatkan Ally ke rumah itu, bukan?" Rico melihat suami istri itu diam dan tahu analisanya tepat.
"Aku sudah menyatakan keputusanku. Ally dan Alan sudah berada dalam perlindunganku, dan begitulah seharusnya dari awal jika aku tahu apa yang akan baji**** itu lakukan pada Ally. Soal Tuanmu Lucius, itu tidak menjadi urusanku," Rico tersenyum miring.
"Tapi Tuan Lucius akan kembali, Tuan Rico. Dia tidak akan melepaskan Ally begitu saja." ucap Ester sambil mengernyit.
"Maka aku akan menunggunya ... Biarkan saja dia datang, coba saja ambil Allyku dan Alan. Aku akan sangat menantikannya." Rico menyerigai lebar.
Pabio dan Ester saling berpandangan, mereka tahu tidak ada yang dapat mereka lakukan sekarang. Hanya Tuan Lucius yang mampu berhadapan langsung dengan pria di hadapan mereka ini.
"Dan Anda akan melepaskannya jika ia datang? Atau Anda akan mempersulitnya?" tanya Ester lagi.
Kali ini Rico terkekeh," Pulanglah Pabio, Ester ... Sudah hampir malam. Beristirahatlah ... Serahkan Ally dan Alan dalam perlindunganku. Soal Lucius ... Biarkan dia datang dahulu , baru Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Yang pasti tidak akan semudah itu baginya meminta ally padaku. Karena sedari awal, Ally sudah jadi milikku."
Setelah mengucapkannya, Rico undur diri. Ia kembali masuk ke ruangan perawatan. Membiarkan Pabio dan Ester mencerna ucapannya dan kembali menghembuskan nafas panjang berbarengan. Tahu, tidak ada yang dapat keduanya lakukan selain menunggu Tuan mereka kembali.
**********
From Author,
Cuacanya jelek terus, jaga kesehatan ya semua ... makan bergizi, cukup istirahat, batasi aktifitas di luar rumah dan berdoa ...semoga kita selalu diberikan kesehatan, Aamiin...
Thor minta like lagi, komentar, vote ,bintang lima dan favorite ya ... penyemangat author dalam menulis.
Terima kasih...
Salam, DIANAZ.