
Amy memandang puas pada tampilan meja makan besar di tengah hamparan halaman belakang mansion Costra. Meja panjang dengan banyak lilin itu tampak hangat dan menyatu dengan suasana sekitar tempat itu. Tak Jauh dari meja panjang, kerlip air di kolam renang milik Enrico terlihat berkilau karena bias lampu dari arah mansion yang tampak terang benderang.
"Ini menakjubkan, Nyonya," puji Frederic pada Amy yang mengawasi pelayan mengatur peralatan makan di atas meja. Amy mendongak dan tersenyum.
"Apa Tuanmu tidak pernah menyelenggarakan pesta?" tanya Amy.
Frederic tampak berfikir, "kurasa sudah lama sekali mansion ini tidak pernah lagi mengadakan pesta. Tuan lebih sering menyelenggarakan pesta di desa. Hampir seluruh penduduk di sana bekerja di perkebunan Costra Land."
"Kenapa tidak di adakan di sini?"
"Kurasa Tuan tidak mau repot, Nyonya Amy."
"Ini tidak repot. Ini menyenangkan. Kurasa karena di mansion ini belum ada seorang Nyonya yang mengatur semuanya. Kau harus membuatnya berfikir tentang istri, Fred."
"Beliau tidak kekurangan wanita, Nyonya. Tapi memang belum ada yang membuatnya jatuh cinta dan ingin memperistri wanita itu."
"Kuharap wanita itu akan datang, Frederic."
Amy kembali tersenyum dan memeriksa ulang semua pekerjaan dan persiapan menyambut keluarga Sanchez. Ia tak bisa berhenti tersenyum, membayangkan reaksi Reggie dan juga Lucius serta seluruh anggota keluarga itu bila nanti melihat dirinya dan Derek telah berada di mansion Costra.
**********
"Kalian tidak mengenakan jas?" Eloy mengernyit memandang Lucius dan juga Lance. Keduanya mengatakan telah siap. Namun hanya mengenakan kemeja tanpa jas.
"Regina memaksa kami melepaskannya," ucap Lucius.
Mike yang juga telah siap mengerutkan kening, "kenapa?" tanya Mike penasaran.
"Karena keduanya memakai jas kusut yang baru dikeluarkan dari koper. Seharusnya kalian mengeluarkannya dari kemarin dan memberikannya padaku! Apa kata Enrico nanti, Lucius Sanchez terlihat tidak menarik sama sekali!" Reggie datang dan langsung mengulurkan dua jas yang sudah disetrika pada Lance dan Lucius.
"Biarkan saja, aku tidak perlu Rico tertarik padaku. Aku hanya perlu Ally yang tertarik padaku. Bukan begitu, Lance?" Lucius mengedipkan matanya pada Lance.
"Tentu, Tuan," jawab Lance singkat.
Reggie mendengus, lalu mengulurkan tangan mengambil putrinya dari gendongan Nanny.
"Ya Tuhan ... Mereka orang yang masa bodoh! Kuharap kedua kakakku cepat-cepat menikah, sehingga ada orang yang akan terus mengingatkan mereka nantinya. Ayo Bibi Ester."
Setelah menarik tas tangannya, Reggie melangkah keluar sambil mengajak Ester. Ia tidak menyadari ucapannya yang kelepasan tentang dua kakak.
Mike dan Tuan Eloy menatap bergantian pada Lucius dan Lance. Kening Lucius tampak berkerut heran, sedang Lance tampak menelan ludah sebelum menata kembali ekspresinya.
"Apa yang kalian tunggu!? Ayo kita pergi!" Reggie menoleh dan menyadari tidak ada yang bergerak dari ruangan itu.
"Baiklah, Nyonya Regina. Ayo pergi ... Ayah ...." Mike mengajak ayah mertuanya yang segera mengangguk dan melangkah.
"Kau tahu siapa ...." Lucius tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Lance sudah berjalan mengikuti keluar dari rumah itu.
Lucius menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi perlahan.
"Oke ... Baiklah, kesampingkan dulu hal ini, aku akan membahasnya nanti saat pulang," Lucius bicara sendiri sambil mengikuti di belakang Lance.
**********
Tiga mobil yang membawa keluarga Sanchez berhenti di depan mansion. Enrico telah berdiri dalam setelan formal dengan senyum terkembang di bibirnya.
Eloy Sanchez tampak keluar dari mobil yang dikendarai oleh pabio, dari pintu belakangnya turun Ester yang segera mengatur syal di lehernya lebih erat.
Dari mobil kedua, Enrico melihat pria tinggi bertubuh besar yang merupakan menantu Tuan Eloy berjalan memutar dan membukakan pintu untuk istrinya yang menggendong seorang bayi montok berambut hitam. Seorang Nanny menyusul turun dari mobil itu. Dari mobil ketiga Enrico melihat Lucius dan asistennya Lance turun bersamaan. Enrico langsung menyerigai karena teringat cerita dari pelayannya tentang dua pria yang datang mencari Ally dan Alan saat mereka pergi menjemput Derek. Tentu saja Enrico berani memastikan dua pria itu pastilah Lucius dan Lance, yang harus pulang dengan sedikit umpatan yang terlontar untuk dirinya.
"Kalian sudah datang, mari Paman ... Masuklah," sambut Enrico.
Dari pintu yang terbuka lebar, Derek dan Amy bisa melihat seluruh anggota keluarga Sanchez yang mulai mendekati Enrico, merekapun berjalan bersamaan hendak ikut menyambut.
"Amy!!" Reggie langsung berteriak ketika melihat Amy yang berjalan ke arah pintu dalam gandengan suaminya.
"Derek!?" teriak Mike dan Tuan Eloy.
"Langton!" seru Lucius.
Lance hanya memandang terkejut tanpa bisa mengucapkan apa-apa.
Enrico, Pabio, Ester dan juga Nanny memandang heran pada pemandangan di depan mereka.
Reggie dan Amy berpelukan dengan Marie terjepit diantara mereka. Tawa dan ucapan keduanya yang berhamburan dan tidak beraturan, membuat Marie akhirnya menangis kencang.
Mike segera mengulurkan tangan untuk mengambil putrinya yang menangis.
"Ya, Ampun, Gina ... kau belum lama tidak melihat Amy. Kau bersikap seolah sudah setahun tak melihatnya ...." Mike mengayunkan Marie dalam pelukannya.
"Kau selalu heboh seperti gadis kecil setiap bertemu Reggie, Amy. Kau tidak malu pada Marie ya ...." Derek tertawa geli melihat istrinya yang tertawa gembira sampai sesekali wanita mungil itu melompat lompat girang.
"Apa ada yang bisa menjelaskan ini? Kau mengenal mereka, Derek?" tanya Enrico.
"Ya ... Kenapa kalian yang menyambut kami di mansion Costra, Langton?" tanya Lucius.
"Kurasa ... Sekarang aku ingat dimana aku pernah bertemu denganmu, Enrico." Mike menyerigai lebar sambil memandang Enrico.
"Well ... semua ini aneh ... Sebaiknya kita semua masuk dulu," ucap Enrico.
Ajakan Enrico segera di ikuti oleh keluarga Sanchez. Satu persatu mereka masuk dengan tetap bercakap-cakap tentang kenapa Derek dan Amy bisa ada di sana, Selingan tawa juga terdengar dalam percakapan itu. Hanya satu orang yang belum melangkah masuk. Ia berdiri dengan sinar mata terkejut menatap ke arah dalam.
Lance belum bisa menggerakkan kakinya, matanya terpaku, hanya bisa terus menatap tanpa bisa beralih, seiring detakan jantungnya yang mulai berdentum dengan irama cepat.
**********
From Author,
Hallowwww..... pendek ya? nanti thor up lg kok...sabar ya readers sayangkuh semuanya. Eittssss....jan lupa klik like dulu, and kasih koment ya, bintang lima ama love nya juga bagi yang beloom...
Terima kasih semuanya,
Salam, DIANAZ.