
Liz melempar seikat uang ke atas lantai kamarnya. Empat gadis yang duduk bersila di lantai kamarnya itu tersenyum lebar.
"Aku membayar kalian untuk mengerjai si rambut hitam Rose. Tapi lakukan tanpa ribut-ribut. Bawa ia ke sel penjara bawah tanah, lalu lakukan rencana kita tadi di sana."
Keempat gadis itu mengangguk.
"Bagaimana dengan Elina, Liz?" Salah satu dari mereka bertanya.
"Ya. Gadis penuh bintik itu pasti akan mencarinya ketika Rose menghilang terlalu lama," ucap gadis yang lain.
"Kalian tidak punya masalah dengan mereka sebelumnya. Jadi salah satu dari kalian akan menjemput Rose. Katakan jika kepala pelayan membutuhkan beberapa pelayan untuk membantu tukang kebun. Besok jadwal tukang kebun melakukan perawatan taman mawar."
Dua gadis baru yang dibayar oleh Liz itu menganggukkan kepalanya.
"Dan kalian harus menyergapnya saat ia turun. Bawa dia ke sel bawah tanah.Tutup mulutnya kuat-kuat!"
Dua gadis lain mengangguk mendengar perintah Liz.
"Dan satu yang tersisa diantara kalian harus mengamankan jalan menuju sel. Pastikan tidak ada orang yang melihatnya, lalu lakukan perintahku di sel bawah tanah. Bawa alat-alat yang kalian butuhkan. Kuingat pada kalian ... dia sangat kuat, sepertinya dia mampu melakukan beberapa jurus bela diri. Kalian harus bersama-sama melakukannya."
Liz tersenyum puas ketika keempat kepala di hadapannya itu mengangguk. Dia akan membuat Rose membayar karena sudah menyebabkan kepalanya bengkak waktu itu, meskipun ia harus kehilangan uangnya kali ini karena harus membayar jasa antek-anteknya.
Setelah rencana itu dibicarakan dengan matang dan masing-masing mengerti atas tugasnya, keempat gadis itu membagi bayaran mereka sama rata lalu mulai berdiri meninggalkan kamar Liz.
"Aku akan merasa puas walaupun aku harus kehilangan uangku kali ini. Aku akan membalas perlakuanmu, Rose." Liz berbisik pada pintu kamarnya yang tertutup setelah gadis terakhir keluar meninggalkan kamar.
**********
Keesokan harinya Liz sudah bersiap untuk ikut lagi bersama Madam ke rumah sakit. Mary rupanya belum juga sembuh, sehingga Liz kembali menggantikannya untuk membantu menjaga tuan Eloy.
Ia mengeluarkan gelang mutiara milik Rose dari saku bajunya dan tersenyum sinis.
"Aku akan memperlihatkan benda berhargamu ini untuk terakhir kalinya, Gadis udik." Liz mengenakan gelang itu di tangan kirinya.
Lalu dengan sengaja ia berjalan mendekati Rose dan Elina yang membawa sekeranjang linen kotor untuk dibawa ke area mencuci. Liz menyadari Rose akan sangat marah. Tapi keberadaan Madam tak jauh dari sana akan membuat Rose takut untuk memulai keributan dengannya. Liz sengaja sedikit mengangkat tangan kirinya ketika lewat.
Reggie dan Elina berhenti ketika perhatian mereka terfokus pada tangan kiri Liz. Gelang yang melingkar di sana membuat Reggie mengeretakkan gigi.
Senyum Liz terkembang. Tahu bahwa ia berhasil membuat kesal gadis itu.
"Aku pergi dulu para gadis bodoh! Dahh ...." Liz melambaikan tangannya dengan senyum ramah palsu ia sunggingkan di bibir. Ia mendekati Madam.
"Kau sudah siap, Liz?"
"Sudah, Madam," ucapnya sambil sedikit membungkuk.
"Baiklah ... ayo pergi." Madam dan Liz keluar meninggalkan mansion.
Rose dan Elina memandang kesal. Tapi tidak dapat membuat keributan didekat Madam.
"Aku yakin gadis jahat itu akan ketahuan juga belangnya sebentar lagi. Madam tidak bodoh. Kurasa ia akan bisa menebak jika Liz tidak berhenti mengganggu para pelayan."
Reggie hanya mengangguk perlahan.
********
Madam mengernyit memandang deretan dokter dengan jas putih yang berada di ruang tunggu perawatan tuan Eloy. Sofa besar di ruangan itu diisi oleh para pria bertubuh besar dengan ketampanan yang membuat Liz yang berdiri di sebelahnya melotot. Madam mengira gadis itu akan meneteskan air liur.
Lance mendekati Madam yang terlihat kebingungan. Ia tersenyum pada wanita paruh baya yang setia pada keluarga Sanchez itu.
"Mereka teman Tuan Lucius, Madam. Mereka membawa tim dokter yang sekarang tengah berdiskusi dengan tim dokter kita. Empat orang sekarang tengah ada di dalam, memeriksa Tuan Eloy."
Madam tersenyum cerah mendengar penuturan Lance. Ia segera mengangguk dan menggamit Liz agar menyingkir dan berdiri di sudut belakang. Jangan sampai mereka mengganggu pekerjaan para dokter itu.
"Dokter Barkley ... duduklah ... kalian juga, Dok." Pria yang tidak lain adalah Derek mempersilakan ke empat dokter itu duduk. Dua dari mereka adalah dokter Lucius.
"Bagaimana?" Lucius bertanya penuh harap.
"Dokter Lawrence merupakan salah satu yang terbaik, Tuan Lucius. Anda beruntung ia yang memegang perawatan ayah anda." Dokter Barkley tersenyum. Rekannya yang duduk di sampingnya ikut mengangguk.
"Sejauh ini pendapat kami sama dengan dokter anda. Secara medis kebutuhan hidupnya bisa dibantu dipenuhi. Tapi untuk bangun dari coma ini, Ayah anda membutuhkan semangat dan doa yang tiada henti ...."
Lucius menarik napas panjang. Ia menoleh ketika merasakan tepukan di bahunya. Derek terlihat tersenyum setelah menepuk bahunya memberi semangat.
"Dokter Lawrence mengatakan jari ayah anda bergerak ketika nama adik anda di sebut. Jika itu benar, sepertinya kehadiran adik anda mungkin dapat memberikan efek yang kita inginkan." Rekan dokter Barkley memberikan pendapatnya.
Lucius kembali menarik napas dan mengembuskannya dengan keras.
"Itulah yang sedang aku usahakan, Dok ... hanya saja sampai saat ini aku belum berhasil menemukannya."
Semua orang yang bekerja di keluarga Sanchez terlihat menunduk sedih. Derek dan Mike saling berpandangan dari tempat duduk mereka.
"Well ... selalu menyimpan harapan. Jangan putus asa. Semoga keajaiban akan segera datang." Ucapan optimis Derek akhirnya membuat senyum tersungging di bibir setiap orang yang ada di sana.
Dokter Barkley menepuk lutut Derek dan mengedipkan matanya.
"Kau selalu bisa menghibur hati orang-orang, Derek." Dokter Barkley tersenyum bangga. Ia melirik Mike yang juga tengah tersenyum memandang putra Erland itu.
"Baiklah Lucius, kami undur diri. Maaf belum bisa memberikan bantuan berarti untukmu," ujar Derek.
Lucius menggeleng cepat.
"Tidak ... aku yang minta maaf karena telah merepotkanmu. Aku sangat berterimakasih."
Lucius mengulurkan tangannya dan segera dijabat dengan erat oleh Derek. Tanpa sadar Lucius menarik dan mendekap Derek.
"Terimakasih," ujarnya pelan.
Lucius merasa seseorang menerima berbagi beban bersamanya. Membuat hatinya merasa ringan, lalu Mike mengulurkan tangannya dan Lucius melakukan hal yang sama.
"Kau juga ... terimakasih."
Mike memejamkan matanya ketika Lucius mendekapnya seperti tadi ia mendekap Derek. Hanya sekilas, namun membuat hati Mike tidak tenang dan gelisah.
Apa yang akan kau lakukan ketika kau tahu kalau kami mengenal adikmu ....
Mike dan Derek bersalaman dengan para dokter yang merawat tuan Eloy, lalu didahului oleh Mike, mereka melangkah menuju pintu keluar. Mike melirik sekilas pada Lance dan dua orang pelayan yang berdiri di dekat pintu keluar. Mike tersenyum mengangguk pada Lance yang membalasnya dengan sedikit membungkukkan tubuh, begitu juga dengan dua pelayan di sampingnya.
Mike terus melangkah dan ketika sampai di depan pintu ia tiba-tiba berhenti. Membuat Derek yang berjalan di belakangnya menabrak punggung Mike.
"Mike ... kenapa tiba-tiba ...." Derek menggosok hidungnya yang menabrak belakang kepala Mike.
Mike menoleh kembali pada dua pelayan tadi. Memindai keduanya lebih teliti, lalu memfokuskan pandangannya pada si gadis pelayan. Sesuatu menggelitiknya ketika tadi ia memandang sekilas pada gadis itu.
Derek memandang bingung. Ia ikut melihat arah pandangan Mike. Membuat semua orang ikut memandang ke arah gadis pelayan.
Liz merasa jantungnya berdebar keras. Wajahnya memerah ketika menyadari pandangan mata semua orang terarah padanya. Yang paling menggelisahkan adalah sepasang mata abu-abu yang lekat memandangnya tak berkedip.
Mike terpana melihat gelang yang gadis itu pakai. Ia bolak-balik memandang gelang yang melingkari tangan kiri gadis itu, lalu memandang wajah si pelayan. Jantungnya mulai bertalu, otak Mike berpikir keras.
Gelang itu ... gelang mutiara ....
**********