Love Seduction

Love Seduction
EPILOG season 1



--- Marinna Eliazar birthday party ---


Kerlip lampu terang benderang menerangi seantero mansion Eliazar. Riuh rendah suara tawa dan celotehan anak-anak memenuhi aula dan beberapa ruangan di dalam mansion. Suara musik, dan pertunjukan biola dari beberapa anak-anak mengundang tepuk tangan dan pujian dari setiap hadirin yang hadir di pesta ulang tahun Marinna Eliazar yang pertama.


"Dia terlihat sudah mengantuk, Reggie," Amy mencolek pipi Marie yang terlihat hampir terpejam dalam gendongan ibunya.


"Kau benar, sebaiknya aku menidurkannya ke atas."


"Pergilah ... sudah waktunya dia beristirahat. Arthur sudah tertidur sejak tadi," ucap Amy. Reggie segera mengangguk dan baru berjalan beberapa langkah ketika ujung gaunnya di tarik oleh seseorang. Ia menunduk dan melihat Erland yang menarik ujung gaunnya dengan satu tangan dan satu tangan lagi berada dalam genggaman Derek.


"Aunty ... bolehkah Marie bermain dulu bersamaku?" tanyanya dengan sorot mata penuh harap.


Reggie menatap Derek lalu beralih ke Amy yang akhirnya berusaha memberi pengertian pada putranya.


"Erland, Marie sudah mengantuk, Sayang. Lihatlah ia hampir tertidur." Amy menunjuk ke arah Marie.


Wajah Erland tiba-tiba menjadi lesu, ia melepas pegangannya pada ujung gaun Reggie.


"Ayolah, kita bisa bermain bersama teman-temanmu yang lain," ajak Derek pada putranya.


"Kenapa bayi selalu saja tidur, Ayah? Arthur juga begitu," tanyanya sambil mengernyit pada Derek.


Derek menggaruk kepalanya sambil menatap pada Amy yang hanya membalas tatapannya dan tersenyum geli.


"Well ... kurasa nanti, jika mereka menjadi lebih besar, mereka tidak akan lagi terlalu banyak tidur," ucap Derek sambil mengusap kepala Erland. Bocah itu hanya memajukan bibirnya ketika mendengar jawaban sang ayah, menandakan ia tidak puas atas jawaban itu.


Kelebat Mike di ujung ruangan membuat Erland akhirnya langsung berlari meninggalkan mereka.


"Ah, sepertinya aku sudah boleh pergi?" Reggie terkikik disambut oleh tawa geli Amy.


"Ia sangat suka bermain bersama Marie," jawab Amy


"Erland suka melihat bayi, Amy. bayi siapapun itu, sebaiknya kau menambah lagi jumlah adiknya," goda Reggie. Derek segera tertawa dan memeluk istri mungilnya dari belakang ketika mendengar perkataan Reggie.


"Itu saran yang bagus Reggie, bagaimana Sweety? seorang adik lagi untuk Erland?"


Amy merona dan menepuk lengan Derek yang mengelilinginya."Jangan menggodaku!"


Derek terkekeh dan mencium pipi istrinya yang merona. "Aku tidak menggodamu, mungkin saja anak kita nanti perempuan. Jadi, aku juga punya kesempatan untuk memberinya nama."


Derek dan Amy memang punya kesepakatan untuk nama anak-anak mereka. Jika anak yang lahir laki-laki, maka Amy lah yang akan memberi nama, dan jika anak yang lahir perempuan, maka Derek lah yang akan menamainya. Putra mereka sudah 2 orang dan sesuai kesepakatan, Amy yang telah memilih nama untuk putra-putra mereka.


Reggie terkekeh geli melihat pasangan itu, kemudian kembali berpamitan untuk menidurkan Marie ke kamar bayi.


Setelah Reggie berlalu, Derek memandang ke arah Mike yang tengah berlutut dengan satu kaki yang menapak di lantai. Di depannya, Erland berkacak pinggang dan bibir bocah itu sepertinya terus mengucapkan sesuatu.


"Aku sangat heran, Mike selalu mampu meladeni semua pertanyaan dan keingintahuannya," Derek mengarahkan tubuh Amy yang ada di pelukannya ke arah ujung ruangan tempat putranya Erland tengah mengoceh.


"Dia selalu puas dengan semua jawaban Paman Mike nya,"ujar Derek lagi.


"Itu karena Paman Mike selalu punya jawaban dari tiap pertanyaan yang dilontarkan olehnya."


"Aku juga punya jawaban di setiap pertanyaan yang ia ajukan. Tapi tidak pernah memuaskan seperti jawaban Paman Mike," keluh Derek.


"So sweet ... rayuan apa yang tengah ia bisikkan ke telingamu Amy?" Evangelin mendatangi pasangan itu dari sisi belakang, membuat Derek dan Amy berbalik tanpa melepaskan pelukan mereka.


"Aku tengah merayunya untuk memberikan adik lagi untuk Erland," ucapan Derek mendapatkan tepukan lagi di lengannya.


Eve terkekeh geli, " Berikan saja ,Amy. Siapa tahu kali ini perempuan."


"Nah, Eve saja mendukung ... Ayolah Sweety," rayunya lagi.


"Dimana Alex, Eve?" Amy mengalihkan pembicaraan, membuat suaminya dan Eve tertawa bersamaan. Namun, tak urung Eve tetap menjawab pertanyaan itu.


"Sedang mengobrol bersama Lucius dan Lance, sesuatu tentang sistem pengamanan, atau apalah itu, aku pergi karena bosan ...." sungut Eve.


"Oh ayolah Eve, kau malah senang membahas hal-hal seperti itu, ada apa?" tanya Derek lagi.


"Jadi tidak menarik karena mereka membantahku di setiap kesempatan, mereka menjengkelkan jika sudah berkumpul," sungutnya lagi.


"Harusnya kau ajak para Ladies untuk membantumu," ujar Derek.


"Sudah tidak menarik," Eve mengedarkan pandangan dan mendapati para pria tua klan Langton dan Eloy Sanchez terlihat berdebat di sofa ujung ruangan.


"Kurasa lebih menarik untuk mencuri dengar apa yang dibicarakan para pria paling tampan di sudut sana." Eve melenggang pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Kurasa Alex belum pernah mencoba melamarnya." Eve mendengar suara paman Stefano menyebut nama Alex ketika ia mendekat. Eve mengernyit.


"Kalian membicarakan apa, Paman?" Eve berdiri di belakang sofa panjang, dimana Eloy Sanchez, paman Stefano dan paman Noel tengah berbicara dengan paman Frank yang duduk di sofa tunggal di dekat mereka.


"Ah, Evangeline, kemarilah ... duduk disini, kami ingin bertanya." Frank Damario menepuk-nepuk lengan sofa yang ia duduki, menyuruh Eve duduk di dekatnya.


"Katakan pada kami Eve, apakah Alex sudah pernah mencoba melamarmu?" ucapan Frank Damario di ikuti dengan anggukan dari tiga kepala lain yang duduk berjejer di sofa panjang. Eve tiba-tiba bergidik, menyadari empat pasang mata yang menatapnya penasaran.


astaga ... para sesepuh ini mulai beraksi lagi.


Kelebat sosok Lucius yang sedang melangkah dan kemudian dihentikan oleh beberapa Nyonya yang merupakan anggota keluarga klan Langton membuat Eve mengucapkan ide yang melintas di otaknya.


"Paman Damario ... dan Paman-paman tampanku sekalian, daripada menanyakan hubunganku dan Alex, lebih baik kalian memfokuskan diri pada Lucius. Pria itu harusnya sudah memiliki seorang gadis yang akan ia nikahi, tapi dia berpura-pura menikmati status bujangannya itu. Aku dan Alex bisa menikah kapanpun kami mau. Kami saling mencintai dan ke arah itulah ujung dari hubungan yang kami inginkan. Jadi, berilah bantuan kalian untuk Lucius. Carikan gadis baik hati dan cantik untuknya ... aku tahu kalian adalah ahlinya." Eve mengakhiri pidatonya dengan satu kedipan mata.


Kepala para pria tua yang sudah beruban itu menoleh dan menatap sosok Lucius.


"Kau benar, Eve. Lucius perlu berkencan ... mungkin saja akhirnya aku akan melihatnya menikah." Eloy Sanchez mendesah, ia mendapat tepukan di paha kirinya dari paman Noel dan tepukan dipaha kanannya dari paman Stefano.


"Bersabarlah Eloy, kami akan membantumu," ucap paman Damario.


Eve menyerigai lebar, sebelum akhirnya ia pamit dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu.


**********


"Mike?" Reggie mengikuti ketika suaminya menariknya ke ruang kerja. Sekarang Mike duduk di kursi kerjanya di balik sebuah meja besar.


"Tidak akan ada yang masuk kemari. Dimana-mana mansion kita penuh orang," ujarnya sambil menarik Reggie agar duduk dipangkuannya.


"Sudah ada beberapa yang pulang, Mike. Mereka yang punya bayi dan anak kecil. Anak-anak harus segera tidur."


"Biarkan Amy dan Derek yang mengurusnya, atau Lucius bila perlu. Aku ingin berdua saja denganmu."


Reggie tertawa mendengar ucapan suaminya.


"Mike, setiap hari kita berdua. Kita berpisah hanya jika kau pergi ke kantor," ungkap Reggie geli.


"Hari ini tidak. Kau begitu sibuk sampai-sampai aku harus memaksa menarikmu kesini," sungut Mike.


Reggie tersenyum dan mengecup pipi suaminya, lalu ia bersandar di dada bidang Mike, mendengar detak jantung teratur dari cinta sejatinya itu.


"Tidak terasa Marie sudah setahun," bisik Reggie .


"Ya, makin lucu dan manis," ucap Mike sambil mengeratkan pelukannya.


"Apakah kita bisa mulai memikirkan untuk memberinya adik?" Reggie mendongak menatap mata abu-abu suaminya. Mike menunduk menatap mata istrinya ketika pertanyaan itu tercetus.


Wajah Mike langsung berubah, mata abu-abu itu terlihat mulai gelisah. Mike menggeleng pelan.


"Tidak, Gina. Aku tidak mau kau menghadapi kemungkinan bertaruh nyawa lagi ketika proses persalinan. Sudah cukup untukku ... aku tidak mau mengalaminya lagi."


"Tapi persalinan Marie sebelum waktunya dikarenakan ada kejadian waktu itu."


"Tidak. Tetap saja tidak," ucap Mike tegas.


Reggie menarik nafas panjang, ia hanya menguji pemikiran suaminya. Apakah masih sama tentang kemungkinan untuk mempunyai anak lagi. dan rupanya tetap tidak berubah. Mike masih takut tentang kemungkinan Reggie hamil lagi.


Masih banyak waktu untukku membujuknya. Lucette mengatakan karena proses persalinan Marie dilakukan dengan operasi caesar, maka paling aman memberi jarak sampai dua tahun ... kuharap Mike berubah fikiran ....


Reggie memejamkan mata, bersandar santai dengan lengan suaminya memeluk erat. Mike menunduk mengecup puncak kepala istrinya.


"Aku mencintaimu Regina ...." bisik Mike perlahan.


Reggie tersenyum dan membuka matanya, ia mendongak untuk menatap kilau mata abu-abu Mike yang juga tengah menatapnya.


"Aku tahu, dan aku juga mencintamu Michael. My Mike ...." Regina balik berbisik.


Mike tersenyum dan menunduk, mulai mencium bibir istrinya dan menuang segenap perasaan kasih dan sayangnya dalam ciuman itu. Mengucap syukur atas kebahagiaan yang hadir dalam kehidupannya bersama seorang istri, seorang putri, saudara yang banyak, dalam naungan keluarga besar yang saling menjaga, saling melindungi, saling mencintai dan menghargai hingga hidupnya terasa berharga dan sangat berarti.


"I wanna hear it every day in my life, Honey ...."


--- THE END ---


**********


From Author,


Semoga selalu bahagia Mike and Regina😘😘


Jangan lupa Like, love ,komentar, bintang lima, dan vote ya pembaca semua...


Terimakasih banyak udah baca karya Author


See you at 'Love Seduction 2'


Salam, DIANAZ.