
Reggie menoleh ketika mendengar suara musik mengalun dari pintu yang terbuka lebar, ia memandang pasangan Amy dan Derek yang mulai berdansa. Ia tersenyum bahagia melihat senyuman nonanya yang melangkah anggun mengikuti irama musik dalam pelukan Derek.
Reggie teringat pada orang tua Amy, Tuan Arthur dan Mother Greta. Andai keduanya masih hidup dan melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah nonanya itu, akan terasa lengkaplah semuanya.
Dengan hati sendu karena teringat pada orang tua Amy dan ibunya sendiri yang telah tiada, Reggie melangkah menuruni undakan tangga menuju kursi panjang ke arah taman. Ia duduk dan memandangi langit, melukis sebuah wajah yang selalu mampu menenangkannya dengan pelukan.
"I miss you so much, mom ...." Reggie berbisik pada angin, ia memejamkan mata, membiarkan bulir-bulir bening mengalir menuruni pipinya yang putih, membiarkan kerinduannya melayang terbawa angin, terbang dan sampai pada ibunya di atas sana.
Mike menghentikan langkahnya, Ia tidak salah lihat. Gadis itu tengah menangis. Niat awalnya adalah ingin mencari dan mengejutkan Reggie, sehingga Mike datang dengan langkah yang ia atur agar tidak terdengar. Ia selalu bisa datang dengan tiba-tiba dan mengejutkan gadis itu. Namun pemandangan yang dilihatnya membuat Mike mengeraskan tapakan kakinya hingga terdengar jelas.
Reggie dengan cepat menghapus air matanya ketika mendengar suara langkah kaki. Gadis itu menoleh waspada.
"Di sini kau rupanya." Suara berat Mike terdengar bagai pelipur bagi hati Reggie yang amat gelisah. Gadis itu tersenyum.
"Aku tidak kabur, Mike," ucapnya.
"Yeah ... kalian wanita Klan Sky suka sekali melarikan diri." Mike duduk di kursi panjang di sebelah Reggie. Laki-laki itu membuka jas yang ia pakai dan segera menyampirkannya ke bahu Reggie.
"Pakai ini. Sudah mulai dingin."
Reggie menyelubungi tubuhnya dengan jas itu. Mengeratkannya ke sekeliling dan merasakan kehangatan yang ditinggalkan tubuh Mike di sana. Ia menghirup napas dan mencium wangi yang sudah sangat ia kenali.
"Terima kasih," bisik Reggie pelan. Suara yang terdengar menyedihkan di telinga Mike.
"Sudah seharusnya. Pakaianmu tidak akan mampu menahan udara dingin."
"Bukan ini saja ... terima kasih karena kalian sudah menyelamatkan Nonaku."
"Kalau pun aku tidak melakukannya, Derek sudah pasti akan melakukannya."
Lalu keheningan mewarnai sekitar mereka. Mereka mendongak memandang langit.
"Pria itu benar-benar membantu kalian?" Pertanyaan Reggie sangat pelan, seolah gadis itu ragu menyuarakannya.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Mike sambil menoleh, menilai ekspresi Reggie di bawah temaram lampu taman.
"Lucius Sanchez," bisik Reggie.
Mike mengerutkan kening, menatap menyelidik ke arah Reggie.
"Aku ingin bertanya padamu, Regina. Apakah kau mengenal Sanchez?"
Gadis itu menggeleng.
"Tidak." Jawaban pelan itu entah kenapa membuat Mike yakin Reggie berbohong. Tapi ia tidak akan memaksa. Ia akan mengetahui semuanya perlahan. Memberikan waktu yang Reggie butuhkan untuk menenangkan kegelisahannya dan mau membuka semua penyebab kegelisahan itu.
Gadis itu kembali mengeratkan jas ke sekeliling tubuhnya.
"Sudah mulai dingin ... ayo masuk." Mike memegang siku Reggie, menghela pelan mengajak gadis itu masuk kembali ke dalam mansion. Namun Reggie bergeming, gadis itu tidak bergerak dan menunduk memandangi ujung sandalnya.
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
Mike yang sudah berdiri menunduk memandangi puncak kepala Reggie.
Sebenarnya apa yang membuatmu sangat gelisah. Mike bertanya-tanya dalam hati.
Beberapa saat menunggu dan tidak kunjung menerima jawaban, Reggie akhirnya mendongak dan memandang mata abu-abu yang tengah menatapnya. Ia menelan ludah.
Sudah terlanjur memohon ... sebaiknya kukatakan saja. Reggie menguatkan hatinya yang ragu..
"Bisakah aku tetap tinggal di apartemenmu? Hanya untuk beberapa saat saja ...." Reggie mengucapkan keinginannya.
Uhh ... memalukan sekali.
Reggie merasa ingin menjitak kepalanya sendiri. Mike mengernyit heran mendengar perkataannya.
Reggie tak berhenti ingin kabur ketika Mike mengurungnya di apartemen. Ingin pergi menyelamatkan Amy dan bersama gadis itu. Sekarang saat sudah bisa bersama-sama kembali, ia memilih ingin tinggal di kamar apartemen. Namun Mike tidak menyuarakan keheranannya.
"Tentu saja, jika itu yang kau inginkan." Jawaban Mike membuat senyum akhirnya terkembang di wajah Reggie. Gadis itu berdiri dengan senyum penuh rasa terimakasih. Ia tidak ingin membuat Amy khawatir. Malam-malam penuh mimpi buruk yang menghantuinya sejak bertemu Lucius Sanchez membuatnya kadang merintih dan berteriak di dalam tidur dan ia tidak akan bisa menjawab jika Amy mulai bertanya tentang penyebab mimpi buruknya.
"Ayo ... kita masuk." Mike menggandeng tangan Reggie dan menariknya ikut masuk ke dalam mansion. Dengan langkah dan perasaan lebih ringan Reggie mengikutinya.
"Terimakasih ... karena tidak bertanya kenapa ...." Reggie berucap kemudian. Mike mengangguk mengerti dan merasakan pegangan jari-jari Reggie mengetat di rengkuhan lengannya.
**********
Reggie menarik napas lega ketika sampai ke apartemen Mike. Ia tidak dapat melupakan wajah Amy yang kecewa saat ia mengatakan akan tinggal di apartemen Mike. Namun ia merasa inilah yang terbaik yang bisa dilakukan.
Reggie memberikan senyumnya pada Leon, Valet yang biasa mengurus mobil Mike.
"Selamat malam, Regina," balas Leon.
Mike mengernyit melihat kedua orang itu bertukar senyum dan mendengar Leon memanggil gadis di sebelahnya ini dengan nama Regina.
"Jadi sekarang kau sudah mengenal orang-orang di sekitar apartemenku, bahkan sudah saling memanggil nama?" Mike mengerutkan dahinya memandang Reggie sambil memencet lift ke lantai tempat apartemennya berada.
Reggie mengangguk, melihat pintu lift tertutup dan bergerak membawa mereka ke apartemen Mike.
"Ya. Aku tahu pengawal yang ditempatkan di pintu apartemenmu bernama Marquez dan Shawn, lalu ada si tua tangguh Fidel yang sangat suka coklat hangat, ada Cesar, Castro, Nick, kemudian Silvia dan Luz yang biasa datang dua kali seminggu untuk membersihkan apartemenmu."
Reggie melihat kerutan makin banyak di dahi Mike.
"Jangan katakan kau bahkan tidak tahu nama orang yang membersihkan tempat tinggalmu." Reggie menaikkan alisnya, namun Mike menolak membahasnya, karena ia memang tidak tahu.
Mereka sampai dan Mike membuka kode kunci, Reggie terlihat kembali menyapa pengawal yang berdiri tak jauh dari tempat Mike berdiri.
Mike sengaja berlama-lama karena ingin menguping pembicaraan mereka.
"Jadi kau masih berlatih di sasana tinju?" tanya Reggie antusias. Laki-laki paruh baya di hadapan gadis itu tersenyum dan mengepalkan kedua tangannya sambil mendemonstrasikan gerakan tinju ke samping kiri dan kanan tubuh Reggie.
Reggie terkekeh dan bertepuk tangan.
"Aku gembira akhirnya Lily kembali mengizinkanmu ke sana," ujarnya gembira.
Mike berdeham hingga kedua orang itu menoleh.
"Ayo masuk, Regina," ujar Mike. Regina mengangguk dan menepuk lengan pengawal itu.
"Aku masuk dulu," ucapnya dengan senyum lebar. Pria itu tersenyum dan mengangguk.
Mike menunggu Regina masuk ke dalam dan memandang ke arah pengawalnya.
"Kemana temanmu, Fidel?" Mike bertanya dengan wajah datar.
"Ah ... dia ke toilet, Tuan," jawab Fidel.
"Kau berpasangan dengan Nick?" tanya Mike lagi.
Fidel mengangguk.
"Siapa yang berjaga di bawah?"
"Shawn dan Cesar, Tuan."
Mike mengangguk puas, lalu mulai melangkah akan masuk. Fidel menegakkan kembali tubuhnya yang sedari tadi agak membungkuk.
"Ah ... satu lagi, Fidel. Kau mau cokelat hangat untuk menemani berjaga? Aku bisa menyuruh Reggie membuatnya sebelum gadis itu tertidur."
Fidel terlihat terkejut. "Tidak, Tuan. Aku sudah cukup minum cokelat dari tadi. Lagipula Castro akan menggantikanku sebentar lagi."
Mike mengangguk dan memberi Fidel senyum tipis yang entah mengapa terasa seperti senyum peringatan oleh Fidel sebelum ia masuk dan menutup pintu.
"Oh ,Tuhan. Kukira ia tidak tahu nama-nama kami. Lagipula aku baru dipindahkan ke sini. Jaringan perusahaan ini sangat besar dan banyak pengawal yang bekerja untuknya." Fidel menepuk keningnya. Rekannya Nick yang baru saja kembali melihat gerakannya itu.
"Ada apa?" tanya Nick.
"Tidak ada. Hanya sedikit syok karena Orang kepercayaan nomor satu di Klan Langton tadi baru saja menawariku cokelat hangat."
Nick terlihat membelalak.
"Kurasa ia sedikit tidak suka Regina memberikan perhatian pada kita. Apa kau merasa bos kita yang satu ini mulai suka pada si rambut hitam?" tanya Fidel menebak.
"Sttttt ... jangan membicarakan atasan kita, Fidel." Nick mengingatkan temannya itu. Fidel langsung tersenyum meminta maaf.
"Tapi kurasa kau benar. Sejak aku bekerja mengawasi keamanan apartemen ini, tidak ada gadis yang pernah ia bawa ke apartemennya. Regina yang pertama ...." Nick berbisik pelan ke telinga fidel sambil mengedipkan mata, membuat pria paruh baya itu tertawa terbahak-bahak.
**********
*Vote, like, love, coment dan Five star sincerely yours all my readers......๐๐๐
* Thank you๐๐๐
Wholeheartedly๐๐๐From me.....
---- DIANAZ ----