Love Seduction

Love Seduction
Chapter 42. Longing



Lucius menekan menu di layar ponselnya, melakukan panggilan video call dengan Regina. Adiknya itu segera mengangkat dan menyapanya dengan wajah sumringah. Matanya berbinar penasaran dengan senyum terkembang.


"Halo kakak, apakah dia bersamamu?"


Lucius mengernyit mendengar pertanyaan adiknya itu.


"Siapa, Gina?" tanya Lucius.


Reggie berdecak, " ck ... tentu saja Alison! Dimana dia? biarkan aku bicara padanya," desak Reggie tidak sabar. Ia sungguh penasaran melihat wajah gadis yang telah membuat kakaknya jatuh cinta itu.


"Mmmm .... Aku belum bisa membawanya bersamaku, " ucap Lucius.


"Kenapa begitu? Bukankah kau akan menjemputnya?"


"Well ... Ya, tapi ada sedikit halangan ... besok, ketika aku sudah bisa bertemu dengannya, aku akan menelponmu kembali. Sekarang dimana Marieku?" Lucius segera mengalihkan pembicaraan sebelum Regina kembali bertanya tentang Alison.


"Sedang bersama Ayah," ujar Reggie, lalu wanita itu tampak berdiri dan berjalan, menuju ruang santai tempat Eloy Sanchez tengah memeluk cucunya sambil mengobrol dengan menantunya.


Reggie memberikan ponsel pada ayahnya. Lalu ia duduk bersama Mike yang segera merentangkan tangan memeluk bahunya dan menarik Reggie sehingga mereka duduk berdekatan. Mike mencium puncak kepala istrinya.


"Apakah itu Lucius?" tanya Mike.


Reggie menganggukkan kepala, matanya terus memandang ayahnya yang sedang bicara pada kakaknya. Lucius terdengar tengah berbicara pada Marie yang melotot melihat wajah pamannya di layar ponsel. Tangan montok Marie berulang kali meraih ponsel sambil berceloteh.


"Dia sudah merindukanmu lagi," ucap Eloy sambil terkekeh.


"Tentu saja, Ayah. Aku pamannya yang paling tampan," balas Lucius.


Reggie terkikik geli ketika mendengar suaminya mendengus.


"Apakah kau merasa sehat Ayah? Bagaimana perasaanmu?" tanya Lucius lagi.


"Aku baik-baik saja, Nak. Sejauh ini kondisiku semuanya baik dan normal. Jangan khawatir ... Ada perawat yang sangat cerewet di sini jika aku sedikit saja lupa dengan obatku," Eloy terkekeh melihat bibir putrinya yang mengerucut karena mendengar ucapannya.


Lucius tertawa mendengar ucapan sang ayah. Lalu kembali ia bicara pada Marie yang terus mengoceh seolah tengah bicara padanya.


"Kau makin menggemaskan Marie, bertambah cantik setiap harinya," puji Lucius.


"Tentu saja ... Dia putriku," suara Mike terdengar menimpali ucapan Lucius.


Lucius terkekeh," bilang pada ayahmu Marie ... Dia sudah bertambah tua, sebaiknya dia segera memberimu adik."


Eloy tersenyum mendengar gurauan Lucius pada iparnya, Reggie hanya tertawa kecil, sedangkan Mike tidak menimpali, seolah tidak mendengar ucapan Lucius barusan.


"Kau sendiri bagaimana, Lucius? Apakah sudah bertemu Allymu?" tanya Eloy kemudian.


"Sudah, Ayah. Tapi aku tidak bisa membawanya bersamaku sekarang."


"Kenapa? Apakah Rico mempersulitmu? Apakah orang-orang Alex sudah datang?"


"Bukan begitu ... Hanya sedikit masalah kecil, sehingga aku belum bisa membawanya bersamaku. Tapi aku sudah bertemu dengannya, dia baik-baik saja. Orang-orang Alex sudah datang, Ayah."


"Katakan masalah apa, Lucius." suara Mike terdengar ikut menimpali.


"Hanya sedikit salah paham dengan Ally. Bukan masalah besar. Ummm .... Ayah, aku belum makan malam, aku tutup dulu ya,"


Lucius langsung memberi kecupan jarak jauh pada Marie lalu tanpa menunggu ia melambai pada ayahnya yang melihatnya dengan kening berkerut. Kemudian sambungan itu terputus.


"Aneh," ucap Reggie.


"Kenapa?" tanya Mike.


Reggie mendongak menatap wajah suaminya, " Dia seperti menghindar ketika kutanya tentang Alison. Tadi saat Ayah bertanya ia juga terkesan menghindar. Apakah ayah tidak merasa begitu?" Reggie beralih memandang ayahnya.


"Kurasa kau benar, Gina . Kakakmu menghindar ketika ditanya tentang Alison ...." jawab Eloy.


"Berarti benar ... Bukan perasaanku saja," ucap Reggie.


"Jangan khawatir. Serahkan padaku ... Apapun yang ia sembunyikan, aku akan mengetahuinya. Tunggulah aku bicara dengan Lance. Lance akan menceritakan semuanya," ucap Mike yakin.


"Ah, kau benar Mike. Ada untungnya Lance ikut ke sana." Eloy berkata sambil tersenyum. Jika masalahnya sangat berat dan rumit, Lance pasti sudah memberitahu mereka.


"Mungkin ini memang hanya masalah kecil, karena itu Lance tidak menelpon," Mike meyakinkan istri dan mertuanya. Agar keduanya tidak khawatir pada Lucius.


*********


Frank Damario mengajak istri dan putrinya duduk bersama di ruang santai keluarga mereka. Kening pria tua itu tampak berkerut ketika menunggu isti dan putrinya duduk.


"Frank ... Wajahmu serius sekali, ada apa sebenarnya, Sayang?" Marlene yang mengambil tempat duduk di sebelah suaminya mengulurkan tangan dan menggenggam tangan suaminya itu.


"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Marlene.


"Ibu benar Ayah. Kau terlihat khawatir dan juga gelisah," ucap Cecilia.


Frank Damario menarik nafas panjang, ia menatap istrinya lalu putrinya bergantian.


"Aku mengajak kalian kemari untuk bicara. Sehingga kita semua bisa menangani masalah ini dengan benar."


Ucapan Frank membuat istri dan putrinya memandangnya heran.


"Jika kita sudah mengetahui kebenarannya dan bersikap jujur, aku harap kita tidak salah mengambil langkah selanjutnya. Semuanya demi dirimu, Putriku. Kau harus jujur pada ayah dan juga ibumu,"


Cecilia mengernyit, berfikir dan menebak apa kesalahan yang sudah ia lakukan. Jadi penyebab ayahnya khawatir dan gelisah adalah dirinya.


"Katakan, Frank. Ada apa sebenarnya?" desak Marlene.


"Cecil ... Ayah bertanya padamu, dan kau harus menjawabnya dengan jujur. Kau mau kan, Sayang?" tanya Frank dengan nada sangat lembut.


Cecilia mengangguk, ia memeluk bantalnya dengan sangat erat. Ia teringat ketika masih kecil dan melakukan kesalahan dengan menumpahkan sup panas di atas meja sehingga kuah panas itu mengalir dan membasahi kaki seorang pelayan yang tengah ada di pinggir meja, kaki pelayan itu memerah . Beginilah nada suara ayahnya ketika meminta Cecilia mengakui kesalahannya dan meminta maaf.


Ayahnya akan bicara dengan nada lembut membujuk, membuatnya tidak bisa mengelak untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Cecilia ... Antara Lucius Sanchez dan tangan kanannya, Lance. Siapa yang paling kau sukai?" tanya Frank Damario pada putrinya.


Marlene istrinya tampak bertanya dengan nada heran ketika mendengar ucapan Frank, " Lance?" tanya Marlene. Lalu ia menoleh menatap Cecilia.


Dua pasang mata orang tuanya memandang Cecilia, menunggu. Cecilia menelan ludah, ia bisa menduga arah pembicaraan ayahnya. Jantungnya berdebar kencang, bagaimana ayahnya bisa tahu? Cecilia bertanya-tanya dan mengingat sikapnya yang mungkin membuat ayahnya bisa menebak.


"Cecil ... Jawab dengan jujur, Nak. Yang Ayah dan Ibu inginkan adalah kebahagiaanmu. Kau putri kami satu-satunya. Kami tidak akan menjodohkanmu dengan pria yang tidak kau cintai dan inginkan," Frank kembali membujuk.


Cecilia menunduk, tidak berani menatap wajah ayah dan ibunya.


"Siapapun pria yang kau cintai, asal dia juga mencintaimu dan akan menjagamu serta memperlakukanmu dengan baik, maka Ayah dan Ibu akan merestuinya, Cecil." Marlene ikut membujuk putrinya, agar Cecilia segera menjawab pertanyaan ayahnya tadi.


"Aku ..." Cecilia berhenti.


"Ayah akan ganti pertanyaannya," ucap Frank sambil tersenyum.


"Kau mencintai Lucius?"tanya Frank.


Cecilia langsung menggeleng ," Aku ... Aku menyukainya, Ayah . Tapi perasaanku padanya sama seperti perasaanku pada Derek, Mike atau juga Alex .... Seperti itu ...." Cecilia menaikkan kedua bahunya.


"Kau menganggapnya kakakmu, temanmu," ucap Marlene.


Cecilia mengangguk.


"Sekarang jawab lagi pertanyaan Ayah. Kau mencintai Lance?" tanya Frank.


Cecilia menggembungkan pipinya, matanya terlihat sendu. Lalu gadis itu mengangguk.


Frank dan Marlene saling berpandangan, lalu serentak menoleh lagi ke arah putri mereka yang sekarang menyembunyikan wajahnya ke atas bantal yang ia peluk.


"Tapi ia tidak menginginkanku, Ayah ... Ia sama sekali tidak tertarik padaku, " terdengar suara tawa terkekeh yang dibuat-buat dari bibir Cecil.


"Dia sama sekali tidak menginginkanku ...." ulang gadis itu, kali ini dengan kesedihan mendalam di suaranya. kerinduannya pada Lance menguasainya, Cecilia merasa hatinya sangat sakit. Ia tahu Lance menolaknya, tapi hatinya dengan tak tahu diri tetap mengharapkan pria itu, bahkan merindukannya dengan sangat dalam siang dan malam.


"Oh, Cecil ...." Marlene bangkit dan berpindah ke dekat Cecilia, ia memeluk putrinya. Ia tahu Cecilia tengah menangis.


"Menangis saja, Sayang. Jangan ditahan. Kau akan merasa lega setelahnya nanti," bujuk Marlene sambil mengelus rambut putrinya.


"Ibu ... Aku bodoh sekali ... Dia tidak menginginkanku, tap ... tapi ... aku, aku sangat merindukannya," Cecilia menangis tersedu di pelukan ibunya. Hatinya sakit karena merindukan Lance, dan tidak ada yang dapat ia lakukan. Ia menelpon Lance ketika tahu pria itu pergi dan ponselnya tidak aktif. Lalu ia memberanikan dirinya menelpon Lucius untuk menanyakan Lance. Hanya untuk mendengar pria itu menolak bicara dengannya dengan alasan sedang menyetir.


Setelah itu Cecilia kehilangan keberaniannya untuk mencoba menelpon lagi. Ia takut di tolak lagi. Hatinya tidak akan sanggup. Tapi kerinduan di hatinya sekarang juga terasa seperti membunuhnya. Ia kehilangan selera makannya, dan tidak nyenyak dalam tidurnya.


Cerita Cecilia mengalir di sela isakan pilunya. Ia mencurahkan perasannya pada ayah dan ibunya yang hanya diam mendengarkan. Lewat airmata dan sesenggukan yang ditumpahkan oleh putri mereka. Frank dan Marlene tahu mereka harus melakukan sesuatu. Cecilia tampak sangat sedih dan tidak bahagia. Frank Damario ikut merasakan sakit hati yang di alami putrinya itu.


Lance ... kau harus bertanggung jawab karena telah membuat putri kesayanganku menangis ....


***********


From Author,


Jangan sedih Cecil ... Biar ntar kujewer si LanceπŸ˜•πŸ˜•πŸ˜•


Jangan lupa like, love, bintang lima dan komentar serta Vote ya my readers 😘😘


Thor ucapin terima kasih banyakπŸ™πŸŽ‰


Salam, DIANAZ.