
Lance menghentikan mobilnya di depan kediaman mansion Eliazar. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat dua mobil lain yang sudah lebih dulu berada di halaman mansion itu.
Lance berdiri mematung, menatap ke arah pintu mansion. Tuan Eloy selalu menginap di mansion ini sejak Tuan Lucius pergi ke tanah perkebunan mereka, dan dengan alasan tidak mau Lance kesepian karena harus makan seorang diri, Nyonya Reggie memaksanya agar selalu datang di saat makan malam. Walaupun Lance tidak selalu memenuhi keinginan Nyonya Mike itu.
Malam ini ia kembali di hubungi, Nyonya Reggie mengatakan mereka menunggunya untuk makan malam di mansion Eliazar. Lalu tanpa menunggu persetujuannya, panggilan ponsel itu dimatikan sepihak. Lance menarik nafas panjang, ia suka berkumpul dan makan bersama dengan keluarga itu, namun karena Mike adalah anggota klan Langton, kemungkinan besar mereka selalu mengundang anggota klan Langton yang lain untuk makan malam.
Beberapa malam yang lalu ia datang, dan syukurlah yang hadir saat itu Tuan Derek dan Amy, juga Tuan Noel dan istrinya. Lance mangkir dan tidak hadir saat malam berikutnya, dan besoknya ia harus menerima omelan panjang Nyonya Reggie yang marah padanya karena tidak mengangkat telepon.
Malam ini Lance kembali datang, rasa hormatnya pada Tuan Eloy dan untuk menghindari terkena omelan lagi, Lance melangkahkan kakinya menuju pintu mansion.
Pintu terbuka dan senyum lebar Nyonya Reggie menyambutnya.
"Lance ... Kami sudah menunggumu!" serunya gembira.
Lance membalas senyum itu dengan sopan lalu menyapa Mike yang telah menyambutnya di sebelah istrinya.
"Kau terlambat, Lance," ujar Mike.
"Maafkan saya, Tuan ... perjalanannya sedikit terhambat." Lance memberi alasan. Mike hanya mengangguk, lalu mengajaknya masuk.
Mereka sampai di ruang makan. Lance menatap dan mengatur wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Ia menyapa semua orang yang sudah duduk mengelilingi meja makan.
"Selamat malam, Tuan Eloy, Tuan dan Nyonya Damario, Tuan dan Nyonya stefano ... dan Nona Damario," Lance menyapa satu persatu dengan sedikit membungkukkan badan.
"Ah, duduklah Anak Muda ... Kami sudah menantimu," Tuan Stefano menjawab sapaan Lance.
"Maafkan aku ... Kalian terlambat makan malam hanya karena aku, aku sedikit terhambat di perjalanan," ucap Lance tulus.
"Tidak apa, Lance. Yang penting kau hadir sekarang," ucap Frank Damario.
Lance mengambil tempat duduk di satu-satunya kursi yang tersisa, yang berada di sebelah Nona Cecilia Damario. Ia memberikan senyum kecil pada Nona yang menoleh ke arahnya itu. Kemudian Lance duduk dan mengikuti seluruh acara makan malam yang sebenarnya membuatnya sedikit tidak nyaman itu dengan bersikap biasa.
Lance menyadari dengan sangat jelas kehadiran gadis di sebelahnya itu. Tiap gerakan dari gadis itu tertangkap oleh ekor matanya tanpa perlu ia menoleh. Namun sedikitpun tidak tersirat di wajah Lance kalau ia memperhatikan Nona Damario di sebelahnya itu.
Cecilia menyuapkan makanan ke mulutnya dengan rasa kesal. Pria di sampingnya itu tidak terlihat merasakan apapun. Padahal hatinya sendiri merasa mengembang ketika melihat kedatangan Lance. Hanya senyum sopan dan sapaan formal untuk semua orang, lalu pria itu makan malam tanpa sedikitpun melihat ke arahnya, seolah ia tidak ada.
Makan malam itupun berakhir, Lance menarik nafas lega. Ia bisa segera berpamitan.
"Lance, Aku menunggumu di ruang santai, ada yang ingin kubicarakan." kata-kata Tuan Eloy barusan membuat angan Lance untuk dapat segera kabur musnah seketika.
"Baik, Tuan." ucapnya. Lance menekuri piringnya yang sudah kosong. Tangan lembut seorang gadis yang mengambil piringnya membuatnya menoleh.
"Kenapa memandang piring? Apa yang menarik? Atau kau masih mau makan?" pertanyaan Cecilia yang mengambil piring dan memberikannya pada seorang pelayan yang sudah menunggu itu membuat Lance seketika berdiri.
"Saya pamit, Nona Damario. Tuan Eloy menunggu saya," ucap Lance, lalu berlalu dari hadapan Cecilia.
Cecilia memandang punggung pria itu dengan tatapan sendu. Pria itu sama sekali tidak mau melihatnya, tidak mau bicara padanya,membuatnya merasa sangat sedih, hatinya terasa sakit, kehampaan mengisi ruang hati Cecilia yang terasa kosong. Ia sudah menunjukkan keberanian untuk memperlihatkan perasaannya dengan mencium pria itu, Namun sepertinya itu tidak berhasil membuat Lance mengerti. Sekarang pria itu malah menjauh.
Lance tiba di ruang santai dan menyapa Tuan Eloy yang sudah berbincang dengan para tamunya dan juga Tuan rumah mereka, Mike.
Setelah membahas beberapa pekerjaan yang ditanyakan Tuan Eloy, Lance merasa gerah karena pembicaraan kembali ke hal-hal pribadi yang membuatnya sedikit kesulitan. Tiga pria tua itu kembali menggodanya tentang mencari istri.
Mike berpamitan ketika mendengar suara tangis putrinya di lantai atas. Pria itu segera berlalu untuk melihat Marie di kamar bayi.
Lance melihat celah untuk ikut melarikan diri. Ia berdiri lalu secepatnya mengucapkan alasan.
"Maaf, Tuan-tuan. Saya perlu kebelakang sebentar." tanpa menunggu jawaban, Lance berbalik dan melangkah pergi ke arah pintu lebar menuju kolam renang.
"Kalian sadar tidak? Alasan Lance untuk kabur pastilah karena ia perlu kebelakang," Tuan Stefano berucap dengan nada geli.
"Ya, dan terlihat sekali ia berbohong. Ia malah menuju ke arah kolam renang. Bukan ke belakang." ujar Tuan Eloy menambahkan.
"Memangnya ia mau melakukan urusannya di kolam renang?" ucap Tuan Frank Damario, lalu ketiganya tertawa bersamaan. Merasa geli melihat perilaku Lance yang selalu melarikan diri jika disinggung tentang masalah mencari istri.
Lance melangkah perlahan di pinggir kolam. Kilau air di permukaan kolam karena permainan cahaya lampu di sekitar mansion memberi pemandangan indah untuk matanya. Ia menarik nafas panjang.
Tuan ... cepatlah pulang ...
Lance menarik nafas berat. Kehadiran Nona Cecilia membuatnya tidak nyaman, inilah alasan ia menghindar untuk selalu makan malam di mansion Eliazar. Malam ini kenapa ia datang ... ia tidak akan datang jika tahu Keluarga Damario yang akan di undang malam ini.
Lance memejamkan mata, berusaha menghalau wajah cantik yang hadir di pelupuk matanya itu.
"Apa yang kau fikirkan?" suara lembut penuh tanya itu terdengar persis di samping Lance. Membuat mata Lance otomatis terbuka dan kepalanya menoleh.
"Nona ...."
"Hentikan! Sudah kukatakan panggil aku Cecil!"
Lance berhenti bicara. Ia hanya diam dan kembali menatap ke kolam renang.
"Hei ... Aku bicara denganmu, Tuan Lance. Aku tanya apa yang kau fikirkan?" tanya Cecilia lagi.
"Tidak ada." jawab Lance.
"Kalu begitu kenapa kau memejamkan matamu dan mengerutkan dahimu, seolah kau memikirkan sesuatu yang rumit."
"Kurasa ... Andaikan itu benar, itu bukanlah urusan Anda, Nona. Saya tidak punya kewajiban menjelaskan." ucap Lance datar tanpa memandang Cecilia.
"Kau tahu Lance? Apakah ada yang mengatakan padamu kalau kau itu menjengkelkan?" tanya Cecilia dengan geram.
Lance tidak menjawab, juga menolak untuk menoleh. Membuat Cecilia sangat marah lalu menarik lengan pria itu. Memaksanya berhadapan.
"Jawab pertanyaanku tadi. Apa yang kau fikirkan? Kalau tidak ....." Cecilia sengaja menggantung ucapannya.
"Kalau tidak apa, Nona Damario?" ucap Lance lembut. Membuat kejengkelan Cecilia makin menjadi.
"Kalau tidak ... Aku akan menciummu lagi seperti yang kulakukan kemarin," Cecilia tersenyum, ia tahu Lance tidak akan mau ia melakukan hal itu lagi.
Lance menyipit memandang Cecilia, ia menatap bibir yang tengah tersenyum menantang ke arahnya itu.
"Nona Damario ... Jangan katakan Anda merasa sudah sangat hebat dengan ciuman yang kemarin Anda lakukan ... Itu hanya ciuman anak kecil ... Saya tidak akan tergoda hanya dengan permainan anak kecil."
Wajah Cecilia seketika berubah mendengar ucapan Lance. Gadis itu menatapnya dan menelan ludah, seolah kehabisan kata-kata.
"Belajar lagi Nona Damario ... Karena Anda tidak akan dapat menggoda seorang pria dengan sentuhan amatir seperti yang Anda lakukan kemarin."
Kali ini Cecilia memucat, pancaran mata bulat besar itu meredup. Membuat Lance merasa sedikit keterlaluan.
"Kau tahu Tuan Lance ... Menurutku, kau perlu mencuci mulutmu ...." Cecilia maju dan mendorong Lance ke arah kolam renang. Lance yang tidak siap tercebur, tenggelam lalu berenang dan muncul kembali ke permukaan. Ia mengusap wajahnya berulang kali sambil menatap ke arah Cecilia yang sudah berkacak pinggang di pinggir kolam.
"Sekalian kau cuci saja seluruh tubuhmu! Bukan hanya mulut! Dasar breng***," maki Cecilia sebelum berbalik pergi meninggalkan Lance yang berusaha berenang naik kepinggir kolam.
Di atas mansion, dari jendela kamar bayi. Mike dan juga Reggie memandang kejadian di pinggir kolam. Jendela kamar tidur mereka dan juga kamar Marie yang bersebelahan menghadap langsung ke arah kolam renang.
Reggie terhenyak dan menutup mulutnya ketika melihat Cecilia mendorong Lance hingga tercebur ke dalam kolam, sedang kan Mike tertawa geli, suaminya itu hampir saja terpingkal-pingkal jika saja Reggie tidak menghentikannya.
" Sttttt ... Mike! Suaramu bisa sampai ke bawah sana," desis Reggie.
"Aku sangat penasaran, Gina. Apa yang sudah Lance katakan pada Cecilia, sehingga membuat gadis yang sopan itu kehilangan kesabaran," ucap Mike.
Reggie ikut tertawa," Kau benar. Aku juga ingin tahu," Keduanya kembali menatap ke bawah, ke arah Lance yang sudah naik dan berusaha mengeringkan pakaian di tubuhnya. Laki-laki itu berdiri lama, menunggu air mengalir turun, dan tentu saja itu hal yang percuma. Ia tetap saja terlihat basah kuyup.
**********
From Author,
Salahmu sendiri Lance ... Bikin kesal Cecil sih ππππ
Klik like jangan lupa loh ya ... vote nya juga, bintang lima juga, favorite juga...hehehhe, trus kasih komentar dehππππ
Ini thor bela-belain loh nulis biar bisa up ... padahal kepala thor sakit, lagi demam inih ....πππ π
Terimakasih semuaaa
Salam, DIANAZ