
Ally mundur selangkah ketika Ester menghampirinya.
"Ally, Sayang ... kenapa kau menangis?" tanya Ester. Lalu ia menatap gadis itu dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Ally tampak kusut, pucat dan tidak memakai alas di kakinya. Ester langsung mendekat dan memeluk, ia mengernyit ketika tubuh Ally terasa gemetar di pelukannya. Ester langsung melepas Ally dan berbalik, memandang menyipit ke arah Lucius dan juga Lance. Wanita tua itu berkacak pinggang dengan wajah tampak kesal.
" Dimana kalian bertemu dengannya? Kenapa gadis ini tidak memakai alas kaki? "
Lance diam seribu bahasa, menampilkan wajah tanpa ekspresi andalannya. Sedangkan Lucius hanya tertawa kecil, ia berusaha melirik Ally yag tersembunyi di belakang tubuh Ester.
"Astaga ... Itu Ally? Kukira anak kecil," bisik Mike pada Regina.
Regina melotot dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, berusaha melihat kembali sosok Alison.
"Apakah kakakku penyuka anak kecil?" tanya Regina dengan suara pelan. Tidak tahu ditujukan pada siapa pertanyaan itu.
"Lucius ... Katakan padaku berapa umur gadis itu," ucap Eloy sambil berpaling ke arah putranya dengan kening berkerut.
Pabio tertawa, ia menatap geli pada keluarga Sanchez yang sepertinya salah mengira umur Ally. Lucius juga ikut tertawa, Ia berusaha menjelaskan pada keluarganya.
"Jangan tertipu penampilannya, Ayah. Gadis itu sudah 23 tahun. Ia seorang gadis dewasa yang bahkan mampu membawa dan mengurus adiknya seorang diri tanpa bantuan siapapun," ucap Lucius.
"Ally! Kemarilah!" teriak Lucius.
Ally hanya diam, tidak bermaksud datang dan memperkenalkan diri, ia merasa sangat malu. Airmatanya masih mengalir, menangis tanpa suara di belakang punggung Ester.
Semua orang menunggu dalam diam, menatap tak berkedip pada gadis yang tersembunyi di belakang Ester.
"Aku mengerti kau terkejut dan merasa malu. Tenangkanlah dirimu, Sayang. Aku akan menghadangmu sementara waktu," ucap Ester dengan nada lembut.
Lucius baru saja akan melangkah mendekat dan bermaksud menarik Ally untuk memperkenalkan pada keluarganya ketika dari kejauhan, debu membubung ditinggalkan oleh sebuah mobil yang melaju kencang.
Semua mata beralih memandang di kejauhan. Melihat ketika mobil itu mendekat dan berhenti di halaman mansion dengan bunyi berdecit kencang.
Mike menaikkan alisnya, melihat ketika seorang pria bertubuh gagah turun dari mobil dengan sangat marah. Pria itu membanting pintu dan menatap ke arah mereka. Celana jeans biru pudar dan kaos hitam pas badan mencetak jelas dada bidang dan tubuh gagah pria itu. Mike mengernyit, wajah tampan itu tampak agak familiar baginya. Ia terus menatap, mencoba mengingat.
Ally melihat Rico, dan kakinya seperti mendapat perintah untuk langsung berlari dengan airmata terus meleleh. Rico melihat Ally yang datang dan langsung menabraknya. Gadis itu memeluk Rico dan menyimpan wajahnya sambil menangis.
"Aku malu sekali, keluarganya datang dan melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku bau ikan, kusut, bahkan tidak memakai alas kaki," Ally mengadu dengan suara serak.
"Jadi itu keluarganya ... Mereka datang," ulang Rico.
Ally mengangguk berulang kali, " Tap ... Tapi aku mau pulang. Aku tidak bisa bertemu mereka dengan keadaan begini, tolong bantu aku," ucapnya sedih.
Rico mengelilingkan lengannya ke seputar bahu Ally. Menepuk punggung gadis itu berulang kali, mencoba menenangkannya.
Lucius terdengar menggeram, tangannya terkepal dan mata hitamnya berkilat, memandang Rico dengan geraham gemeretak.
"Fred, buka pintunya," perintah Rico pada asistennya. Frederic langsung bergerak membuka pintu bagian belakang mobil. Rico menarik Ally dan menuntunnya agar masuk, kemudian ia menutup pintu dengan perlahan sambil menatap ke arah halaman rumah perkebunan keluarga Sanchez.
Lance dan Lucius maju bersamaan, seolah sepakat untuk menghadang pria itu. Tanpa ucapan pembuka, Rico melesat, memberi pukulan ke rahang Lance, menyebabkan Lance terhempas ke tanah kerikil berbatu. Tidak berhenti sampai di sana, satu pukulan lagi ia sarangkan ke rahang Lucius yang mengikuti jejak Lance terhempas ke tanah.
Mike baru saja akan melangkah mendekati pria itu ketika lengan ayah mertuanya menahan dan menghadangnya.
"Tunggu Mike. Jangan melakukan apapun," ucap Eloy.
Rico melenggang santai dengan senyum manis terkembang di bibir, melangkah menuju Tuan Eloy.
"Paman Eloy ... Kapan Anda tiba? Senang sekali melihat Anda dalam keadaan sehat," ucap pria itu menyapa dengan nada lembut.
"Rico ... Kau Enrico bukan? Ya ampun. Kau mirip sekali dengan Gustav saat seumurmu," ucap Eloy sambil menyambut uluran tangan Rico.
"Benar, Paman. Aku Rico. Banyak yang bilang begitu ...." balas Rico lagi.
Rico kemudian mengulurkan tangan ke arah Mike, yang menyambut sambil menatap ke matanya. Tatapan mata abu-abu yang seolah menusuk langsung ke dalam hati, terasa dingin dan menyelidik.
Rico mengernyit, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Mike?" tanya Rico setelah mereka masing masing menyebutkan nama.
"Kalaupun ya ... Aku tidak bisa mengingatnya," ucap Mike terus terang.
"Ah, ini istriku. Adik Lucius. Regina," ucap Mike sambil memperkenalkan Regina yang menyambut tangan Rico sambil cemberut.
"Boleh aku tahu kenapa kau memukul kedua kakakku?" tanyanya.
Enrico menaikkan alis, Lalu menoleh ke arah Lucius dan Lance yang sekarang sudah berdiri dan menatap ke arah keluarganya yang sedang berkenalan.
Enrico memberikan senyum terbaiknya, menatap satu-satu pada keluarga Sanchez.
"Maafkan aku, Paman Eloy. Walaupun seharusnya, putramulah yang harus minta maaf padaku. Ia datang kemudian mengambil Allyku tanpa pamit. Mengangkatnya kepundak seperti sekarung tepung dan memasukkannya ke belakang mobil. Ally baru pulang dari memancing, ia merasa lengket dan bahkan belum mengganti bajunya. Seperti yang kalian lihat, ia bahkan tidak memakai alas kaki."
Semua mata melirik ke arah Lucius dan Lance. Keduanya hanya membalas dengan wajah tanpa ekspresi. Lucius memutuskan, perangai Lance itu sangat berguna dalam situasi ini.
"Ally pasti tidak nyaman sekali," ucap Regina. Kali ini wajah cemberutnya sudah hilang.
"Benar sekali ... Jadi, kalian tentu mengerti, jika ia tidak bisa menemui kalian saat ini. Ia bahkan sedang menangis di dalam sana," tunjuk Rico dengan nada menyesal.
"Tidak, Nak. Kami sangat mengerti. Aku juga minta maaf atas perilaku putraku. Kau walinya, tentu saja kau harus menjaga Ally. Aku mengerti sekarang, kenapa kau memukul dua pria ini," ucap Eloy.
"Terima kasih ,Paman. Syukurlah kau mengerti. Sekarang aku pamit ,Paman. Aku akan membawa Ally pulang,"
Rico menganggukkan kepala kepada setiap orang sebagai ganti ucapan pamit, kecuali pada Lucius dan juga Lance.
"Rico ... Kapan kami bisa datang dan bertamu ke mansion Costra, Nak? Aku boleh bertemu Ally bukan?" tanya Eloy.
Rico menoleh ketika pertanyaan itu sampai ke telinganya. Ia menatap senyum tulus Tuan Eloy dan kemudian mengangguk.
"Tentu saja, Paman Eloy. Hanya saja sepertinya jangan malam ini. Keluargamu baru tiba, kurasa kalian masih lelah. Sebaiknya beristirahat dulu. Besok Frederic akan menghubungimu atau Pabio."
"Ah, baiklah. Hati-hati, Nak. Sampaikan salam kami pada Ally," ucap Eloy lagi.
Kali ini Rico menjawabnya dengan anggukan. Lalu ia melangkah menuju mobilnya. Melewati Lucius dan Lance yang hanya menatapnya tanpa bisa melakukan apapun.
**********
From Author,
Haduh, Lucius dan Lance bakal diapain ama Tuan Eloy nih😂😂😂
Jangan lupa like, love, vote, bintang lima dan komentarnya ya😍😘
Terimakasih semua,
Salam, DIANAZ.