Love Seduction

Love Seduction
Chapter 71. Revealed



"Kemarilah." Dokter Lawrence mengulurkan tangannya pada Regina. Dengan cemas Reggie memandang ke arah kakaknya yang terlihat mengangguk. Reggie datang dan menyambut tangan dokter tua yang sudah berbulan-bulan merawat ayahnya itu.


"Kau sungguh merupakan keajaiban untuknya. Kehadiranmu adalah obat yang membuatnya mampu bangkit kembali. Hari ini kami bisa melepaskan mesin bantu napas dari tubuh ayahmu, dia masih tetap harus menggunakan oksigen yang kami alirkan lewat masker itu. Sejauh ini tubuhnya merespon dengan sangat baik. Bicara dan selalu berilah ia semangat."


Dokter Lawrence menggenggam tangan Reggie dengan satu tangan, lalu menepuk bahunya dengan tangan yang lain, matanya memandang penuh penghargaan pada Lucius.


"Kau benar-benar menemukannya. Eloy pasti sangat bahagia bila nanti ia terbangun." Dokter Lawrence menganggukkan kepalanya kepada Lucius.


Setelah para dokter dan perawat berlalu dari ruangan itu, Lucius segera keluar dari ruangan ayahnya dan memberi kode pada Lance yang telah menunggu, Mereka akan kembali ke kantor. Reggie segera keluar dan mengejar kakaknya.


"Lucius?" Suara Reggie yang ragu-ragu membuat Lucius menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Ada apa?"


"Umm ... apa Mike pernah menghubungimu?"


"Kenapa memangnya?"


"Tidak. Tidak ada." Jawaban dingin dari kakaknya membuat Reggie berhenti bertanya.


Lucius kembali melangkah meninggalkan ruangan bersama Lance yang mengikuti di belakang.


Reggie ingin bertanya apakah Mike pernah menghubungi kakaknya. Jika ya, Reggie ingin kakaknya menanyakan perihal gelang pemberian ibunya yang masih dipegang oleh Mike. Reggie menginginkannya kembali. Satu-satunya benda kenangan dari ibunya. Tapi niatnya ia urungkan setelah mendengar respon dingin dari kakaknya itu.


**********


Amy Langton merasa sangat tidak nyaman, ia mengatur tubuhnya miring agar napasnya lebih lega. Tapi tidak juga merasa lebih baik. Kehamilannya yang semakin membesar membuat Amy kesulitan mencari posisi tidur yang nyaman. Biasanya Derek akan bersandar di ranjang, lalu mengatur tubuh istrinya agar bersandar di dadanya, posisi itu bisa membuat Amy akhirnya tertidur dengan nyaman dalam pelukan Derek.


Setelah bolak-balik bahkan mengatur bantal dan bersandar di ranjang tidak juga membuatnya bisa tidur, Amy memutuskan keluar dari kamar dan mencari suaminya. Ia yakin Derek masih mengobrol bersama Mike, Eve dan Alex. Amy meminta mereka lebih sering makan malam bersama sejak Reggie pergi, ia sedikit terhibur ketika melihat mansion ramai dengan celotehan Eve dan tawa mereka. Amy melangkah pelan di koridor, sandal kamarnya yang ringan terasa empuk dan tidak menimbulkan suara ketika ia berjalan.


Sampai di ruangan santai tempat biasa mereka mengobrol setelah makan malam, Amy melihat Alex yang memunggunginya, kelebat rambut merah yang muncul di bahu Alex membuat Amy mengernyit.


Eve? Apakah itu Eve?


Amy tersenyum lebar. Berhenti sebentar untuk memandangi posisi kedua orang itu. Tubuh Eve tertutup sepenuhnya oleh tubuh Alex yang besar. Hanya kelebat rambut merahnya yang terlihat di bahu Alex yang tengah menunduk.


Astaga ... mereka berciuman.


Secepat kilat Amy kembali melangkah. Berusaha mengatur agar langkahnya tidak bersuara, senyum lebar yang konyol masih tersungging di bibir Amy ketika ia sampai di dekat pintu ruang kerja Derek.


"Tidak! Aku tidak akan memberikan gelang itu padamu!"


Suara Mike yang terdengar marah dan kencang membuat Amy berhenti di depan pintu ruang kerja Derek yang sedikit terbuka.


"Jangan seenaknya, Lucius! Kau memblokir panggilanku, lalu begitu mempunyai keperluan kau menghubungiku!"


Amy tidak bermaksud menguping. Tapi mendengar nama Lucius ia jadi sangat penasaran.


"Katakan padanya, biarkan kita bertemu langsung dengan Reggie. Kau akan berikan langsung gelang itu pada Reggie." Suara Derek yang menimpali percakapan Mike dan Lucius di ponsel membuat Amy sangat terkejut.


Reggie? Lucius?


"Aku tahu kau walinya sekarang. Kakak kandungnya! Tidak perlu repot memberitahuku!"


Amy memegang dinding dengan satu tangan mendengar kalimat yang dilontarkan Mike barusan dan tangan satunya lagi memegang dadanya yang berdebar.


Wali? Kakak kandung?


"Kalau begitu kita tidak perlu bicara! Aku menolak mengembalikannya padamu!" Mike mematikan ponsel dengan sangat kesal.


"Kenapa Adik yang ia cari harus Regina. Kenapa bukan orang lain saja!" keluh Mike.


Amy merasa jantungnya makin berdebar.


Adik? Reggie adik Lucius?


Derek terkekeh mendengar keluhan Mike.


"Kuharap Lucius segera menarik keputusannya mengurung Reggie," keluh Mike lagi.


"Mereka harus menyelesaikannya, Mike. Lucius perlu menghapus dendam masa lalunya pada ibu Reggie, memaafkan kejahatan yang pernah dilakukan Marinna karena terpaksa dan Reggie juga harus menghadapi kakaknya. Mungkin Reggielah yang bisa menyembuhkan luka-luka Lucius," hibur Derek.


Dendam masa lalu? Amy mengepalkan tangannya.


"Aku tahu. Karena itu aku diam saja, memberikan waktu pada Lucius dan Regina. Tapi laki-laki itu juga tidak berhak melarang Regina menemui siapa pun yang ia inginkan. Aku yakin Lucius mengurung Reggie di mansion itu."


Ucapan Mike membuat Amy dengan sangat pelan berbalik. Amy sadar ia telah dibohongi selama ini. Derek tahu dimana Reggie, begitu pun Mike. Tapi tidak ada yang merasa perlu memberitahukan hal itu padanya.


Dengan geraham terkatup rapat, Amy melangkah, berjalan melewati lorong sampai ke ruang santai tempat Eve yang melihat kedatangan Amy segera melepaskan diri dari Alex.


"Amy!" ujar Eve gelagapan. Namun Amy tetap terus berjalan, seolah tidak mendengar suara Eve.


"Ada apa dengannya ...." Eve mengernyit.


"Pasti Amy kesal. Derek pasti masih bekerja dengan Mike." Alex menghela dagu Eve agar kembali fokus padanya.


"Dia memang marah. Sudah malam dan suaminya belum masuk ke kamar." Alex tertawa ketika Eve mencubit pinggangnya.


Amy tidak kembali ke kamarnya. Ia turun dari lantai dua dan langsung menuju pintu keluar mansion. Dua orang pria yang sedang berdiri dan mengobrol langsung berdiri siap dan menunduk kepada Amy.


Amy mengenali Nick, yang terkadang mengantarkan Mike bila pria itu sedang tidak ingin menyetir sendiri.


"Kau Nick bukan?"


"Benar, Nyonya."


"Ckk! Panggil aku Amy!"


Dua pria itu saling berpandangan. Amy mengabaikannya.


"Dimana mobilmu, Nick? Kau harus mengantarku. Aku butuh tumpangan!"


Nick melongo melihat nyonya muda dengan perut besar itu melangkah menuju mobil di halaman mansion.


"Hei, Nick! Kau dengar aku kan!" teriak Amy.


"Ya ... Ya, Nyonya!" Tergesa-gesa Nick membukakan pintu dan mempersilakan nyonyanya masuk. Ia mengangguk dan mengangkat bahu, memberi kode ke arah rekannya yang sedang bertugas menjaga mansion, kemudian ia bergerak masuk ke belakang kemudi.


"Jalan, Nick! Aku akan memberitahu arahnya sambil jalan!" perintah Amy tegas.


Nick mengangguk. "Baik, Nyonya."


Nick menghidupkan mobil dan berharap nyonyanya ini tidak mengajaknya ke tempat aneh. Istri tuannya itu terlihat marah, mungkin ia tengah bertengkar dan akhirnya memilih keluar sebentar.


Perasaan tidak enak membuat Eve akhirnya menarik lengan Alex dan berjalan cepat ke arah ruangan kerja Derek.


"Kita bertaruh saja lagi. Menurutku Amy marah karena Derek masih bekerja," ujar Alex.


Eve mendengus mendengarnya.


"Tidak. Wajahnya berbeda. Pasti telah terjadi sesuatu."


"Kalau aku menang, kau tidak boleh membantahku lagi."


Eve berhenti di depan pintu ruangan kerja Derek dan berbalik menghadap Alex dengan alis terangkat.


"Dan jika aku yang menang, kau harus menuruti semua keinginanku," ujar Eve.


Alex terdiam. Ia tahu Eve tengah berstrategi.


Kesepakatan mereka terhenti ketika Derek dan Mike muncul di pintu yang tiba-tiba dibuka lebar.


"Kalian ... kenapa berdiri di sini?" Derek bertanya heran.


"Kami baru saja akan masuk dan bertanya padamu Kenapa Amy terlihat marah setelah kembali dari sini?" tanya Eve.


Derek dan Mike terkejut dan saling berpandangan.


"Amy kemari?" tanya Mike.


"Ya. Aku melihatnya kembali dari lorong. Siapa lagi yang ditemuinya selain kalian kan."


"Astaga ... jangan-jangan ia mendengar percakapan kita, Mike." Derek melangkah cepat menyusuri lorong dan langsung menuju kamarnya bersama Amy. Kosong. Kamar itu kosong.


"Mike! Dia tidak kembali ke kamar!" Teriakan Derek membuat Mike berlari turun lebih dulu dan langsung menuju pintu keluar. Derek mengikutinya dengan wajah yang kusut dan terlihat cemas.


"Sebenarnya ada apa!?" Eve berteriak dan tergesa-gesa menyusul bersama Alex.


Mereka bertemu pengawal yang berjaga di depan mansion yang menatap heran ke arah mereka.


"Apakah kau melihat Nyonya Amy keluar?" tanya Mike. Pengawal itu mengangguk.


"Ia pergi bersama Nick, Tuan."


"Ya Tuhan ... ia pasti ke tempat Lucius! Kita harus menyusulnya!" Derek berteriak dengan mata nyalang mencari mobil. Alex yang segera mengerti dan tanggap situasi berlari dan segera masuk ke belakang kemudi.


Ban berdecit keras ketika Alex menghentikan mobil di depan mansion. Derek dan Mike segera melompat masuk ke belakang, sedang Eve duduk di depan di samping Alex.


"Cepat, Alex! Aku tidak ingin Amy bertemu Lucius dan mengamuk! Entah apa yang akan dilakukan Lucius!"


Mike mengambil ponselnya dan menghubungi Nick. Ia ingin memerintahkan pengawalnya itu membawa Amy kembali. Namun panggilannya berulang kali sengaja di rejeck.


"Sepertinya ponsel Nick sudah berada di tangan istrimu, Derek."


Derek mengusap wajahnya dan membayangkan istrinya yang hamil besar datang sendiri ke Mansion Sanchez dan mengamuk.


"Ya Tuhan ... Sweety ...," ucapnya lirih.


**********