
Lucius mencoba mengatur napas dan detak jantungnya yang tidak beraturan. Hampir 19 tahun ia dan ayahnya mencari keberadaan Regina dan ibunya dan sekarang gadis kecil yang dicarinya itu muncul sendiri di hadapannya dalam versi seorang gadis.
Matanya masih menatap ke arah sepasang mata hitam yang memandangnya tidak yakin. Rambut panjangnya telah berantakan karena digunting asal-asalan oleh para pelayan yang entah mengapa mengurungnya ke sel bawah tanah. Di pelipis gadis itu terdapat luka gores dengan darah yang sudah mengering.
Lalu Lucius beralih memandang ke arah Mike. Pandangannya menjadi tajam dan menusuk.
"Katakan padaku ... apakah kalian sudah lama tahu? Memang benar Klan Langtonlah yang menyembunyikan mereka selama ini dan kau berpura-pura tidak mengenalnya ketika aku datang padamu ingin mencari seorang wanita bernama Marinna!"
Lucius memicingkan matanya. Bergantian memandang Mike dan juga Derek.
"Aku benar-benar tidak tahu. Aku mengetahuinya baru-baru ini. Dia adalah pendamping putri Arthur Sky."
Lucius terdiam. Pendamping Amy Sky. Tapi Amy tidak pernah mengetahui apapun ketika dulu ia bertanya tentang Marinna dan putrinya.
"Jadi Amy lah yang berbohong?"
Derek mengernyit mendengar pertanyaan Lucius. Ia membayangkan wajah polos istrinya yang mengatakan kebohongan dan hati Derek tidak bisa mempercayainya. Amy tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Reggie.
Suara Reggie kemudianlah yang memberitahu semua orang yang ada di ruangan itu tentang kebenarannya.
"Tidak ada satu orang pun dari mereka yang tahu.
Termasuk Amy ... Amy hanya tahu aku adalah pendampingnya yang sudah hadir dalam kehidupannya sejak ia masih bayi."
Suara Reggie membuat Lucius kembali memfokuskan diri pada adiknya itu.
"Hanya Tuan Arthur dan mother Greta yang tahu tentang identitasku."
Beberapa lama hanya keheningan yang mencekam yang hadir di ruangan itu. Lance menatap tuannya dan Rose bergantian. Menyadari kemiripan diantara kedua orang itu, ia tidak akan menyadarinya jika bukan karena para tamu tuannya datang dan membuka penyamaran gadis itu, lalu ia melihat kedua tangan tuannya mulai terkepal.
"Dimana ibumu?" pertanyaan itu menggema dengan sangat jelas di dalam ruangan. Lucius menatap tajam wajah Regina yang balik menatapnya. Gadis itu terlihat memegang tangan Mike yang memeluknya dari belakang.
"Kenapa kau ingin bertemu dengannya?" tanya Regina dengan suara gemetar. Mike mengeratkan pelukannya memberi dukungan pada Reggie yang kembali gemetar. Tindakan yang tidak luput dari tatapan Lucius.
"Apa kau punya hak untuk menanyakan itu?" Suara dingin yang keluar dari mulut Lucius itu membuat Regina bergidik.
"Katakan dimana dia!"
Derek dan Mike menutup mulutnya. Hanya Reggie yang berhak memberitahu Lucius kebenaran tentang Marinna yang telah tiada.
Reggie juga mengunci mulutnya. Membuat Lucius mengetatkan geraham. Lance melihat buku-buku jari tuannya sudah memutih. Keringat tampak mengembun di pelipis dan leher laki-laki itu.
Oh tidak ... Lance membatin. Tuannya mulai memperlihatkan gejala sebelum rasa sakitnya akan muncul.
"Tuan ...." Lance berbisik.
"Katakan dimana dia, Gina!" Bentak Lucius dengan suara menggelegar. Membuat Reggie terhenyak dalam pelukan Mike.
"Turunkan nada suaramu, Lucius. Atau pembicaraan ini hanya akan selesai sampai disini!" Mike balik membentak Lucius yang malah mengeluarkan tawa seolah-olah merasa sangat geli mendengar ucapan Mike barusan.
"Ibuku ... dia sudah pergi meninggalkanku." Kata-kata pelan yang terdengar menyedihkan itu terdengar oleh telinga semua orang.
Baru selesai kata-kata itu keluar dari mulut Reggie, Lucius terlihat membungkuk ke arah sandaran kursi. Wajahnya penuh keringat, kedua lengannya memeluk tubuhnya sendiri. Bibirnya merintih seperti menahan sakit.
"Lance ...," rintih Lucius.
Lance segera memegang kedua bahu tuannya, lalu menariknya untuk kemudian menyangga tubuh tuannya dengan tubuhnya sendiri.
Reggie melepaskan diri dari rengkuhan Mike dengan wajah khawatir. Ia mendekat ke arah Lance yang akan membaringkan tuannya ke atas sofa panjang.
"Ada apa dengannya? Dia seperti kesakitan ...." Kekhawatiran yang terdengar di suara itu membuat Lance ingin menjawab. Namun Lucius menghentikannya.
"Keluar! Suruh mereka keluar, Lance!"
Lance memandang para tamu tuannya dengan pandangan menyesal.
"Maaf Tuan ... tolong cepat tinggalkan tempat ini!"
"Aaaarrrrrrhhhh!" Lolongan panjang itu terdengar sangat mengerikan. lucius menelungkupkan tubuhnya ke atas sofa. Badannya mengejang dan mulutnya kembali berteriak. Seolah tubuhnya sedang merasakan kesakitan yang teramat sangat.
"Tuan! Nona! Saya mohon pergilah dari sini! Pergilah!" Lance berteriak sambil menahan tubuh Lucius. Reggie menggeleng dengan wajah penuh air mata.
Ada apa dengan kakakku? Kenapa ia kesakitan?
Sentuhan di kedua bahunya membuat Reggie menoleh. Mendapati Mike menariknya pergi dan mengikuti Derek yang sudah mendahului berjalan mundur meninggalkan tempat itu. Reggie menahan langkahnya sambil terus menggeleng. Tapi tubuh Mike lebih kuat sehingga ia terpaksa mengikuti tarikan lengan Mike pada bahunya.
Dengan langkah diseret oleh Mike, Reggie bertahan dan tidak mau keluar. Ia berbalik menoleh ke belakang dan tersentak melihat Lance yang dengan susah payah mencoba memasukkan sebuah jarum suntikan ke lengan tuannya. Suntikan pertama tidak berhasil, benda itu terlontar jauh ketika Lucius mengejang hebat dan kembali berteriak kencang.
Lance mengambil suntikan kedua dan menahan lengan tuannya lebih kuat. Setelah menemukan pembuluh darah yang tepat, Lance menyuntikkan seluruh isi obat ke dalam pembuluh darah tuannya.
Mike yang penasaran melihat Reggie tersentak segera ikut menoleh. Mereka berhenti dan memandang ke arah Lucius dan Lance dengan mata terbelalak. Derek yang berjalan mundur juga melihat kejadian itu dengan jelas.
"Ya Tuhan ... Mom ... Apa yang sudah kita lakukan padanya ...." Suara lirih dengan kengerian yang sangat kental didalamnya itu terdengar dari bibir Reggie yang berurai air mata dan mulai terisak melihat keadaan kakaknya yang mulai terbaring tanpa daya setelah suntikan yang diberikan oleh Lance.
***********
From Author,
Chapter pertama hari ini, jangan lupa berikan Vote dulu sebelum lanjut ke chapter kedua untuk hari ini ya. Tentunya kalau lolos review sama mimin manga/ noveltoon
Like, komentar dan favorite serta bintang limanya juga ya.
terimakasih.
Salam, DIANAZ.