Love Seduction

Love Seduction
Chapter 35. Come for Ally



Ally tahu Ester dan Pabio mencoba menemuinya di mansion kediaman Rico. Awalnya ia berniat tidak mau menemui mereka, kedua orang tua itu tahu Lucius membohonginya sejak awal, namun tidak pernah mengatakan apa-apa. Tapi Alan berkehendak lain. Ia melihat Ester dan berlari mengejar wanita itu. Mendatanginya dan memeluknya, menyambutnya dengan gembira dan tawa yang lebar.


Akhirnya Ally berubah fikiran. Tidak sopan mengabaikan keduanya. Apapun yang membuatnya kecewa saat ini, keduanya tetap saja telah berbuat baik dengan bersedia menampungnya selama di rumah perkebunan itu.


"Ally ... pulanglah bersama kami," ucap Ester.


Pabio melirik Rico yang hanya bersandar dan menopang dagunya dengan tangan sambil memandang para tamunya.


"Tidak, Ester. Aku tidak bisa," ucap Ally.


"Kenapa?" tanya Ester sambil mengernyit, lalu wanita tua itu memandang ke arah Rico dengan tatapan tajam.


Rico tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya.


"Jangan menatapku seperti itu, Ester. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan keputusan yang diambilnya."


Lalu Ester kembali menatap Ally.


"Kenapa, Nak? Kenapa kau tidak mau kembali? Lucius akan kembali sebentar lagi, ia akan menanyakanmu."


Alison tersenyum dan kemudian melirik Rico.


"Aku sudah bebas sekarang, Ester. Carloz tidak akan mengejarku lagi. Rico sudah membereskannya. Dan Rico tidak akan memaksaku melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan. Jadi aku dan Alan sudah bebas menentukan jalan hidup yang kami pilih. Tanpa kami harus membebani siapapun, termasuk Lucius, kau dan Pabio juga," jelas Ally pada Ester yang masih saja mengerutkan dahi.


"Tidak ada yang memaksamu untuk tinggal di sini kan, Ally?" tanya Pabio.


Ally menggeleng, "tidak, Pabio. Aku bebas tinggal di manapun tempat yang aku inginkan."


"Kalau begitu ikutlah dengan kami, Nak. Tinggal dengan kami lagi," ajak Ester dengan suara lembut.


"Tidak, Ester. Aku dulu tidak punya tempat karena Carloz. Sekarang tidak lagi. Aku bebas memilih dimana dan kemana aku akan pergi."


Ester kehabisan akal, begitu juga Pabio. Tetapi setidaknya mereka tahu Ally tinggal di mansion Rico dan baik-baik saja.


Setelah melepas rindu dengan Alan dan Ally, Pabio dan Ester mohon pamit, tanpa hasil membujuk Ally untuk ikut kembali ke perkebunan.


"Tuan Luciusmu akan datang?" tanya Rico pada pabio saat mengantarkan tamunya itu ke mobil.


"Ya ... Mungkin hari ini, Tuan Eloy sudah sembuh, jadi Tuan Lucius bisa kembali, dan ia akan datang untuk menjemput Ally dan Alan. Kuharap Anda tidak mempersulitnya," ucap Pabio.


Rico terkekeh mendengar penuturan pria tua itu. Ia tertawa lalu mengedipkan mata, " Kau lihat sendiri bukan, Pabio. Aku tidak ada hubungannya dengan apapun keputusan Ally untuk hidupnya dan Alan. Ia bebas memutuskan sendiri apa yang ingin ia lakukan. Jika tuanmu ingin membawanya, kurasa ia harus membujuknya sendiri," ucap Rico.


"Kau tidak akan menyembunyikan gadis itu dan juga Alan untuk mempersulitnya bukan?" tanya Pabio dengan penuh selidik.


Rico tertawa terbahak," Aku sungguh tergoda untuk melakukannya, Pabio. Hanya untuk sekedar membuat tuanmu sedikit sibuk. Tapi Ally tidak akan mau bekerja sama."


Pabio tersenyum mendengar ucapan Rico. Lalu ia pamit dan kembali ke rumah perkebunan, menyiapkan semua kamar yang ada. Dua diantaranya untuk Lucius dan juga Lance yang akan ikut datang. Mereka sudah memberi kabar padanya. Karena itu ia pergi bersama Ester pagi ini untuk melihat apakah Ally baik-baik saja di mansion keluarga Castro. Hanya masalah waktu Ally akan kembali, karena apapun halangannya, Pabio tahu Lucius tidak akan menyerah untuk membawa Ally dan Alan kembali padanya.


**********


Dalam penerbangan dengan pesawat pribadi yang disiapkan oleh Mike, Lucius menceritakan semua peristiwa saat ia bertemu Ally sampai ia menerima telepon dan harus pulang.


"Kurasa ... sekarang gadis itu sudah tahu kau berbohong tentang identitasmu, Tuan. Tuan Rico Costra tahu jika Lance adalah tangan kananmu. Lucius Sanchez adalah pemilik tanah itu." ucap Lance.


Lucius mengangguk, ia memperkirakan Ally akan marah dan mungkin sedikit kecewa padanya. Tapi Lucius akan membujuknya, prioritas pertamanya adalah menemukan dan bertatap muka dulu dengan gadis itu agar ia bisa bicara.


"Anda sungguh mencintai gadis ini?" tanya Lance.


Lucius tersenyum, " Aku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya, Lance. Matanya seperti magnet untukku , Aku merindukannya ketika ia tidak berada di dekatku ...."


"Apakah perasaannya berbeda sekali saat Anda berada di dekat Cecilia? Kudengar Tuan Eloy dan Tuan Damario sebenarnya menunggu Anda pulang untuk membicarakan pertunangan ...."


Lucius tersenyum, " Tapi ayah akan menunggu keputusanku dan Paman Frank akan menunggu jawaban Cecilia. Cecilia tidak akan mau ... perasaan kami dekat hanya sebagai teman. Sama seperti Margarita dan teman wanitaku yang lain. Dan itu sangat berbeda dengan yang kurasakan pada Ally."


Lance menarik nafas panjang, beruntung Tuan Eloy dan Tuan Damario tetap memprioritaskan hati anak-anak mereka. Keputusan yang mereka ambil tetap mereka akan bicarakan dengan anak-anak mereka.


Lance teringat dengan pembicaraannya dengan Cecilia mengenai kemungkinan Lucius menemukan cinta sejatinya. Dan hal itu sekarang benar-benar terjadi, Lucius menemukan gadis yang mampu mengisi hatinya seketika dengan cinta dan kasih. Membuat hidup pria itu berwarna dengan semangat baru dan senyuman ketika mengingat Allynya itu. Lance sangat penasaran dan sangat ingin melihat bagaimana sosok Alison Adair yang telah membuat tuannya jatuh cinta.


"Alex akan mendatangkan dan menempatkan orang-orang Langton di perkebunan. Anda hanya perlu memberi perintah pada mereka," ucap Lance.


Lucius menaikkan alisnya, " memiliki koneksi dengan klan Langton rupanya sangat bermanfaat. Bukan begitu, Lance?" tanya Lucius dengan serigai lebar.


"Ya ... Kurasa tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Alex. Kita tidak perlu membawa orang-orang kita lebih banyak. Hanya Brad dan Santoz yang ikut, Tuan."


"Benar ... dan jangan lupa mengambil alih mengurus dokumen yang diperlukan untuk Ally dan Alan dari Pabio, Lance. Aku ingin dokumen itu segera selesai. Pabio sudah mengurusnya sejak kami tiba di sini. Kuharap akan segera bisa digunakan setelah kita menemukan Ally dan Alan, Karena aku akan membawanya pulang ke mansion Sanchez. Secepat mungkin."


"Baik, Tuan." jawab Lance.


**********


Lance yang mengemudikan mobil dan membawa mereka melaju menuju ke tanah perkebunan.


Lalu ponsel Lucius berbunyi, Lucius menaikkan alisnya dan melihat nama yang tertera di layar. Cecilia ...


"Halo ....?" sapa Lucius pada gadis itu.


"Hai Lucius ... Kau benar-benar sudah pergi ya?" tanyanya sedih.


"Ya, Maaf tidak memberitahumu. Ada sesuatu yang harus kulakukan di sini."


"Lance bersamamu?"


"Hm? Ya ... Kenapa?" tanya Lucius. Gadis itu terdengar tertawa malu di seberang sana. Membuat Lucius menaikkan alisnya.


"Ti ... Tidak ada. Hanya bertanya. Aku sekarang berada di mansion Eliazar. Reggie mengatakan kau pergi dan Lance juga ikut ... Aku sudah berulang kali menelponnya, tapi ponselnya tidak aktif." ucap Cecilia.


"Kau mau bicara padanya? Tunggu ... Aku akan memberikan ponselku padanya." Lucius langsung mengulurkan ponselnya dan mendekatkan pada telinga Lance.


"Ti ... Tidak! Lucius! Aku tidak mau bicara padanya! Aku hanya bertanya!"


Teriakan kencang di ponsel itu terdengar di telinga Lance. Ia langsung tahu itu suara siapa. Ia tidak mengambil ponsel yang diulurkan Lucius.


"Saya sedang menyetir, Tuan. Tidak bisa menerima telepon. Anda saja yang bicara," ucap Lance tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan mereka.


Lucius memandang Lance dengan alis terangkat. Ia kembali meletakkan ponsel ke telinganya.


"Halo ... Maaf Cecilia, Lance sedang menyetir, jadi tidak bisa bicara denganmu saat ini. Ada yang ingin kau sampaikan? " tanya Lucius.


"Tidak ... Tidak ada ..."


"Oh ... Baiklah kalau begitu. Apakah ada hal lain Cecilia?" Pertanyaan Lucius di jawab keheningan di seberang sana, Lucius mengira gadis itu telah memutuskan sambungan sampai akhirnya ia mendengar suara lagi.


"Lucius ... Apakah kalian akan lama berada di sana?" tanyanya.


"Hemmm ... Belum tahu, Cecil. Jika urusanku cepat selesai, tentu saja kami akan segera pulang."


Lalu kembali hening, kemudian Lucius mulai menyerigai dengan fikiran yang terlintas di otaknya.


"Tunggu ... Cecilia Damario ... Jangan bilang kau sudah merindukan aku karena aku tiba-tiba pergi. Aku sudah pergi sejak berminggu yang lalu karena harus mengurus tanah perkebunan ini , dan kau tidak pernah merasa perlu menelponku. Katakan padaku apakah laki-laki di sampingku ini yang membuatmu akhirnya menelponku?"


"Ap, apa yang kau katakan!? Tentu saja tidak! Aku hanya ingin tahu kabarmu. Sudah dulu ya!"


Lalu sambungan itu putus dengan serigai lebar menghias wajah Lucius.


"Kurasa dugaanku benar, Lance. Cecilia Damario menyukaimu!" ucap Lucius dengan nada seolah memecahkan misteri paling rumit. Namun tidak ada respon dari pria di sebelahnya itu.


"Kau pergi baru sehari ... Dan gadis itu sudah merindukanmu," Lucius tertawa menggoda, dan masih saja wajah Lance datar tidak menampakkan apapun.


"Ia menelponmu dan ponselmu tidak aktif, akhirnya ia terpaksa menelponku hanya untuk menanyakanmu. kurasa ia ingin tahu berapa lama kau akan pergi ... Gadis itu merindukanmu, Lance," goda Lucius lagi. Ia bermaksud untuk terus menggoda Lance sampai laki-laki itu menampakkan emosi di wajahnya.


"Kuharap Anda akan tetap bisa tertawa seperti ini, Tuan. Sebentar lagi kita akan tiba dan ketika Anda tidak dapat bertemu Ally dan malah harus berhadapan dengan Rico ... Jangan kehilangan selera humor Anda setelahnya," ucap Lance dengan tenang.


Lucius menghentikan tawanya dan merengut. Ucapan Lance otomatis membuat mulutnya diam. Ia melipat tangannya di depan dada dan kembali menatap ke arah depan.


Lance bersyukur atas keheningan yang hadir itu. Jika Lucius terus menggodanya dengan membicarakan Cecilia, Lance tidak menjamin ia akan terus bisa menjaga ekspresi wajahnya. Mendengar suara gadis itu tadi telah membuat Lance membayangkan kembali ciuman mereka di teras mansion Eliazar. Gadis nekat yang berani itu membuatnya tidak bisa berkutik saat itu, mengingatnya kembali membuat jantung Lance langsung berdebar tidak menentu.


Lucius diam dengan fikiran berkelana. Berharap Ally menyambutnya masih dengan senyum yang sama. Ia rindu pada gadis itu. Rico akan membiarkannya menemui Ally, Jika laki-laki itu memang tidak bermaksud jahat seperti yang diceritakan oleh Ester di telepon. Tapi entah kenapa hatinya berkata tidak akan semudah itu.


Lucius perlu bertemu langsung dengan pria itu. Melihat sendiri apakah pria itu akan membiarkan Ally bertemu dengannya dan kemudian membiarkan ia membawa Ally dan Alan ikut pulang bersamanya.


Kuharap perasaanmu tidak berubah Ally ...


**********


From Author,


Tetap klik like, ketik komentar dan berikan Vote ya my Readers, bintang lima dan favoritenya juga bagi yang belum๐Ÿ’ž๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š vitamin yang memberi semangat bagi author untuk tetap menulis di sela kesibukan sehari-hari.


Satu lagi ... Stay at Home dulu ya semua, gak usah keluar dulu jika tidak terlalu mendesak ... Semoga kita semua dalam perlindungan-Nya ... Aamiin ...


Terima kasih ya...


Salam, DIANAZ.